“Kenapa kamu diam?” tanya Elang setelah menunggu tak ada jawaban dari Liana. Hatinya sudah terpengaruh oleh bisikan setan tapi tetap menahan diri untuk tak menuduh sebelum mendengar jawaban pasti yang keluar dari mulut sang istri untuk dicocok-cocokan dengan apa yang dia ketahui dari ibu-ibu yang bergosip. “Ini anu … dia …” Liana memikirkan alasan apa yang harus dikatakan sampai ketemu pada sebuah alasan yang dianggap layak untuk dikemukakan. “Dia papanya Nara. Nara itu anak yang hampir aku tabrak. Dia datang ke sini untuk minta maaf sekaligus mengucapkan terima kasih. Maaf karena sudah memarahiku dan terima kasih sudah menolong anaknya. Dia terpisah dari ibunya, jadi Luna yang hubungi papanya.” Meskipun terdengar berputar-putar, tapi setidaknya Liana bisa berbicara dengan lancar, memuta

