“Iya, akan aku buatkan,” ucap Kaifa lalu kembali memejamkan mata dan mencari posisi ternyaman dalam tidurnya. “Kalau iya, kenapa tidur lagi? Kamu pikir kamu bisa menyiapkan makanan dalam mimpi?” Rizki menarik tangan Kaifa untuk duduk. “Aku masih mengantuk. Aku baru saja tidur. Bisakah Tuan tunda rasa laparnya sampai besok pagi?” protes Kaifa. “Yang benar saja! Aku lapar sekarang kenapa harus menunda sampai besok pagi?” Rizki menarik paksa Kaifa sampai berdiri. Mau tidak mau Kaifa berjalan dengan malas ke dapur untuk menghangatkan makanan yang ia buat sore tadi. Rizki terus memperhatikan Kaifa menuju dapur karena khawatir Kaifa akan kembali ke sofa jika tidak diawasi. “Fa, kalau sudah antarkan ke kamar!” teriak Rizki, lalu berjalan kembali ke kamarnya. Kaifa tidak menyahut, tetapi ia

