7. Sedih dan Bahagia

1311 Words
******* Untuk kamu, si penebar luka dan bahagia. Aku mencintaimu dan membencimu dalam waktu yang bersamaan. ******* Kategori sukses sudah tepat dalam menggambarkan semua usaha yang dilakukan Dipta dan Sera. Mereka bisa mengumpulkan pundi-pundi uang hanya dengan menjajakan produk di media sosial. Fakta yang masih sulit diterima oleh generasi boomers. Baru satu bulan bekerja sama, mereka sudah menghasilkan uang ratusan juta. Dengan proyek ini, Sera dan Dipta jadi rutin melakukan pertemuan.  Berbeda dengan pertemuan rutin itu, kali ini mereka meet up juga dengan Berlin. Hampir satu bulan mereka bertiga tidak bertemu. Kesibukan membuat waktu terasa tidak cukup. Satu minggu penuh dengan kegiatan yang tak bisa ditunda. “Eh, sudah pada sampai. Sorry banget, tadi  aku harus ketemu rekan bisnis dulu.”ucap Berlin sembari duduk. Dia mengenakan scarf di lehernya. Terlihat cantik karena sesuai dengan warna kulitnya. “Santai, Ber. Kami juga baru sampai kok.” “Kalian tuh sesibuk apa sih? Bahkan waktu aku ngajak Sera ketemu, ada aja alasannya. Kenapa sih, Ser?”tanya Berlin penuh perhatian.  “Gak apa-apa. Aku cuma sibuk aja, Ber. Tahu sendiri kan, ada acara keluarga, kantor dan sebagainya. Ditambah lagi bantuin Dipta. No time to be free!” “Tapi masih ada waktu buat ketemu mas pacar kan?”ledek Berlin dengan tawa di wajahnya. Dipta diam mendengar lawakan itu. Dia pikir, untuk seorang Berlin, lawakan itu memang terdengar biasa. Tetapi tidak untuk Serani Floella. “Iya dong. Itu sudah pasti.”balas Sera menerima lawakan itu. Dipta satu-satunya orang yang paham situasi ini. Sangat tidak mengenakkan membicarakan Barat. Pria itu sudah menabur luka di hati Sera. Sayangnya, Sera masih saja bersikukuh pada pendiriannya. Entah sampai kapan. Sampai kapan dia akan bertindak seperti ini? “Eh, makanannya sudah datang tuh. Kita makan dulu yuk. Gosip melulu.”seru Dipta mengalihkan. Beberapa potong Chicken Wings tersaji di atas meja. Menu itu dihidangkan dengan bumbu pedas dan lelehan keju panas yang langsung disiram di atasnya. Wanginya sangat menggugah selera. Berlin banyak bercerita tentang dirinya sendiri. Dia punya banyak pencapaian dalam satu bulan ini. Produk Nacita Fashion mulai mendapat tawaran dari perusahaan besar. Kerjasama itu diharap bisa melebarkan lini bisnis. Berita yang paling mengejutkan adalah butik Nacita Fashion akan bertambah di lima tempat. Ini adalah pencapaian paling tinggi yang pernah dirasakan Berlin. Usahanya membuahkan hasil yang tidak biasa. “Congrats ya Ber. Keren sih. Bentar lagi pasti butuh influencer buat promosi.”puji Dipta dengan dua jempol. “Nah itu. Aku undang kalian berdua aja ya. Kasih harga teman, ga apa-apa kan?”canda Berlin dengan tawa khas miliknya. Sera menanggapi dengan biasa saja. Dia berusaha untuk tidak terlalu kelihatan. Agar setidaknya, perasaan itu tidak terlihat jelas. Perasaan gundah dan tidak tenang yang semakin hari kian menjalar. Seperti dibunuh dengan perlahan.  Berpura-pura tidak semudah yang ia bayangkan. Sakit di hatinya kian menggunung. Bukannya lega, dia semakin tersiksa. Setelah makan, mereka berencana untuk karaoke-an. Sudah cukup lama mereka tidak melakukan aktivitas yang mengasyikkan itu.  Dering panggilan dengan nada piano membuat ia mengalihkan wajahnya. Terlihat nama My West di layar handphonenya. “Hallo mas,” “Oh, sekarang ya? Hmm, gak apa-apa sih. Bisa-bisa. Iya.” “Guys, kayaknya aku harus pergi deh.” “Eh, kenapa Ser?”tanya Dipta. “Mas Barat ngajak ketemuan. Hmm, kayaknya ada sesuatu yang penting mau dibahas.” “Yah, terus kita gimana dong? Katanya mau karaoke-an?” “Kalian berdua aja ya? Lain kali, aku pasti ikut.”bujuk Sera dengan penuh harap. “Please, maaf banget.” Tahu yang paling kecewa di antara mereka? Berlin. Keegoisan Berlin dalam beberapa tahun terakhir sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Dipta dan Sera. Mereka sudah biasa dengan sifat perempuan itu. Sebagai penyeimbang, mereka selalu berusaha untuk memahaminya. Tak perlu memperkeruh suasana. Dengan sifat-sifat itulah mereka bisa berteman untuk waktu yang cukup lama. “Gak apa-apa kok. Ber, kita nonton aja yuk. Daripada karaokean jadi garing entar. Suara kita kan sebelas dua belas. Sama-sama jelek.”ucap Dipta mencoba memberi jalan keluar. Dia balut perkataan itu dengan lawakan. Rasanya, dengan tawaran ini, Berlin bisa melunakkan hatinya. Dia perlu belajar untuk sesekali memahami keadaan orang lain. Jangan hanya memikirkan diri sendiri.  Berlin mengangguk dengan terpaksa. Baginya, perkara ini bukan soal ikhlas atau tidak. Mereka sudah satu bulan tidak bertemu. Dan sekarang, saat dia sudah meluangkan waktunya, Sera malah pergi begitu saja. Dia lebih memilih Barat dibanding sahabatnya. Andai dia tahu kalau Barat tak sesuai dengan ekspektasinya. *** Patah di hati Sera sudah berubah jadi ambisi yang salah. Tiga tahun bersama membuatnya ketergantungan pada Barat. Bagaimana tidak, pria itu memberinya bahagia. Bisakah dia mendapatkan bahagia yang sama dari orang lain? Tak bisa dibayangkan, hidup tanpa cinta itu. Seperti udara dimana dia bisa bernafas. Hidup tanpa cinta itu sama saja dengan mati.  Kau tak memikirkan keluarganya? Terutama anaknya. Pertanyaan yang menusuk sukma. Sera bisa paham bagaimana nasib seorang anak broken home. Dia punya beberapa teman yang mengalami kisah buruk itu. Tapi, dia tak punya kuasa. Jika Tuhan memberinya kontrol untuk berhenti mencintai, dia akan sujud syukur. Sayangnya, bukannya berhenti, dia semakin gila dengan rasa cintanya. Pria itu kini menggenggam tangannya. Hangat dan membuat Sera semakin berambisi. Setelah fakta itu membuatnya terpuruk, dia menganggapnya bukan apa-apa.  “Jadi, kita makan dulu. Abis itu mau kemana?”tanya Barat sambil terus memperhatikan jalannya. Jalan yang mulus sekalipun, bisa memiliki batu sandungan yang menyakiti kaki. Itulah gunanya memperhatikan langkah. Jika langkah awal saja sudah salah, ujungnya akan berakhir sakit. “Photobooth yuk.” “Hey, itu kan kuno banget, Ra.” “Gak apa-apa. Ala-ala vintage gitu mas. Kalau isi handphone kan bisa terhapus. Kalau sudah dicetak, pasti disimpan baik-baik.” “Okelah. Kalau kamu udah maksa.” “Ye, siapa yang maksa sih. Cuma ngasih ide.” “Ya udah. Gak usah jadi ya.” “Jadi dong! Kok gitu sih.” “Bercanda.”balas Barat sambil tertawa. Dia semakin erat menggengam tangan Sera. Yang terlintas di pikiran Sera adalah Varda. Wanita yang begitu beruntung memiliki Barat. Tapi tidak. Dia tidak seberuntung itu. Sebab Barat malah memilihnya. Ya, dicintai meskipun hanya jadi orang ketiga. Photobooth itu antre dengan para muda mudi yang lagi malam mingguan. Mereka mendapat antrian ketiga. Seperti biasa, Barat memperlakukannya bak permaisuri. Pegal dikit, kaki dipijatin. Ditawarin snack dan minuman biar gak bosan. Selalu membuat Sera meleleh setiap saat. “Atas nama Serani!”teriak penjaga. Dengan segera, mereka masuk dalam bilik kecil itu. Memperagakan beberapa pose yang bagus. Cukup lama Sera memilih pose terbaik. Dan akhirnya, dapat empat foto yang siap dicetak.  “Ini buat mas. Simpan baik-baik ya?”ucapnya sembari menyerahkan satu foto. Foto paling konyol di antara semua foto. Terlihat Barat hendak merangkulnya, tapi dia berusaha melepaskan diri. Anehnya, keduanya terlihat senyum sumringah. “Ih, kenapa yang ini sih? Aku boleh milih sendiri?” “Gak. Tiga foto ini biar aku yang simpan.” “Ya udah deh. Gak apa-apa.”balas Barat mengalah. Mereka jalan santai di sepanjang trotoar Sudirman. Lampu jalanan dirancang dengan sangat indah. Membuat malam begitu gemerlap. Tak aneh jika banyak orang yang suka nongkrong disana.  “Lain kali jangan ngilang ya.”ucap Barat tiba-tiba. Mereka duduk di kursi kosong yang menghadap ke jalan. “Dua minggu tanpa kamu kayak satu tahun. Kalau mau nangis, datang aja. Aku bisa kok bikin kamu berhenti menangis.”lanjutnya sambil menatap Sera dalam.  Sayangnya, yang terjadi adalah sebaliknya. Barat lah sumber utama Sera menangis. Jika dia sumber tangisan, tak mungkin dia sumber bahagia dalam waktu yang sama. “I’m fine, mas. Cuma lagi galau sama banyak hal.” “Soal pernikahan yang pernah kamu bilang?”tanya Barat blak-blakan. “Bukan. Bukan soal itu. Ada beberapa masalah dengan teman-temanku.”balas Sera secepat kilat. Dia tidak nyaman membicarakan itu dengan Barat. Jangankan menikah, hubungan ini pun sudah diujung jurang. Harapan yang tadinya sebesar gunung perlahan menciut jadi kemustahilan. Jangankan sebesar genggaman tangan, sebesar butiran pasir pun sudah tidak ada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD