********
Berdamai dengan jalan sesat adalah bentuk perhananan diri dari penyesalan.
********
Dear Dipta Brigarda,
Saya ada acara keluarga di Kuningan. Tepatnya Hotel Radio Vegga. Boleh antarkan dokumennya kesana saja? Maaf banget malah ngubah janji tiba-tiba. Oh ya, sekalian ajak Sera. Soalnya dokumennya harus ditanda-tangani sama kalian berdua.
Regards
Varda Cosmetic
Dipta diam dalam pikiran yang jauh. Dia perlu pertimbangan dari Sera. Tapi ini menyangkut profesionalitas. Dia langsung mengirim pesan pada Sera. Dia tahu kalau Sera lagi di kantor. Tadinya, Dipta mau menjemput cewek itu dan bareng-bareng ke Tangerang. Jika ini adalah acara keluarga, pasti Barat ada disana. Lalu gimana dengan profesionalitas?
Dering panggilan yang keras membuatnya berhenti berangan. Nindy, sekretaris Varda menelepon nya. Dia berdehem sebelum menjawab panggilan itu.
“Hallo..”
“Hallo, Mas Dipta. Saya baru saja mengirim email. Sudah diterima belum ya?”
“Oh,i-iya. Ini baru saya terima.”
“Oh baik. Saya cuma mau memastikan. Gimana mas jadinya?”
“Hmm, saya perlu bicara sama Sera, mbak. Saya akan balas as soon as possible.”
“Oh, baik Mas Dipta. Kalau begitu, terima kasih.”
“Ya. Terima kasih kembali, mbak.”
Dipta diam sebentar sebelum mengirim pesan pada Sera. Kali ini, biar terserah Sera. Bagi Dipta, dia lebih penting dari semua ini. Dipta melakukan screenshot layar lalu mengirimkannya pada Sera.
Dia menunggu dengan hati yang gundah. Rasanya sudah cukup rasa sakit di hati Sera. Meskipun dia memilih jalan yang salah, itu cuma pengalihan atas rasa sakit itu. Andai Sera tak melarang, Dipta akan jadi orang pertama yang memberi pelajaran pada Barat. Dia tega menghancurkan hati Sera disaat Dipta berjuang untuk kebahagiaan perempuan itu.
“Ting! Ting!”
Sebuah pesan masuk.
“Aku gak masalah Dip. Kita ketemu di lokasi aja ya. Kalau kamu jemput dulu, entar jadi jalan dua kali. See you!”
Lega? Tidak sama sekali. Sebab Dipta tahu. Dibalik pesan singkat itu, ada hati yang berjuang untuk mengalah. Ada hati yang tegar untuk menerima kemungkinan terburuk.
“Bang, pinjem duit dong.”ucap Kilau sambil duduk di sisi meja kerja Dipta.
“Mau ngapain?”
“Beli Iphone 13.”
“Gak mau. Emangnya bank, minta uang sesuka hati?”
“Ish, aku pengen banget bang. Iphone ku juga sudah retak layarnya. Please.”pinta Kilau dengan mata puppies-nya. Mata yang bisa bikin iba lawan bicara. Ekspresi sedih, didukung dengan tatapan sedih. Sempurna!
Dipta paling gak bisa menolak adiknya itu. Dia berpikir keras. Mencari cara agar uang itu terkesan berharga baginya. Memberi uang dengan cuma-cuma seperti tidak ada gunanya.
“Kalau mau dapat uang kan harus kerja. Abang kasih kamu kerjaan, abis itu baru di beliin Iphone 13.”
“Ok. Aku mau.”
“Tugas pertama. Kamu bereskan barang-barang di keranjang. Atur berdasarkan merk-nya. Biar ntar gampang bikin video promosinya. Sanggup gak?”
“Sanggup, tuan muda!”balas Kilau dengan sikap hormat. Dipta tertawa melihat kelakuan adiknya itu. Dia segera mencari baju di lemari.
“Abang mau kemana?”
“Mau nganter dokumen sama brand.”
“Sendirian?”
“Sama Sera. Nanti ketemu disana.”
“Ohh,,,”
“Kenapa emang?”
“Kak Berlin gak ikut?”
“Ngapain ikut, Kil. Dia kan gak ada kontrak sama Varda Cosmetic. Kamu gimana sih.”
“Oh, iya juga ya. Terus, kenapa Kak Berlin gak pernah lagi kesini? Padahal, dulu sering kesini sama Kak Sera.”
“Lagi sibuk aja. Semua orang banyak kerjaan. Gak ada waktu buat main kayak waktu kuliah dulu.”balas Dipta sambil memakai kemeja coklat itu. Penampilan itu jadi yang utama bagi seorang influencer. Terutama untuk yang seperti Dipta. Ya, dia termasuk orang yang menjual tampang untuk bisa kayak sekarang. Beda lagi dengan food vlogger yang mengutamakan cara makan. Semua harus punya ciri khas untuk bisa berkarya di era teknologi yang kian menjamur.
“Aku dengar-dengar, katanya Kak Berlin suka sama abang.”
Seketika Dipta berhenti menyisir rambutnya. Disukai dan menyukai bisa jadi dua hal yang berbeda. Seseorang bisa mendapatkannya dari dua orang yang berbeda. Lalu, bagaimana selanjutnya?
“Ngaco. Kami bertiga cuma temenan, Kil. Aku, Sera sama Berlin.”
“Oh, cuma nanya doang sih.”balas Kilau sekedar.
Dipta mengambil kunci mobil dan segera melenggang ke Hotel Radio Vegga di daerah Kuningan. Dia adalah cowok yang tidak mau ambil pusing. Tapi ada pengecualian untuk orang yang dianggap berharga. Itu sebabnya, dia tak pernah mengindahkan Berlin. Bukannya niat berbuat jahat. Bukankah lebih baik jika kita tidak memberi harapan palsu. Jangan kau membuat ekspektasi tinggi dari orang lain, kemudian menjatuhkannya tanpa perasaan. Bagi Dipta, ini adalah cara paling benar dan manusiawi.
Setibanya disana, dia langsung ke lobby. Menunggu kehadiran Sera yang dipastikan akan datang sebentar lagi.
“Ayo, Dip.”
“Oh ok. Aku call Mbak Nindy dulu ya. Buat make sure aja, ketemunya dimana.”
“Ok, up to you.”
Dipta memperhatikan Sera sambil menunggu panggilannya dijawab oleh Nindy. Perempuan itu terlihat tidak masalah. Mungkinkah waktu semakin menggelapkan akal sehatnya? Bukankah seharusnya dia takut? Apa jadinya jika dia berpapasan dengan Barat di tempat ini. Apa jadinya?
“Ayo, kita ke lantai 14.”
“Well, let’s go!”
Mereka berjalan menuju lift. Banyak orang yang hendak naik ke lantai 14. Mungkin mereka adalah orang-orang yang akan menghadiri acara keluarga itu. Dilihat dari tampilannya pun, sangat mendukung. Pakaian classy dan mahal. Ditambah tas branded yang terpampang nyata.
“Eh, Kak Dipta ya?”tanya perempuan remaja yang menggunakan tas Gucci itu. Percakapan yang bikin Dipta cukup kaget. Dia terlalu kepikiran dengan Sera.
“Ah, i-iya. Kamu pernah liat video aku?”
“Iya kak. Aku fans-nya kakak.”ucap perempuan itu sumringah. “Aku boleh minta foto gak kak? Aku juga ngefollow kakak di Instagram.”
“Boleh banget dong.”balas Dipta ramah. Dia tak pernah menyangka punya rich fans kayak gini. Jika ditelusuri, fansnya jauh lebih kaya daripada dia. Bikin insecure saja. Mereka foto bareng. Bahkan, waktu tiba di lantai 14, Sera mengambil beberapa foto untuk mereka. Remaja perempuan itu terlihat sangat sumringah.
“Enak ye, punya rich fans.”ucap Sera sambil berjalan mencari ruangan yang dituju.
“Tapi dia lebih rich daripada aku, Ra. Ini namanya salah posisi.”
“Buat beli Tas Gucci aja mikir-mikir ya, Dip. Tapi gak apa-apa, siapa tahu entar dia ngasih saweran sama kamu. Untung banyak dong.”
“Aku untung banyak, dia yang rugi.”balas Dipta sambil tertawa. Mereka berjalan terus hingga akhirnya sampai di tempat itu. Saat kaki Sera melangkah lebih jauh, Dipta menghentikannya. Dia memegang lengan Sera. Sera berhenti dan menoleh.
“Kamu yakin gak apa-apa?”
“Iya. Gak mungkin aku iyain kalau bakal kenapa-napa. Aku juga tahu posisimu kok, Dip.”
“Bukan masalah posisiku. Ini tentang kamu, Ra!”tegas Dipta kesal. Mungkin Sera tak pernah memikirkan ini. Ketika Dipta melakukan sesuatu untuknya, itu bukan demi kepentingan Dipta sendiri. Dipta melakukan itu atas rasa yang selama ini terpendam. Ini tak lagi soal pekerjaan atau sebatas teman.
Perdebatan itu berakhir saat Nindy muncul dari balik pintu. Dia tersenyum ramah. “Ayo, Mas Dipta dan Mbak Sera. Silakan masuk.”
Tanpa banyak berpikir, mereka memasuki ruangan itu. Ruangan besar dengan ornamen di dindingnya. Nindy membawakan minuman dan menyuruh mereka untuk menunggu. Katanya, Varda akan segera datang. Dia harus ke aula untuk mengatur beberapa hal dalam acara hari ini.
Tak ada kata yang terucap sepeninggal Nindy. Dipta masih kesal pada Sera. Sedang Sera sibuk memikirkan yang lain. Pikirannya berlari jauh pada hal-hal yang belum terjadi. Termasuk dampak dari perselingkuhan Barat yang melibatkannya. Dan sikap bodo amat yang dilakukannya saat ini.