12. Pagi

1251 Words
Pagi yang cerah di kota kecil Sampit. Beberapa Kendaraan sudah berlalu lalang memulai aktivitas pagi mereka. Begitupun Aina yang bersiap mengantar Arik ke sekolah lalu berangkat kerja ke cafe. Namun, begitu dia membuka pintu, netranya menangkap sosok Julian yang sudah berdiri gagah dengan jas berwarna navy dan sosok Burhan yang berdiri dengan setia di belakangnya. Aina mendadak jengkel melihat wajah Julian. Setelah semalam menyaksikan drama antara Julian dan Rian yang membuatnya pening. Pagi ini kembali harus melihat wajah Julian. Kata-kata sinis Julian kepada Rian dan selalu menyebut-nyebut Aina istrinya seolah mereka keluarga sesungguhnya, membuat Aina muak. Aina bukan wanita bodoh. Dia tahu kalau selama ini Rian menaruh hati padanya. Aina bukannya juga tertarik ataupun sekedar ingin memberi harapan. Tapi mengingat kebaikan Rian selama ini kepadanya, membuatnya kesal dengan tingkah Julian yang sok memiliki dirinya. Tidak seharusnya Rian menerima perkataan sinis dari orang yang tidak ingin Aina lihat lagi wajahnya ini. "Kamu pengangguran ya? Pagi-pagi sudah bertamu ke rumah orang!" sinis Aina kesal. Wajah datar Julian tak menampakkan raut apapun. Dia harus ekstra sabar menghadapi Aina. Sampai sosok Arik juga keluar dari pintu, lengkap dengan seragam dan tas kecil di punggungnya. Senyum di wajah Julian seketika terkembang. "Hai boy," Julian menekuk kakinya menyamakan tinggi dengan bocah itu. "Hallo om," sapa Arik semangat. "Om sudah janji mau jemput kamu, ayo kita berangkat sekarang," Julian mengulurkan tangannya dan disambut cepat oleh Arik, entah mereka sudah berbicara apa saja sehingga terlihat sudah akrab. Aina semakin jengah melihatnya. "Ariiik, lihat HP ante nggak?" dari dalam rumah Maya dengan rambut kusut dan makeup yang baru setengah berteriak heboh. "Eh, adaa tamuu," ucap Maya pelan ketika melihat ke arah luar dan buru-buru dia kembali masuk ke dalam rumah dengan menahan malu. Burhan yang melihat itu senyum-senyum sendiri. Aina melepas paksa tangan Julian dan Arik ketika semua orang lengah karena Maya tadi. "Ayo Arik kita berangkat! Nanti kamu telat." Aina menyeret Arik ke arah sepeda motornya, mengacuhkan Julian yang diam saja melihat sikap sadis Aina. Aina menaikan Arik di depan kemudian dia mulai menyalakan mesin motor. Namun, keganjilan dari sepeda motor Aina dirasanya ketika dia sudah menjalankanya. Ban motornya terasa kempes. Padahal sebelumnya saat tadi pagi memanaskan mesinnya, ban motor itu masih baik-baik saja. "Ban kamu kayaknya bocor, ayo saya antar saja," Julian buka suara sambil melirik ke arah roda motor Aina. "Kamu yang kempesin ya?" mata Aina menyipit ke arah Julian penuh curiga. "Tidak", garis lurus dari sudut bibir Julian tecetak tipis. Sorot Aina seolah masih menuduh Julian lah pelakunya. "Apa saya terlihat akan melakukan hal seperti itu?" tanya Julian datar. Betul juga, mana mungkin seorang Julian yang perfeksionis, realistis dan higienis itu mau mengotori tangannya untuk mengempesi ban motor. Terdengar konyol untuk seorang Julian. "Ayoo maa, nanti Arik telat", rengek Arik sambil menggoyangkan tangan Aina. "Eh ada tamu, kenapa gak di suruh masuk Aina," suara Bu Hana mengintruspsi. "Nggak perlu bu, Arik sudah terlambat, kami sudah mau berangkat," sahut Aina penuh sindiran. "Perkenalkan, saya Julian," Julian menghampiri Bu Hana dan mengulurkan tangannya. Bu Hana menyambut ramah uluran tangan itu. "Saya mau minta izin mengantar Aina dan Arik ke sekolah, kebetulan ban motornya kempes," sambung Julian sopan. "Nggak perlu, aku bisa naik ojek di depan," sambut Aina ketus. "Ehh, nggak boleh gitu Na! Kamu kok nggak sopan, nak Julian ini berniat baik. Dia temen kamu kan? Lagian kalau harus jalan ke depan lagi keburu telat, terima aja tawaran nak Julian ini." "Ayo maa, ayo maa," rengek Arik lagi, tak biasanya bocah ini bertingkah begini. Aina berpikir keras harus bagaimana sekarang. Dan, disinilah dia sekarang, berada satu mobil bersama laki-laki yang setengah mati dibencinya. Dengan Arik yang duduk di tengah-tengah antara dirinya dan Julian. Sementara Burhan yang sejak tadi melihat drama rumah tangga pasangan itu tersenyum senang. Dia melihat dari kaca depan mobil wajah ditekuk Aina. Namun berbanding terbalik dengan senyum puas bosnya Julian. Tingkah lucu Arik yang sedari tadi mengoceh membuat suasana terasa hangat. Tidak sia-sia usahanya dengan mengotori tangan mengempesi ban motor Aina saat wanita itu bersiap tadi. Walaupun sebenarnya ide itu muncul dari sang bos yang sudah bisa menebak penolakan istrinya. Senyum kemenangan yang sejak tadi Julian tahan agar tidak membuat Aina curiga tidak bisa ditutupinya lagi. Dia merasa beginilah seharusnya. Keluarga kecilnya, bersama. *** Rian nampak buru-buru keluar dari mobilnya. Sedikit berlari kecil ke arah rumah sederhana namun asri yang ditinggali Aina. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan perkataan laki-laki angkuh yang berkata dengan penuh penekanan bahwa Aina adalah istrinya. Rian tidak percaya, dia perlu penjelasan dari bibir Aina sendiri, baru dia bisa lega menerima kebenarannya. Sosok Maya terlihat di depan rumah sambil bersungut-sungut. Sesekali melihat ke layar ponselnya, lalu menendang kesal ke arah ban motor di sampingnya. "May, Aina sama Arik belum berangkat kan?" Rian mengatur nafasnya di depan Maya. "Telat!" jawab Maya ketus namun sedetik kemudian dia tersenyum bahagia seolah menemukan solusi untuk masalahnya. Maya kemudian menarik tangan dokter muda itu ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan depan rumahnya. "Eeehh, mau kemana? aku mau ketemu Aina, sekalian nganter Arik ke sekolah," Rian berusaha mengelak. Maya berbalik kemudian berkata sambil tersenyum licik ke arah teman sekolahnya semasa menengah atas ini. "Mereka sudah berangkat sepuluh menit lalu, kamu telat! Sekarang kamu beramal sama aku aja, anterin ke tempat kerja aku, nanti kamu pasti ketemu sama yang jemput Aina dan Arik tadi" "Bohong! itu motor Aina masih di sana, sebelah motor kamu," Rian berusaha menyelidik. "Kamu nggak liat, itu ban motor dua-duanya kempes". Rian menyipit menajamkan mata ke arah dua sepeda motor yang terparkir di samping rumah itu. Benar ban motornya kempes. "Ayo, aku ceritakan di jalan! Keburu telat ini", Maya menarik lengan Rian paksa. Sia-sia sudah usaha Rian buru-buru dari rumah sakit setelah semalaman terjaga di UGD. Dia bahkan belum sempat mengganti baju dan mandi. Mungkin informasi dari Maya bisa mengurangi rasa penasarannya. *** Sesampainya di taman kanak-kanak, Julian dan Aina turut keluar dari mobil. Mengantar bocah itu sampai gerbang sekolah. "Belajar yang rajin sayang, jangan berantem lagi, oke?" petuah Aina sambil mencium pipi gembul Arik. "Pulang sekolah om jemput kamu, kita sudah janji mau mainkan?" giliran Julian yang menunduk ikut mencium pipi Arik. "Oke om", balas Arik semangat sembari melambaikan tangan memasuki area sekolah. Aina semakin cemberut, sementara Arik tidak menjawab nasihatnya, dia justru terlihat sudah sangat akrab dengan Julian. "Ayo, saya antar kamu ke tempat kerja", Julian menarik tangan Aina. Namun buru-buru di tepis olehnya. "Kamu mau ngapain sama Arik? Apa kamu yakin, akan aku izinkan?" Aina masih berkata ketus. "Ini kamu sudah tau, jadi tidak perlu minta izin lagikan?" "Bisa tidak kamu jangan ganggu kami lagi? Jangan muncul di depan kami se-la-ma-nya!" Aina menekan setiap katanya. "Tidak bisa! Dan saya akan ada di dekat kalian se-la-ma-nya!" balas Julian dengan penuh penekanan juga. "Aku capek ngomong sama kamu", Aina berbalik ingin menjauh. Tapi Julian mencekal tangannya dan menarik Aina mendekat. "Ayo saya antar, " sekali lagi Julian menawarkan. "Nggak perlu, aku bisa naik ojek," Aina berusaha menepis tangan Julian. Tapi bukannya menjauh, Julian malah menarik pinggang ramping Aina dan menempel padanya. "Kamu..." Aina melotot tajam. "Kamu nggak mau jadi tontonan kan?" bisik Julian begitu dekat. Aina menarik kepalanya menjauh dan melihat ke sekeliling. Benar saja, banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Tatapan penuh tanya dan kekaguman terpancar dari mata-mata itu. Aina menghela nafas, sudah pasti Julian lah pusat perhatian itu. Tampan, tinggi dengan gaya pakaian yang tidak biasa-biasa saja. Berdiri di dekatnya yang sangat biasa-biasa saja. Sungguh pemandangan yang kontras. Tak ingin berdebat lagi. Aina berjalan pasrah lebih dahulu ke arah mobil. Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah bahagia Julian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD