.9. Benci

1415 Words
******** Benci adalah level tertinggi dari luka. ******** Raina menunggu di pintu masuk aula. Anak gadisnya itu terlihat berapi-api. Kalau suka sama sesuatu, pasti berusaha banget buat dapat atensi. Namanya juga masih remaja. Cenderung suka pada hal baru. Selagi masih dalam batasan, Raina tidak mau ambil pusing. “Buruan dong, sist.”ucapnya akrab. Keakraban yang diciptakan sejak dulu. Mending kasih panggilan yang rasanya seperti teman. Kalau anak udah jadi teman, maka anak bisa dengan mudah diberikan tuntunan. “Ma, itu tadi terkenal di t****k loh.” “Cowok tadi?” “Iya. Ternyata aslinya lebih ganteng, ma. Untung aku udah dapat foto bareng, jadi entar tinggal upload.”lanjutnya penuh dengan skenario. Raina mengajaknya untuk segera masuk. Jangan sampai mereka terlambat dan bikin suasana canggung. “Ah, my sweetest. Apa kabar?” “Baik banget. Eh, ada siapa ini?” “Hai, tante.”sapanya sekedar. Dia masih fokus mengedit foto yang baru diambilnya bersama Dipta. Dia harus memastikan wajahnya cantik dan cocok ada di samping Dipta. Gak banget dong kalau dia cemong. Entar jadi bahan julid netizen yang paling benar dan gak pernah salah. “Aku pergi sebentar ya, Rain. Kamu duduk di meja depan situ deh. Kalau gak salah.”ucapnya sambil mencari meja yang tadi dilewati. Setiap meja sudah diberikan label nama untuk para tamu. “Santai, Var. Udah, sana pergi. Biar urusannya cepat kelar.” “Iya-iya.”balas Varda sambil tersenyum. Dia berjalan hendak keluar dari aula itu. Tapi ia berpapasan dengan Gemini saat tepat di pintu keluar. Gemini dan Barat ternyata baru saja tiba. Gemini langsung berlari memeluknya. Tangan kecil itu hanya bisa meraih kakinya yang mengenakan high heels hitam itu. “Ma,,,” “Manja banget sih. Baru juga pisah tadi pagi.”ledek Varda sambil mengelus rambutnya yang dikepang dua. Dia tampil cantik dengan dress berwarna hijau itu. Ditambah lagi dengan pita yang dijepit di rambutnya. Putrinya itu selalu cantik dan menggemaskan. “Wah, cucuku sudah datang.”ujar seorang wanita seraya mendekat. Gemini langsung memeluk wanita itu. Varda tersenyum dan segera pergi dari tempat itu. Dia melewati Barat tanpa sepatah katapun. Bukan hanya dia, Barat sudah mengalihkan wajah sejak mereka berpapasan.Tak ada ruang. Tak ada waktu. Tak ada kesempatan untuk sekedar saling mengindahkan. Dia membuka pintu dengan lebih dulu memasang wajah ramah. Lebih dulu menyapa sebelum bicara tentang tanda tangan dokumen itu. “Sorry banget ya, aku benar-benar gak expect bakal ada acara hari ini.”ucapnya sambil mempersiapkan beberapa kertas yang harus di tanda-tangani. “It’s ok, mbak. Kami juga jadi lebih dekat kok. Tangerang kan lumayan jauh dari sini.”  “Iya juga sih. Baguslah. Tadinya aku udah merasa bersalah banget. Senang kalau ternyata kalian gak merasa terganggu.” “Nah, Mas Dipta boleh tanda tangan disini ya. Ini lumayan banyak sih.”ucapnya sambil menyerahkan kertas dan pulpen. Dipta menyanggupi karena itu bukan masalah. Apalagi, Varda Cosmetic termasuk brand yang sangat loyal pada orang-orang yang bernaung di bawahnya. Jadi, selain salary sesuai kontrak, Varda Cosmetic sering ngasih bonus juga. Apalagi kalau penjualan jauh di atas target. Rasanya itu udah cukup membuat orang betah kerja sama dengannya. “Oh ya, Mbak Sera tinggalnya dekat sini juga?”tanyanya. Sera sampai kaget mendengar pertanyaan itu. Bukan apa-apa, dia sibuk melamun sejak tadi. Melihat foto di meja kerja Varda. Foto keluarga yang penuh suka. Foto itu mengingatkan Sera pada impiannya dahulu. Punya rumah tangga yang sempurna bersama Barat. “Ah, I-Iya mbak.”balas Sera singkat. Dia tak ingin bicara banyak seperti biasanya. Ketika rasa bersalah berkontradiksi dengan perbuatannya, disitulah tingkahnya jadi tidak biasa. Proses penandatanganan itu berlangsung singkat. Varda terlihat buru-buru karena memang punya acara setelah ini. Dia segera meninggalkan Sera dan Dipta saat Nindy datang. Nindy menjelaskan beberapa rule tambahan agar tidak membuat misinterpretasi di masa depan. “Makasih ya, Mas Dipta dan Mbak Sera.” “Iya, mbak. Terima kasih kembali.”balas Dipta marah. Mereka bergegas pergi. Namun, Sera menyuruhnya untuk berhenti. Berhenti sebentar karena dia ingin melihat kenyataan yang rasanya sudah pasti pahit.  “Kenapa lagi, Ra?”desak Dipta. “Kayaknya aku harus kesana deh. Aku mau memastikan sesuatu.” “Memastikan apa? Kamu udah gila?” “Aku belum yakin. Siapa tahu, semua anggapan kita selama ini gak benar. Itu cuma hasil rekayasa seseorang. Mungkin aja kan?” Dipta menggaruk kepalanya bingung. Memang benar, dia belum pernah melihat kepahitan itu secara langsung. Lalu, apa gunanya jika menyaksikannya sekarang? Itu sudah pasti benar. Apa yang Sera harapkan dengan masuk ke ruangan itu? “Berhenti berharap! Bisa gak?”teriak Dipta dengan suara keras. Teriakan yang membuat orang-orang melihat ke arah mereka. “Kamu terlalu konyol, Ra.”tegasnya tanpa interupsi. “Kamu pulang saja duluan.”ucap Sera singkat. Dia berbalik arah. Bicara dengan penjaga aula dan masuk ke tempat itu. Dipta menghela nafas kesal. Kenapa sahabatnya itu sangat keras kepala? Dia berjalan menyusul Sera. Tak sedikitpun ada niat meninggalkan perempuan itu di tempat ini. Jika terjadi sesuatu, Dipta akan dipenuhi rasa bersalah.  Tak sesuai perkiraan, ruangan itu ternyata ramai dengan tamu. Dia kira ini cuma acara keluarga sederhana. Ternyata tidak. Ini lebih seperti pesta satu kampung. Meriah, ramai dan mewah. “Jangan berdiri disini kalau gak mau jadi pusat perhatian.”bisiknya pada Sera yang berdiri seperti orang t***l. Dia kaget waktu tahu Dipta disana. Dipta menarik tangannya dan mencari tempat yang tidak terlalu terlihat.  “Terserah kamu  deh mau gimana. Yang penting, jangan sampai ketahuan. Kamu gak pernah tahu, betapa sensitifnya masalah ini.”tegas Dipta mengungkapkan isi hatinya. Sera terlihat mendengarkannya. Sayang, dia tidak tahu apakah perempuan itu menurut atau tidak. “Terima kasih untuk semua yang hadir disini. Saya sangat bersyukur, keluarga besar ini masih bisa saling mengingat meskipun sangat sibuk.”ucap MC yang sedang berdiri di atas panggung. “Selanjutnya saya serahkan pada Ibu Varda Aningrat.” Semua memberikan tepuk tangan yang meriah. Varda berjalan menuju panggung dan diberikan mike oleh MC. Dia tersenyum seperti biasanya. “Aku senang sekali. Kita masih bisa ngadain acara ini di tengah keadaan Indonesia yang lagi pandemi. But, I want to thank you guys. Dan tentu, aku, suami dan Gemini merasa terhormat bisa disini bersama kalian. Semua rezeki kita semua lancar di hari depan. Dan lain kali, kita harus bikin acara kayak gini lagi. Terakhir, aku mau berterima kasih untuk sponsor yang gak pernah absen. Mama sama papa yang selalu ada untuk keluargaku. Terima kasih.” Akhir pidato disambut dengan tepuk tangan yang riuh. Varda kembali ke mejanya. Merangkul Barat dengan begitu hangat. Barat membalas pelukan itu dengan mesra. Mereka kembali duduk dan menyaksikan pidato selanjutnya. Sera melihatnya dengan jelas. Dari awal, ini memang bukan karangan atau skenario seseorang. Ini nyata hingga membuatnya tidak percaya. Ingin marah, tapi terlanjur mencinta.  “Kita pulang aja yuk?”ucapnya pada Dipta. Tentu saja Dipta mau. Dia benci ada di tempat ini. Benci melihat Sera menahan rasa sakit. Kenapa takdir begitu kejam padanya? Padahal dia termasuk orang yang jarang menyakiti hati orang lain. Dia lebih suka mengalah daripada berpendirian teguh pada kehendak. *** Tidak semua tahu perihal hubungan rumah tangga orang lain. Persis seperti media sosial, yang tertangkap layar adalah saat-saat bahagia. Untuk apa menampilkan saat bersakit-sakitan jika itu hanya jadi bahan gunjingan? Citra yang baik akan memberikan respon yang baik. Barat sibuk menatap layar handphone saat Varda sedang berada di atas panggung. Dan ketika perempuan itu kembali, dia memberikan citra yang sangat luar biasa. Tersenyum dan memeluknya erat. Barat membalasnya, seolah semua baik-baik saja. Dia kembali duduk dan menunggu acara ini selesai. Tak ada niat untuknya datang kesini. Tapi, desakan dari banyak orang membuatnya tak bisa mengelak. Acara ini sudah seperti wajib bagi keluarga besar Aningrat.  “Jadi mau langsung pulang aja? Gak ikut makan malam di rumah?” “Gak usah ma. Aku masih ada kerjaan. Lagian, Gemi juga besok harus sekolah.” “Oh ya udah. Kapan-kapan aja kalau gitu. Oh ya, kamu gimana Bar? Lancar kerjaannya?” “Lancar ma.” “Kalau susah naik jabatan, kamu tinggal bilang aja. Mama bisa urus kok masalah itu.” Barat diam sambil mengangguk. Barat menggendong Gemini yang sedang tertidur. Dia membiarkan baby sitter mengurus barang bawaannya. Di tempat itu, semua orang sedang repot. Kecuali dia. “Mbak, bilangin ibu ya. Saya turun duluan. Kamu tunggu saja disini.”ucap Barat pada babysitter-nya Gemini. Wanita itu mengangguk setuju. Barat segera pergi meninggalkan tempat itu. Dia masuk lift dengan pandangan kosong. Tersenyum saat melihat Gemini semakin nyenyak dalam pelukannya. Dia adalah surga di dunia ini yang tak akan membuatnya terluka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD