Pengkhianatan Bella

2112 Words
Malam ini Rizki sedang dalam perjalanan menuju rumah setelah mencari hiburan di club malam bersama Edward. Rizki ingin sedikit menghilangkan keresahan karena Bella sudah tidak bisa dihubungi lagi setelah komunikasi terakhir waktu itu. Sekarang, sudah hampir satu bulan mereka berpisah dan Bella malah tidak ada kabar sama sekali. “Aku merindukan sekaligus mengkhawatirkanmu, Bell, kenapa aku merasa kamu seperti sengaja menutup komunikasi diantara kita? Apa ini caramu meninggalkan aku?” gumam Rizki dalam perjalanan. Begitu tiba di rumah, Rizki langsung menuju kamar dengan langkah lesu karena pikiran yang sulit untuk bisa tenang. Saat ini waktu menunjukkan jam satu malam, semua penghuni rumah sudah berada di alam mimpi masing-masing, termasuk juga Dewi. Jika Dewi masih terjaga, pasti dia sudah menyambut Rizki di ruang tamu, di meja makan atau di pintu utama. Dan akan bertanya banyak hal jika melihat wajah lesunya saat ini. Rizki langsung merebahkan diri di tempat tidur dan sebisa mungkin menenangkan pikiran yang terus tertuju pada Bella. Saat Rizki ingin beranjak dari tempat tidur, ia merasa ada getaran di saku celananya cukup lama hingga ia mengurungkan niat ke kamar mandi dan mengambil ponsel untuk melihat siapa yang menelepon. “Boboho-ku,” gumam Rizki saat mendapatkan telepon dari keponakannya yang tinggal di Paris. "Bonjour, chère," sapa Rizki pada keponakan yang bertubuh gemuk, berusia enam tahu. (Halo, Sayang) "Bonjour, mon oncle!" balas, Nicolas di seberang sana. (Halo, Paman) “Où es-tu? Pourquoi est-il si encombré?" tanya Rizki. (Kamu sedang ada di mana? Kenapa ramai sekali?) "J'étais à un mariage, oncle. J'étais avec une belle femme." Nico mengedarkan kamera ponselnya untuk menunjukkan dua gadis seusianya yang berada di sisi kiri dan kanannya. (Aku sedang di pesta pernikahan, Paman. Aku bersama wanita cantik) Tentu Rizki tertawa mendengar perkataan anak berusia enam tahun, tapi sudah mengerti wanita cantik. Namun, senyumnya memudar saat kamera ponsel Nicolas menangkap sosok mempelai wanita yang sangat ia kenal. “Bella?!” pekik Rizki. “Nic, pouvez-vous voir la mariée, mon oncle ?” perintah Rizki untuk memastikan penglihatannya tidak salah. (Nic, bisa Paman lihat pengantin wanitanya?) Nicolas dengan patuh memfokuskan kamera ponselnya pada wanita yang berdiri dengan cantik dan anggun di samping pria yang pernah dua kali ia temui. Seketika tubuh Rizki seperti tersengat listrik. Tenaganya terasa hilang. Hati seakan tertusuk ratusan pisau. Perasaan ingin mengelak bahwa itu bukanlah wanita yang saat ini menguasai hatinya, tapi kenyataan seakan membenarkan apa yang ia lihat. “Elle n'est pas jolie, mon oncle. La femme à côté de moi est bien plus jolie!” Nico kembali mengarahkan kamera ponsel ke gadis kecil di sampingnya, sekaligus menyadarkan Rizki dari lamunannya. (Dia tidak cantik, Paman, wanitaku paling cantik) “Bien sûr, les garçons! Le tien est le plus joli parce que tu es le plus bel homme.” Puji Rizki. (Tentu, Boy! Milikmu paling cantik karena, kamu paling tampan) “Tu as raison, mon oncle!” jawab Nicolas, bangga. (Kamu benar, Paman) “peux-tu donner ton téléphone à maman?" perintah Rizki. (Bisa kamu berikan ponselmu pada ibu?) “Oui, mon oncle!” Nicolas langsung menarik gaun ibunya yang sedang berdiri di belakang. (Baik, Paman) “Halo, Rizki, ada apa?” tanya Luna saat melihat