Part 5 Ruang Rindu

1148 Words
"Ibu, apa ayah akan datang lagi?" Pertanyaan Eila membuat Arletta berhenti menyantap nasinya dan menatap putri kecilnya yang mulutnya penuh dengan makanan. "Makan dulu, Nak. Jangan bicara selagi makan. Ibu tidak suka." Eila merengut, ia memajukan bibir dan kembali menyendok makanan ke mulut. Tentu dengan kata-kata menyerupai bisikan yang mengatakan jika Arletta tidak sayang padanya. "Eila, kalau bicara seperti itu. Ibu akan hukum Eila." Eila tertunduk dan menggenggam jemari sang nenek yang duduk di sebelahnya, ia mencoba mencari perlindungan karena ia tahu neneknya akan membela. "Sudahlah, Let. Kasihan Eila. Kamu tahu sendiri jika ia merindukan ayahnya selama ini." "Iya Letta tahu, Bu. Hanya saja Letta belum siap menerima kehadiran pria itu." "Pingkan, tolong antarkan Eila menggosok giginya, ya." Pengasuh Eila yang baru beberapa bulan bekerja belari kecil saat nyonya tua alias Izah menyuruhnya membawa Eila, ada hal yang perlu mereka katakan tanpa orang lain dengar. "Ya, nenek. Eila masih ingin bersama kakek," sungutnya sambil digandeng Pingkan. "Besok kita main ya, Nak," kata Ridwan melambaikan tangannya. Sepeninggal Eila dengan omelan kecilnya persis Arletta sewak kecil, terkadang membuat Ridwan tersenyum sendiri. "Ada apa, Yah? Apa ayah mau bicara sesuatu?" Ridwan menatap anaknya penuh kesedihan, ia juga merasa bersalah karena dirinya membuat Arletta menderita. Kecerobohan dirinya dalam membangun usaha hotel lainnya menjadikan ia ayah yang egois. "Maafkan ayah, Nak. Ayah mengorbankan dirimu demi keegoisan ayah sendiri." "Ayahmu menderita telah mengambil keputusan sulit ini," timpal Izah sembari menggenggam jemari Arletta. "Yah, tidak perlu minta maaf pada Arletta. Ini juga kesalahan Letta di masa lalu. Andai malam itu Letta menuruti perkataan ayah maka tak akan ada peristiwa hari ini," sesal Arletta. "Tapi ayah tak sanggup melihatmu menikah dengan pria arogan itu." "Arletta pasti bisa mengatasinya, Yah. Percayalah pada Arletta." Meskipun tak yakin, ia tak mau membuat kedua orang tuanya sedih. Apalagi Eila menginginkan kehadiran seorang ayah. Ia sedih jika mengingat anaknya pernah diejek tak memiliki ayah, sang anak sampai sakit. "Oh, ya Bu. Kapan si kembar datang? Arletta sangat merindukannya." "Besok, Nak. Dan ayah sudah mengatakan ini kepada saudaramu." "Pasti Eila akan senang. Benar, kan?" Arletta menggangguk dan tersenyum. Kehangatan keluarga sedikit mengobati kesedihannya saat ini. Berjumpa dengan pria itu secara tiba-tiba membuat isi kepalanya berat. Mungkin ia butuh istirahat menenangkan pikirannya. ***** Raut wajah Eila terkesima melihat kedatangan sepupu kembarnya, ia bingung sekaligus bahagia bertemu lagi dengan si kembar. Dulu ia berjumpa waktu mereka masih usia setahun. Kini sudah dua bayi itu tumbuh besar dan gemuk. "Nek, kok mereka tumbuh besar?" Tawa Izah maupun Ridwan meledak, mereka menertawai tingkah Eila yang lucu. Mereka berpikir jika Eila tidak tahu mengenai kembang tumbuh bayi. "Itu karena mereka sudah berusia setahun, Nak. Mereka bukan lagi bayi yang seperti kamu lihat." "Oh begitu. Mereka akan tumbuh seperti Eila?" "Aduh, si ceriwis ini sudah beranjak besar, ya?" "Aunty ...." Gadis kecil itu menghampiri sang tante, ibu dari anak kembar yang menggemaskan. "Di mana ibu kamu, Eil?" Eila seketika mendadak diam, merengut lagi dan bersidekap sambil memandang sang tante dengan wajah kesal. "Ada apa, Eila?" tanya Izah. "Eila kesal sama aunty. Yang dicari selalu ibu bukannya Eila." "Itu karena aunty merindukan ibu kamu, Eil." "Sudah ah, Eila mau menelepon ayah dulu. Lebih baik bicara sama ayah," kata Eila merajuk manja dan pergi meninggalkan mereka. "Saudaramu berada di ruang lukis, Nak." Wanita anggun dan senyum manis itu menggangguk, ia sangat merindukan saudaranya yang begitu lama tak berjumpa. Karena tugas ia harus berpisah dari keluarganya selama dua tahun. "Kapan kamu mau melukiskan kami?" Arletta yang sedari subuh sudah berkutat di ruang lukis, menoleh ke belakang dan ia terperanjat mendapati saudarinya datang. "Kapan kamu tiba?" "Baru saja, Let. Kamu saja yang tidak dengar suara mobilku." "Maaf aku terlalu fokus dengan lukisan." Arletta tersenyum dan memeluk kembarannya yang selama dua tahun jarang bertemu. Mereka hanya komunukasi melalui telepon dan panggilan video. "Bagaimana kabarmu, Let? Kamu baik-baik saja, kan?" Seruni mendorong kursi rodanya ke tempat yang lebih nyaman. Kaki kanannya sudah diamputasi untuk mempertahankan nyawanya kini ia hanya memiliki kedua kaki sebatas lutut saja. "Iya seperti yang kamu lihat. Keadaanku ya begini deh." "Aku udah dengar dari ibu mengenai pria itu. Jadi benar dia itu Janu?" Arletta mengangguk sembari duduk santai di sofa, mengambil softdrink lalu meminumnya dalam sekali tegukan. "Tapi dia berubah seratus delapan puluh derajat, Run. Bukan Janu gemuk yang culun." "Bagaimana reaksi Eila saat tahu Janu itu ayahnya? Apa dia terkejut?" Seruni dan Wasa yang Arletta ke Spanyol agar wanita itu bisa melupakan masalahnya. Di sana, ia melahirkan tetapi Eila dirawat oleh Seruni saat Arletta belum bisa menerima bayinya. "Anak itu paling antusias dan ia segera menelepon teman-temannya jika ayahnya datang." Sejak bayi, Eila tidak pernah tahu ayahnya entah itu melalui foto atau suaranya. Hanya melalui selembar surat saja anak kecil itu tahu jika ia masih memiliki ayah. "Dan kamu tahu, Run? Dia akan mengundang teman-temannya untuk berkenalan dengan Janu dan menceritakan petualangan sang ayah. Terkadang anak itu membuatku kesal." "Tentu saja dia ingin melakukannya, Let. Kamu tahu sendiri kalau selama ini Janu bilang dalam suratnya dia sibuk berkeliling dunia." "Sudah ah, jangan bicara itu lagi. Aku pengen dengar kabarmu selama ini setelah kamu pindah." ***** Eila Niena Maheswari adalah nama gadis kecil yang keceriaan dan dilimpahi kasih sayang penuh oleh keluarganya. Saat ini ia sedang berbicara dan berceloteh riang dengan Janu di telepon, Arletta hanya mengawasinya saja. Sudah hampir satu jam anaknya menelepon dan belum mau berhenti. "Eila persis kamu ya, Let? Kamu dulu waktu menelepon ayah seperti Eila yang bicara sampai berjam-jam." Seruni menggerakkan kursi rodanya yang menggunakan alat otomatis agar bisa jalan sendiri, ia menghampiri Arletta yang sedang duduk di ruang keluarga. "Pasti kamu tahu dari Mas Bram, ya?" Arletta memaklumi Seruni, karena kembarannya itu baru bertemu setelah mereka beranjak remaja. Jadi selama ini informasi mengenai dirinya didapat Seruni dari sang kakak pertama atau kedua orang tuanya. "Run, ...." panggil Arletta setelah mereka melihat cara bicara Eila yang menggemaskan. "Iya ada apa?" "Apakah menikah itu bisa membuat bahagia?" Seruni menoleh, ia tahu permasalahan yang dihadapi Arletta saat ini. Sayang ia tidak bisa membantu. "Tergantung kepada diri kita sendiri, Let. Ada apa memangnya? Apa Janu tidak baik untukmu?" "Ah, nggak aku cuma tanya saja." "Kamu tahu, Run? Kadang aku ingin sekali kembali ke masa remaja kita dulu. Aku merindukan masa itu," ujar Arletta pelan dengan nada suara yang sedih. "Semua juga menginginkan hal tersebut, Let. Aku juga begitu, tetapi kita tak bisa berkutat selamanya memikirkan masa lalu. Jadikan masa lalu itu pembelajaran," kata Seruni seperti petuah. Arletta mengangguk, andai masa lalu bisa diubah ia tak akan pernah mau menjadi gadis remaja yang jahat. Karena dirinya, seseorang terbunuh dan ia sudah melakukan dosa besar. "Eila, tutup teleponnya. Ini sudah malam, Nak." Panggilan Arletta membuat Eila menyudahi obrolannya. Arletta juga tak habis pikir, mengapa Janu mau meladeni perkataan Eila. "Bu, ayah titip pesan," ujar Eila mendekati Arletta yang sudah berdiri di hadapannya. "Memangnya ayahmu titip pesan apa, Eila?" tanya Seruni yang masih ada di sana. "Ayah rindu sama ibu." =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD