Bab 4. Permintaan Sederhana Niskala

1102 Words
Tanpa diantar oleh sanak saudara. Tanpa nasehat dan wejangan setelah menikah, Bhumi membawa Niskala pulang ke rumahnya. Mereka pulang dengan mobil yang dikemudikan oleh Bhumi. Sepanjang perjalanan, Niskala maupun Bhumi sama-sama terdiam. Keduanya larut dengan pikiran masing-masing. Sesekali, Niskala masih meneteskan air matanya. Setelah ini, ia akan benar-benar terlepas dari keluarga Nasti. Ia sudah tidak memiliki tempat apapun di sana. "Jangan menangis! Saya tidak mau keluarga saya berpikir yang tidak-tidak jika melihatmu seperti ini," ujar Bhumi. Ia mengulurkan sekotak tisu ke hadapan Niskala. "Maaf, Mas," balas Niskala seraya menerima tisu yang diberikan oleh Bhumi. Setelah itu, ia pun mengusap air matanya. "Hm." Suasana di dalam mobil kembali hening. Niskala berusaha mengatur napasnya yang masih terasa sesak. Ia juga tengah mencoba menenangkan hatinya yang tak karuan. Setelah dirasa cukup tenang, ia memejamkan mata sejenak lalu mengembuskan napas panjang. "Maaf, tidak seharusnya kamu melihat hal seperti tadi, Mas. Kamu pasti tidak nyaman," kata Niskala setelah cukup lama ia terdiam. Ia melirik ke arah Bhumi yang raut wajahnya nyaris tanpa ekspresi. "Kenapa kamu bisa seperti itu? Saya tidak berniat ikut campur, tapi tadi saya melihat ibumu mengusirmu," ujar Bhumi menjelaskan. Tentu, Bhumi tidak ingin Niskala berpikir bahwa dirinya ingin ikut campur. Sungguh demi apapun, Bhumi tidak peduli dengan permasalahan yang terjadi antara Niskala dan Nasti. Ia hanya merasa sedikit penasaran. Ya ... hanya sedikit, tidak lebih. Niskala bimbang. Ia ingin menceritakan masalahnya kepada Bhumi. Namun, ia takut Bhumi juga akan membencinya. Niskala tidak ingin hal itu terjadi, terlebih lagi ... saat ini yang ia miliki hanyalah Bhumi seorang. "Kalau tidak mau menceritakannya ya sudah, saya tidak memaksa," sambung Bhumi karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Niskala. "Aku belum bisa menceritakannya sekarang, Mas. Aku butuh waktu, a–aku harap kamu mengerti," ucap Niskala sembari menoleh ke arah Bhumi yang tengah fokus mengemudi. "Terserah," balas Bhumi singkat. Ia tidak mempermasalahkannya, lagi pula ia juga tidak terlalu peduli. Selain itu, sedari awal Bhumi juga enggan ikut campur dengan masalah Niskala. Menurut Bhumi, selagi Niskala tidak banyak tingkah dan menuruti ucapannya, itu sudah lebih dari cukup. Bhumi tidak ingin ada banyak drama tidak penting di dalam kehidupannya. Niskala tersenyum tipis. Ia merasa cukup lega karena Bhumi tidak bertanya lebih lanjut. "Di rumah kamu ada berapa orang, Mas?" tanya Niskala. Ia memang belum tahu banyak tentang keluarga Bhumi. Kemarin, Niskala hanya melihat ayah dan juga ibu Bhumi. Itu pun ia hanya berkenalan sebentar karena setelah acara selesai mereka buru-buru pergi. Niskala berharap, ia bisa diterima dengan baik di keluarga besar Bhumi. "Banyak. Hampir semua anggota keluarga saya tinggal bersama," jawab Bhumi sekenanya. Matanya begitu fokus menatap jalanan yang cukup ramai tetapi tetap lancar. Niskala mengernyitkan dahinya. "Kalau begitu rumah kamu sangat ramai ya, Mas? Sepertinya akan sangat menyenangkan tinggal di rumah kamu," balas Niskala. Ia tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi terasa canggung dan tegang. "Jangan berharap lebih pada keluarga saya, Niskala! Mereka tidak sebaik yang kamu bayangkan," kata Bhumi. Ia berkata jujur, sebab memang keluarga besarnya tidak cukup ramah kepada orang-orang asing. Niskala mengangguk paham. "Tapi semoga ayah dan ibu kamu mau menerima aku ya, Mas. Yah setidaknya biar aku tidak terlalu merasa sedih lagi," tutur Niskala. Matanya berbinar dengan harapan yang ia rajut di dalam hatinya. Bhumi mengangkat ujung bibirnya. Menerima? Bhumi sangsi orang tuanya mau menerima kehadiran Niskala. Terlebih lagi ibu tirinya yang sejak dulu juga tidak terlalu menyukai dirinya. Ya ... sama seperti Niskala, Bhumi juga bukanlah anak kandung dari ibunya. Ia adalah anak dari istri kedua ayahnya. Namun, ibu kandungnya meninggal dunia saat melahirkan dirinya. Oleh karena itu, Bhumi dirawat dan dibesarkan oleh ibu tirinya. Meski Bhumi tahu ibu tirinya tidak terlalu menyukai dirinya, tetapi Bhumi selalu patuh kepadanya. Ia selalu menuruti perintah ibu tirinya sebagai bentuk balas budinya karena sudah dirawat selama ini. "Nanti di rumah, jaga sikap kamu baik-baik! Ah iya, saya juga berharap kamu segera memutuskan hubungan dengan kekasihmu itu," ujar Bhumi sembari melirik ke arah Niskala. Niskala menoleh ke arah Bhumi. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya. "Aku mengerti, Mas. Tanpa kamu suruh pun aku memang akan segera memutuskannya. Mulai sekarang, aku akan berusaha menerima kamu seutuhnya," balas Niskala. Tatapan matanya dipenuhi oleh kejujuran. Bhumi tertegun, hatinya berdesir saat mendengar ucapan Niskala. "Kenapa? Kamu tidak keberatan putus dari kekasihmu?" Niskala tak langsung menjawab. Ia menatap ke arah jalanan sembari tersenyum lembut. "Tentu saja aku merasa keberatan, Mas. Aku masih mencintai dia, tapi sekarang posisiku sudah berbeda. Aku sudah menikah, tidak seharusnya aku masih berhubungan dengannya." "Baguslah kalau kamu paham tentang itu. Saya tidak mau keluarga saya tahu kamu masih berhubungan dengan pria lain," imbuh Bhumi. "Jangan khawatir, Mas! Sejak semalam aku sudah berpikir banyak. Sekarang, satu-satunya keluarga yang aku miliki hanya kamu. Jadi aku berjanji akan mengabdikan diriku padamu." Mendengar penuturan Niskala, Bhumi merasa lega. Hatinya tenang dan ia berharap kehidupannya akan berjalan lancar meski sudah menikah. "Saya harap kamu tidak menyesal berbicara seperti itu, Niskala," kata Bhumi. "Aku tidak menyesal, Mas. Hanya kamu yang aku miliki sekarang. Hanya kamu yang bisa aku jadikan sandaran," sahut Niskala. Ia tersenyum lembut, wajahnya pun tampak sumringah. "Hm, ya sudah kalau begitu. Sekarang kita akan segera sampai di rumah. Rapikan penampilan kamu! Keluarga saya tidak suka melihat orang yang tidak rapi!" Niskala mengangguk. Ia buru-buru merapikan penampilannya dengan perasaan gugup. Detak jantungnya menggila dan perasaan takut perlahan menggerogoti hatinya. Ia takut tidak diterima, ia juga takut kembali dibuang seperti sebelumnya. Lima belas menit kemudian, akhirnya Bhumi dan Niskala tiba di kediaman keluarga Bhumi. Keduanya bergegas turun dari mobil setelah dibukakan pintu oleh security yang tengah bertugas. Begitu turun, Niskala dibuat takjub dengan kediaman keluarga Bhumi. Rumah yang lebih pantas disebut sebagai mansion itu begitu luas dan juga mewah. Selain bangunan utama yang luas dan mewah, juga terdapat beberapa bangunan lain yang juga tak kalah mewah meski ukurannya lebih kecil. "Pantas saja tadi Mas Bhumi bilang hampir semua keluarganya tinggal bersama. Orang rumahnya segede ini," gumam Niskala yang masih tak henti-hentinya merasa kagum. "Ayo masuk! Orang tua saya sudah menunggu di dalam," kata Bhumi. Ia menatap Niskala lalu berdecak pelan karena melihat Niskala yang terus-menerus mengagumi rumahnya. "Niskala, ayo masuk sekarang!" pinta Bhumi sembari menyodorkan tangannya ke hadapan Niskala. Niskala yang masih fokus mengagumi kediaman Bhumi tersentak. Ia lantas mengangguk dan menerima uluran tangan Bhumi. Hangat ... hatinya dipenuhi kehangatan saat Bhumi menggenggam lembut tangannya. Namun, seiring langkah kakinya yang semakin dekat dengan pintu. Niskala mulai merasa resah dan cemas. Dugaan demi dugaan buruk pun berseliweran di otaknya. "Mas, bagaimana kalau keluarga kamu tidak benar-benar menerimaku? Bagaimana kalau aku dibuang?" "Niskala," tegur Bhumi sembari mengeratkan genggaman tangannya. "Mas, kamu mau berjanji satu hal padaku? Meski kamu tidak menyukaiku, tolong jangan tinggalin aku ya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD