14. Pendekatan

661 Words
Malam ini Aina benar-benar sudah tidak bisa menutupi kekesalannya. Laki-laki yang dibencinya setengah mati ini terus saja muncul di depannya. Kali ini lebih parah, Julian bahkan sudah duduk dengan santai di ruang tamu sambil memangku Arik dan ditemani oleh Bu Hana mengobrol. Brakkk Aina membanting pintu kamarnya yang tak berdosa dengan kekuatan penuh. Sukses membuat Bu Hana mengucap Istighfar dan Arik yang terlonjak kaget. Namun, senyum menang justru tercetak di bibir tebal Julian. Dia tidak perduli dengan penolakan Aina. Julian terus berusaha mendekati Aina dengan caranya. Di dalam kamar, Aina berguling-guling kesal sambil memukuli bantal dan guling di dekatnya. Lagi-lagi dia melampiaskan kekesalannya pada benda yang tak berdosa. Bagaimana dia tidak kesal? Sepulang kerja tadi, tiba-tiba saja Maya yang mengaku naik jabatan berkata akan meninjau proyek baru mereka selama seminggu dan sudah bersiap berangkat bersama Burhan dengan menggeret kopernya. Sementara Julian akan menggantikan tugasnya di rumah ini dan mejaga mereka untuk sementara layaknya satpam. Tugas Maya di rumah ini hanya menjahili Arik. Dan... untuk apa menjaga rumah yang tidak ada harta berharganya, sementara si penjaga yang ditugaskan adalah miliuner. Benar-benar alasan yang super konyol. Ditambah lagi Arik yang menempel bak perangko kepada Julian serta sifat hangat yang ditunjukkan Ibu padanya. Ah, Aina ingin menangis saja rasanya. "Apa dia sudah tidak waras? Otaknya sudah mengecil atau dia kesurupan?" Aina mengomel sendiri. 'Akkhhhh ' Aina mengacak rambutnya frustrasi. *** "Hati seorang wanita yang mengalami luka mendalam ditambah harus berjuang sendiri membesarkan anak, akan mengeras seiring dengan berjalannya waktu nak Julian", Bu Hana memulai petuahnya dengan pria kaku yang masih memangku Arik yang sudah mulai terlelap. Mata tuanya menatap lelaki tampan di depannya dengan lembut. Dia sudah mendengar niat hati lelaki ini untuk bisa merebut kembali hati istrinya. Pengalaman hidup lebih dari separuh abad mengajarkannya banyak hal. Termasuk kesabaran dan keikhlasan. Jadi, Bu Hana tidak mau menghakimi siapapun termasuk Julian. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Aina yang sudah dianggapnya anak kandung sendiri. Makanya dia tidak menolak ketika Julian ingin menginap di rumah ini. Toh, Aina masih istri sah Julian. Bu Hana ingin bersikap netral. Menasehati jika ada yang kurang pantas. "Semua memang berawal dari kesalahan saya. Tapi saya akan berusaha untuk menyirami hati Aina yang membatu itu, Bu! Tolong Ibu bantu saya," pinta Julian tulus. Bu Hana mengangguk dan tersenyum lembut. "Ibu lihat Arik sudah dekat sekali dengan kamu, padahal selama ini Arik termasuk anak yang susah akrab dengan orang", Bu Hana melihat ke arah Arik yang terlihat nyaman di pelukan Julian. Dia ikut senang melihat kedekatan dua laki-laki beda usia yang begitu mirip ini. Julian mengangguk dan membelai rambut Arik lembut. "Sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk kebaikan Ibu yang sudah mau menerima saya, dan selalu berada di sisi Aina selama ini. Saya tidak akan pernah bisa membayar kebaikan itu meskipun dengan nyawa saya," Julian menatap Bu Hana dengan rasa haru. Sementara tangannya masih mengelus kepala Arik yang sudah tertidur di pangkuannya. Julian sudah ingat, bahwa wanita paruh baya inilah yang lima tahun lalu dilihatnya dan hampir ia tabrak. Bu Hana sudah menceritakan awal mereka bertemu dengan Aina di halte saat sedang menunggu taksi. Rupanya kemacetan saat ia ingin berbalik menjemput Aina di tengah deras hujan bukan karena kecelakaan yang disangkanya. Namun, Aina istrinya yang mengalami kontraksi dan akan melahirkan. Beruntung Bu Hana dan Maya ada disana dan menolong dengan segera. Jika tidak, Julian tidak tahu apa masih bisa menggendong buah hatinya sekarang ini. Mengingat itu, semakin bertambah lah penyesalan di hatinya. Memang pantas Aina memperlakukannya buruk, mengingat dia sudah bersikap tidak adil pada Aina selama ini. "Adanya Aina dan Arik justru menambah kebahagiaan di rumah ini, tapi Ibu rasa kamu harus bersabar dengan sikap Aina. Ibu tahu dia sebenarnya wanita lembut, hanya bersikap tangguh saja dipermukaan. Tunggu sampai kemarahannya reda. Bicarakan baik-baik." "Saya akan berusaha bersabar dengan penolakan Aina, anggap saja saya sedang membayar penderitaan Aina selama lima tahun ini dengan kemarahannya. Saya ingin mereka kembali di sisi saya lagi Bu." Bu Hana tersenyum sambil mengangguk seolah menyetujui keinginan Julian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD