**********
Cinta tak ada logika
**********
Dibalik suksesnya seorang pria, ada wanita di sampingnya. Pepatah yang sudah tergerus zaman ini masih sering digunakan. Terutama untuk para petinggi negara yang baru dilantik. Pepatah yang terasa seakan rumah tangga para petinggi itu baik-baik saja. Padahal, selalu ada garam di balik kelezatan semua masakan.
“Selamat, Pak Barat!”
“Sukses di posisi barunya, pak.”
“Semoga di masa depan bisa lebih baik lagi.”
Barat dihujani dengan beribu kata selamat. Tentu saja bangga. Satu yang tak membuatnya bangga. Keterpaksaan membawa Varda dalam acara ini. Demi harga diri dan persepsi koleganya.
“Oh iya? Berarti dia yang punya Varda Cosmetic? Gila. Pantas aja. Mereka memang sudah terlahir jadi orang kaya.”
“Tapi aneh juga sih. Harusnya Pak Barat bisa cepat naik jabatan. Tapi dia termasuk yang lama ya.”
“Iya juga sih,”
Percakapan itu dia dengar sekembalinya dari toilet. Argumen yang membuatnya marah dan kesal. Namun, tak ada kata yang bisa terucap. Terutama demi reputasinya yang kian menanjak.
“Sekali lagi, selamat ya Bar.”ucap Ray sebagai seorang teman. Dia sengaja ngasih selamat agak belakangan. Sesuai quotes, save the best for the last.
“Thanks, Ray.”
“Buat Bu Varda juga. Saya ucapkan selamat.”
“Iya. Terima kasih.”balas Varda singkat.
Ada beberapa karyawan yang posisinya naik. Dan acara ini dibuat sebagai apresiasi untuk prestasi itu. Acara yang dibuat hanya sekali setahun. Keputusan diperoleh berdasarkan rapat besar para petinggi perusahaan. Dan kebanggaan ini diperoleh Barat dengan keringatnya sendiri. Makanya dia muak mendengar bincang-bincang orang yang tadi bergosip di sisi luar toilet.
“Aku bawa mobil sendiri. Makasih ya, sudah datang.”ujar Barat.
“EH, apa gak mau pulang bareng aja?”tanya Varda dengan keberanian yang luar biasa. “Biar supir yang bawain mobilmu. Aku cuma takut ada yang melihat kita.”
“Baiklah.”balas Barat setelah berpikir sesaat. Dia masuk ke mobil Jaguar itu. Mereka duduk dalam kecanggungan. Sudah lama tak duduk di mobil yang sama. Bahkan ketika Gemini punya acara di sekolah, mereka datang terpisah. Dunia sudah hancur sejak lama, tapi kehancuran itu selalu diberi balutan indah. Rumah tangga yang penuh kepalsuan entah sudah berapa lama.
Dalam perjalanan, tak ada suara yang berbincang. Hanya ada musik sendu yang lagi hits akhir-akhir ini. Barat sibuk dengan handphonenya. Dia bahkan tertawa sambil mengetik sesuatu di benda mati itu. Apa yang membuatnya begitu bahagia?
Suara dering panggilan membuat supir mengecilkan suara musik. Varda menerima panggilan itu dengan lebih dulu menarik nafas panjang.
“Hello, mama.”
“Varda, kenapa kamu gak cerita? Katanya Barat baru naik jabatan ya?”
“Iya, ma. Ini aku habis dari acara pelantikannya. Rencananya mau bilang sama mama nanti, abis sampai di rumah.”
“Kalau gitu, mama sama papa kesana ya. Kita rayakan bareng-bareng.”
“Hmm, iya.”
Panggilan dimatikan. Varda melirik ke arah Barat, tapi pria itu sibuk dengan handphonenya. Apa yang begitu menarik hingga dia begitu terpaku?
“Katanya mama sama papa mau datang.”
“Hmm, oke.”
Singkat, padat dan jelas. Sebuah jawaban yang tanpa perasaan. Terkesan tidak biasa, tapi bagi Varda, ini sangat lumrah. Sudah begitu lama, tak ada sikap yang begitu berarti. Sayang, jauh di dasar hatinya, Varda masih tetap dengan rasa yang dulu. Tapi keadaan mengharuskannya menjadi sangat kaku.
Tiba-tiba mobil berhenti. Supir bergegas keluar untuk memeriksa bagian mobil yang mungkin bermasalah. Beberapa saat, dia kembali.
“Bu, sepertinya ada yang tidak beres. Bagaimana jika saya panggil Pak Jon untuk menjemput?”tanyanya.
“Ah, biar saya coba cek dulu.”tawar Barat sambil bergegas keluar. Dia meninggalkan handphonenya di kursi mobil. Dan dia lupa mematikan layarnya.
