'Prangg'
Aina mendekat ke arah suara yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kamu nggak apa-apa Bel?" tanyanya khawatir sambil membungkuk melihat ke arah kaki Bella takut-takut terkena pecahan gelas berisi jus yang baru disajikannya.
Tangannya menepuk-nepuk pelan celana Bella yang kecipratan jus. Namun tiba-tiba tangan besar Julian menyingkirkan tubuhnya sehingga membuat Aina terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk.
"Kamu kenapa? tanya Julian khawatir pada Bella. Bersamaan dengan jeritan Aina yang mengalihkan tatapannya.
"Aauuu"
Kedua belah tangan Aina terkena serpihan gelas itu karena menopang berat badannya yang jatuh terduduk.
Mata Julian membola melihat banyak darah yang mengalir dari telapak tangan Aina. Dia bergerak ingin menolong Aina namun Bella menahan pergelangan tangannya. "Kaki aku sakit, gelasnya jatuh di kaki aku," rengeknya.
"Kok bisa?" tanya Julian heran.
"Tadi pas aku mau minum gelasnya licin, jatuh deh," jawab Bella santai.
Julian mengambil beberapa lembar tisu di atas meja dan menunduk membersihkan sisa jus di kaki Bella. Kepalanya menoleh ke arah Aina yang masih terduduk sembari menunduk dan meringis mengambil serpihan gelas di telapak tangannya.
Wajah Aina tertutup dengan anak rambutnya, namun Julian bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Hatinya iba, tapi Bella tidak boleh curiga padanya.
Aina dalam sepengetahuan Bella hanya keponakan dari Bi Minah, asisten rumah tangganya. Bukan diakuinya sebagai istrinya. Mana mungkin dia memberi perhatian kepada seorang asisten rumah tangga bukan?
"Udah yuk kita jalan aja, dari tadi mereka nelpon terus nih," Bella bangkit dan menggamit tangan Julian menariknya ke arah pintu.
Mata Julian masih belum beranjak dari posisi Aina. Sampai di depan pintu mereka berpapasan dengan Bi Minah yang baru datang berbelanja. Julian bisa sedikit bernafas lega, setidaknya ada yang bisa membantu Aina.
"Ya Allah non, kenapa ini teh..." teriak Bi Minah histeris yang masih bisa di dengar Julian dari depan pintu.
***
Hentakan suara musik yang membahana dan memekakan telinga di club yang sedang dikunjunginya bersama Bella dan teman-temannya tak mampu membuat pikiran Julian teralih dari rumahnya. Dilihatnya Bella tengah asyik meliuk-liukan badannya di dance floor. Sedang Julian tidak berminat sama sekali menyentuh alkohol yang terhidang di depannya.
Cukup sekali kesalahan fatal yang disebabkan minuman laknat itu mengacaukan hidupnya. Bahkan menghancurkan masa depan seorang gadis, Aina istrinya.
Pikiran Julian benar-benar sudah tidak mampu dibawa berkompromi. Selalu mengingat Aina. Mengkhawatirkannya.
"Sorry Ber, I have to go," ucap Julian pada Bernard temannya. Dan tanpa menunggu jawaban, Julian sudah bangkit dan terburu-buru melaju dengan mobilnya. Bahkan dia lupa berpamitan dengan Bella.
Julian sampai di rumahnya namun tidak ada orang. Dilihatnya pecahan gelas dan sisa-sisa darah Aina masih ditempat semula. Mungkin Bi Minah tak sempat membersihkannya.
Di rogohnya saku jaket yang dikenakannya, meraih ponsel pintar dan menekan nomor Bi Minah. Pada dering terakhir, baru suara wanita setengah baya itu terdengar.
"Halo den," jawabnya singkat.
"Aina dimana?" tanya Julian tanpa basa basi.
"Di rumah sakit den, tadi di jemput eyang uti."
Tanpa bicara lagi, Julian memutus sambungan teleponnya dan kembali mengemudi ke arah rumah sakit seperti orang kesetanan. Langkahnya lebar menuju arah meja informasi, namun rungunya menangkap suara yang sangat dikenalnya. Dia menoleh ke ruang UGD tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Sakit eyangg hiks hiks hiks," wajah Aina di sembunyikannya dalam dekapan sang eyang uti. Sementara tangan kanannya terulur kepada seorang dokter yang tengah menjahit bekas lukanya. Tangan kirinya nampak sedang di perban oleh seorang perawat.
Sungguh Julian begitu tersiksa menyaksikan pemandangan itu. Semua karena perbuatannya, namun dia tidak bermaksud sampai seperti ini. Itu hanya tindakan refleks dari kekhawatirannya terhadap Bella yang juga nampak kesakitan. Namun sepertinya perkiraannya melesat, Bella justru malah baik-baik saja bahkan sedang menari bersama teman-temannya di club.
Kakinya mendekat ke arah ruangan itu, semakin jelas suara raungan Aina dan pertanyaan kekhawatiran sang eyang uti.
"Kandungannya nggak apa-apa kan dok?"
"Sepertinya tidak apa-apa Bu, tapi kita akan tetap observasi, makanya sebaiknya pasien di rawat inap saja dulu," dokter itu menjelaskan dengan ramah.
"Pulang aja eyang, aku nggak suka rumah sakit, Aina keinget almarhum mama kalau di sini," rengek Aina disela tangisnya.
"Nggak bisa Aina, demi kesehatan kamu, demi anak kamu juga," eyang uti menenangkan.
Sementara Bi Minah dari arah pintu sambil membawa kantong berisi air mineral dan beberapa makanan datang menginterupsi mereka. Bi Minah bahkan tidak menyadari kehadiran Julian yang di lewatinya begitu saja.
"Ini airnya eyang", ucap Bi Minah yang membuat eyang uti dan Aina refleks menoleh ke arahnya.
Netra eyang uti juga menangkap sosok yang berdiri di belakang Bi Minah.
"Mau apa kamu datang ke sini?" ucap eyang uti nyalang ke arah Julian.
Tenggorokan Julian tercekat tak mampu berkata, semua memang kesalahan dirinya.
***
"Maaf, maaf, maaf," bulir keringat di pelipis Julian semakin mengalir.
Dia bergerak gelisah di tengah tidurnya. Bahkan air matanya menetes tak tertahankan.
"Nak nak Julian bangun," itu Bu Hana sambil mengguncang lengan Julian pelan.
Mata Julian perlahan terbuka. Dia mengernyit karena cahaya yang menusuk netranya. Dilihatnya Bu Hana dan Arik yang nampak sudah siap berangkat sekolah berdiri di depannya.
Julian memaksakan diri untuk duduk meski kepalanya terasa seperti ingin meledak. Dua hari ini dia hampir terjaga selalu. Matanya seolah enggan terpejam. Dia ingin menyaksikan setiap inci gerak dari penghuni rumah. Sama sekali tak ingin melewatkannya. Ditambah lagi pekerjaannya yang semakin menumpuk, yang selalu dikerjakannya jika seisi rumah sudah terlelap. Membuat tubuhnya meminta jatah istirahat.
"Sepertinya kamu demam nak Julian, sebaiknya kamu ke dokter dulu, apa mau Ibu temani?"
"Nggak usah Bu, telepon aja asistennya Pak Burhan, dia pasti lebih tau kebutuhan bosnya. Ibu kan ada janji sama Mami Rena mau temani dia masak-masak untuk persiapan acara ulang tahunnya," itu Aina dengan nada datarnya dari arah kamar.
"Papa sakit?" kali ini Arik dengan nada khawatir.
Julian tersenyum seraya mengacak rambut anak tampannya itu.
"Papa nggak apa-apa, istirahat sebentar juga sehat lagi. Papa kan Ultraman," canda Julian dipaksakan.
"Yuk Bu, Arik, nanti kita telat," panggil Aina di depan pintu. Dia nampak sudah mengenakan seragam minimarketnya. Matanya enggan menatap Julian yang nampak pucat itu.
"Ya udah, nih minum obatnya, sarapan ada di meja dapur," ucap Bu Hana seraya menggamit tangan kecil Arik dan meletakkan obat di meja.
"Terimakasih Bu," ucap Julian tulus.
Meski Arik nampak enggan untuk meninggalkan sang papa, namun akhirnya dia mengikuti langkah sang nenek setelah Julian meyakinkan dengan senyum kuatnya.
Julian menarik nafas panjang, menguatkan dirinya. Wajar saja Aina memperlakukannya begitu dingin. Kesalahannya di masa lalu memang tak termaafkan.
"Ekhmmm"
Julian kembali menoleh ke arah pintu. Aina dengan seragam minimarketnya dengan riasan tipis dan rambut yang di ikat ke atas sungguh memesona di mata Julian. Meski tak ada senyum di wajah itu untuknya.
"Kamu boleh istirahat di kamar kalau nggak mau balik ke hotel," ucap Aina datar sebelum benar-benar pergi.
Lagi dan lagi, sedikit kebaikan hati Aina yang ditampakkannya meskipun dia sangat membenci, membuat Julian berkali-kali jatuh ke dalam pesonanya.