Pagi ini, setelah semalaman berpikir panjang dan hanya tidur kurang lebih dua jam. Niskala terbangun tepat saat jam sudah menunjukkan pukul 07.00 wib. Namun, begitu membuka mata ia tidak menemukan keberadaan Bhumi.
Tidak ada malam pertama romantis seperti yang Niskala bayangkan selama ini saat menikah. Perasaannya kacau balau. Rasa bersalah kepada sang kekasih pun semakin menggerogoti hatinya. Namun, Niskala sudah bertekad. Meski ia dan Bhumi hanya dijodohkan, tetapi ia akan memutuskan hubungan dengan kekasihnya.
Ya, setelah berpikir sepanjang malam, Niskala memutuskan ingin mencoba menjadi istri yang baik. Istri yang mencintai dan menyayangi suami, meskipun ia tahu hubungannya dengan Bhumi hanya sebatas perjodohan semata. Selain itu, Niskala juga berharap dirinya bisa meluluhkan hati Bhumi.
Niskala berharap, semoga kehidupannya akan lebih baik jika dirinya benar-benar mengabdi kepada Bhumi sebagai seorang istri. Selain itu, ia juga berharap dengan pernikahannya ini ia bisa membalas budi kepada ibu tiri dan juga keluarganya yang lain.
"Jika aku menjadi istri yang baik, maka Tuhan akan memberikan kehidupan yang baik dan tenang untukku, kan?" Niskala mengulas senyum tipis. Harapan kecil di tengah-tengah hatinya yang hancur membangkitkan semangatnya.
Niskala bergegas turun dari ranjang. Setelah itu, ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap. Barulah setelah itu, usai mandi dan bersiap ia keluar dari kamar dan menuju ke dapur.
"Sedang apa kamu di situ?" tanya Nasti—ibu tiri Niskala. Suaranya sinis dan dingin, seolah-olah ia tidak menyukai keberadaan Niskala di rumahnya.
"Eh Ibu, ini aku mau bikin sarapan. Hari ini Ibu mau sarapan apa? Biar aku buatkan," jawab Niskala. Ia tersenyum sumringah meski matanya masih agak sembab.
"Tidak perlu. Mulai hari ini kamu tidak usah menyentuh barang-barang di dapur ini lagi! Kamu sudah menikah, jadi kamu sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi!" kata Nasti. Ucapannya mengalir begitu saja membuat hati kecil Niskala kembali retak.
"Bu, tolong jangan berbicara seperti itu! Aku masih ingin menjadi anak Ibu," balas Niskala sembari menatap Nasti dengan tatapan penuh kesedihan.
Nasti menggeleng begitu mendengar ucapan Niskala. "Aku sudah muak melihatmu di rumah ini, Niskala. Sekarang waktunya kamu angkat kaki dari sini. Sana pulang ke rumah suamimu!" titah Nasti kasar. Perintahnya mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Niskala berjalan mendekati Nasti. Ia menatap sendu wajah Nasti yang sejak dulu tidak pernah tersenyum hangat ke arahnya. Niskala memohon, ia menangkupkan kedua tangannya di depan d**a.
"Aku mohon, Bu. Tolong jangan usir aku seperti ini! Aku masih ingin menjadi anakmu, Bu," ujar Niskala. Air matanya merebak, ia sungguh patah hati karena ucapan Nasti.
"Sayangnya aku tidak sudi menjadi ibumu, Niskala! Selama ini aku sudah banyak menahan diriku demi menghormati mendiang suamiku. Tapi sekarang aku sudah tidak tahan lagi. Keluar kamu dari rumah ini!" gertak Nasti. Suaranya terdengar begitu nyaring.
Selama ini, Nasti memang berusaha mati-matian menahan dirinya untuk tidak mengusir Niskala. Itu semua ia lakukan demi suaminya yang sepuluh bulan lalu meninggal dunia.
Sejak dulu bahkan hingga sekarang, Nasti merasa begitu benci kepada Niskala. Ingatannya masih begitu jelas saat pertama kali Niskala dibawa pulang oleh suaminya. Bahkan, rasa sakitnya tidak pernah berkurang hingga sekarang ini.
"Dan satu lagi! Mulai sekarang jangan pernah memanggilku dengan sebutan ibu lagi! Aku benci mendengar kamu mengucapkan kata itu!" ujar Nasti kembali melanjutkan ucapannya.
Niskala hancur. Kini satu-satunya orang yang ia anggap begitu berjasa telah membuangnya. Namun, Niskala pun memahami bagaimana perasaan Nasti. Ia tahu, Nasti terluka karena dirinya.
"Aku akan pergi dari rumah ini, Bu. Tapi sebelum itu, aku ingin meminta maaf padamu," ucap Niskala. Kepalanya tertunduk, ia menatap lantai dapur dengan perasaan gundah gulana.
Nasti tidak menjawab apapun. Ia hanya diam sembari bersedekap dan menatap sinis ke arah Niskala. Baginya, Niskala adalah iblis kejam yang sudah menghancurkan keluarganya yang dulu begitu bahagia.
"Aku mohon ampun padamu, Bu. Ampuni aku karena kehadiran aku di sini membuatmu terluka. Maaf karena aku menghancurkan seluruh kebahagiaanmu," imbuh Niskala. Ia terisak-isak sembari berlutut di hadapan Nasti.
Nasti menggeram tertahan. Amarahnya justru semakin meluap-luap begitu melihat Niskala berlutut dan memohon ampunan padanya. Kebencian yang selama ini ia tahan membuncah.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Niskala! Demi Tuhan, aku bersumpah semoga kamu mendapatkan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan dari yang aku alami!" pekik Nasti. Suaranya menggelegar, membuat Niskala semakin terisak-isak.
"Ampuni aku, Bu. Tolong ampuni aku agar aku tenang menjalani kehidupan ini," pinta Niskala seraya memeluk kaki kanan Nasti. Tangisnya pecah, air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Brugh!
Nasti mengempaskan Niskala dengan kasar. Ia merasa tidak sudi bersentuhan dengan Niskala. "Sekarang pergi kamu dari rumahku dan jangan pernah kamu menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" kata Nasti. Setelah itu, ia pun meninggalkan Niskala yang menangis sembari memanggil namanya.
"Ibu, tolong ampuni aku! Maafkan aku, Ibu!" Niskala meraung penuh akan kesedihan. Hal itu, tak luput dari tatapan Bhumi yang sejak beberapa menit yang lalu datang ke dapur untuk minum.
Bhumi memang tidak tahu apa yang telah terjadi diantara Niskala dan Nasti. Namun, begitu melihat Niskala yang menangis dan hancur seperti itu, membuat hatinya terenyuh. Ia seolah-olah turut merasakan kesedihan yang dialami oleh Niskala.
Bhumi menghela napas panjang. Ia lalu bergegas menghampiri Niskala yang masih terduduk di lantai. Meski merasa iba, tetapi Bhumi tetap bersikap tenang dan dingin.
"Ayo pulang!" ajak Bhumi. Ucapannya singkat, tetapi membuat Niskala menoleh ke arahnya.
Niskala menatap Bhumi lekat-lekat. Sekarang, satu-satunya orang yang bisa ia jadikan sandaran hanyalah Bhumi. Keluarga yang ia miliki hanyalah Bhumi yang merupakan suaminya.
"M–Mas, tolong bawa aku pergi jauh dari rumah ini," pinta Niskala. Suaranya serak, wajahnya pun terlihat pucat.
Bhumi berjongkok. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Niskala yang terasa hangat. Ia mengusapnya pelan lalu merapikan anak rambut Niskala yang berantakan.
"Saya tidak mengizinkan kamu menangis seperti ini, Kala! Hanya saya yang boleh membuatmu menangis, bukan orang lain," tutur Bhumi dengan suaranya yang rendah tetapi tenang.
Niskala tidak mengatakan apapun. Namun, ia beringsut mendekati Bhumi lalu memeluk pria itu dengan erat. "Sakit sekali, Mas. Demi Tuhan rasanya ini sangat menyakitkan, ayo bawa aku pergi dari sini, Mas!" lirih Niskala seraya mencengkram erat baju yang dikenakan oleh Bhumi.
Bhumi menganggukkan kepalanya. Ia memang tidak menyukai Niskala, tetapi melihat istrinya menangis pilu seperti ini membuat hatinya tak tega. "Ayo pulang ke rumah saya!"
Niskala menganggukkan kepala. Sungguh, ia ingin segera pergi dari rumah Nasti. Terlalu banyak hal menyedihkan yang ingin segera ia lupakan.
"Setelah ini, jangan pernah menangis karena orang lain, Kala! Hanya saya yang boleh membuatmu mengeluarkan air mata. Hanya saya yang boleh menyakitimu!"