Penasaran mengganggu seperti hujan di tengah sengatan sinar matahari. Jika diam, rasa itu akan terus mengganggu. Dan memang lebih baik diluapkan. Dia langsung mengambil handphone itu. Dilihatnya sebuah pesan dari kontak yang diberi nama My Flower. Tak ada foto, hanya garis background hitam. Dibacanya kata demi kata. Belum sempat membaca semua, Barat kembali.
“Hanya masalah baterai. Tapi udah dibenerin.”ucapnya sekedar.
Mobil kembali melaju. Menuju rumah yang tak jauh lagi. Cuma satu yang semakin jauh. Pikiran Varda tentang suaminya. Tentang bukti chattingan yang mengarah ke perselingkuhan.
***
Pria-pria itu membawa paket kiriman dengan truk besarnya. Penjualan Nacita Fashion semakin meningkat. Tak heran, baju itu terlihat menjamur di masyarakat. Banyak yang mencibirnya dengan peningkatan yang signifikan ini. Tapi Berlin yakin, produk asli Indonesia bisa unjuk gigi dengan menunjukkan kualitasnya.
“Mbak, saya makan siang dulu. Mau ikut?”tanya Windy menawarkan diri. “Atau titip sesuatu?”
“Thanks, Win. Aku lagi gak berselera. Kalian aja dulu.”
“Okey, mbak.”
Berlin menghela nafas. Ada apa dengan Sera? Selama hidupnya, Sera tak pernah bertingkah seperti ini. Apalagi ketika mereka bertemu dua hari yang lalu. Dia bertindak seolah-olah jadi musuh.
Dering panggilan membuatnya berdiri dan mencari letak handphonenya. Dari Sinka.
“Aku menuju kesana. Kita makan siang dimana?”tanyanya. “Jangan ditolak. Aku tunggu di Warung Mbok Ria.”
Berlin terpaksa menyanggupinya. Dia segera bergegas untuk menemui temannya itu. Dia juga perlu meminta pendapat Sinka. Benarkah sikap Sera terlihat berbeda?
“Mbok, pesan nasi, sayur bening, tahu sama tempe ya.”teriaknya keras agar terjangkau pendengaran Mbok Ria. Tempat itu selalu ramai dengan pengunjung. Apalagi di jam makan siang seperti ini. “Kamu mau apa?”
“Es jeruk aja.”
“Pake es jeruk sama jus terong belanda ya, Mbok!!”
Setelah menghabiskan energi dengan teriak-teriak, dia duduk di samping Berlin. Menunggu dengan tenang sampai makanan disajikan.
“Masih diet? Makannya tahu tempe doang.”
“Iya nih. Perut makin bergelambir, Ber. Aku takut entar dijadikan santapan karena saking gendutnya.”candanya sambil tertawa. Berlin ikut terkekeh mendengar ucapan konyol itu.
“I have a question.”tanya Berlin dengan tenang. “Merasa ada yang aneh gak sama Sera?”
“Iya. Waktu kita ketemuan yang sama Joel kan?”balas Sinka membenarkan.
“Cerita dong. What do you think about that?”
Sinka menarik nafas. Berpikir sejenak dan mencoba mengingat momen malam itu. Disaat dia mati kutu dan gak bisa membalas semua perkataan Sera. Ditambah lagi, mimik wajahnya yang tak biasa karena cenderung kalem.
“Dia kayak lagi balas dendam. Dia marah sama kita? Terutama kamu.”
“Aku juga merasa begitu.”
“Karena kamu gak ngajak dia kumpul-kumpul?”
“Bukan. Sebelumnya juga, dia sudah kelihatan dendam.”
“Jadi, kenapa?”
Sajian makanan tiba. Wanginya menggugah selera. Setiap pesanan akan dimasak ketika ada permintaan. Jadi selalu fresh from the oven.
“Terima kasih, mas.”ucap Sinka sambil mengatur makan siangnya. “Apa jangan-jangan, dia tahu soal kita?”
“Soal apa?”
“Kita tahu dia itu selingkuhannya Barat.”
“Heh, gak mungkin. Kalau dia tahu, dia pasti udah putus sama si Barat itu.”ucap Berlin menyanggah pernyataan itu. Dia mengenal Sera. Perempuan yang berpikir jauh untuk masa depannya. Jika dia tahu tentang Barat, rasanya dia tak akan segan-segan mengakhiri hubungan. Sedang kemarin, dia bilang masih akan putus. Ada alasan lain.
“Tapi kita juga jahat, Ber. Dia seperti orang bodoh mencintai pria yang salah. Apa lebih baik kita kasih tahu aja?”
“Jangan, Sin. Please!”
“Kenapa? Kamu tega banget sama dia.”
“Dia dan Dipta juga tega sama aku.”
“Apa hubungannya sama Dipta?”tanya Sinka dengan mengernyitkan dahi. Sisa tempe yang siap dimakan jadi tertunda. Berlin diam dan meneguk es jeruk dengan sedotan. Matahari semakin panas, seperti hatinya. “Jangan bilang,,,,”
“Iya. Aku suka sama Dipta.”aku Berlin jujur.