"Tuan, ada wanita yang ingin menemui anda saat ini. Apakah anda mau menemuinya?" Dani asisten pribadi Janu mengabari jika ada tamu yang ingin menemuinya.
Tak ada jawaban dari Janu, Dani segera tahu arti diam sang atasan yaitu ia tidak mau ada orang yang menganggunya.
"Apa dia ibu dari anakku?"
Dani mengangguk, tak ada rahasia di antara mereka sejak kecil. Dani yatim piatu diangkat anak oleh ayah Janu dan menjadikannya tangan kanan untuk Janu.
"Suruh dia masuk, Dan. Aku sudah merindukannya."
Janu Mahesa pemuda yang dulu sering disindir Arletta, kini tampak berbeda. Ia bukan lagi pemuda gemuk dan culun, tampilannya yang dulu memang disengaja untuk mempermainkan Arletta.
"Selamat datang, Arletta. My love dear."
Janu menyambut kedatangan Arletta di kantornya, ia yakin wanita ini tahu alamatnya dari sang manajer karena Wasa menghubunginya kemarin.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Arletta secara langsung.
"Tak mau duduk di sebelahku?" Janu menepuk-nepuk sofa agar Arletta duduk.
"Aku tak sudi duduk bersamamu," cemooh Arletta yang tetap berdiri. Sebenarnya ia tak berani menghadapi pria yang ada di depannya itu, tetapi demi keluarganya ia rela melakukan hal tersebut.
"Terserah kamu saja. Kamu masih sama seperti dulu, tidak berubah sama sekali."
Janu duduk dengan santai, bersandar dan menikmati kopi hitamnya seakan tak ada Arletta di sana yang sedang menunggunya untuk bicara.
"Yakin kamu mau tidak duduk? Nggak capek?" Janu menggodanya dengan senyuman.
"Lebih baik aku berdiri daripada duduk bersama pria yang sudah melecehkanku!" Arletta berucap keras, ia tak suka ditatap tajam oleh pria itu.
"Tapi kamu menikmatinya, bukan? Apa kamu tidak ingat malam itu? Kamu membuatku tidak bisa melupakannya."
Arletta mundur selangkah hingga mencapai meja hias, ia menggeleng dan hampir saja menjatuhkan bola salju di sampingnya. Sejenak ia melihat benda bulat itu yang sama dengan milik Eila.
"Jangan terkejut, Sayangku. Setiap kali aku memberi hadiah untuk anak kita, aku selalu membelinya dua. Satu untukku dan satu untuk Eila. Eila sangat menyukainya, bukan? Apalagi dengan boneka kelincinya."
"Dari mana kamu tahu Eila menyukai boneka kelincinya? Apa kamu memasang---?"
Janu tertawa keras, ternyata ia ketahuan telah memasang kamera kecil di setiap pemberian hadiah yang dikirimkan untuk Eila.
"Kamu gila! Kamu mematai-matai kami selama ini? Untuk apa?" Arletta berteriak, ia lupa sedang berada di kantor Janu dan lupa akan kedatangannya ke sana.
"Untuk apa?" Janu bangkit dari sofa, menghampiri Arletta dan menangkis tangan wanita itu saat bola salju akan dilempar.
"Kamu ingin tahu alasannya? Karena aku ingin mengawasimu terus dan melihat perkembangan anak kita," bisik Janu tepat di telinga Arletta dengan ketus.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu berbuat seperti itu?" tanya Arletta yang kini mulai menangis.
"Aku menyukai jika kamu tersakiti dan tidak bahagia," sahut Janu menyeringai.
"Maaf, jika aku pernah menyakitimu melalui kata-kataku dulu."
Arletta berprasangka jika Janu membencinya karena ia memperlakukan pria itu dengan kasar waktu di sekolah. Namun, Janu memiliki alasan tertentu.
"Sayangnya bukan itu yang menjadi alasanku untuk menyakitimu," desis Janu melihat wajah Arletta dari dekat.
Arletta memandang Janu, ia bisa mendengar deru napas pria itu dan debaran jantungnya sendiri. Janu yang dulu gemuk berubah menjadi pria yang tampan dengan senyuman misterius.
"Kamu ingin tahu alasannya?" tanya Janu, Arletta menggeleng. Karena ia benar-benar tidak tahu alasan Janu menyakitinya.
"Aku membenci semua perbuatanmu di masa lalu!"
Arletta tak siap saat rambutnya ditarik kasar oleh Janu, pria itu menatapnya tajam seperti ingin membunuhnya.
"Sakit Janu! Lepaskan aku!"
Janu melepas tangannya dari belakang rambut Arletta dan berganti memeluk pinggang wanita itu, mendekatkan tubuhnya hingga tak ada batas, membelai rambutnya dan jarinya turun menyusuri wajah Arletta.
"Apa yang kamu inginkan?" Arletta sudah mulai ketakutan. Kesalahan besar yang ia ambil untuk pergi ke sini.
*****
Janu mencium bibir Arletta, memaksa meskipun wanita itu berusaha menghindar. Tangannya meraih sebuah piala yang berada di sampingnya, ia langsung memukulkan benda itu hingga mengenai pelipis Janu.
"Argh ...."
Janu melepaskan ciumannya, ia mengerang karena darah menetes di pelipisnya. Arletta tak mau peristiwa itu terulang lagi, ia ingin kabur dan mencoba membuka pintu. Nihil, pintu itu tertutup dan saat ia menggedor kaca meminta tolong kepada para karyawan sedang sibuk kerja.
"Mereka nggak akan mendengar dan melihatmu, Sayang. Ruangan ini di desain khusus."
"Jangan mendekat!" Arletta terdesak, ia tak bisa keluar dari ruangan Janu.
"Aku akan menelepon polisi!" Arletta tak menemukan ponsel di dalam tasnya. Ia lupa jika benda itu ada di depan sebelum masuk ke ruangan ini.
Saat Arletta lengah, Janu mendekat dan menghampiri Arletta dengan langkah lebar. Ia langsung menggendong dan membawanya ke sofa.
"Lepaskan aku!"
"Selamanya aku tidak akan melepaskanmu, Arletta!"
Janu berada di atas Arletta, memandang rupa wanita itu dengan seksama dan menyentuh wajah halusnya. Kembali ia memaksa Arletta untuk membalas ciumannya.
"Aku benci kamu, Janu!"
Kali ini Arletta benar-benar ketakutan dan menangis, bukan ini yang ia inginkan. Rencananya ia ingin bicara baik-baik, tetapi tidak mudah bagi dirinya berhadapan dengan pria itu.
"Terlalu sempit jika kita berdua di sini."
Tak perlu berpikir dua kali, Janu kembali menggendong Arletta menuju suatu ruangan tersembunyi di balik lemari dan di sana terdapat satu kasur ukuran king size dan lemari pakaian.
"Lepaskan aku! Aku nggak mau berada di sini!"
Arletta menjerit, ia ingat bau ruangan ini meski dulu matanya tertutup kain dengan rapat. Bau yang mengingatkan peristiwa kelamnya.
"Kamu masih ingat tempat ini, Sayang? Tempat kita memadu kasih," kata Janu melempar tubuh Arletta ke kasur empuk tersebut.
"Jangan lagi, Janu! Aku nggak mau!"
Masih dalam ingatan Arletta, ia diculik dan disekap selama dua hari di tempat ini. Dua hari itu pula ia dirusak oleh pria asing yang tak lain adalah Janu.
"Kamu nggak mau. Aku yang menginginkannya," sahut Janu menyeret kaki Arletta hingga ia menyentuh tubuhnya.
Janu mengikat tangan Arletta ke atas menggunakan dasinya, ia lalu melepas pakaiannya dan merobek gaun Arletta dengan kasar.
"Jangan! Aku nggak mau, Janu!"
Teriakan Arletta bagaikan musik indah di telinga Janu. Ia tak peduli tangisan wanita yang berada di bawahnya dan merasa senang telah melakukan hal tersebut lagi.
Hampir satu jam lamanya, mereka melakukannya tanpa memberi waktu untuk Arletta istirahat sejenak. Arletta hanya bisa pasrah, percuma melawan Janu. Pria itu akan menyayat kulitnya jika melawan dan ia tak mau terulang lagi.
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu, Let. Tetap bisa membuatku senang," kata Janu setelah selesai dengan penyiksaannya.
"Mengapa kamu seperti ini padaku, Janu? Apa hanya karena mulut pedasku, kamu bertindak gila?" tanya Arletta dalam tangisannya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
Sedangkan Janu yang duduk di samping, urung untuj merokok dan ia menarik dagu Arletta.
"Aku sangat membencimu, Arletta. Bukan karena kejadian waktu sekolah."
"Lalu apa alasanmu?" Mata Arletta berair dan sembab.
"Kamu ingat Naisha?"
Arletta meneguk ludahnya, ia mencoba mengingat nama yang disebut Janu. Namun, ia tak ingat sama sekali.
"Kamu lupa, bukan? Dia adalah orang yang menjadi perundunganmu, hampir tenggelam di kolam tapi kamu malah tertawa saat anak itu meminta tolong."
Ya, sekarang ia ingat nama tersebut. Gadis gemuk yang menjadi korbannya di waktu SMP, ia sengaja menjatuhkannya ke kolam untuk memberi pelajaran.
"Lalu apa hubungan dengan semuanya, Janu?"
"Karena kamu akhirnya dia berada di rumah sakit jiwa dan meninggal di sana. Kamu telah membunuh orang, Arletta!"
Janu menampar Arletta dengan keras, hidungnya keluar darah dan wajahnya merah. Jantungnya berdebar hebat, ia tak menyangka perbuatannya dulu membuat seorang gadis meninggal.
"Naisha itu siapa? Mengapa kamu mengenalnya?"
Janu yang terpancing emosi, kembali menyiksa Arletta dengan menarik rambutnya dan menamparnya lagi.
"Naisha adalah adik kandungku."
=Bersambung=