wajah adiknya di layar ponsel. “Kakak sedang menghadiri pesta pernikahan siapa?” tanya Rizki, langsung ketujuan. “Aku sedang menghadiri pernikahan Rex—sahabat Kak Lois,” jawab Luna. “Bukankah Rex itu Kakaknya Bella?” pikir Rizki bingung lalu kembali bertanya untuk memastikan. “Apa Kakak kenal dengan mempelai wanitanya?” “Kalau yang wanita, aku tidak terlalu kenal, tapi kalau yang pria, aku cukup dekat. Apa kamu tahu? Aku sangat kagum pada cinta mereka." "Kagum kenapa, Kak?" selidik Rizki. "Aku kagum dengan kekuatan cinta mereka karena Rex dan Bella sudah menjalin hubungan delapan tahun lalu dan mereka sempat menjalani hubungan jarak jauh selama satu tahun karena Bella tinggal di Indonesia untuk sementara, tapi mereka bisa mempertahankan cinta satu sama lain. Kemudian begitu Bella kembali, Rex langsung menikahinya tiga Minggu lalu dan baru mengadakan resepsinya sekarang," jawab Luna. “Delapan tahun lalu, Kak?” pekik Rizki, tidak percaya. “Iya, delapan tahun lalu. Selain itu, Kak Lois bilang saat ini mempelai wanita sedang hamil dua bulan, jadi mereka tidak hanya sedang bahagia karena pernikahan, tapi juga bahagia karena akan menjadi orang tua.” Luna mengucapkannya dengan sedikit berbisik karena, merasa tidak enak jika didengar tamu lain. Penjelasan Luna membuat Rizki seperti kehilangan nyawanya. Bagaimana tidak, Wanita yang sangat ia cintai bahkan sudah merancang mimpi untuk membina biduk rumah tangga dengannya, ternyata sudah menjadi milik orang lain sejak lama dan yang lebih menyakitkan lagi justru dirinyalah orang ketiga selama satu tahun ini. “Hei, kamu kenapa melamun?” tegur Luna saat melihat Rizki menatapnya, tapi tidak memberi respons apa pun. “Ah, maaf, Kak aku sedang memikirkan kisah cinta sahabat Kak Lois. Sepertinya sangat menarik jika menjalin hubungan yang awet,” puji Rizki dengan penuh kebohongan. “Iya, kamu benar. Bahkan Kak Lois bilang mereka adalah the best couple di kampus Kak Lois dulu!" “Iya, mereka memang terlihat serasi,” puji Rizki lagi, meskipun dengan hati yang hancur. “Kamu benar!” “Kak, di sini sudah larut malam, aku juga baru pulang dan ingin istirahat. Sampaikan salam pada Boboho-ku dan juga wanitanya.” “Apa dia yang meneleponmu tadi?” “Ya, Nic meneleponku untuk menunjukkan dua wanita cantik miliknya.” Rizki menjawab sambil berusaha tersenyum agar Luna tidak melihat kesedihannya. “Dasar anak nakal. Kak Lois selalu mengajarkan Nic menggoda teman-teman wanita seusianya dan menyuruh Nic memanggil semua teman wanitanya dengan sebutan wanita cantik. Sepertinya aku harus merubah didikan Kakak iparmu itu. Rizki menunjukkan senyumnya mendengar perkataan Kakak tercantik yang ia miliki. “Harus! Kakak harus mendidik Nic menjadi pria lembut sepertiku dan digilai banyak wanita.” “Kamu dan Lois sama saja,” celetuk Luna. “Ya sudah, Kak, aku sudah sangat lelah.” “Baiklah, sampaikan salamku pada Mamah.” “Tentu, bye.” Rizki mematikan panggilan lebih dulu. Setelah itu, Rizki kembali berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Kegelisahan yang sejak sore tadi ia rasakan, kini terjawab sudah bersamaan dengan hilangnya mimpi yang sejak satu bulan lalu ia rangkai. “Lalu apa arti hubungan kita selama satu tahun ini, Bell, jika ternyata kamu sudah milik orang lain sebelum bertemu denganku?” gumam Rizki. Rizki ingin menangis, tapi ia merasa tidak pantas mengeluarkan air mata atas pengkhianatan Bella. Namun, rasa sesak karena hati yang hancur, seolah memaksanya untuk menangis sekaligus berteriak guna meluapkan kekecewaannya. “Tidak! Aku tidak boleh menangisi dia. Di sana dia sedang bahagia dan aku juga harus bahagia. Aku tidak akan membuang setetes pun air mata untuk pembohong seperti dia!” Rizki segera bangkit dari tempat tidur untuk membersihkan diri agar pikirannya lebih tenang. ********** Pagi ini Kaifa berangkat dengan hati berat. Berat karena Tami mengabaikannya dan berat karena ia ingin pamit berhenti bekerja pada Dewi. Tekad Kaifa benar-benar sudah bulat. Ia harus ikut Nenti pergi bulan depan dan sekarang Nenti sedang menyiapkan paspor juga dokumen lain tentang dirinya. Menurut Kaifa, lama-kelamaan pasti Tami akan luluh jika ia terus memaksanya. Kaifa juga sama seperti Tami. Hati kecilnya sangat berat meninggalkan ibunya sendirian, tetapi demi hutang dan bertemu Akbar kembali, ia mengesampingkan rasa teganya. “Bu, Maaf, Kaifa harus tega pada ibu. Kaifa akan menjemput Kak Akbar demi Ibu agar kita bisa berkumpul lagi,” gumam Kaifa. Kaifa terus larut dalam pikirannya hingga tak terasa ia sudah sampai di depan pagar rumah Dewi. “Huuuh ... aku harus bisa bilang pada Omah pagi ini dan ini adalah hari terakhirku bekerja.” Kaifa menghela nafas berat, sebelum berteriak memanggil Didin untuk membuka gerbang dan benar-benar melupakan fungsi bel di sisi gerbang karena ia lebih senang memanggil Didin daripada memencet bel. “Mang, buka gerbangnya!” Didin yang mendengar teriakkan Kaifa, langsung bergegas untuk membukakan gerbang. “Neng Kaifa sudah datang?” sapa Didin seperti biasa. “Iya, Mang.” “Tuan Rizki sudah bangun, Neng, tadi Amang lihat dia berdiri di balkon.” Kaifa langsung mengerutkan kening mendengar ucapan Didin. “Loh, ini weekend, tidak biasanya Tuan bangun pagi?” “Kalau menurut Amang sepertinya Tuan Rizki tidak tidur, karena semalam lampu kamarnya menyalah terus, Neng!” ujar Didin. “Kasihan pujaan hati Kaifa, Mang. Pasti dia sedang banyak pekerjaan sampai begadang semalaman,” balas Kaifa sambil menatap balkon kamar Rizki. “Ini adalah hari terakhir aku melihat dia. Nanti sore aku juga harus berpamitan padanya,” lanjutnya membatin. Kaifa langsung masuk dan melakukan pekerjaannya seperti biasa yakni, mengurus keperluan mandi lalu menemani sarapan. Sarapan pagi ini, Kaifa melihat dengan jelas kesedihan yang terpancar dari wajah Rizki. Rizki memang tetap menyapa dan tersenyum seperti biasa, tapi dari senyum yang dipaksakan itu, justru kesedihan terlihat jelas. “Apa Tuan sedang banyak masalah?” pikir Kaifa. Mereka sarapan seperti biasa sambil sesekali Dewi menanyakan kegiatan Rizki. Dan ketika Dewi membahas soal kapan Rizki akan mempersiapkan lamaran, Rizki sempat diam dan berkata, “Aku belum menemukan jodohku, jadi aku tidak mungkin menyiapkan lamaran, Mah.” Tentu jawaban itu membuat Kaifa dan Dewi saling pandang karena bulan lalu Rizki dengan semangat membicarakan lamaran, tapi pagi ini dia bilang belum menemukan jodoh. “Apa Tuan sedang putus cinta?” batin Kaifa. Dewi yang memahami ucapan Rizki dan baru menyadari wajah sedihnya, langsung menghentikan obrolan dan fokus pada sarapan masing-masing. Setelah selesai sarapan, Rizki kembali ke kamarnya karena, hari ini ia sedang libur dan Kaifa mengikuti keinginan Dewi untuk berjemur di halaman belakang. “Kaifa, tolong pijat telapak kaki Omah. Pagi ini Omah akan bayar kamu lima puluh persen,” perintah Dewi. Merasa saat ini momen yang tepat untuk mengundurkan diri, Kaifa langsung duduk di kursi taman untuk mensejajarkan diri dengan Dewi. “Omah, maaf, kalau Kaifa akhir-akhir ini banyak meminta uang Omah. Bulan lalu pihak bank datang ke rumah Kaifa karena keluarga Kaifa telat membayar cicilan, jadi Kaifa tidak ada cara lain selain meminta bayaran lebih. Sekali lagi Maafkan Kaifa, Omah.” Dewi tersenyum menatap Kaifa yang menunjukkan rasa bersalahnya. “Kenapa tidak cerita pada Omah? Mungkin saja Omah bisa bantu.” “Tidak, Omah, Kaifa tidak ingin menyusahkan Omah.” “Apa Omah boleh tahu, kenapa keluarga kamu bisa memiliki hutang di bank?” “Waktu itu Ibu menggadaikan sertifikat tanah dan rumah ke Bank untuk biaya cuci darah Bapak berbulan.” “Apa kamu sudah kerja sama Omah?” “Sudah, Omah. Bapak menderita gagal ginjal satu setengah tahun lalu dan semakin parah satu tahun terakhir.” “Kenapa tidak katakan pada Omah? Kalau Omah tahu, Omah pasti bantu biaya pengobatan bapakmu.” Kaifa menunjukkan senyum manisnya mendengar ketulusan Dewi. “Omah, pagi ini juga Kaifa mau pamit.” Dewi langsung menunjukkan wajah herannya. “Pamit? Pamit kenapa? Kamu mau melamar pekerjaan lagi?” “Tidak melamar pekerjaan, Omah. Kaifa mau pamit berhenti bekerja pada Omah. Kaifa mau ikut teman jadi TKW di Korea.” “Kenapa kamu harus jauh-jauh cari kerja? Apa kamu bosan kerja sama Omah? Kamu mau naik gaji?” “Bukan begitu, Omah. Kaifa cuma tidak mau terlalu menyusahkan Omah. Omah sudah terlalu baik pada Kaifa, Kaifa merasa tidak enak jika harus menerima upah yang terlalu besar dari Omah sedangkan pekerjaan Kaifa tidak berat sama sekali." “Tapi itu kemauan Omah. Omah memberi upah yang besar karena kerja kamu semakin hari semakin baik dalam melayani Omah, bukan karena kamu meminta upah lebih bulan kemarin.” “Tetap saja Kaifa merasa tidak enak hati, Omah." Dewi sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi agar Kaifa tetap bekerja dengannya. Dari ucapan Kaifa, Dewi dapat memahami bahwa, Kaifa sudah sangat ingin berhenti bekerja dengannya. Dewi tidak punya hak untuk melarang apa lagi memarahi Kaifa meskipun hatinya berat melepas gadis yang ia pikir tepat untuk dijadikan menantu. “Ya sudah, Omah tidak bisa memaksa kamu. Semoga kamu bisa dapat pekerjaan yang lebih baik. Jika kamu tidak betah bekerja di tempat lain, Omah selalu siap menerima kamu lagi.” Kaifa tidak bisa menahan harunya karena dipertemukan dengan wanita sebaik dan selembut Omah Dewi. Jika ditanya berat, tentu sangat berat. Menurut Kaifa meninggalkan Dewi sama seperti meninggalkan ibu kandungnya. Dua tahun merawat Dewi, Kaifa merasa seperti sudah sangat dekat dengannya. Bahkan, ia merasa seperti anak kandung. “Boleh, Kaifa menangis sambil peluk Omah?” Kaifa meminta izin sambil mengusap air matanya. “Boleh, Sayang.” Dewi membentangkan satu tangannya. Kaifa beranjak dari duduknya dan membungkuk untuk memeluk Dewi. “Omah, Kaifa boleh bilang sayang?” lirihnya. “Boleh, Sayang.” Dewi juga menahan tangis kehilangannya. “Kaifa sayang Omah. Maaf jika selama bekerja banyak mengecewakan Omah. Nanti setelah Kaifa kembali ke Indonesia lagi, Kaifa akan datang menemui Omah dan membawa oleh-oleh dari Korea,” hibur Kaifa. “Tidak perlu, Sayang. Kamu masih mengingat Omah saja, Omah sudah sangat senang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD