15. Menggoda

614 Words
Detik jam berdetak dengan teratur hingga menunjuk pukul satu dini hari. Entah mengapa mata Aina masih terjaga. Membayangkan Julian sekarang berada persis di depan kamarnya berbaring di kursi panjang ruang tengah benar-benar membuatnya gerah. Aina memutar kepalanya ke arah samping. Arik tertidur dengan mulut sedikit ternganga dan kedua tangan yang terangkat ke atas. Senyum terlukis di bibir Aina melihat pemandangan itu. Tadi, Julian lah yang menggendong Arik ke kamar, karena dia tertidur di pelukan papanya itu. Aina masih enggan menatap lelaki itu apalagi untuk bicara. Memang apa yang mau dibicarakan? Pernikahan mereka? Hak asuh Arik? Rasanya Aina sudah tidak berutang apapun pada lelaki itu. Sehingga dia tidak mau lagi berurusan dengannya. Pusing memikirkan tingkah Julian, tenggorokan Aina terasa kering. Dia pun bangkit dari ranjang. Mengikat rambut panjangnya asal ke atas. Menampakkan leher jenjangnya yang putih Aina membuka pintu pelan, takut menimbulkan suara gaduh di tengah sunyinya malam. Begitu dia keluar kamar, matanya bersitatap dengan mata elang Julian yang juga masih terjaga. Dia bersender di kursi panjang ruang tengah dengan memangku laptop yang masih menyala layarnya. Mana bisa lelaki kaya raya seperti Julian, bisa tidur di atas kursi keras rumah mereka. Bahkan untuk menampung panjang tubuh Julian saja, kursi itu tidak cukup. Salahkan dirinya sendiri yang bersikeras menginap di rumah orang miskin seperti dirinya, yang hanya memiliki dua kamar. Satu ditempati Ibu dan satu lagi kamar Aina dan Arik. Paling-paling esok pagi Julian angkat kaki dari rumah ini. Begitu pikir Aina. Aina mengenyahkan pikirannya, kemudian berjalan menuju dapur tanpa menghiraukan Julian yang terus menatapnya. Mengambil gelas kosong dan mengisinya dengan air putih sampai penuh. Kemudian meneguknya hingga tandas. Sebelum Aina berbalik ke arah kamarnya, tiba-tiba saja lengan besar Julian memeluknya dari belakang. Aina terpekik kaget dan berusaha melepaskan tangan itu. "Kamu!!" Aina melotot, memutar kepalanya kearah Julian dengan masih berusaha melepas pelukan erat lelaki itu. "Ssttt! Nanti Ibu dan Arik bangun," bisik Julian tepat di telinga Aina. Membuat bulu kuduk wanita itu merinding. "Ya makanya lepasin aku," Aina meredam suaranya. Namun pelukan Julian malah semakin erat, tubuh mereka menempel dengan Aina yang semakin dalam di tubuh besarnya. "Kamu sengaja menggoda saya, hmm?" ucap Julian sensual menghembuskan nafasnya di leher putih Aina. Aina refleks menghindar menjauhi wajah Julian yang sangat dekat. Julian bahkan semakin berani mengelus perut rata Aina dan mencium tengkuk Aina lembut. Julian benar-benar merindukan wangi tubuh wanitanya ini. Aina masih berusaha berontak tanpa menimbulkan suara. Namun seketika Aina tersadar. Dia menatap ke bawah tubuhnya. Dia hanya memakai terusan tanpa lengan dan tanpa memakai bra nya. Karena memang sudah kebiasaannya dan dia merasa nyaman ketika tidur. Aina lupa kalau di rumah ini ada laki-laki dewasa, mantan suaminya. Wajah Aina memerah menahan malu. "Lepas atau aku teriak!" ancamnya. "Coba aja, kita lihat siapa yang malu?" tantang Julian. Kini Julian semakin berani, tangannya mulai naik meremas pelan d**a Aina dari balik gaun tidurnya dan memberi tanda di lehernya. 'Ahh' Sejenak Aina terbuai dengan sentuhan Julian. Dia seolah mengingat kembali saat manis mereka saat masih bersama. Namun seketika Aina membuka mata, menarik segera kesadarannya. Dia tidak boleh jatuh dengan sentuhan Julian. Terbuai dalam pesona lelaki ini kembali yang hanya tipuan. Aina menarik nafas pelan dan menginjak dengan keras kaki Julian. Membuat sang empunya mengaduh dan pelukan itu pun melonggar. Aina mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri dan berlari ke kamar lalu menguncinya. Dada Aina turun naik mengatur nafasnya. Jantungnya memompa dengan irama cepat. Detak yang dulu dirasakan saat berdekatan dengan lelaki itu masih sama. Namun luka yang di torehkannya di hati juga masih belum sembuh. Sementara di luar kamar, Julian meremas rambutnya frustasi. Menetralkan jantungnya yang seakan ingin melompat keluar. Membendung keinginannya untuk menyatu dengan istrinya yang hanya berjarak tembok kamar. "Aina, please come back to me."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD