Arik dengan mulut menganga lebar menikmati satu cup besar ice cream coklat di depannya. Dia begitu bersemangat hingga tidak mempedulikan wajah dan bajunya yang belepotan. Sementara sebelah tangannya memegang mobil-mobilan yang baru saja dibelikan Julian. Hari ini Arik begitu bahagia bisa menghabiskan waktu dengan Julian.
Sementara di depannya, Julian memijat pangkal hidungnya pelan. Dia teringat kejadian di tempat kerja Aina tadi. Seorang lelaki muda nampak sudah menunggu kedatangan Aina di depan cafe.
Julian dapat melihat raut memuja lelaki itu kepada Aina dari dalam mobilnya. Ditambah senyum manis Aina kepada lelaki yang diketahui bernama Dito dari laporan Burhan, membuat kepalanya semakin berdenyut. Kepada laki-laki lain Aina bisa bersikap hangat, namun sedingin salju kepada dirinya.
'Semalam Rian, sekarang Dito.'
Julian harus bertindak cepat meluluhkan hati Aina. Sebelum para saingannya itu bisa menikungnya yang notabenenya sebagai 'suami' Aina.
Julian harus mencari sekutu untuk merobohkan tembok kemarahan Aina. Dan, lelaki kecil di depannya ini tampaknya sekutu terkuat itu.
"Om, mau?" Arik menyodorkan satu sendok berisi ice cream itu ke mulut Julian. Tanpa ragu Julian membuka mulut, melahap suapan ice cream dari Arik.
"Mmm, boleh nggak Arik jangan panggil om lagi?" Julian memulai siasatnya.
"Trus, panggil apa?" tanya Arik polos.
"Mmm 'Papa' mungkin lebih cocok," Julian seolah berpikir, padahal sudut bibirnya sudah melengkungkan senyum.
"Hhmm" Arik melihat ke atas nampak berpikir. Otak kecilnya memproses kata 'Papa' itu.
"Kayak Papanya Rendy itu ya? Atau Papanya Kevin?" tanyanya polos.
"Nah betul itu," Julian semangat.
"Kalau om jadi papanya Arik, tiap hari kita bisa main kayak gini, makan es krim, nonton kartun, naik sepeda, semua yang Arik suka," Julian tambah semangat.
"Tapi... kata Kevin kalau mau punya Papa itu harus menikah dulu sama Mama, baru boleh dipanggil Papa! Makanya kemaren Arik berantem sama Kevin, soalnya dia sok tau!" Arik cemberut, bibirnya monyong-monyong menggemaskan.
Julian melongo mendengar cerita Arik, ternyata anaknya ini juga mewarisi sifatnya bukan hanya fisiknya saja.
"Sok pamer-pamer punya Papa lagi! Ya sudah Arik tendang pakai bola. Eh nangis!"
Julian tidak bisa menahan tawanya bahkan sudut matanya sedikit berair. Tawanya begitu lepas setelah sekian lama dia lupa caranya tertawa. Dia mengacak rambut Arik gemas.
"Apa Mama kamu pernah cerita tentang Papa?" tanya Julian kemudian sambil membersihkan sisa es krim di bibir Arik.
Arik nampak berpikir, kemudian mulai bercerita, "Kata Mama, Papa Arik itu bajak laut yang menyelam ke dasar laut buat cari harta karun. Tapi pas Arik ke pantai waktu itu Papa belum timbul-timbul juga."
Kerongkongan Julian terasa kering mendengar cerita Arik. Aina memang tidak pandai berbohong. Tapi seorang 'bajak laut'? what a non sense?
"Arik nggak pernah lagi tanya soal Papa, soalnya Arik takut Mama sedih," sambung Arik lagi dengan menekuk wajahnya.
Julian menarik nafas dalam dan mengacak rambut Arik lembut.
"Arik nggak perlu sedih lagi. Sekarang Papa sudah kembali."
"Menikah itu apa sih om?" tanya Arik tiba-tiba, ia masih menolak memanggil Papa.
Julian diam sejenak, dia bingung harus menjawab apa kepada anak laki-laki pintarnya yang masih berumur lima tahun ini.
"Mmm menikah itu dua orang yang saling berjanji dengan nama Tuhan untuk terus menjalani hidup bersama," kali ini Julian benar-benar berpikir merangkai kalimatnya agar mudah dimengerti Arik.
Dia kemudian mengeluarkan handphone dari balik saku jasnya. Membuka galeri foto dan menunjukkan pada Arik.
"Coba kamu lihat, ini foto Mama dan Papa waktu menikah."
Arik meneliti potret dua orang yang duduk bersanding dengan disatukan satu tutup kepala putih bersama. Tentu saja dia mengenali pasti wajah ibunya, Aina.
Arik menatap wajah Julian sebentar kemudian kembali melihat ke gambar. Keningnya berkerut nampak berpikir keras.
Julian harap-harap cemas kata apa yang akan keluar dari bibir mungil itu.
"Oh iya yaa Pa!" ucap Arik semangat.
Senyum mengembang di wajah Julian. Rasanya sangat lega.
"Hore sekarang Arik punya Papa!" teriaknya girang.
Ada perasaan hangat yang menjalar dilubuk hati Julian ketika bibir mungil Arik memanggilnya Papa. Untuk pertama kalinya, rasanya kebahagiaan itu meluap-luap. Ah ternyata begini rasanya jadi seorang 'Papa'.
***
"Sekarang kamu sekretaris saya, kerja kamu bukan di hotel lagi tapi di kantor baru yang sudah selasai di renovasi. Gaji kamu juga akan menyesuaikan. Pastinya kamu tidak akan kecewa."
Manik tajam Julian menatap Maya yang nampak menunduk dari tadi. Meskipun jelas terlihat bibir Maya yang berkedut menahan senyum bahagia di hatinya.
"Jangan salah paham. Ini saya lakukan karena rasa terima kasih saya atas kebaikan kamu dan Bu Hana yang sudah merawat istri dan anak saya selama ini."
Maya mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Bukan apa-apa Pak, mereka sudah seperti keluarga kami sendiri Jadi Bapak tidak perlu menaikkan jabatan saya untuk membayarnya".
"Bukan hanya itu. Dari laporan yang saya baca tentang kamu yang sudah bekerja selama 5 tahun di hotel saya, kinerja kamu memuaskan. Jadi kamu pantas mendapatkan penghargaan dari saya."
Senyum Maya terkembang mendapat pujian dari big bosnya yang terkenal datar ini.
"Untuk tugas pertama kamu sebagai sekretaris saya, gantikan saya meninjau proyek resort di Ujung Pandaran bersama Burhan."
Julian tanpa ragu memberikan Maya tugas yang cukup penting. Toh, Burhan juga ada yang selalu siap mendampingi sebagai orang kepercayaannya.
"Baik Pak, kalau bapak memaksa, saya juga tidak bisa menolak", jawab Maya dengan senyum lebar. Sifat jujur dan polos Maya akhirnya keluar.
"Tapi... Saya mau minta tolong sama kamu", akhirnya Julian menyatakan maksud hatinya yang sebenarnya.
Dahi Maya berkerut menanti kelanjutan kalimat bosnya ini.
"Tolong bantu saya mendapatkan Aina kembali."
"Bapak menyogok saya?" Maya merasa tidak terima.
Dia pikir kenaikan jabatannya murni memang karena kinerjanya. Ternyata Maya harus menerima kenyataan kalau semua itu karena alasan lain.
"Bukan, ini permohonan saya sebagai seorang suami," jawab Julian cepat dengan tatapan yang tidak bisa Maya artikan.