Dua puluh menit kemudian Aina sudah sampai ke tempat tujuannya. Dia memarkirkan motornya di samping minimarket. Merapikan baju dan tatanan rambutnya di kaca spion dan beranjak masuk ke dalam minimarket.
"Hai sopia, sudah lama menunggu?" sapa Aina kepada teman kerjanya yang berbadan sedikit tambun itu.
"Syukurlah kamu datang Aina, aku sudah sangat lapar, aku belum menghabiskan makan siangku", balas Sopia masih sambil mengunyah keripik kentang di tangannya.
Aina tertawa mendengar penuturan temannya itu. Dia mencubit gemas pipi tembem Sopia. Tawa Aina juga menular pada Sopia mengisi minimarket yang tadinya sepi. Sopia menghindar dari tangan jahil Aina. Sedikit berlari ke arah pintu.
Namun, tiba-tiba tawa itu mereda seiring dengan mulut Sopia yang ternganga melihat sosok yang berdiri di depan mereka. Hampir saja air liur Sopia menetes melihat pemandangan indah di depannya.
Lelaki tampan dengan jas dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Belum lagi jam tangan dan sepatu yang terlihat mahal. Tidak berlebihan namun sangat cocok di tubuh tinggi lelaki itu.
Aina yang masih menghadap Sopia menyadari perubahan temannya itu. Dia berbalik mencari sumber perubahan wajah terpana Sopia. Seketika tawa di wajah Aina luntur melihat sosok Julian yang sudah berdiri gagah menatap ke arah mereka sambil melepas kacamatanya.
Aina membuang wajah kesal. Melangkah ke arah kulkas besar dan menata minuman sesuai jenisnya. Dia berjongkok dan menyortir beberapa minuman yang sebentar lagi kadaluarsa.
"Kenapa bekerja disini?" Julian ikut berjongkok di samping Aina menatap perempuan itu intens. Aina seolah tidak mendengar pertanyaan itu, ia terus melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu bisa bekerja di tempatku," ucap Julian santai sambil ikut menata minuman ke dalam kulkas yang di kembalikan lagi oleh Aina. Benar-benar wanita kalau sudah merajuk.
Ucapan Julian barusan sukses membuat Aina berpaling dan menatap ke arah Julian. Menaikkan sebelah alisnya. 'Dasar sombong, tukang pamer!' batin Aina.
"Pekerjaannya mudah, hanya menjadi istriku," kembali Julian mengembangkan senyumnya.
Aina sedikit aneh dengan sikap Julian ini, biasanya seorang Julian akan bersikap dingin dan terkesan angkuh. Tapi sejak kapan Julian bisa menggoda perempuan seperti ini.
Aina terus diam, tidak mau menyahut perkataan Julian.
Dia kembali berdiri dan mengarah ke meja kasir.
"Sopia, kamu pulanglah, kamu bilang tadi lapar bukan?" Aina tersenyum kepada temannya.
Sopia mengangguk patuh ke arah Aina, kemudian menatap sebentar laki-laki yang ternyata mengenal Aina itu dan kembali menatap temannya. Situasi awkward ini membuat Sopia sedikit bingung. Tidak biasanya Aina bersikap dingin kepada orang lain.
"Kamu nggak apa-apa aku tinggal?" ucap Sopia ragu.
Aina mengangguk sembari tersenyum ke arah Sopia menenangkan. Sopia berlalu ke ruang karyawan, mengambil tas kemudian keluar melalui pintu depan. Mungkin ada hal yang perlu mereka berdua bicarakan pikir Sopia.
Kini tinggal Aina berdua dengan Julian. Aina masih menganggap keberadaan Julian tidak ada, dia terus melakukan tugasnya sebagai karyawan.
Julian berjalan ke arah lemari pendingin, mengambil minuman. Kemudian melangkahkan kakinya ke rak lain. Dia kemudian menyerahkan belanjaannya di meja kasir tepat di depan Aina yang sedang meneliti beberapa struk belanja.
"Total belanja anda lima puluh dua ribu," ucap Aina datar sembari memasukkan barang belanjaan Julian ke dalam kantong. Dia masih bersikap dingin terhadap Julian.
Julian mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya dan menyerahkan kepada Aina. Aina mengambil uang itu dan memasukkan kembaliannya ke kantong belanja Julian yang diletakkannya kembali di samping meja kasir.
"Saya sudah bertemu dengan anak kita, kami sungguh mirip ternyata," Julian sedikit terkekeh.
Pernyataan Julian barusan membuat Aina berpaling menghadapnya. Matanya melotot marah ke arah Julian.
"Jangan ganggu anakku!" desis Aina.
"Arik Ardiaz Djuanda, saya suka nama itu," Julian terus mengoceh memancing amarah Aina.
"Terimakasih masih membuat nama saya di belakang namanya, Aina". Julian melawati meja kasir kian mendekat ke arah Aina.
"Apa kau yang memberikannya mainan itu?" akhirnya Aina buka suara kembali. Pantas saja tadi Arik bertanya tentang papanya. Ternyata dia sudah bertemu dengan Julian. Entah apa saja yang sudah dikatakan Julian kepada Arik.
"Apa dia menyukainya? Arik anak yang cerdas," senyum Julian kembali terkembang mengingat anaknya itu. Hari ini rasanya Julian sering tersenyum, hal yang tidak pernah dilakukannya selama lima tahun ini.
"Untuk terakhir kalinya aku peringatkan anda tuan, jangan lagi menemui anakku! Dia tidak tahu kalau papanya selama ini tidak menginginkannya, jangan memberikannya luka, dia masih kecil!"
Perkataan Aina sukses membuat hati Julian tercubit.
"Saya ingin sekarang dia tahu, kalau papanya sangat bangga dan juga menyayanginya, izinkan saya bertemu dengannya setiap hari sayang," langkah Julian terus mendekat.
Apa dia bilang, 'sayang'. Tidak! tidak akan Aina biarkan Julian menemui anaknya, dengan rayuan semacam ini Aina tidak akan luluh.
Julian menangkap pinggang Aina menariknya mendekat ke tubuhnya. Julian memiringkan kepalanya, matanya menatap bibir Aina intens.
Menyadari hal itu, Aina refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak ingin kejadian tadi siang terulang lagi. Julian tersenyum melihat tingkah Aina yang lucu di matanya. Tangannya bergerak mengambil kantong belanja di belakang tubuh Aina dan memisahkan tubuh mereka.
"Kamu mau saya menciummu?" Julian menampakkan smirknya. Namun tangannya dengan lincah mengeluarkan antiseptik dan kapas, kemudian menempelkan pelan di siku Aina yang terluka.
Aina tidak menyadari kalau tangannya terluka. Pasti karena kecelakaan tadi. Dia benar-benar tidak merasa sakit. Tapi karena Julian mengoleskan obat di sikunya, Aina kemudian merasakan perih.
Aina berusaha menahan rasa perih dengan menggigit bibir bawahnya. Dia diam saja saat Julian mengoles Betadine di lukanya. Sesekali Julian meniup luka Aina mengurangi rasa perihnya.
Melihat smirk di wajah Julian, Aina kemudian menurunkan tangannya, Julian sekarang sedang mempermainkannya dengan mengoles terlalu pelan di tempat yang tidak ada luka dan sengaja meniup-niup ke wajahnya. Namun sebelum Aina berpaling, bibir Julian kembali menempel di bibirnya, melumat lembut bibir Aina.
"Mmmpph."
Aina memukul d**a Julian geram. Dia melepaskan ciuman itu dan menggosok kasar bibirnya.
"Sama-sama," ucap Julian sambil mengangkat botol Betadine.
"Beraninya kamu menciumku lagi!" mata Aina nyalang menatap Julian, kemarahannya pada laki-laki itu sudah di ubun-ubun.
"Ai naa", suara Rian tercekat melihat pemandangan di depannya. Aina yang berdiri begitu dekat dengan seorang laki-laki.
Alis Julian sedikit terangkat melihat laki-laki yang berdiri di depan pintu itu. Dia pernah melihatnya di pantai, ya laki-laki yang hampir mencium wanitanya di tepi pantai waktu itu.
"Sepertinya kita pernah bertemu Pak", langkah Rian mendekat.
"Kau benar! Perkenalkan, Julian," sambut Julian datar sambil mengulurkan tangannya. Rian menerima jabatan tangan itu.
"Suami Aina," sambung Julian kembali.