“Liana cantik, imut, kaya marmut, anaknya pak mahmud, senyum dong,” celoteh Elang merayu istrinya yang sedang tadi menolak merespon dengan kata-kata maupun dengan senyuman. “Eh, salah. Anak pak Bara.” Elang terkekeh menggaruk kepala. Dia terus mengikuti istrinya ke manapun sampai Liana berhenti di depan kamar mandi resort lalu menoleh ke belakang. “Ngapain?” “Ikut,” jawab Elang manja. “Sana jauh-jauh!” Liana mengibas tangan tapi Elang menggelengkan kepala. Memasang wajah polos, masih dengan mode merayu dan memohon agar dimaafkan. “Aku mau pup.” “Ikut juga. Biar aku yang cebokin. Udah biasa cebokin baby B, gak jijik lagi.” Liana menatap suaminya tanpa berkedip. Lalu membuang napas dengan kasar. “Mau kamu apa sih, Lang?” “Maaf. Dengerin penjelasan aku, karena aku gak nakal.” Liana

