Part 2 Terlalu Sadis Caramu

1182 Words
Pertemuannya dengan pria tadi membuatnya takut setengah mati, ia benar-benar tak menyangka jika ia bertemu lagi dengan pria yang sudah merenggut mahkota berharganya. "Ada apa, Nak? Sejak pulang dari temu wawancara tadi kamu tampak diam." Ridwan maupun Izah melihat perubahan dari Arletta. Sang anak langsung masuk kamar begitu sampai di rumah setelah diantar Wasa. "Nggak apa-apa, Yah. Arletta hanya capek," kilahnya memberi jawaban. "Jangan terlalu banyak mengambil pekerjaan, Nak. Ingat selalu jaga kesehatanmu," pesan Izah yang khawatir. "Bu, adik kembar mau ke sini. Tapi mereka belum tiba dari Malaysia," celetuk Eila yang berada di sampingnya. "Penerbangan mereka tertunda. Mungkin baru besok datang," sahut Ridwan sambil mengunyah makanannya. "Bu, Arletta ke kamar dulu, ya. Rasanya badan Arletta capek semua." "Eila kok ditinggal sendiri, Bu?" "Hari ini Eila tidur sama kakek dan nenek dulu, ya." Izah tahu pasti ada masalah dengan Arletta, tak biasanya sang anak melewatkan jam tidur Eila. Ia yang selalu menidurkan Eila dan mendongengkan sebuah cerita. "Eila tidur sama nenek dulu, ya. Ibu mau melukis dulu." Izah memberi pengertian pada Eila agar anak kecil itu paham. Di kamarnya, Arletta tak bisa tidur. Ia masih memikirkan pria di mobil tadi dan sempat mengatakan jika ia akan datang menemui kedua orang tuanya. "Mengapa ia harus hadir dan datang menemuiku?" Arletta menggigit bibirnya sendiri, kebiasannya saat ia diserang rasa cemas dan ketakutan. Tak pernah terlintas di benaknya jika pria yang memesan lukisan darinya adalah pria yang sama beberapa tahun lalu. "Siapa dia sebenarnya? Apa alasannya menculikku?" Seberat apapun Arletta berpikir, ia tak menemukan jalan keluarnya. Ia tidak tahu alasan pria itu menculiknya dan melecehkannya. Ponselnya bergetar, ada pesan tertulis dari Wasa yang memberitahu tentang sesuatu. Arletta memilih menelepon dan menanyai Wasa langsung. ["Nama pemesan lukisanmu itu Janu Mahesa Manendra."] "Orang mana pria itu, Sa?" ["Orang Indonesia, Let. Dia pengusaha hotel dan rumah sakit di seluruh negeri ini."] "Lalu mengapa dia memintaku untuk melukisnya? Bukankah masih banyak pelukis terbaik di negeri ini?" ["Loh kamu tidak tahu pria itu, Let?"] "Memangnya siapa, Sa." ["Dia itu satu sekolah dengan kita dulu. Kamu tahu anak lelaki yang sering kamu rundung itu? Yang gemuk dan berkacamata?"] Ya, tentu saja Arletta ingat jelas pemuda gemuk yang pernah ia sindir dan rundung tiap bertemu dan berpapasan di koridor sekolah. "Iya aku tahu." ["Pemuda gemuk itu Janu, Let. Pria yang memesan lukisanmu itu. Wah nggak sangka penampilannya berubah."] Ponselnya terjatuh di alas karpet, kali ini perkataan dari Wasa benar-benar membuat syok dan kaget luar biasa. Secara tak sadar, ingatan-ingatan tersebut terpampang begitu nyata di depannya. Janu gemuk berubah total dari penampilannya yang dulu. ["Let, kamu baik-baik saja?"] Arletta mengambil kembali ponselnya,"Maaf aku tutup dulu teleponnya, Sa." Bagaimana mungkin pria itu adalah Janu? Apa yang membuat Janu berbuat seperti pada dirinya? Saat kelulusan sekolah, pemuda gemuk itu dikabarkan pergi ke luar negeri setelah mengalami kecelakaan sewaktu bersepeda. Arletta tak dapat berpikir, ia harus menghadapi pria itu guna mencari alasannya selama ini. Rasa trauma dan takut masih menghantui jika mendengar suara pria tersebut, tetapi ia akan menepis perasaan tersebut. "Ibu, apa ibu lelah?" Suara manja Eila membuatnya berpaling dan menyunggingkan senyum. Gadis kecil itu memakai piyama, tubuh gemuknya menghampiri Arletta dan memeluk. "Ibu tidak lelah, kok." "Eila nggak mau tidur sama kakek. Kakek itu kalau tidur suaranya keras," sungut Eila sembari menatap Arletta agar menyetujuinya. "Iya boleh, Nak. Tidur sini sama ibu." Eila langsung naik ke kasur, tak lupa membawa serta boneka kelinci pemberian dari Janu di ulang tahun pertamanya. "Bu, apa Eila bisa bertemu ayah nanti?" Arletta ikut naik dan tidur di samping Eila, ia membelai dengan lembut serta mencium keningnya. Ia berharap bisa memberi jawaban pada anaknya, tetapi hanya senyum simpul yang diberikan. "Ah, ibu selalu saja tidak menjawab pertanyaan Eila." ***** Arletta baru saja turun dari lantai atas saat terdengar sang ayah menelepon seseorang dan ibunya duduk dengan wajah tak dapat ia pahami seperti rasa terkejut. "Ada apa, Yah? Apa ada masalah dengan penerbangan mereka?" Arletta takut jika terjadi sesuatu terjadi pada saudaranya, tetapi gelengan kepala sang ibu membuatnya lega. "Lalu kenapa ayah terkejut?" Ridwan menuntun Arletta lalu duduk berdampingan dengan Izah, wanita yang masih cantik di usia tuanya itu menepuk punggung sang anak. "Ada apa, Bu? Jangan buat Arletta takut." "Pria itu, Let. Dia akan datang ke sini." Jelas Arletta tak dapat memahami perkataan Izah, ia lantas menoleh ke arah Ridwan dan mencari jawaban melalui tatapan sang ayah. "Tadi yang menelepon ayah adalah pria yang sudah---" Ridwan tidak mampu meneruskan perkataannya, ia takut Arletta akan mengalami syok jika tahu siapa yang meneleponnya tadi. "Pria siapa, Yah? Tolong jelaskan pada Arletta." "Pria yang sudah menculik dan melecehkanmu itu menelepon, ia mengatakan akan datang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia akan menikahimu demi Eila." "Menikah? Pria itu mau menikahi Arletta? Letta nggak mau, Yah." Arletta tak akan sudi menikahi pria yang sudah merusaknya, mendengar dan melihatnya saja kemarin membuatnya semakin ketakutan apalagi hidup bersama pria itu dalam pernikahan. "Tapi ini demi Eila, Let. Dia butuh ayahnya dan kami tak ingin kamu hidup seperti ini." "Jadi ayah malu punya anak seperti Letta yang melahirkan anak hasil dari pelecehan?" Arletta menangis dan tak menyangka jika sang ayah berkata seperti itu. "Bukan itu maksud ayah, Let. Ayah tidak malu saat kamu hamil Eila tanpa suami. Ayah tidak marah sama kamu, Nak." "Tapi tetap saja perkataan ayah tadi membuat Letta terluka. Letta tidak butuh suami untuk membesarkan Eila dan Eila tidak butuh ayahnya." "Pria bernama Janu itu mengancam ayah, Let," sahut Izah membuka rahasia yang seharusnya Arletta tidak boleh tahu. "Izah! Mengapa kamu membuka perjanjian kita dengannya?" "Perjanjian apa maksud ayah? Janji apa yang kalian bahas itu?" "Dia ingin---" "Zah, biarkan hanya kita yang tahu. Sudah cukup penderitaan Arletta selama ini," potong Ridwan agar tidak membuka mulut. "Arletta harus tahu, Yah. Jika kalian tidak memberitahu, Arletta akan kembali ke Spanyol bersama Eila," ancamnya bersungguh-sungguh. Jika bukan karena desakan Izah, Arletta tak akan kembali ke Indonesia dan ia ingin berada di sana selama sisa hidupnya untuk melupakan semua masalah. "Pria itu akan membawa Eila pergi dari sisimu dan hotel kita akan dibelinya. Kamu tahu sendiri jika hotel itu warisan dari kakekmu," kata Izah memberitahu dengan lantang. Arletta tak dapat mempercayai ucapan sang ibu, bagaimana mungkin pria itu akan membeli hotel milik mendiang kakeknya? "Nama pria itu Janu. Ayahnya pemilik rumah sakit dan perusahaan makanan terbesar di negeri ini," jelas Ridwan menceritakan mengenai Janu. Satu hal yang tidak disadari Arletta adalah selama ini Janu selalu mengawasi perkembangan hotel milik Ridwan yang akhir-akhir ini merosot dan membutuhkan donatur. "Apa ayah mengorbankan Letta hanya untuk hotel itu?" Bukannya Ridwan egois, ia juga tidak mau bekerjasama dengan pria yang sudah merusak sang putri. Namun, ribuan karyawan yang bekerja di sana tidak bisa ia abaikan begitu saja. "Apakah kamu mau Eila diambil dari sisimu?" tanya Ridwan balik dengan menatap Arletta penuh kesedihan. "Letta tidak akan membiarkan dia mengambil Eila atau hotel milik kakek!" "Bagaimana caranya, Nak? Ayahmu saja kewalahan." Arletta beranjak dari sofa, ia mengambil kunci mobil dan pergi menemui pria tersebut. Tak ia dengarkan teriakan Ridwan agar tak mencari masalah. Namun, Arletta tetaplah memiliki sifat yang sama seperti dulu. Keras kepala dan bertindak sesuka hati. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD