Bab 6. Janji Untuk Niskala

1438 Words
Niskala menggeleng begitu mendengar pertanyaan dari Bhumi. Menggoda Bhumi? Niskala bahkan tidak pernah terpikirkan hal itu. Saat ini, ia benar-benar sedang membutuhkan bantuan Bhumi untuk mengambilkan baju-baju miliknya yang masih berada di koper. "A–Aku tidak berniat menggoda kamu, Mas. Aku cuma minta tolong, aku—" Ucapan Niskala mendadak terhenti begitu ia melihat Bhumi yang kini berjalan ke arahnya. Ia gugup setengah mati, terlebih lagi saat ini ia tidak mengenakkan apapun selain selembar handuk yang melingkar di tubuhnya. Bhumi tersenyum miring melihat kegugupan Niskala. Langkahnya yang tegas dan tegap semakin mendekati Niskala. Saat jarak mereka tinggal beberapa jengkal, Bhumi sengaja mendorong Niskala hingga punggung gadis itu menyentuh pintu kamar mandi yang tertutup. "Kamu yakin sedang tidak menggoda saya, Niskala?" tanya Bhumi. Suaranya mengalun rendah tepat di telinga Niskala. Bahkan, Niskala mampu merasakan hawa panas dari napas Bhumi di telinganya. Niskala semakin tak karuan. Rasa gugup, cemas, dan juga malu bercampur menjadi satu. "Demi apapun aku tidak berniat menggoda kamu, Mas. Aku ... aku benar-benar butuh pertolongan kamu," jawab Niskala sembari mencengkram erat-erat handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Niskala tidak berani menatap langsung ke arah Bhumi. Sedangkan Bhumi, ia justru semakin menatap dalam-dalam ke arah wajah memerah Niskala. Tak lupa, seringai tipis juga tersungging di bibirnya yang tampak begitu seksi. "Kalau begitu kenapa kamu keluar hanya menggunakan sehelai handuk, hm? Apa kamu lupa kalau saya ini pria normal, Niskala?" Tangan Bhumi terjulur. Ia menyentuh lengan Niskala dan mengelusnya lembut dari atas ke bawah. Niskala merinding merasakan usapan tangan Bhumi yang terasa hangat tetapi juga aneh untuknya. Rasanya, ia ingin sekali mendorong Bhumi agar menjauh darinya. Namun, ia takut handuknya akan terlepas jika ia menggunakan tangannya untuk mendorong Bhumi. "Mas," panggil Niskala lirih. "Kamu bisa memanggil saya dari dalam kamar mandi, Niskala. Tapi kamu malah memilih keluar dengan penampilan seperti ini. Kamu benar-benar mau menguji saya?" bisik Bhumi sembari mendekatkan wajahnya ke telinga Niskala. Niskala menggeleng lemah. "A–Aku minta maaf, Mas. Aku benar-benar tidak bermaksud begitu. Aku ... aku hanya—" Lagi-lagi Niskala tak mampu menyelesaikan ucapannya. Kali ini, matanya mendadak terpejam saat Bhumi tiba-tiba menyentuh bibirnya. Bhumi tersenyum penuh kemenangan begitu melihat Niskala memejamkan matanya. Tentu saja, ia tahu Niskala tidak mungkin dengan sengaja menggodanya. Hanya saja, entah mengapa melihat Niskala yang gugup dan malu-malu justru membuatnya merasa terhibur. "Kamu mau saya sentuh, Niskala?" tanya Bhumi. Suara baritonnya menggema di telinga Niskala. Hal itu, tentu membuat Niskala semakin tak karuan. Tubuh Niskala memanas, degup jantungnya pun berdebar tak karuan. Hawa dingin yang semula ia rasakan pun mendadak sirna. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan dari Bhumi. Rasanya, ia pun nyaris terlarut dalam sentuhan Bhumi yang kini berada di pundak serta tengkuknya. "Buka mata kamu, Niskala! Tatap mata saya," pinta Bhumi. Kali ini, tangannya berpindah menangkup kedua pipi Niskala. Niskala menurut, ia membuka matanya dan mendapati wajah Bhumi yang berada tepat di hadapannya. Niskala mengerjapkan matanya, ia berusaha menoleh ke sembarang arah tetapi Bhumi justru menahannya. "M–Mas, jangan!" pinta Niskala saat Bhumi semakin memperpendek jarak wajah mereka. Niskala menggeleng lemah, meminta Bhumi agar menghentikan niatnya. Bhumi yang semula juga ikut terbawa suasana pun tersadar. Ia buru-buru melepaskan pipi Niskala dan mundur beberapa langkah. Sungguh, Bhumi nyaris saja kehilangan kendali jika saja Niskala tidak menghentikannya. "Saya tidak berniat menyentuhmu! Saya hanya sedang menjahili kamu saja," sanggah Bhumi sembari mengalihkan pandangannya dari Niskala. Tentu saja, ia tidak ingin Niskala tahu bahwa dirinya juga nyaris terbawa suasana. Niskala menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu, Mas. A–Aku pikir kamu benar-benar akan menyentuhku," ujar Niskala. Suaranya lirih dan sedikit terbata-bata. Bhumi berdecak sebal lalu berkacak pinggang. "Mana mungkin begitu? Saya sudah mengatakannya padamu, kan? Saya tidak mungkin bernafsu melihat tubuhmu," sahut Bhumi cepat. Tatapan matanya menajam, kembali dingin dan terasa begitu asing bagi Niskala. Niskala mengangguk paham. Ia tahu, Bhumi tidak akan dengan mudah luluh padanya. Namun, Niskala tidak akan menyerah. Meski saat ini hatinya masih milik orang lain, tetapi ia berjanji akan segera membuka hati untuk Bhumi, suaminya. "Kalau begitu, aku boleh minta tolong ambilkan koper punyaku di mobil, Mas? Aku merasa agak dingin sekarang," tutur Niskala. Suaranya begitu lembut, terasa begitu meneduhkan bagi siapapun yang mendengarnya. Bhumi menghela napas pelan. Ia menatap Niskala beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangguk meski sembari menggerutu. "Dasar menyusahkan! Lain kali saya tidak mau membantumu lagi!" Niskala tersenyum tipis. Bhumi memang sedikit tempramental. Namun, meski terkadang ucapannya kasar dan menusuk, tetapi sikapnya cukup baik. Hal itu lah yang membuat Niskala yakin bahwa Bhumi bukanlah orang jahat. Sembari menunggu Bhumi mengambil kopernya. Niskala memilih untuk melihat-lihat isi kamar Bhumi. Untuk ukuran seorang pria, kamar Bhumi begitu rapi dan bersih. Ruangan yang didominasi oleh warna hitam dan abu-abu itu terasa menenangkan untuk Niskala. "Mas Bhumi pasti sangat menjaga kamar ini," gumam Niskala. Ia duduk di tepi ranjang sembari tersenyum tipis membayangkan kehidupannya bersama Bhumi. Namun, senyuman Niskala mendadak sirna saat ia teringat kepada kekasihnya. Ya ... sampai sekarang ia belum memberikan kabar apapun padanya. "Aku tidak boleh menundanya lagi. Aku harus segera mengakhirinya karena bagaimanapun juga, sekarang aku sudah bersuami," ujar Niskala. Ia buru-buru mengambil tas kecil miliknya dan mengambil ponsel. Setelah itu, ia pun mengirimkan beberapa pesan panjang sebagai bentuk permohonan maaf serta untuk mengakhiri hubungannya. "Ini jalan yang terbaik untuk kita semua, Niskala. Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," ucap Niskala menenangkan dirinya sendiri. Ia menangis saat teringat akan kisah cinta indah yang selama ini ia rajut bersama kekasihnya. "Siapa yang berani membuatmu menangis, Niskala?" tanya Bhumi. Ia baru saja kembali sembari membawa koper dan juga tas besar yang berisi pakaian milik Niskala. Ia terkejut begitu mendapati Niskala menangis sembari menatap layar ponsel. Niskala menoleh ke arah Bhumi. Ia benar-benar tidak menyadari kehadiran suaminya itu. Dengan cepat, Niskala menghapus air matanya lalu berusaha menyunggingkan senyum tipis. "K–Kamu sudah kembali, Mas? Terima kasih banyak ya, sekarang aku ganti baju dulu," kata Niskala. Ia beranjak berdiri, tetapi Bhumi justru hanya menatap datar ke arahnya. "Kamu tidak mau menjawab pertanyaan saya, Niskala? Siapa yang sudah berani membuatmu menangis tanpa seizin saya?" tanya Bhumi lagi. Kali ini, suaranya terdengar sedikit menuntut dan tajam. "Aku tidak menangis, Mas. Aku hanya ... hanya kelilipan saja kok," sanggah Niskala. Namun, tentu saja Bhumi tidak percaya. "Jangan berani-beraninya kamu berbohong pada saya, Niskala!" gertak Bhumi. Ia menatap tajam ke arah Niskala lalu dengan cepat dan tanpa aba-aba, ia merebut ponsel milik Niskala. "Mas! Tolong kembalikan itu!" pinta Niskala. Ia berusaha mengambil alih ponselnya dari tangan Bhumi sembari tetap memegangi handuknya. Bhumi tidak mempedulikan Niskala. Ia lebih memilih membaca pesan demi pesan yang tertulis di layar ponsel Niskala. Ia lantas menghela napas panjang. Kini, ia sepenuhnya tahu mengapa Niskala tiba-tiba menangis. "Kamu menyesal menikah dengan saya dan berpisah dengan kekasihmu?" tanya Bhumi seraya memasukan ponsel milik Niskala ke saku celananya. Niskala menggeleng. "Aku tidak menyesal, Mas. Aku hanya ... hanya belum terbiasa dengan semua ini. Maaf, aku ... aku—" Niskala menggigit bibir bawahnya demi mencegah isak tangisnya lolos. Ia benar-benar tak kuasa menahan segenap kesedihan di dalam hatinya. Bhumi menghela napas berat. Melihat Niskala yang menangis dalam diam membuat hatinya sedikit tidak tega. Mau bagaimanapun juga, dirinya pun turut andil dalam hal ini. Meski merasa aneh, tetapi Bhumi merasa ikut bertanggungjawab atas apa yang menimpa Niskala. "Menangislah! Tenangkan dirimu, tetapi setelah ini saya harap saya tidak pernah melihat air matamu lagi!" kata Bhumi seraya mengusap lembut pundak Niskala. Mendengar ucapan Bhumi, isak tangis Niskala pun pecah seketika. Ia menangis tersedu-sedu sembari meremas handuk yang ia kenakan. Sungguh, Niskala merasa begitu patah hati. Cinta yang masih begitu besar terpaksa ia kikis demi perjodohan yang ia lakukan. Sejujurnya, Niskala tidak rela berpisah dari kekasihnya. Namun, dirinya sudah terlanjur berjanji untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Bhumi. Lagi pula, sekarang hanya Bhumi satu-satunya keluarga yang ia miliki. "Mas, setelah ini kamu tidak akan meninggalkan aku, kan?" tanya Niskala. Ia benar-benar takut ditinggalkan. Ia takut tidak ada satu orangpun yang membela dirinya. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi, Mas. Aku mohon, kamu jangan tinggalin aku juga ya! Aku janji, aku bakal ngelakuin apa aja asalkan kamu tidak pergi," kata Niskala sembari menatap Bhumi dengan tatapan penuh permohonan. Bhumi tak langsung menjawab. Namun, sebuah ide mendadak terlintas di pikirannya. "Tentu, kamu jangan khawatir, Niskala. Selama kamu bersedia melakukan apa saja untuk saya, maka saya tidak akan meninggalkan kamu." Niskala tersenyum tipis usai mendengar ucapan Bhumi. Dirinya lantas mendekati Bhumi dan memeluknya erat. Niskala tahu, Bhumi mungkin tidak sepenuhnya tulus dengan ucapannya, tetapi untuk sekarang ia sudah merasa cukup dengan hal itu. "Aku janji akan jadi istri yang baik buat kamu, Mas. Apapun yang terjadi, aku akan tetap ada di samping kamu. Aku ... nanti aku juga akan belajar mencintai kamu, Mas."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD