Part 4 Sampai Kau Jadi Milikku

1132 Words
"Hapus air matamu. Aku tak ingin orang tuamu tahu." Arletta masih belum bisa mempercayai peristiwa yang dulu terulang lagi. Ia tak menyangka jika pria yang duduk di sebelahnya adalah kakak dari Naisha, gadis yang pernah menjadi sasaran di masa lalu saat mereka duduk di sekolah SMP. Naisha gadis tertutup dan pendiam, itu yang dikenal Arletta. Naisha hanya sendirian di kelas tanpa ada seorang teman. "Maaf, aku tak tahu jika Naisha adik kembarmu." Kembali Arletta menangis. "Tak perlu meminta maaf. Terlambat kamu menyadarinya," ucap Janu penuh kebencian. "Sekarang keluarlah dari mobilku!" Janu yang tak sabaran lantas mengambil tissue dan menghapus air mata Arletta dengan kasar, tidak ada kelembutan sama sekali. "Dengarkan kataku. Kamu datang menemuiku dan tidak sengaja aku menjatuhkan kopi ke gaunmu." Arletta terdiam, pakaian yang ia kenakan tadi pagi saat menemui Janu telah sobek dan tak bisa digunakan lagi karena pria itu memotongnya. "Kamu dengar yang aku katakan!" "Iya aku dengar Janu," jawab Arletta yang tersentak akibat bentakan Janu. "Sekarang turunlah. Aku akan menemui ayah dan ibumu." "Untuk apa?" tanya Arletta gugup. "Menikah denganmu dan menyiksa dirimu selamanya," sahut Janu sebelum keluar dari mobil. Arletta mencoba bersabar, ia tak mau mencari masalah dengan Janu. Tadi pria itu sudah mengancam dirinya agar tidak berbicara yang macam-macam. "Ibu ....!" Teriakan dari Eila yang berada di taman bersama pengasuhnya membuat ia langsung tersenyum dan merenggangkan tangan untuk memeluk sang ibu. "Tadi bangun tidur, Eila nggak bertemu ibu. Ibu pergi ke mana?" Eila berbicara kepada Arletta, tetapi pandangannya menengadah ke atas. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan saat ada seorang pria di samping ibunya. "Oh ibu pergi keluar sebentar," balas Arletta menjawab pertanyaan si kecil. "Bu, paman ini siapa?" Janu tersenyum, baru kali ini ia bisa melihat dengan dekat dan merasakan kerinduan yang hebat untuk putri kecilnya. Selama lima tahun, ia hanya memberi kabar melalui surat, melihat dari jauh melalui kamera kecil yang terpasang di boneka Eila dan ia tahu jika anaknya tak kenal dirinya, karena ia tak pernah memberinya foto. "Hai baby girl ...." Eila mengedipkan mata dengan jari berada di bibirnya seakan sedang berpikir. Hanya ada satu nama panggilan khusus untuknya yaitu dari sang ayah yang tidak pernah ia temui. "Ayah? Apa paman itu ayahnya Eila?" "Eila, masuk dulu yuk. Bicaranya di dalam saja." Arletta kalah gesit ketika Janu menggendong gadis kecil bertubuh tambun itu, ia langsung membawanya masuk ke rumah. Tak lupa ia juga menggandeng Arletta, terpaksa Arletta menerimanya karena tangannya diremas kuat oleh Janu. "Kok nggak dijawab? Apa benar paman itu ayahnya Eila?" "Ayah kangen sekali sama Eila. Apa Eila juga kangen sama ayah?" Wajah Eila tambah sumringah dan senyum mengembang ketika pria yang selama ini ia rindukan telah datang. Ia senang sekali sampai meminta turun dari gendongan Janu lalu berlari dan berteriak memanggil kakek maupun neneknya. "Kakek .... Nenek ....!" Ridwan dan Izah yang berada di ruang keluarga terlihat bingung, karena melihat Arletta datang bersama seorang pria yang tidak mereka kenal. "Kek, ayah Eila sudah datang. Itu ayah Eila." Eila menunjuk Janu dengan jari mungilnya, gadis itu meluapkan kegembiraannya sambil memanggil semua penghuni rumah dan memberi kabar ini. Gadis kecil itu tak peduli lagi, ia lebih senang menelepon pamannya memberitakan hal bahagia. "Selamat sore Tuan Ridwan dan Nyonya Hafizah. Saya Janu yang menelepon anda pagi tadi." Izah terkejut, ia sampai menjatuhkan cangkir tehnya. Pria yang telah merusak kehidupan anaknya kini telah berada di depan matanya dan tanpa malu, pria itu menyapa dengan senyuman. "Let, apa benar pria ini---?" Arletta menghampiri sang ibu, ia tahu jika Izah terkejut karena secara tiba-tiba pria itu datang ke rumah mereka dengan tampang tak berdosa. "Selamat sore juga, Tuan Janu. Silakan duduk." Beda dengan Izah, Ridwan berusaha tenang walau hatinya terasa emosi. Ia ingin sekali menghajar pria yang sudah duduk di depannya, tetapi ia tak mau mencari masalah dengan Janu. Pria ini berbahaya dan tak boleh ada yang menganggunya. "Tentunya anda tahu siapa saya dan tujuan saya ke sini," sahut Janu dingin dan tersenyum ke arah Arletta. "Mengapa kamu datang sekarang? Apa tujuanmu menculik anak saya?" Izah mencerca pertanyaan pada Janu, tetapi Janu menatapnya tajam. Bibirnya menyunggingkan senyuman misterius. "Maaf, Nyonya Izah. Saya melakukannya karena saya sangat terobsesi dengan Arletta dan ingin memilikinya," sahut Janu santai. "Tapi tidak seperti itu, Tuan Janu. Kamu merusak masa depan Arletta dan ia harus melahirkan anak tanpa suami." Izah tersulut emosi. Janu hanya diam, ia berusaha bersabar. Toh ... memang ia juga yang salah. "Karena itulah saya ke sini untuk menjadi ayah Eila sesungguhnya." "Anda akan menikahi anak saya setelah sekian lama?" Kini giliran Ridwan yang berbicara. Kalau bukan menuruti perkataan Bram, ia bakalan menghajar Janu saat ini. Sayang, Janu bukanlah sembarangan orang yang bisa dihakimi. Predikatnya sebagai orang terkaya di negeri ini membuatnya disegani dan ditakuti pengusaha lainnya. "Karena anda menyembunyikannya dari saya, Tuan Ridwan." "Bagaimana bisa seorang wanita tanpa suami melahirkan anak, Tuan Janu? Mau ditaruh di mana wajah kami?" Izah menyeletuk dan menahan emosinya. "Andai saja saya tidak menyelidiki dan mencari keberadaan Arletta selama ini, mungkin saja saya tidak akan tahu jika ia melahirkan seorang putri." "Arletta berada di posisi sulit saat itu, Tuan Janu. Di saat ia sedang naik daun karena hasil lukisannya, ia harus menerima beban itu. Ia depresi dan berniat bunuh diri, sehingga kami menyembunyikan jauh dari media," jelas Ridwan mengenang masa lalu. "Jadi kami tidak mau memiliki anak yang gila," sindir Ridwan, tampak jelas jika perubahan raut wajahnya yang geram melihat Janu. "Saya harap pernikahan ini segera dilaksanakan, Tuan Ridwan. Jadi kedatangan saya ke sini untuk mengatakan kepada kalian agar tidak menyiapkan apapun minggu depan. "Minggu depan? Apa anda kira pernikahan ini hanya sekedar mainan?" Izah semakin tak menyukai Janu. "Bu, biar dia yang atur saja." "Kamu mau menikahinya, Nak?" Izah tak percaya ucapan Arletta. "Eila butuh ayah, Bu. Benar kata ayah tadi pagi, Eila butuh Janu yang selama ini tak pernah ia temui," kata Arletta tak berani menatap Janu. "Arletta sudah menyetujuinya, bagaimana dengan anda, Tuan Ridwan?" Ada rasa puas saat Janu mengatakannya. "Apa anda tidak sayang dengan adanya pernikahan ini justru menguntungkan anda? Hotel kembali beroperasi dan tidak perlu adanya pemecatan massal?" "Terserah Arletta, Tuan Janu." Ridwan tak dapat lagi berkata, ia terluka karena telah mengorbankan sang putri demi kelangsungan hidup karyawan hotelnya. "Baiklah kalau begitu, sebelum saya pulang. Saya ingin menemui putri saya dulu." Tanpa perlu diantar, Janu sudah tahu di mana keberadaan Eila. Setiap sore gadis itu ada di dapur menikmati secangkir cokelat hangat. Ia selalu mengawasi melalui cctv yang terpasang di boneka kelincinya. "Di mana pakaian yang kamu kenakan tadi pagi, Nak?" "Tadi Letta ketumpahan kopi waktu bertemu Janu di kafe," sahut Arletta berbohong dan sesuai perkataan Janu. Namun, Izah curiga melihat mimik wajah Arletta yang tak seperti biasanya. Apalagi saat melihat luka di kulit tangan sang anak, hal yang sama seperti beberapa tahun lalu. =Bersambung= Note : Cerita ini akan publish setiap hari pada jam 2 siang, ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD