Ucapan Niskala begitu membekas di benak Bhumi. Belajar mencintai? Tidak, Bhumi tidak menginginkan hal itu. Ia enggan berurusan dengan apapun yang berkaitan dengan cinta. Ia juga tidak mau membuat Niskala nantinya semakin terluka karena dirinya tidak bisa memberinya cinta.
"Sudah jangan bicara yang aneh-aneh! Saya tidak akan meninggalkan kamu. Sekarang cepat pakai baju sana! Setelah ini Ibu dan Ayah ingin berbicara dengan kita," kata Bhumi sembari menatap wajah Niskala yang juga tengah menatapnya.
Mata Niskala masih berkaca-kaca. Ia mengangguk begitu mendengar perintah dari Bhumi. Setelah itu, ia mengambil baju dan pakaian dalamnya. Barulah kemudian, ia kembali ke dalam kamar mandi.
Begitu Niskala kembali masuk ke kamar mandi, Bhumi memilih duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas panjang lalu mengambil ponsel Niskala yang berada di saku celananya. Ia juga membaca kembali pesan yang dikirimkan oleh Niskala untuk mantan kekasihnya.
"Dia benar-benar gadis yang menyedihkan," gumam Bhumi setelah selesai membaca chat Niskala dan kekasihnya. Bagaimana tidak menyedihkan? Dari atas hingga bawah Niskala terlihat begitu mengemis-ngemis perhatian dan waktu. Sedangkan kekasihnya? Pria itu bahkan hanya menjawab pesan dari Niskala secara singkat, itupun ia tidak membalas setiap hari.
"Sekarang saya tahu kenapa dia begitu takut ditinggalkan. Tapi yah ini bagus juga untuk saya, setidaknya sekarang dia sudah berada dalam kendali saya," ujar Bhumi seraya meletakkan ponsel milik Niskala ke atas nakas.
Sekitar lima belas menit kemudian, Niskala keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih baik. Wajahnya tak terlihat sembab, matanya pun kini sudah tampak berbinar. Selain itu, baju yang ia pakai pun menambah kesan manis untuknya.
"Mas, kamu mau mandi dulu?" tawar Niskala. Ia menatap Bhumi yang sedari terus-terusan menatap ke arahnya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Bhumi saat ini.
"Ya, tolong siapkan air untuk saya. Setelah itu kamu boleh beristirahat dulu," jawab Bhumi. Ia beranjak dari duduknya lalu membuka satu persatu kancing kemeja yang sedari tadi membungkus tubuhnya.
"Loh? Katanya mau ketemu sama Ayah dan Ibu, Mas? Nggak jadi?" Niskala kembali bertanya.
"Nanti sekalian makan malam," jawab Bhumi seadanya. Kini, ia sudah benar-benar melepaskan kemeja yang ia pakai. Tubuh atasnya terlihat begitu gagah dan sempurna. Otot-ototnya tampak kekar dan membuat siapa saja yang melihatnya pasti ingin menyentuhnya.
Begitu juga dengan Niskala. Sedari tadi matanya tak pernah lepas dari tubuh Bhumi. Semburat merah pun muncul di pipinya yang sedikit chubby. Sungguh, baru kali ini Niskala melihat tubuh seorang pria yang begitu gagah dan indah seperti Bhumi.
"Kenapa? Kamu mau menyentuhnya?" tanya Bhumi seraya berkacak pinggang. Ia berdiri menghadap tepat ke arah Niskala. Memamerkan perutnya yang terlihat keras dan menakjubkan.
"E–Eh nggak, Mas. Aku nggak mau menyentuh kamu kok. Aku cuma lihat aja," balas Niskala. Ia salah tingkah, tak menyangka dirinya ketahuan mengagumi tubuh Bhumi.
Bhumi tersenyum miring. "Ya sudah, lagi pula saya juga tidak akan membiarkan kamu menyentuh tubuh saya," sahut Bhumi cepat. Suaranya yang datar membuat Niskala sadar bahwa untuk meluluhkan hati Bhumi, ia masih perlu waktu yang sangat banyak.
Sembari menunggu Bhumi selesai mandi, Niskala memilih untuk bermain dengan ponselnya. Ia melihat-lihat sosial media sembari sesekali melihat pesan yang sudah ia kirimkan kepada mantan kekasihnya tadi. Sayangnya, tidak ada jawaban apapun meski sudah dibaca.
"Mungkin dia sedang sibuk jadi tidak sempat membalas. Ya sudah tidak apa-apa, yang terpenting sekarang semuanya sudah berakhir," gumam Niskala dengan perasaan sesak yang lagi-lagi muncul di dadanya.
Niskala mengembuskan napas panjang. Kini, ia berharap segalanya akan berjalan dengan mudah. Ia juga berjanji agar kehidupannya berubah menjadi lebih baik meski untuk sekarang semuanya masih terasa amat menyiksa.
"Sekarang, sudah waktunya aku membuka hati untuk suamiku. Dia yang berhak memiliki semua rasa cinta yang aku punya. Benar, aku harus bisa mencintai Mas Bhumi sebelum meluluhkan hatinya!" gumam Niskala dengan senyum sumringah yang menghiasi bibirnya.
***
Waktu makan malam pun tiba. Niskala dan Bhumi berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Adnan dan Seroja sudah terlihat duduk dengan nyaman. Tak hanya itu, kakak tiri Bhumi—Juan beserta istrinya Raras, juga terlihat sudah menunggu.
Begitu melihat kedatangan Niskala, raut wajah Seroja berubah. Tak ada lagi senyuman hangat seperti yang baru saja ia tujukan kepada Raras. Sorot matanya sinis dan Niskala menyadarinya. Namun, ia berusaha untuk tidak mempedulikannya.
"Lain kali kalau udah jadi istri orang jangan males-malesan ya, Ras. Minimal bantu-bantu di dapur, jangan malah ngurung diri di dapur," sindir Seroja sembari menatap ke arah Raras. Ia seolah-olah berbicara kepada Raras, padahal kata-kata itu jelas ditujukan untuk Niskala.
"Iya, Ibu. Dulu aku pas awal-awal nikah nggak pernah ya ngurung diri di kamar. Aku pasti bantu-bantu kan, Bu?" Raras membalas ucapan Seroja. Ia menatap Seroja dengan senyuman cerah di bibirnya.
"Iya dong, kamu menantu Ibu yang paling baik, Raras. Ibu benar-benar bangga sama kamu," balas Seroja sembari menatap penuh cinta ke arah Raras.
Raras dan Seroja terus-terusan menyindir Niskala. Keduanya tampak begitu asyik tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Niskala saat ini. Mereka bahkan sengaja terang-terangan menatap penuh benci ke arah Niskala.
Niskala tertunduk lesu. Ia tahu dirinya tidak diharapkan di rumah ini. Ia juga tahu bahwa semua yang diucapkan oleh Raras dan Seroja ditujukan untuknya. Namun, Niskala tidak punya pilihan lain. Meski rasanya begitu canggung dan menyedihkan, ia tetap duduk tepat di samping Bhumi.
"Kamu mau makan apa, Mas?" tanya Niskala. Suaranya lirih, tetapi Bhumi masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Bhumi melirik ke arah Niskala. Ia menghela napas panjang lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam lembut tangan Niskala yang berada di bawah meja. Tak lupa, ia juga memberikan kode kepada Niskala agar istrinya itu tidak terus-menerus menunduk.
Hati Niskala menghangat. Perasaannya menjadi jauh lebih tenang setelah Bhumi menggenggam tangannya. Kini, ia pun berani mendongakkan kepalanya. Ia menatap Seroja dan Raras yang masih menatap tak suka ke arahnya.
"Sudah-sudah jangan bicara lagi, Bu! Sekarang ayo makan!" titah Adnan mencairkan suasana yang semula begitu menegangkan.
Semuanya pun mematuhi ucapan Adnan. Niskala dengan sigap dan penuh perhatian mengambilkan makanan untuk Bhumi. Barulah setelah itu, ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Melihat hal tersebut, Seroja semakin terlihat sinis. Baginya, Niskala benar-benar merusak hari-hari bahagianya.
"Jadi, kapan kamu berdua berencana punya momongan, Bhumi?" tanya Adnan di sela-sela acara makannya. Ia menatap Bhumi yang tentu saja terkejut mendengar pertanyaannya yang begitu tiba-tiba.
"Minum dulu, Mas," ujar Niskala sembari memberikan segelas air putih untuk Bhumi yang tersedak. Tak lupa, ia juga mengusap lembut punggung Bhumi.
"Kenapa terkejut begitu? Orang sudah menikah memang wajar kalau ditanya begitu. Atau jangan-jangan kalian tidak berencana punya momongan karena hanya dijodohkan?" tanya Seroja sembari menatap penuh selidik ke arah Niskala dan Bhumi bergantian.
Bhumi tak langsung menjawab. Ia memilih untuk meminum segelas air yang diberikan oleh Niskala. Barulah setelah merasa tenang, ia menatap ke arah Adnan yang kini tengah menatap ke arahnya.
"Kami berdua masih perlu adaptasi. Kami tidak mau terburu-buru soal itu," jawab Bhumi seadanya.
"Mau sampai kapan kamu beradaptasi, Bhumi? Atau malah sebenarnya istrimu yang tidak mau kamu sentuh?" cerca Seroja. Ia menatap lekat-lekat ke arah Niskala dan Bhumi.
"Bukan begitu, Bu. Saya dan Niskala masih perlu saling mengenal. Lagi pula, untuk apa buru-buru punya anak?" Bhumi membalas tatapan Seroja. Ia tidak suka dengan topik pembicaraan yang sedang terjadi saat ini.
"Kalau menurut kamu sendiri bagaimana, Niskala? Apa menurutmu salah kalau kami sebagai orangtua ingin kalian cepat-cepat punya anak?" tanya Seroja kepada Niskala. Tatapan matanya tajam, bahkan Niskala mampu merasakan aura kebencian dari Seroja.
Namun, begitu mendapat pertanyaan tentang anak oleh Seroja. Niskala gelagapan, tetapi untungnya ia bisa dengan cepat menyesuaikan diri. Sembari tersenyum lembut, ia pun berkata, "Aku ikut apa kata Mas Bhumi saja, Bu."
"Dengar itu, Bhumi! Istrimu saja tidak masalah kalau cepat-cepat punya anak. Ibu mau kalian berdua segera punya anak!" titah Seroja, mutlak.
"Tidak bisa begitu dong, Bu! Kenapa kami yang harus dituntut untuk segera memiliki keturunan? Sedangkan Kakak saja tidak pernah dituntut begitu," sanggah Bhumi. Ia merasa tidak adil sebab selama ini Juan dan Raras tidak pernah dituntut untuk segera memiliki keturunan.
"Nggak usah bawa-bawa aku, Bhum! Itu urusanmu jadi jangan pernah kamu menyebut namaku dalam hal ini!" ketus Juan. Sejak dulu bahkan hingga sekarang, ia memang benci jika ditanya kapan punya anak.
Bagi Juan, anak itu tidak penting adanya. Selain itu, ia juga hanya ingin hidup bebas tanpa dikekang dengan status seorang ayah. Lagi pula dengan hidup bahagia bersama Raras itu sudah lebih cukup bagi Juan.
"Ibu benar, Bhumi. Atau begini saja, kamu dan Niskala harus segera punya anak. Kalian bebas mau bulan madu ke mana saja nanti Ayah yang urus," tawar Adnan.
"Ayah, saya masih belum kepikiran tentang anak. Saya—"
"Kamu mau dihapus dari daftar pewaris keluarga ini, Bhumi? Kamu mau membantah ucapan Ayah?!"