4. Kembali

763 Words
Lima tahun lalu Gemuruh di langit juga dirasakan bergemuruh di hati seorang Julian. Dia merasa ada yang tidak benar setelah meninggalkan istrinya begitu saja di depan rumah orang tuanya. "Jangan pergi". Kalimat singkat yang diucapkan Aina sebelum mereka berpisah terngiang-ngiang bak kaset kusut di otaknya. Dering ponsel itu kembali terdengar. Nama Anabella Laura tertulis jelas di tampilan layarnya. Julian teringat kejadian satu jam lalu sebelum dia mengantar Aina pulang. Bisa-bisanya dia merasa panik ketika Bella datang mengetuk pintu rumahnya dan Aina sambil menangis. Bella mengaku hamil, padahal istrinya sendiri juga tengah hamil besar. Julian tak menggubris panggilan itu, dirinya sendiri pun sedang bermasalah, bagaimana mau membantu masalah orang lain? Cih, masalah bodoh karena ulahnya sendiri lebih tepatnya. Julian membuka kontak ponselnya mencoba menghubungi nomor Aina. Namun dia teringat jika ponsel Aina rusak seminggu yang lalu dan belum sempat diganti. "Sial sial sial", Julian memukul setir mobilnya kesal. Dia kembali teringat saat Bella menghambur ke pelukannya, sesenggukan menceritakan apa yang terjadi padanya. Bella memang sedikit bebas. Kehidupannya yang seorang model menariknya dalam dunia gemerlap yang penuh kebebasan. Julian tidak pernah menyadari ada Aina yang hanya bisa membatu melihat suaminya menenangkan wanita lain. Lagi-lagi dia hanya bisa mengelus perut buncitnya, menguatkan hatinya. Cemburu? Apakah dia pantas? Sementara suaminya itu begitu serasi jika bersanding dengan Bella. Sama-sama anak tunggal dari pengusaha kaya. Berbanding terbalik dengannya yang bisa masuk kuliah saja karena beasiswa. Rasanya air mata itu akan luruh jika melihat pemandangan itu, dia harus menghindar. Meminta pulang mungkin bisa mencegah mereka bersama untuk sementara pikir Aina. Yang Aina tidak ketahui, Bella mengaku hamil anak produser iklan yang dibintanginya. Produser terkenal itu tidak mau bertanggung jawab karena dia sudah memiliki keluarga dan menganggap kejadian itu hanya kekhilafan yang terjadi karena terbawa suasana. Tidak ada niatan untuk bersama dengan Bella. Sementara gadis itu dengan polosnya memberikan mahkota berharganya karena merasa itu cinta. Ah, Julian kembali teringat dengan Aina. Gadis polos dan berprestasi itu juga terpaksa harus mengubur mimpinya karena ulah b***t Julian yang menidurinya. Aina hamil namun bedanya Julian terpaksa bertanggung jawab karena perbuatannya diketahui oleh ayahnya. Julian merasakan kesedihan Bella saat menangis pilu dipelukannya. Inikah juga yang dirasakan Aina dulu? Padahal dulu dengan teganya Julian menyuruh Aina menggugurkan kandungannya. Julian bermaksud ingin menolong Bella dengan mempertemukannya pada keluarga produser itu. Julian juga tidak ingin istrinya salah paham lagi akan hubungannya dengan Bella. Dulu memang Bella orang yang sangat ingin dijadikannya istri. Sekarang Julian menyadari kalau Bella tak lebih dari seorang teman masa kecil. Julian tidak tenang jika meninggalkan Aina di rumah sendiri dengan usia kandungan 9 bulan. Jadilah dia menitipkan sementara Aina dengan keluarganya, bukankan sudah lama Aina tidak bertemu mereka? Itupun karena Aina yang meminta. Tapi tetap saja ada yang salah, hatinya tidak tenang. Hujan itu pun akhirnya runtuh juga. Apa Aina sudah masuk ke dalam rumahnya? Bagaimana kalau ternyata tidak ada orang di rumah itu? Ah, sial pikiran Julian benar-benar tidak tenang. Akhirnya dia berbalik arah memutar kembali kemudi mobilnya menuju ke arah rumah keluarga Aina. Hujan yang lebat mengaburkan penglihatan Julian dengan jalan. Sialnya kecelakaan yang terjadi di tengah jalan menghalangi Julian. Banyak orang berpayung ramai-ramai mengangkat korban ke dalam taksi. Jalanan menjadi sedikit macet. Julian bahkan hampir menabrak seorang wanita paruh baya jika dia tidak segera menginjak rem. 'Aina' itu saja yang ada dipikirannya sekarang, dia akan membawa kembali Aina pulang ke rumah mereka. Terserah dengan Bella, toh tidak ada sangkut pautnya dengannya lagi. Dengan ragu Julian mengetuk pintu kayu jati itu. Hatinya ingin segera bertemu dengan istrinya. Namun dia juga sedikit malu karena tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumah mertuanya ini. Wanita paruh baya membukakan pintu dengan senyum ramah khas seorang ibu. Dengan sedikit menunduk menandakan kesopanan, lelaki yang biasanya dingin itu langsung mengungkapkan isi hatinya. "Bu, Aina..", belum sempat Julian menyelesaikan kalimatnya. Ibu mertuanya itu mendorong Julian menjauh dari pintu sambil menengok waspada ke arah dalam rumah. " Jangan keras-keras kalau sebut nama Aina, takut Bapak denger, nanti dia marah-marah, darah tinggi Bapak kumat lagi", ibu sedikit berbisik. "Aina apa kabar? Kandungannya sehat kan nak Julian? Ibu sebenarnya kangen dengan anak itu. Tapi Bapak lagi nggak bisa ditinggal." Jgerrr Kalimat itu bagai petir di kepala Julian, bersahutan dengan petir yang juga sedang menyambar di langit. Tanpa kata lagi Julian berlari di bawah rinai hujan, memasuki mobil dan mengemudikannya tak tentu arah. Meninggalkan ibu mertuanya yang mematung kebingungan dengan tingkahnya. Julian menyusuri sepanjang jalan hampir sepanjang malam itu. Matanya sudah kuyu, pakaiannya tak tentu arah. Wajah yang biasanya tampan dan dingin itu nampak jelas frustasi. Julian mengacak rambutnya kesal. Membenturkan dahinya ke setir mobil berulang kali. "Aina kamu dimana sayang?" bisiknya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD