“Mau kamu saya gimana, Na? Mau kamu saya bersikap seperti apa?” Naura menelan salivanya susah payah. Wanita itu, setelah sejak tadi diam merasa bahwa kini kesempatannya untuk bicara. Hanya saja, Naura sendiri tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Abi. Apa yang harus ia katakan pada suaminya. “Maaf. Maafin saya. Saya nggak bermaksud buat kamu bingung.” Sesuatu akhirnya keluar dari mulut Naura, dan Abi memenuhi kewajibannya untuk mendengarkan kali ini. “Hari ini—hari ini saya, rasanya saya… terlalu banyak perubahan hari ini dalam satu waktu, dan sepertinya pikiran saya memang belum siap untuk terima semuanya. Iya, saya tahu pernikahan kita memang udah diatur sejak beberapa bulan belakangan, tapi ternyata bukan berarti beberapa bulan ke belakang itu cukup untuk saya mempersiapkan diri

