Setelah mencari hampir ke seluruh sudut kota Jakarta, namun jejak Aina tampak sudah tersapu oleh angin. Aina bak tenggelam ditelan bumi, tanpa jejak.
Kepulan asap rokok mengepul di puncak gedung perusahaan milik keluarga Djuanda itu. Sang empu seolah dengan sengaja ingin memenuhi paru-parunya dengan gumpalan asap, mengurangi rasa gundah yang hampir 5 tahun ini bersemayam.
"Apa ada jejak yang kalian temukan?" ucapnya pada dua pria suruhannya selama ini.
"Kami sudah mengecek di semua fasilitas umum tuan, bandara, terminal bahkan..." belum selesai pria itu menjelaskan perkataannya sudah di sela kembali.
"Sudah ketemu atau belum?" kali ini penuh penekanan.
"Maaf tuan", pria itu menunduk.
" Tidak berguna!" wajah Julian mengeras, dia mengibaskan tangannya memberi tanda dia ingin ditinggalkan sendiri.
Kedua pria itu pun gegas pergi, sebelum mendapat amukan dari sang tuan.
Setelah tidak menemukan Aina 5 tahun lalu, Julian pergi melanjutkan kuliah magisternya ke Belanda atas permintaan orang tuanya. Tiga tahun di sana bayangan sosok istrinya bahkan tidak luntur. Setelah kembali ke Jakarta, Julian terus mencari dan mencari tapi hanya kekecewaan yang dia dapatkan.
Julian merasa sangat sesak. Dia baru menyadari kalau Aina adalah oksigennya. Sayang dia menyadarinya saat Aina sudah pergi.
Apa Aina baik-baik saja? Apa anaknya sudah lahir? Apa mereka hidup layak? dan berpuluh kata 'Apa' lainnya perihal Aina.
Dering ponsel Julian memecah lamunan lelaki 30 tahun itu. Burhan sekretaris sekaligus asistennya kembali menggangu kesenangannya merusak paru-paru di atap.
"Maaf Pak Julian, setengah jam lagi kita sudah harus ke bandara, Bapak harus mengecek langsung lokasi pembangunan resort itu", suara Burhan di seberang telepon.
"Ya, saya tau", singkat Julian mematikan ponselnya dan membuang sisa rokok di sela jarinya.
Disinilah sekarang Julian, setelah hampir dua jam di pesawat, berkendara selama dua setengah jam dari pusat kota. Akhirnya dia tiba di lokasi pembangunan resort baru itu.
Julian menghirup udara pantai sedalam-dalamnya. Bekerja adalah satu lagi pengalihan pikirannya dari Aina. Di kantor Julian bahkan di juluki stafnya sebagai robot ganteng, karena kebiasaannya yang gila kerja. Bahkan setelah peninjauan lokasi, Julian sudah menyuruh Burhan untuk menyiapkan kembali kepulangannya ke Jakarta.
Setelah deal dengan pemilik tanah, menandatangani izin pembangunan serta kesepakatan dengan pihak kontrakator. Maka resort megah itu akan segera dibangun di bibir pantai cantik ini.
Senja itu, segala urusan Julian sudah selesai. Dia mengarah kembali ke mobilnya setelah berkeliling meninjau lokasi bersama Burhan.
Namun retinanya seolah mengenali sosok ramping yang berdiri menghadap laut itu dengan dress dan rambut yang melambai karena tiupan angin.
Gadis itu sedikit berbalik sambil mengucek matanya. Hingga jelas terlihat wajah manis itu. Wajah yang selalu dimimpikannya jika tertidur. Wajah yang selalu dirindukannya.
"Burhan, kamu pukul saya", perintah Julian.
Burhan justru melongo mendengar perintah konyol dari bosnya itu.
" Pukul saya!" kali ini Julian sudah membentak.
Bughh
Tinju itu mendarat sempurna di pundak Julian.
"Sakit, ternyata bukan mimpi," ucap Julian tanpa mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu.
"Ma maaf tuan", balas Burhan sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Akhirnya, Ainanya sudah ditemukan, setelah 5 tahun pencariannya. Hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Seolah timbul dari kedalaman laut tanpa dia dengan sengaja mencari.
Oksigen itu kini seolah berlomba masuk ke paru-parunya. Sedikit air bahkan menggenang di sudut matanya. Dia sangat bahagia.
Kaki Julian tanpa dikomando sudah melangkah mendekat ke arah Aina. Ingin segera merengkuh tubuh itu dalam dekapannya. Menghirup kembali aromanya. Mengecup lembut bibirnya.
Namun ada sosok lelaki lain yang menyentuh wanitanya. Menyentuh pundak dan menangkup pipinya. Julian sungguh terganggu melihat pemandangan itu. Tangannya mengepal, menampakkan urat dan rahang yang mengeras.
" AINA ADRIANA!"
Gadis itu berbalik sempurna menghadap ke arah Julian. Tidak salah lagi, itu Aina nya. Wajah manis, mata bulat, bibir merah muda dan hidung mancungnya. Aina nya.
Sejenak waktu seakan berhenti. Desiran angin pantai juga seolah menguap. Ombak juga seolah membeku. Hening.
Mereka kini saling tatap. Pertemuan sepasang suami istri itu membawa perasaan campur aduk di hati masing-masing. Mata mereka memerah dengan gemuruh di hati. Bahkan kaki Aina hampir tidak mampu lagi berpijak.
"Kamu kenal dia?" suara lelaki di sebelah Aina memecah suasana itu.
Tanpa mengalihkan pandangan pada Julian dan wajah datar nan dingin Aina menjawab, "Tidak!"
Kemudian berlalu pergi ke arah vila.