“Kaifa tidak mungkin melupakan Omah.”
Kaifa sudah tidak bisa menahan tangisannya hingga melepaskan tangisnya sampai tersedu.
Sungguh, Kaifa sudah sangat nyaman bekerja pada Dewi. Bahkan selama bekerja dengannya, ia tidak merasa seperti pekerja, melainkan seperti keluarga inti. Kasih sayang Dewi membuatnya betah selama mengurusnya.
Setelah itu Kaifa langsung berlutut untuk memijat Kaki Dewi sesuai perintahnya tadi.
Hari ini Kaifa melakukan kegiatannya seperti biasa. Ia mengurus semua keperluan Dewi dengan telaten. Bahkan hari ini ia memberanikan diri ingin tidur siang bersama Dewi di tempat tidurnya.
Seharian ini Kaifa lebih bersemangat meskipun ada sedikit rasa berat di hatinya. Ia juga berpamitan pada semua pekerja yang ada di rumah Dewi. Termasuk Iyam dan Didin. Hanya pada satu orang Kaifa belum sempat berpamitan yakni, Rizki karena tidak biasanya weekend ini tuannya itu mengurung diri di kamar. Padahal, ia sudah menunggu sejak selesai makan siang tadi.
“Sepetinya Tuan benar-benar sedang ada masalah. Saat makan siang tadi dia kelihatan lebih diam dan murung. Apa benar Tuan sedang putus cinta?” pikir Kaifa sambil menatap pintu kamar Rizki dari ruangan tamu.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Kaifa masih berharap Rizki akan keluar agar ia bisa berpamitan. Namun, sampai sepuluh menit menunggu di dapur, Rizki tidak kunjung keluar juga.
“Mbok, kenapa Tuan belum keluar juga, ya? Apa dia tidak makan malam?” tanya Kaifa pada Iyam.
“Mungkin sebentar lagi,” jawab Iyam.
“Tapi hari sudah mulai gelap, Mbok, Kaifa harus cepat pulang."
“Tunggu lima menit lagi, Tuan pasti keluar!”
“Ck!” Kaifa berdecak sebal.
Kaifa bimbang, jika langsung pulang pasti tidak akan ada kesempatan lagi untuk berpamitan, tapi jika tetap menunggu, ia tidak tahu sampai kapan.
Tiba-tiba tatapan Kaifa dan Iyam beralih saat melihat Dewi menghampiri mereka berdua.
“Loh, Omah, Kenapa tidak memanggil Kaifa kalau Omah mau ke dapur?” tanya Kaifa sambil mendorong kursi roda Dewi, padahal tanpa didorong pun Dewi bisa melajukan kursi roda otomatisnya.
“Omah pikir kamu sudah pulang. Kenapa kamu belum pulang?” tanya Dewi.
Saat melihat mata Dewi yang memerah, Kaifa yakin Dewi habis menangis, tapi ia tidak tahu penyebabnya.
Kaifa langsung berlutut di samping kursi roda untuk berbicara. “Kaifa menunggu Tuan Rizki keluar. Kaifa mau pamit.”
Mendengar alasan Kaifa, Ide untuk mendekatkan Rizki dan Kaifa pun terlintas di pikiran Dewi. “Mendekatkan mereka untuk yang terakhir kali, seperti tidak buruk,” batinnya.
“Omah, kira-kira kapan Tuan akan ke luar kamar?”
“Apa kamu mau pulang jam 7 malam? Nanti Rizki akan keluar jam setengah tujuh untuk makan malam, kita bisa makan malam bersama,” tawar Dewi.
“Tapi nanti Kaifa sampai rumah sudah cukup malam, Omah.”
“Omah akan menyuruh Rizki mengantarmu sampai depan rumah. Anggap saja ini bentuk ucapan terima kasih dari Omah, sekaligus ini adalah makan malam pertama dan terakhir kita.”
Kaifa melirik ke segala arah untuk berpikir hingga akhirnya ia menjawab dengan mantap. “Baiklah, Omah, Kaifa akan makan malam di sini. Kaifa harus makan yang banyak di rumah Omah, sampai makanan di rumah ini habis,” guraunya.
Dewi dan Iyam tertawa mendengar jawaban Kaifa. “Iyam, kamu juga ikut makan sama kita, ya!” ajak Dewi.
“Baik, Nyah,” jawab Iyam.
"Panggil Didin dan yang lainnya juga!" perintah Dewi lagi.
Satu jam kemudian, Rizki keluar dari kamarnya untuk makan malam. Sama seperti saat melihat Dewi tadi, Kaifa juga merasa Rizki habis menangis karena matanya memerah dan sedikit sembab.
Ada sedikit rasa penasaran di hati Kaifa tentang masalah yang Rizki hadapi sekarang. Namun, Kaifa akan merasa sangat lancang jika berani bertanya pada tuannya yang tidak dekat sedikit pun secara pribadi hingga Kaifa hanya bisa menebak-nebak masalah yang Rizki hadapi dari raut wajahnya.
Saat makan, Rizki tetap menyapa dan berbicara seperti biasa. Bahkan, ia tidak protes saat Kaifa, Iyam, dan beberapa ART lainnya ikut makan satu meja dengannya. Rizki hanya bertanya pada Dewi tentang acara dibalik makan malam bersama ART lalu Dewi menjawab sebagai pelepasan untuk Kaifa yang akan berhenti bekerja.
Setelah selesai makan, Dewi langsung menyuruh Rizki untuk mengantar Kaifa pulang. Tidak sedikit pun Rizki melayangkan protes apa lagi marah saat mendengar perintah Dewi, meskipun raut kesedihan masih terlihat jelas. Padahal, jantung Kaifa sampai berdetak lebih kencang, takut Rizki tidak mau mengantarnya.
Saat ini Rizki dan Kaifa sedang dalam perjalanan menuju rumah. Kaifa duduk di sebelah Rizki sesuai perintahnya. Hingga setengah perjalanan, Rizki tidak bicara sepatah kata pun sehingga, Kaifa yang memulainya lebih dulu agar suasana dalam mobil tidak terasa tegang.
“Tuan, saya ingin pamit pada Tuan. Saya minta maaf jika selama bekerja, saya pernah melakukan salah. Dan saya juga ingin mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan Tuan selama saya bekerja, termasuk bahan sembako yang Tuan belikan bulan lalu,” ucap Kaifa.
“Kenapa kamu berhenti bekerja? Bukankah kamu bilang betah kerja dengan Omah?” tanya Rizki.
“Saya mau ikut teman saya bekerja di luar negeri, Tuan.”
“Kenapa jauh sekali? Apa di dalam negeri tidak ada pekerjaan?”
“Saya hanya ingin menambah pengalaman saja,” bohong Kaifa.
“Semoga kamu bisa dapat pekerjaan yang cocok untukmu di sana.”
“Terima kasih, Tuan.”
“Kamu ingin membeli apa untuk ibumu? Apa kamu ingin membeli martabak lagi?”
“Tidak perlu, Tuan. Kita langsung pulang saja.”
“Ck! Sudah aku bilang, aku tidak terbiasa bertamu dengan tangan kosong.”
“Tidak apa-apa, Tuan. Lagi pula ini sudah jam delapan malam, ibu juga pasti sudah makan.”
“Ya sudah kalau begitu. Apa kamu ingin kita ke minimarket lagi?” Rizki terus memberi tawaran.
“Tidak, tidak, Tuan. Terima kasih,” tolak Kaifa, cepat.
Rizki akhirnya berhenti berbicara lagi karena, menurutnya tidak ada yang bisa ia bicarakan dengan Kaifa. Kaifa juga tidak bisa bertanya apa pun karena, ia pikir tidak sopan jika terlalu banyak bicara dengan majikan yang tidak terlalu dekat. Akhirnya keadaan di dalam mobil kembali sepi hingga tiba ke tempat tujuan.
“Terima kasih Tuan, sudah mengantarkan saya,” ucap Kaifa sebelum keluar dari mobil.
“Sama-sama,” balas Rizki.
Saat Kaifa akan membuka pintu, Rizki dengan cepat meraih tangan Kaifa. “Fa, tunggu!”
“Ada apa, Tuan?”
Rizki segera mengeluarkan dompet di saku belakang jeans-nya. “Ini!" ujarnya saat memberikan puluhan lembar uang pecahan seratus ribuan pada Kaifa.
“Ini uang apa, Tuan?” tanya Kaifa sambil menunjukkan puluhan lembar uang di genggaman tangannya.
“Sebagai tanda terima kasihku karena, kamu sudah merawat Omah dengan baik sampai Omah sangat menyayangimu. Aku sempat melihat Omah menangis saat kamu menunggu di luar sebelum berangkat tadi. Jika kamu tidak cocok bekerja di tempat yang sekarang akan kamu datangi, kembalilah ke rumahku untuk mengurus Omah lagi,” pinta Rizki.
Mendengar nama Dewi disebut, mata Kaifa mulai berkaca-kaca lagi
“Kenapa menangis? Apa kamu tersinggung?” tanya Rizki tidak enak hati karena berpikir Kaifa merasa direndahkan dengan pemberian uangnya.
“Tidak, Tuan. Saya hanya sedih meninggalkan Omah karena Omah orang paling baik yang saya kenal,” ucap Kaifa sambil menunduk.
Rizki berinisiatif mengusap punggung Kaifa untuk menenangkan. Ia sendiri kagum pada hubungan ibunya dengan sang Perawat yang begitu dekat hingga keduanya sama-sama sedih dalam perpisahan ini.
“Tenanglah. Lama-kelamaan kamu dan Omah pasti terbiasa dengan perpisahan ini,” hibur Rizki.
“Iya, Tuan. Kalau begitu saya permisi.” Kaifa segera keluar dari mobil karena ia tidak dapat menerima perhatian Rizki lebih dari ini. Ia tidak bisa mengendalikan detak jantungnya saat mendapat perhatian Rizki, walaupun ia tahu, Rizki hanya sekedar menghibur.
“Hanya berpisah dengan Mamah, dia menangis seperti orang putus cinta, aku yang putus cinta saja, masih bisa menahan air mataku,” gumam Rizki.
Seketika wajah Rizki kembali sendu saat teringat pengkhianatan Bella dan kembali harus menahan air yang tiba-tiba memenuhi pelupuk mata.
Setelah itu Rizki memundurkan mobilnya, pergi dari rumah Kaifa, tetapi bukan untuk pulang, melainkan untuk ke club malam, tepat yang ia pikir bisa menenangkan pikirannya.
Begitu tiba di salah satu club malam yang ada di daerah Jakarta, Rizki langsung menghampiri meja bartender untuk memesan.
“Yuda, satu botol!” pinta Rizki pada Yuda—bartender yang sudah cukup akrab dengannya.
“Sendiri, Bos? Edward ke mana?” tanya Yuda.
“Aku tidak tahu. Aku juga tidak memberi tahu dia kalau aku ke sini,” jawab Rizki.
“Tidak biasanya datang lagi, baru kemarin ke sini, biasanya 3-4 Minggu baru datang lagi. Kenapa? Apa sedang ada masalah?” tanya Yuda sambil memberikan pesanan Rizki.
“Tidak ada, hanya sedang ingin ke tempat ramai saja,” jawab Rizki berbohong.
Yuda kembali sibuk pada pengunjung bar lainnya, sedangkan Rizki mulai menghabiskan seteguk demi seteguk wine yang ia harapkan bisa menghilangkan bayang-bayang Bella di otaknya.
Rizki mungkin tidak terlalu sakit jika Bella tidak pernah mengenalkan Rex padanya. Setelah Rizki tahu bahwa, Rex dan Bella bukan adik-kakak, ia benar-benar sakit hati sekaligus malu saat menyadari ternyata selama ini dia seperti orang bodoh di mata Bella atau mungkin juga di mata Rex. Terlebih lagi pada Edward yang sering berusaha memberitahu tentang hubungan Bella dan Rex. Jika biasanya Rizki selalu terbuka pada Edward, kali ini ia seperti tidak punya nyali untuk mengeluh pada sahabatnya itu. Ia malu karena selama ini selalu membela dan membenarkan Bella di depan Edward dengan terus menampik kecurigaan sahabatnya itu. Namun, sekarang ia seperti terkena senjata makan tuan saat wanita yang selalu ia bela justru menusuknya.
“Bella hamil dua bulan, itu berarti saat aku mengantarkan dia kembali ke Paris bulan lalu, Bella sudah hamil. Dan dia melangsungkan pernikahan tiga Minggu lalu, itu artinya dia kembali bukan untuk sekolah memasak, tapi untuk melangsungkan pernikahan. Aku benar seperti orang bodoh dibuatnya. Aku membencimu Bella! Aku benci wanita!” umpat Rizki penuh amarah lalu kembali menuangkan Wine ke dalam gelas yang ada di genggaman tangannya.
Setelah kesadarannya mulai dikuasai alkohol, Rizki segera beranjak dari kursi untuk meninggalkan bar karena tidak mau ibunya tahu kalau ia mabuk, itu sebabnya ia segera mengakhiri aksi luapan patah hatinya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
**********
Kaifa pov
Satu bulan sudah aku berhenti bekerja pada Omah dan sekarang aku berada di penampungan para TKW. Aku sedang bersiap-siap berangkat ke bandara untuk menuju tempat kerja baruku setelah satu bulan lamanya aku di sini.
Satu hari setelah aku berhenti bekerja, Nenti langsung mengajakku pergi hari itu juga. Aku pikir aku tidak perlu berada di penampungan, ternyata waktu tunggu satu bulan itu, aku harus melatih keterampilanku dulu di sini. Dan saat itu Ibu belum mengizinkan aku untuk pergi hingga sekarang. Mungkin lebih tepatnya bukan belum, tapi tidak memberi Izin.
Karena tidak mendapatkan izin dari ibu, aku dan Nenti nekat memalsukan surat izin dari keluarga untuk aku serahkan pada pengurus penampungan sebagai salah satu syarat agar aku bisa diterima di yayasan ini lalu disalurkan ke negara yang aku dan Nenti tuju.
Dua Minggu pertama aku berada di sini, aku tidak berhenti menangis karena memikirkan Ibu. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Ibu. Aku takut Ibu jatuh sakit lagi, tapi aku juga tidak bisa membatalkan niatku untuk memperbaiki perekonomian keluargaku dan mencari Kak Akbar. Beruntung Mang Edi selalu memberikan kabar padaku melalui pesan singkat. Mang Edi bilang, Minggu pertama Ibu sering melamun bahkan beberapa kali pingsan, tapi Minggu kedua hingga saat ini ibu sudah kembali ceria lagi meskipun sesekali masih suka melamun, tapi setidaknya itu sudah jadi penenang untukku.
Aku terpaksa hanya bisa menghubungi Mang Edi karena Ibu marah padaku dan tidak mau bicara. Bahkan saat aku pergi, Ibu mengurung diri di kamar. Meskipun aku mengetuk pintu ratusan kali, Ibu tetap tidak membuka pintunya hingga dengan berat hati aku pergi sambil menangis.
“Gita!”
Lamunanku buyar saat ada yang memanggil nama palsuku di sini. Ya, namaku di sini adalah Anggita gadis belia berusia 21 tahun, padahal usiaku sudah 24 tahun, tapi di sini aku malah dimudakan.
“Ya!” sahutku teriak.
“Masuk ke mobil sekarang!” perintah Madam Angel selaku pemilik sekaligus pengurus penampungan TKW ini.
Aku langsung melangkah memasuki mobil Elf yang ada di pekarangan penampungan, menyusul belasan gadis seusiaku yang sudah lebih dulu duduk di mobil. Belasan gadis itu juga sama denganku, tidak ada yang memakai data dan nama asli di sini. Semua dokumen dan paspor menggunakan nama palsu dan juga usia yang dimudakan. Bahkan, aku baru tahu bahwa, nama palsu Nenti adalah Mona.
Aku tidak tahu kenapa harus memalsukan nama dan umur, Madam bilang karena banyak majikan yang membutuhkan pegawai yang masih muda dan perawan. Aku juga tidak paham, apa keperawanan menjadi salah satu syarat sebagai TKW?
Setelah mobil terisi penuh, aku dan teman-teman lainnya langsung berangkat ke bandara dan siap menuju negara Korea untuk mulai bekerja.
Saat mobil yang membawaku baru keluar dari gang menuju jalanan umum, aku melihat mobil yang aku kenal dan sudah dua kali aku naiki masuk ke gang menuju penampungan TKW.
“Itu seperti mobil Tuan Rizki?” pikirku sambil terus menatap ke belakang. “Kaifa, mobil seperti itu banyak, tidak hanya satu. Lagi pula mana mungkin Tuan Rizki ke sini.” Aku menggelengkan kepalanya berusaha menolak pikiran sendiri.
45 menit kemudian, aku tiba di Bandara Sukarno Hatta. Aku dan yang lainnya menunggu setengah jam lamanya di ruang tunggu bagian luar sebelum kami masuk dan menunggu di ruang tunggu bagian dalam. Karena pesawat yang akan aku naiki berangkat dua jam lagi.
Saat aku akan memasuki pintu bandara, aku mendengar teriakkan pria yang tidak asing di telingaku.
“Kaifa ...!”
Aku langsung menoleh untuk memastikan aku tidak salah dengar.
Nenar saja, pria yang aku duga, sedang berlari menghampiriku setelah turun dari mobilnya.
“Tuan, kenapa ke sini? Ada apa?” tanyaku khawatir saat melihat Tuan Rizki berhenti di hadapanku dengan nafas tersengal.
“Jangan pergi! Menikahlah denganku!” ucapnya sehingga, membuat aku benar-benar terkejut.