.14. Big Decision

1201 Words
******** I LOVE, BUT YOU DON’T ******** Waktu berjalan tanpa harus dikejar. Tak pernah malas meski dunia sedang tidak baik-baik saja. Virus Corona bisa menghentikan aktivitas manusia, tapi dia tidak bisa menghentikan waktu. Waktu tetap berjalan meski dunia kiamat sekalipun. Perempuan itu menunggu dengan sikap tenang. Dia memegang amplop putih di tangan kanannya. Tak terasa, sudah cukup lama dia bekerja di Trinita Production. Berkutat dengan angka dalam tagihan setiap bulan. Menjadi seorang accounting harus teliti. Dan itu membuat Sera menjadi pribadi yang tidak gampang ditipu. Dia menjadi teliti akan setiap hal. Kontrak harus benar-benar sesuai sebelum ditandatangani. Zaman sekarang, penipuan bisa dilakukan dengan blak-blakan. “Siang, Ra.” “Siang pak!” “Kok tumben. Ada apa nih mau ketemu?”tanya manajer yang bersamanya beberapa tahun belakangan ini. Dia tidak pernah marah secara personal. Bahkan, ketika suatu masalah terjadi dan merugikan perusahaan, dia tetap ramah kepada bawahannya. Dan itu adalah salah satu alasan yang membuat Sera betah. “Iya pak.”balas Sera sambil tersenyum. Dia menggigit bibir bawahnya sebab berat untuk bicara. “Sebelumnya, saya benar-benar berterima kasih. For everything. Saya sampai di tahap ini berkat kebesaran hati bapak.” “Eh, kenapa nih? Ini kan bukan hari saya resign atau pindah cabang.”candanya. “Saya yang mau resign, Pak.”ungkap Sera. Terlihat jelas dia kaget. Gak ada angin, gak ada hujan. Tapi terik mentari berganti jadi hujan deras. Asing tapi betulan nyata. “Kenapa, Ra? Kamu ada masalah sama Elfri? Atau sama karyawan yang lain?” “Tidak seperti pak. Saya hanya merasa, butuh istirahat.” “Masalah pribadi?” “Bisa dikatakan begitu. Dan gak ada sangkut pautnya sama yang lain.” Pria itu diam tanpa kata. Beberapa manajer merasa kehilangan ketika karyawannya resign. Dia harus siap dengan orang baru yang mungkin tidak sesuai. Pribadi baru yang harus didalami sedemikian rupa. “Tenang pak, saya mengajukan one month notice. Jadi resignnya masih satu bulan lagi.”ucap Sera sambil tertawa. “Yah. mau bagaimana lagi. Jika itu sudah keputusanmu.” “Iya pak. Saya minta maaf pak, kalau ada salah.” “Semua orang punya salah. Dan salah itu bisa diperbaiki.”tegasnya. Sera keluar dari tempat itu dengan pandangan penuh pertanyaan dari rekan kerjanya. Elfri mengajaknya bicara berdua di pantry yang nganggur jam segini. Dia sudah tahu niat awal Sera, tapi tidak dirasa akan secepat ini. “Kamu ada masalah apa sih? Satu bulan yang lalu, kamu sering absen karena pacar. Sekarang juga karena dia?”tanyanya membabi buta. Pacar itu cuma pelengkap hidup yang sepi. Jangan jadikan dia sebagai penentu masa depan. Masa depan ada di tangan sendiri. Bergantung pada manusia hanya menyisakan luka yang sakit. “Bukan, mbak. Enak aja gara-gara pacar.” “Terus kenapa? Karir di perusahaan ini bagus loh. Bertahan setahun lagi, kamu bisa naik jabatan. Sayang banget, Ra.” “Bahkan aku gak yakin bisa bertahan satu tahun lagi.” “Apa maksudnya?” “Lupakan. Mau makan apa nanti acara farewell? Aku kasih kesempatan buat request deh.”ucapnya mengalihkan. “Mana ada. Gak peduli sama makanannya.” “Yakin? Aku sanggup loh beliin boba, donat sama bakmi.” “Ish, kalau gitu aku mau..” Pertemuan itu sepaket dengan perpisahan. Jika pernah bertemu, maka pasti akan berpisah. Bahkan yang lahir pun akan mati. Ini sudah jadi takdir yang tak bisa direkayasa. Secanggih apapun jaman, dunia tetaplah tidak sempurna. Ada sepasang takdir yang tak bisa dihindari. Selain itu, ada perkumpulan payah yang harus dihadiri. Jika tidak, bibir bisa berubah jadi lonceng yang gemerincing setiap saat. Sebab minggu lalu Sera tidak hadir dengan alasan klise, dia terpaksa hadir hari ini. Alasan baru akan membuatnya jadi topik pembicaraan hangat. Sebenarnya itu tak penting dipikirkan, tapi Sera sadar setelah bertemu Jolin di salah satu mall di Jakarta Barat. “Katanya, kamu bakal nikah dalam waktu dekat. Beneran?” “Eh, siapa yang bilang?” “Gosip aja. Kemarin waktu ketemuan, Berlin bilang iya.” Yah, begitulah naluri perkumpulan payah. Mereka begitu mesra pamer di media sosial. Mempertontonkan keakraban yang sebenarnya maya. Padahal, topik pembahasan tak lepas dari argumen toxic. Kalau tidak mau jadi tumbal, kehadiran bisa jadi solusi paling ampuh. Ucapan terima kasih jadi akhir pembicaraan dengan driver taksi itu. Sera merapikan diri dan memandang wajahnya di cermin kecil yang selalu dititipkannya di dalam tas. Tak lupa, dia mengoleskan lipstik merah di bibirnya. Merah berarti berani! “Wuih, datang juga yang kita tunggu-tunggu.”ujar Sinka dengan senyuman tipis miliknya. Joel dan Dipta langsung menoleh. No one knows, even Dipta sekalipun. Yang tahu cuma Sinka. Dia yang mengajak Sera secara personal. Dan mungkin, Berlin akan syok melihat kehadirannya. “Kok gak bilang, Ra?”tanya Dipta. “Pasti kangen sama aku kan? Iya kan?”canda Joel. “Kangen dong. Siapa sih yang gak kangen sama cowok kekar nan kaya kayak kamu.” “Idih, dipuji gini bikin kegeeran loh.”ucap Joel tertawa. Tak lama, Berlin datang dengan handphone di tangannya. Dia melihat Sera dan tak merespon apa-apa. Sikap yang normal dari seorang Berlian Nacita. Mereka bicara tentang banyak hal. Sampai akhirnya talks about Serani Floella. “Kalau aku sih bakal nikah dua tahun lagi aja. Jadi masih ada dua tahun buat cari calon.”ucap Joel. “Kamu gimana, Ra? Udah ada pikiran sama pacarmu?” “Belum. Kayaknya bentar lagi mau putus.” “Hah, ke-kenapa?”tanya Sinka reflek. Pura-pura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. “Tebak!”tantang Sera dengan mata tertuju pada Sinka. Pandangan yang membuat Sinka menelan ludah. Otaknya pasti sedang berspekulasi. Spekulasi yang amat benar tapi tidak valid. “Entahlah, Ra.”ucap Sinka kemudian. “Menurutmu apa, Ber?”tanyanya kepada Berlin. Seperti peluru yang tiba-tiba mendarat di jantung. Detaknya jadi tak biasa. “Kamu kan udah lama gak cerita. I don’t know.” “Bosan. Kadang manusia bosan sama sesuatu yang sama.” “Hey, alasan macam apa itu? Sepuh kayak kita udah ignore sama alasan kayak gitu.”ujar Joel sambil menikmati mie goreng miliknya. “Kamu mah udah sepuh Jo. Kalau aku masih newbie.” “Jadi, gimana masalah CSR yang dibuat perusahaanmu, Jo?”tanya Dipta mengalihkan. Cara agar Joel tidak banyak tanya tentang Sera. Ini semacam pengalihan isu. Kelihatan banget mereka bertiga perang emosi dengan argumen. Dan Joel tidak tahu apa-apa. Dipta pribadi merasa ada yang janggal. Ada apa dengan Sera dan Berlin? Terutama Sera. Baginya, Berlin wajar bersikap egois. Itu adalah sifatnya yang sudah mendarah daging. Benda mati sekalipun bisa salah dihadapannya. Namun, Sera terlihat tidak biasa. Rasa iba dan mengalah yang selama ini melekat tiba-tiba sirnah. Dia tidak menggubris kekacauan hati Berlin. Dan yang lebih parah, dia seperti sengaja membuat perempuan itu kian marah. What’s going on! “Dip, bareng ya!”ajak Sera dengan suara yang dapat didengar oleh yang lain. “Boleh. Daripada kamu naik kendaraan umum. Bahaya, udah malam.” “Ra, boleh bicara bentar gak?”ucap Berlin sebelum mereka pergi. Sinka udah pergi dengan ojek online, sedang Joel pulang dengan mobil pribadinya. “Next time ya, Ber. Aku besok harus kerja.”tolak Sera membuang jauh kepeduliannya. Berlin terlihat kecewa di balik wajah datarnya. Dipta tak mau ikut campur. Ini memang sudah aneh sejak tadi. Terutama di sisi Sera.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD