.5. Expectation!

1243 Words
Sebagai seorang influencer, Dipta menghabiskan banyak waktu untuk menemui brand ternama. Setelah berhasil meningkatkan penjualan Varda Cosmetic, dia ditawari banyak sekali endorse. Dipta ingin memenuhi janjinya untuk menjadi brand ambassador dari Varda Cosmetic. Dan sekarang, dia sedang dalam perjalanan menuju kediaman Varda Aningrat di Jakarta Selatan. Kawasan perumahan yang didominasi orang ternama.  “Ke kiri kak. Abis itu, langsung ke kanan.”ucap Kilau memberikan instruksi. Dipta memaksanya ikut untuk membaca google maps. Terkadang, Dipta buta arah. Makanya butuh orang lain untuk menuntunnya. Dan Kilau satu-satunya yang available.  Mereka sampai di rumah dengan cat warna putih itu. Rumah besar dengan halaman yang luas. Dipta semakin yakin kalau kekayaan orang tuanya tidaklah seberapa. Di atas langit masih ada langit.  “Permisi pak, saya ada janji dengan Mbak Varda.”ucap Dipta setelah membuka kaca mobilnya. Satpam tersebut tampak mencari sesuatu di bukunya. “Ah,, Dipta Brigarda ya?” Dipta mengangguk. “Silahkan mas.”lanjutnya ramah. Dipta segera memarkirkan mobilnya di tempat itu. Kilau terpukau dengan rumah besar itu. Mereka berakhir di sofa ruang tamu. Dan tak lama, orang yang ditunggu datang. “Maaf ya, malah kamu jadi repot-repot kesini.” “Malahan saya beruntung mbak. Rasanya lebih jauh kalau harus ke Tangerang.”balas Dipta menjelaskan.  “Okey, kita ke ruang kerja saya aja. Biar saya ngejelasinnya lebih detail.”ajak Varda seraya bergegas. Kilau mengikuti langkah Dipta. Dia juga enggan tetap berada di ruang tamu yang bak istana itu.  Mereka menghabiskan waktu cukup lama. Sebagai seorang owner, Varda memang bisa menyerahkan hal ini kepada asistennya. Tapi dia pernah mengalami penipuan ketika meng-hire seorang influencer. Jadi, lebih baik dia sendiri yang ikut campur daripada kejadian di masa lalu terulang lagi.  “Mbak, saya boleh izin ke toilet sebentar?” “Oh, silahkan. Turun ke lantai satu baru ke kiri.” Dipta mengangguk paham. Dia melangkahkan kaki di lantai mahal rumah itu. Ada kelegaan di dalam hatinya sejak bisa mencari uang sendiri. Dia tak lagi butuh asupan dana dari orang tuanya. Walaupun, orang tuanya tidak pernah masalah dengan itu. Baginya, hidup mandiri adalah sebuah prestasi.  Sekembali dari toilet, dia malah teralihkan oleh koleksi action figure di sebuah ruangan. Dipta juga suka mengoleksi barang itu. Barang yang bagi Sera tidaklah berguna. Saat kakinya melangkah masuk ruangan itu, matanya tertuju pada foto keluarga yang terpampang nyata. Dia mengerutkan dahi nya, memastikan manusia di dalam foto itu bukan seseorang yang ia kenal. Semakin dilihat, ia semakin yakin kalau pria itu adalah Barat. Ya, Barat Daya Argara, pacar sahabat yang dicintainya lebih dari seorang sahabat. “Hai om!!”sapa seseorang melunturkan lamunannya. Anak perempuan itu tersenyum padanya. Perempuan yang juga ada di foto keluarga itu. Dia cantik dengan dress warna kuning yang pas di badannya. Dipta tersenyum menyapanya. Dipta jadi ingat Kilau sewaktu masih kecil.  “Hai, kamu lagi ngapain?” “Aku lagi main petak umpet sama si mbak.”bisiknya. “Tapi harus sembunyi dimana ya?”lanjutnya kebingungan. Dipta ikut mencari tempat persembunyian. Lalu dia menyuruh anak itu ke sisi kanan yang terdapat meja besar. Anak itu bergegas pergi mengikuti instruksi Dipta. Dipta menyempatkan diri untuk memotret foto keluarga itu. Dia tidak mau ceroboh. Dia harus memastikan tentang apa yang dia lihat. Dan yang terutama, jangan sampai Sera terluka. *** Berkali-kali dia menghela nafas. Tak ada yang bisa membuatnya fokus. Kenapa mereka harus bertemu besok? Andai bertemu hari ini, Sera bisa mendapat jawaban secepat mungkin.  “Ada apa sih, Ra? Gak biasanya kayak gini.”ucap Mbak Hanny mendekatkan kursinya ke kubikel milik Sera. Sera mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. “Mbak, aku boleh nanya?” “Of course. Kalau ada masalah, cerita aja Ra.” “Kira-kira, kenapa seorang pria tak ingin menikah dengan pacarnya?” “Ini tentang kamu?” Sera mengangguk. Mbak Hanny tampak berpikir. Banyak sekali manusia yang dihadapkan pada keadaan itu. Dan alasannya bermacam-macam. Tidak ada jawaban absolut yang bisa didapat dari orang lain. Hanya yang bersangkutan yang mampu menjawabnya. “Banyak alasannya Ra. Ketidakmampuan secara finansial, belum adanya komitmen atau alasan keluarga.” “Hmm, iya juga ya.” “Just ask him. You will get the real answer.” Sera membawa dirinya pada beberapa tahun yang lalu. Jika ini menyangkut komitmen, kenapa Barat begitu manis di hadapannya? Apakah itu cinta yang sekedar? Sera langsung mengirim pesan pada Berlin. Meminta ketemu untuk membicarakan tentang Barat. Sayangnya tak ada jawaban. Akhirnya, dia menelpon Windy, karyawannya Berlin. “Hello, Ra!” “Win, Berlin dimana ya?” “Di butik nih. Dia lagi sibuk banget, makanya gak lihat ponsel. Kamu mau bicara sekarang?” “Gak usah Win. Makasih ya.” Dengan semangat, Sera bergegas untuk pergi. Pekerjaan kantor sudah tidak ada yang krusial. Masih bisa dikerjakan besok. Sera ingin menentramkan hatinya dengan bertemu Berlin. Berlin selalu tahu isi hati Sera. Dia sahabat yang paling pengertian di dunia ini. Dengan taksi, dia hanya butuh waktu satu jam untuk sampai ke butik.  Setibanya disana, dia disambut Windy yang sedang melayani pelanggan. Sera langsung ke lantai 3 menuju ke ruangannya Berlin. Saat dia tiba, pintu terbuka. Dia hendak membuka, tapi terdengar percakapan yang menghentikan langkahnya. “Maksud kamu Mas Barat udah punya istri?” “Iya. Aku baru tahu kemarin, Sin. Tapi aku gak berani ngasih tahu Sera.” “Kamu gila ya? Tega ngeliat sahabatmu jadi selingkuhan?” “Entahlah.” “Tunggu dulu, kamu pasti punya alasan kan? Aku yakin, sepuluh tahun bersahabat gak mungkin membuat kamu tega sama Sera.” “Sudahlah. Lupakan. Biar dia yang tahu sendiri, aku gak mau ikut campur.” “Lagian ya, kata kamu dia ngebet banget mau nikah. Itulah akibatnya kalau berekspektasi ketinggian.” Kalimat terakhir itu berhasil membuat Sera menjauhkan diri. Dia bergegas pergi dengan hati yang sangat terluka. Muncul kebencian di hatinya. Dia berjalan pulang tanpa mempedulikan Windy yang memanggil namanya. Taksi membawanya menjauh dari Butik Nacita Fashion. Dia ingin pulang. *** Kilau menghentikan teriakannya setelah berkali-kali memanggil Dipta untuk makan malam. Dia bergegas ke lantai 2 untuk menemui kakaknya yang budek itu. Dia membuka pintu tanpa permisi.  “Kak, buruan. Mama udah nunggu itu.” “Ah, bilangin mama. Aku lagi ada tugas penting. Aku susul 15 menit lagi.”balas Dipta tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Kilau mencibir dengan wajah jeleknya. Andai dia tahu Dipta ingin menyusul, dia tak harus kesini. Dia menutup pintu tanpa mempedulikan Dipta.  Informasi yang ditampilkan di mesin pencarian membuat Dipta tak habis pikir. Ya Tuhan, mengapa dia bisa membiarkan sahabatnya terjebak pada pria yang sudah beristri? Dan orang itu malah Varda Aningrat, wanita yang merekrutnya jadi brand ambassador. Bahkan Sera juga ikut andil dan sudah tanda tangan kontrak. Ya, dia sudah tanda tangan kontrak kemarin. Kontrak yang dikirim secara online.  Dipta frustasi dalam diamnya. Dan bagaimana mulutnya tega berucap tentang hal ini pada Sera. Dia sangat mengenal Sera, tidak mungkin sahabatnya itu mau pacaran dengan pria yang sudah menikah. Tak cuma menikah, dia punya keluarga yang sempurna dengan seorang putri yang cantik.  Dibalik semua itu, Dipta juga tidak mau berbohong. Dia tak ingin jadi luka yang tertunda dihati Sera. Dia bergegas menelpon perempuan itu.  Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi!!! Dia menghela nafas kesal. Memang benar jika dia menginginkan Sera putus. Dia ingin sekali diberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Dia tak mau penyesalan itu datang lagi. Jika Sera sudah single, dia akan langsung mengutarakan isi hatinya. Tak peduli jika dunia berguncang sekalipun, hatinya sudah diambil oleh perempuan itu. Hanya saja, dia tak mungkin tega membiarkan perempuan itu tersakiti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD