****
You bertrayed me!
****
Jika sahabatmu saja sudah mengkhianatimu, apakah kau sanggup percaya pada manusia? Tidak sama sekali. Kepercayaan seseorang yang hancur bisa membuat trauma di hatinya. Sera masih berpikir kalau ini adalah mimpi. Ya, mimpi yang membuatnya menangis sesaat. Dia berharap, besok akan ada tawa di wajahnya.
“Ra, itu Dipta datang.”ucap mama sambil membuka pintu kamar itu. Sera mengusap wajahnya yang penuh air mata. Mamanya cuma tahu kalau Sera menangis karena pekerjaan. Boss yang kadang seenaknya dan teman kerja yang diam-diam jadi musuh dalam selimut. Alasan cadangan yang sebenarnya gak benar.
Sera mengaktifkan handphonenya. Berderet panggilan dari Dipta. Dan diselingi oleh nama My West disana. Sera tidak tahu, apakah Dipta tahu soal ini? Apakah Dipta juga mengkhianatinya sebagai seorang sahabat?
“Iya ma. Aku turun aja.”
“Gak usah. Mama suruh Dipta ke atas ya. Kasihan kamu Ra, gara-gara kerjaan sampai segitunya. Mama gak masalah kalau kamu resign.”balas mama dengan wajah iba penuh perhatian.
Sera merapikan wajahnya sebelum Dipta datang. Dia duduk dengan sempurna. Menyambut Dipta dengan senyuman palsu yang sanggup ia berikan.
“Kamu kenapa sih? Aku telepon berkali-kali loh.”
“Maaf.”
“Kata tante kamu lagi sedih gara-gara kerjaan? Gak usah dipikirin, Ra. Hal kayak gitu bakal berlalu seiring berjalannya waktu.”ucap Dipta menghibur. Dipta sering mendengar cerita dari teman-temannya. Dunia pekerjaan tak semudah yang dibayangkan. Tak ada teman dan tak ada lawan. Semua bisa jadi teman. Dan nyatanya, semua juga bisa jadi lawan. Sesederhana itu.
“Iya, Dip.”
“Sekarang, kamu makan martabak dulu. Sekalian aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong apa?”
“Ada deh. Tapi kita makan dulu ya.”tawar Dipta tersenyum. Kata tante, Sera tidak makan dari tadi. Bahkan dia tidak mau keluar kamar. Penyakit itu berhasil mengambil alih tatanan tubuhnya yang teratur.
Dipta perhatian melebihi siapapun di dunia ini. Sebagai anak tunggal, Sera tak pernah merasakan indahnya punya kakak atau adik. Makanya dia selalu iri melihat kedekatan Kilau dan Dipta. Setiap dia berkunjung ke rumah sahabatnya itu, dia selalu disuguhi pemandangan yang membuat iri.
“Rasanya berat mau bilang ini..”ungkap Dipta setelah martabak yang ia bawa habis setengah. Kehadiran Dipta berhasil membuat Sera melupakan fakta pahit yang harus ia lewati. Sera seakan tidak peduli. Dibanding ucapan yang akan Dipta berikan, kenyataan tentang Barat dan Berlin sudah sangat berat baginya.
“Aku kemarin ke rumah Mbak Varda. Dan aku lihat foto di ruang tamunya.”ucap Dipta tanpa mengalihkan pandangannya pada Sera.
“Aku gak mau menyimpulkan sendiri Ra. Kamu lihat sendiri aja fotonya.”lanjutnya sambil meletakkan handphonenya di depan Sera. Tadinya Sera kira semua ini hanya sekedar kabar buruk yang tidak penting. Ternyata tidak. Hatinya semakin sakit melihat foto itu.
Sera tak memahami bagaimana Tuhan merancang takdir ini untuknya. Mengapa dia tak menyadari semua ini? Seketika, tangisnya semakin pecah. Dia tidak peduli akan tanggapan Dipta tentang dirinya. Hatinya benar-benar sakit melebihi apapun. Jika bisa mati tanpa bunuh diri, Sera akan memilihnya tanpa pikir panjang. Sayangnya, itu semua hanyalah angan. Kematian itu milik Tuhan dan bukan pilihan manusia. Tuhan memberikan manusia beribu kesempatan untuk memilih. Tapi khusus untuk kematian, Tuhan memegang teguh kontrol akan hal itu.
***
“Mas, maaf ya. Hari ini kita gak bisa ketemu. Banyak kerjaan di kantor. Lain kali saja ya.”
Pesan yang membuat Barat berhenti sejenak saat sedang menuruni anak tangga. Pelukan hangat dari tangan kecil itu membuatnya tertawa. Ia bergegas menggendong anak perempuan itu sambil memberikan gelitikan sesaat.
“Pa, nanti siang jadi kita?”tanyanya dengan suara lembut.
“Kayaknya papa bisa deh, nanti papa jemput di sekolah ya. Papa hari ini gak kerja dari rumah.”ucap Barat sambil tersenyum. Dia membawa Gemini ke ruang makan yang masih kosong. Tak ada orang disana selain lima pembantu yang tugasnya memang mempersiapkan makanan.
“Hmm, mama dimana mbak?”teriak Gemini sambil menunggu makanannya disiapkan oleh salah satu wanita itu.
“Kan ini hari selasa, non.”
“Oh iya. Aku baru ingat mbak.”
Gemini itu anak yang pembawaannya ceria. Dia mengemban prinsip tidak akan membuat kedua orang tuanya khawatir. Rumah ini akan sangat sepi tanpa dirinya. Ketika seorang anak diberi masalah sejak dini, kemandirian akan semakin tertanam dalam dirinya. Itulah yang terjadi pada Gemini. Meskipun kedua orang tuanya sudah seperti air dan api yang tidak bisa menyatu, Gemini mencoba memahami hal itu. Anak perempuan berusia 12 tahun itu dewasa sebelum waktunya.
“Pa, bulan depan aku mau show di acara sekolah. Papa pasti datang kan? Mama udah pasti datang. Aku pengen papa juga bisa.”
“Iya, papa usahakan.”
“Yeay! Pokoknya papa harus datang.”ucap Gemini penuh harap.
Setelah sarapan usai, Barat mengantar Gemini ke sekolah. Dia melanjutkan perjalanan menuju ke kantor. Perasaannya tidak tenang dengan pesan yang tadi dikirim oleh Sera. Ada apa dengan perempuan itu? Ini terasa sangat tiba-tiba.
Dia duduk di kubikel dengan perasaan campur aduk. Tak berarti lengah, dia tetap mengerjakan tugasnya dengan profesional. Dunianya sudah lama tidak baik-baik saja. Dan keterlibatan Sera juga bukan sesuatu yang mudah. Jika disebut cinta, Barat memang mencintai Sera. Tapi diajak menikah bukan keinginannya. Nyatanya, Barat sudah menikah. Apakah tidak bisa dia memiliki Sera tanpa menikah? Bukankah cinta tak butuh ikatan? Cinta itu adalah cinta. Murni tanpa ada embel-embel.
Barat sampai di kantor dengan setumpuk pekerjaan. Tak ada yang bisa meringankan pekerjaannya itu. Kecuali dia mengerjakannya dengan segera. Dia mengirim beberapa pesan pada Sera. Tak satupun mendapatkan respon cepat. Tak seperti Sera yang biasanya.
“Bar, nih!”
Ray memberikan satu cup kopi panas untuknya. Barat tersenyum seadanya sebagai ucapan terima kasih. Dia dan Ray sudah cukup lama berteman sebagai kolega. Bahkan Ray tahu kalau Barat selingkuh dari istrinya. Baiklah, ini bukan hal baik apalagi prestasi. Ray dapat memahami semua itu. Bukannya ingin menormalisasi, dia hanya coba mengerti keadaan yang menimpa Barat dan perempuan yang sebenarnya tidak tepat disebut sebagai istri.
“Gak biasanya loh, Bar. Nyampe kantor langsung kusut.”Ujar Ray mencoba memberikan sinyal. Dia tidak masalah jika Barat curhat soal masalah hidup. Kasihan dia, tidak punya satupun teman curhat.
Barat menoleh dan menghela nafas. Dia sedang mempersiapkan diri untuk bicara. For your information, saat ini kantor sedang sepi. Ini masih terlalu pagi untuk datang ke kantor. Semua juga tahu kalau Barat adalah orang yang selalu datang terlalu dini. Itu sudah jadi kebiasaannya beberapa tahun belakangan.
“Ada sesuatu yang bikin Sera bertingkah aneh.”
“Kesimpulan ini datang dari mana?”
“Kami janjian mau jumpa hari ini. Talk about something weird. Dan itu penting banget buat dia. Tapi dia tiba-tiba ngebatalin janji.”
“Hey, ini bukan kali pertama dia batalin janji kan?”
“Iya sih, tapi dia lama banget balas pesan. Aku jadi khawatir.”
“Tunggu dulu. Apa maksudnya dengan something weird?”tanya Ray dengan penuh rasa penasaran. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Barat. Apapun itu, hubungannya dengan Sera berlangsung baik. Jika memang ada yang berubah, pasti ada alasannya. Bahkan hal kecil saja terjadi karena suatu alasan. Apalagi hal sebesar ini.
Barat menarik nafas sebelum bicara. “Talk about marriage.”Ungkap Barat dengan berat hati. Inilah akibatnya jika memantik api di kumpulan bensin. Akan terjadi kebakaran yang tak bisa padam dalam sekejap. Bahkan api itu bisa membum hanguskan setiap benda.
Ray tak mau menyalahkan Barat. Bukan waktunya menentukan siapa yang salah. Hal terpenting adalah mencari tahu solusi untuk masalah itu.
“Argh, entahlah. Aku bingung harus bicara apa.”ujar Rey dengan perasaan tidak tenang. Perempuan itu menginginkan kepastian. Bagaimanapun, Sera pasti merasakannnya juga. Dipacari selama tiga tahun membuatnya yakin untuk lanjut ke jenjang berikutnya. Tapi Barat tidak akan bisa memberikan hal itu. Dia punya Gemini. Ya, itu satu-satunya alasan untuknya bertahan.
“Tadinya aku berniat memberi tawaran untuknya.”
“Tawaran?”
“Ya. Mau menunggu karena aku belum siap atau putus.”
Barat cuma punya dua pilihan itu. Pilihan pertama diungkapkan dengan alasan belum siap berpisah dengan Sera. Dia terlalu menaruh rasa sampai belum bisa membayangkan hari-hari tanpa Sera. Pilihan kedua adalah pilihan yang paling berisiko. Dia akan berusaha melupakan perempuan itu. Walau dia tahu, itu akan jadi hal paling sulit dalam hidupnya. Ray tidak bisa berkata-kata. Dia semakin tidak mengerti jalan pikiran Barat.