“Maka, sekarang aku yang akan memakai cara seperti Tuan kemarin. Omah pasti akan sangat sedih jika anaknya menyia-nyiakan istri yang sangat mencintainya karena aku akan bertingkah seolah-olah aku istri yang tersakiti di depan Omah. Coba Tuan bayangkan, Omah pasti tidak akan setuju jika hanya Tuan saja yang menginginkan perceraian, sedangkan aku terus berpura-pura sangat mencintai Tuan.” “Kamu menyerangku sekarang?” tuduh Rizki. “Aku tidak menyerang, justru sedang membuat kesepakatan. Aku hanya tidak ingin membuat ibuku sedih,” elak Kaifa. “Tapi kesepakatanmu lebih merujuk pada ancaman!” “Itu akan menjadi ancaman jika Tuan tidak setuju, tetapi jika Tuan setuju, itu akan menjadi kesempatan!” “Kesepakatan itu hanya menguntungkanmu dan lebih tepatnya kamu sedang memanfaatkan aku.” “Baikl

