"Bagaimana? Kamu setuju dengan tawaran saya, Niskala?" tanya Bhumi sembari menatap penuh arti ke arah Niskala.
"Apa tidak ada tawaran yang lain, Mas? Kenapa harus itu?" Niskala balik bertanya. Ia menatap resah ke arah Bhumi yang justru terlihat semakin memandangnya remeh.
"Jadi kamu tidak mau? Baiklah, kalau begitu setuju atau tidak kita akan tetap menikah," sahut Bhumi. Ia tersenyum miring, rencananya sukses besar. Bhumi, ia memang sengaja memberikan tawaran tersebut karena dirinya yakin Niskala tidak akan berani.
Ya ... Bhumi memiliki alasan tersendiri tentang hal itu. Ia sengaja membuat Niskala tidak punya pilihan selain menerima perjodohan tersebut. Sebab, dengan perjodohan itu maka status Bhumi sebagai ahli waris keluarganya akan semakin kuat.
Benar, Bhumi rela menumpas kebebasannya dengan menerima perjodohan ini agar dirinya tidak dihapus dari daftar ahli waris. Sebab jika menolak, ayahnya mengancam akan menghapusnya dari daftar pewaris.
Terlebih lagi, status Bhumi saat ini hanyalah anak dari istri kedua. Maka dari itu, demi mempertahankan segalanya, Bhumi rela menikahi Niskala meskipun ia benci dengan kata pernikahan.
"Apa aku harus benar-benar melakukan itu jika mau perjodohan ini dibatalkan, Mas? Apa aku harus menyerahkan tubuhku padamu?" tanya Niskala. Hatinya bimbang, ia ingin terlepas dari perjodohan ini. Namun, di sisi lain ia juga tidak ingin menyerahkan kesuciannya.
"Ya, tapi saya tidak memaksa. Lagi pula, saya tidak tertarik melihat tubuhmu," jawab Bhumi enteng. Ia benar-benar tidak peduli dengan tatapan memelas Niskala.
"Tapi apa kamu janji akan melepaskan aku kalau aku menyerahkan tubuhku, Mas?" tanya Niskala kembali. Kali ini, tatapan matanya begitu bersungguh-sungguh sehingga membuat Bhumi pun terkejut karenanya.
"Kamu mau menyerahkan tubuhmu untuk saya, Niskala? Demi membatalkan perjodohan kamu rela menjadi w***********g?" Bhumi mengerutkan dahinya. Tatapan matanya yang semula tenang mulai terasa dingin dan menusuk.
Niskala diam dan menunduk. Ucapan Bhumi mulai menggerogoti hatinya. Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai terputar di otaknya. Apa benar semua akan baik-baik saja jika ia menyerahkan tubuhnya pada Bhumi? Apa kekasihnya akan tetap memilihnya jika tahu semuanya?
Niskala menghela napas panjang. Sepertinya memang ia tidak punya pilihan selain menerima pernikahan dengan Bhumi. Ia tahu dirinya mungkin akan membuat kekasihnya kecewa dan marah besar. Namun, sungguh Niskala tidak bisa membiarkan dirinya menjadi kotor dan hina.
"Atau jangan-jangan selama ini kamu sudah pernah melakukannya dengan kekasihmu sehingga dengan suka rela menerima tawaran saya?" tuntut Bhumi.
Niskala menggeleng lemah. Sungguh demi apapun, ia tidak pernah berbuat hal yang melanggar norma dan etika. Meski dulu beberapa kali kekasihnya mengajak, tetapi Niskala dengan tegas menolak.
"Aku belum pernah melakukannya, Mas. Setelah aku pikir-pikir, sepertinya aku memang tidak bisa menerima tawaran kamu. Aku tidak bisa menyerahkan tubuhku," ujar Niskala setelah ia terdiam cukup lama.
Bhumi mengangkat sebelah alisnya. "Jadi? Apa jawabanmu? Kamu mau menikah dengan saya?" tanya Bhumi.
Niskala mengangguk lemah. Ia menyerah dengan keinginannya. "Ya, aku menerima perjodohan ini dan bersedia menikah denganmu, Mas."
Raut wajah penuh kemenangan tercetak jelas dari wajah Bhumi. Ia tersenyum tipis lalu menganggukan kepala. Akhirnya, ia mencapai kesepakatan dengan Niskala.
"Bagus, jawaban itu yang saya harapkan sejak tadi, Niskala. Baiklah karena kamu sudah setuju, maka pernikahan kita akan dilakukan secepatnya," ujar Bhumi.
Sedangkan Niskala, ia memilih diam dan menundukkan kepalanya. Ia menatap kedua tangan di pangkuannya dengan perasaan kacau. Namun, ucapan ibunya tentang balas budi tiba-tiba terngiang dan membuatnya semakin yakin untuk menerima perjodohan ini.
"Ya, aku harus membayar hutang budiku pada Ibu. Selama ini Ibu sudah berusaha payah membesarkan aku. Ibu juga sudah banyak menderita karena kehadiranku. Jadi sekarang, aku harus membalas semuanya," gumam Niskala sembari terus meyakinkan hatinya.
Beberapa hari kemudian, setelah persiapan yang cukup singkat. Bhumi pun akhirnya telah resmi memperistri Niskala. Keduanya menikah tanpa embel-embel resepsi mewah atas permintaan dari Niskala.
Tamu yang diundang pun tidak terlalu banyak. Hanya kerabat dekat dan beberapa tetangga yang hadir turut menyaksikan.
Seharusnya, pernikahan menjadi hari yang paling membahagiakan untuk kedua pengantin. Namun sayangnya, Niskala maupun Bhumi tidak merasakan hal yang sama. Keduanya justru merasa begitu terbebani.
"Mulai sekarang, kamu sudah resmi menjadi istri saya. Tapi, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui," ujar Bhumi. Saat ini, keduanya sedang berada di dalam kamar Niskala. Memang, setelah acara yang begitu sederhana itu usai. Bhumi dan Niskala langsung memasuki kamar.
Niskala duduk di tepian ranjang tanpa menatap ke arah Bhumi. Tatapan matanya kosong, wajahnya pun terlihat sembab dan pucat karena sejak kemarin ia tak berhenti menangis.
"A–Apa itu?" tanya Niskala. Ia masih enggan menatap Bhumi yang kini tengah duduk di kursi sembari memandangi Niskala.
"Sebagaimana tugas seorang istri, kamu harus melayani kebutuhan saya sehari-hari. Tapi selain itu, jangan sekali-kali kamu mencampuri urusan saya," terang Bhumi menjelaskan tugas Niskala sebagai istrinya.
Niskala kini memandang ke arah Bhumi. Tatapan matanya tidak menunjukkan keberatan atas pernyataan Bhumi.
"Baik, aku bersedia melayani kebutuhan kamu setiap harinya. Tapi aku harap kamu tidak menyentuhku. Aku tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak aku cintai," ujar Niskala dengan raut wajah yang terlihat begitu lelah.
Bhumi terkekeh sumbang. Ia juga menyeringai tipis lalu beranjak dari duduknya. Langkah kakinya yang lebar perlahan berjalan mendekati Niskala yang duduk di tepian ranjang.
"Menyentuhmu? Memangnya kamu pikir saya sudi menyentuh perempuan yang sudah merampas kebebasan saya, Niskala? Tidak sama sekali," sahut Bhumi. Suara baritonnya terdengar dingin, tetapi juga menggetarkan hati Niskala.
Niskala mendongak demi menatap wajah Bhumi yang berdiri tepat di hadapannya. Ia akui, Bhumi memang pria yang terlihat begitu sempurna. Parasnya yang tampan dan tubuhnya yang gagah pasti akan membuat siapapun terkesima. Sayangnya, Niskala tidak merasakan hal yang sama.
"Baguslah kalau kamu mengerti, Mas. Meskipun sudah menikah tapi aku harap kita bisa tahu batasan masing-masing," ujar Niskala sembari mengulas senyum tipis. Ia lega, setidaknya ia tidak perlu melayani Bhumi untuk urusan ranjang.
"Jangan mengajari saya tentang hal itu, Niskala! Kamu dengar ini baik-baik! Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah menyentuhmu," tukas Bhumi. Ia membungkuk, menyamakan tinggi wajahnya dengan wajah Niskala.
Niskala terhenyak beberapa saat. Suara Bhumi begitu lantang terdengar. Tak hanya itu, embusan napasnya pun terasa saat menerpa wajahnya.
Niskala gugup, wajahnya perlahan memanas karena jaraknya yang begitu dekat dengan Bhumi. Namun, dengan sekuat tenaga Niskala menahan rasa gugupnya dan berpura-pura tenang.
"Semoga kamu tidak berbohong dengan ucapan kamu, Mas," kata Niskala. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan untuk Bhumi.
"Tentu saja, Niskala! Memangnya siapa yang mau menyentuh tubuhmu yang kurus itu? Membayangkannya pun saya tidak sudi," tukas Bhumi sembari menyentuh dagu Niskala.
Niskala hanya mengangguk sebagai balasan atas ucapan Bhumi. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Niskala merasa sedikit terhina.
"Dan kamu Niskala, saya harap kamu tidak jatuh cinta kepada saya. Karena sampai akhir pun, saya tidak akan pernah bisa memberikan cinta untukmu," imbuh Bhumi menambahi pernyataannya.
Setelah itu, usai menatap lekat-lekat kedua mata Niskala. Bhumi beranjak pergi, ia keluar dari kamar dan meninggalkan Niskala yang kini justru bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Apa pernikahan seperti ini bisa bertahan lama? Apa aku bisa bahagia dengan pernikahan ini? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan setelah ini?"