Part 17 Di Mana Perasaanmu

1143 Words
Minggu pagi sudah dinantikan Arletta dan Eila mengunjungi keluarganya. Tak ada Janu yang mengantar, ia pergi sendiri dengan mengendarai mobilnya. "Bu, apa Pingkan ikut?" tanya Eila sebelum mobil mereka melaju keluar. "Pingkan pulang ke rumahnya, Nak." Terpaksa Arletta berbohong, ia tak mau sang anak tahu jika saat ini Pingkan diajak Janu. Entah ia tidak tahu alasannya, Janu akan memarahinya jika bertanya. Untungnya ada Wasa yang membantunya untuk membuntuti mobil mereka. "Tapi kenapa ayah yang mengantarkan Pingkan pulang? Pingkan bisa naik taxi, kan, Bu?" Eila penasaran, karena sang ayah tidak mau mengantarkannya ke rumah kakek melainkan memilih Pingkan diantar pulang. Jelas ada rasa tak suka di hatinya. "Itu karena Pingkan tak punya uang, Sayang. Uangnya tidak cukup buat naik taxi," sahut Arletta berbohong untuk kesekian kalinya. "Eila mau marah sama ayah nanti. Kenapa nggak mau antar Eila sekarang?" "Kan ada ibu di sini?" "Eila ingin ada ayah yang menyetir dan ibu di samping ayah," keluhnya sembari mengerucutkan bibirnya. Arletta memandang sang putri, membelai lalu memeluknya. Ia juga ingin merasakan kebahagian sesungguhnya, tetapi apa daya jika pernikahan ini yang dijalaninya hanya untuk pelampiasan Janu padanya. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Arletta menerima pesan dari Wasa jika Janu dan Pingkan ada di sebuah restoran. Ia tak akan mau berdiam diri jika pernikahan ini ada orang ketiga di dalamnya, ia tak mau memberikan keluarga yang buruk untuk Eila. "Itu kakek dan nenek, Bu!"  Eila bersorak saat mobil mereka memasuki halaman rumah, di depan sudah ada Ridwan dan Izah yang menunggu. Ia jadi teringat di masa lalu ketika kedua orang tuanya menunggu waktu ia pulang kerja jika malam hari. "Apa kabarmu, Nak?" Ridwan dan Izah saling bergantian memeluknya, mereka rindu dengannya meski jarak rumah mereka hanya ditempuh satu jam saja. Namun, Arletta harus meminta ijin jika menemui orang tuanya. "Kamu kok kurusan?" Izah memperhatikan keadaan Arletta yang tampak kurus dan tak bertenaga, tidak seperti yang dulu. "Mungkin kesibukannya yang buat Letta kurus, Zah," sela Ridwan yang juga merasa cemas. "Kok kakek nenek nggak lihat Eila, sih?" Gadis kecil yang sedari tadi di tengah merengek, karena tak diperhatikan. Ridwan lalu menggendongnya dan menciumnya dengan gemas. "Letta, mau ke kamar Seruni dulu, ya." Arletta masuk ke rumah yang membuatnya nyaman dan penuh kehangatan keluarga. Di sini ia bisa menjadi dirinya sendiri. "Seruni, kamu di kamar ya?" "Iya aku di sini, Let," balas Seruni dari dalam kamarnya. Arletta membuka pintu dan mendapati Seruni yang menidurkan si kembar. Kembarannya tampak bahagia dengan pernikahannya, beda hal dirinya. "Wah aku ke sini ingin bertemu si kembar," ucap Arletta mendekati keponakannya di ranjang. Sesaat Seruni memperhatikan bahu Arletta yang menampakkan kebiruan, kebetulan Arletta memakai T-shirt dan separuh bahunya terlihat. "Let, apa Janu berbuat kasar padamu?" Arletta diam seketika, ia tak berani melihat tatapan Seruni. Apalagi saat ia diperlihatkan sebuah tayangan di tablet Seruni di mana ada Janu dan Pingkan di restoran. "Tidak mungkin majikan duduk begitu mesra dengan seorang pelayan, bukan?" "Jawab aku, Let. Sebenarnya ada apa kamu dan Janu? Mengapa Janu memperlakukanmu seperti ini?" Seruni membuka pakaian di bagian bahu Arletta, tampak jelas ada memar yang belum samar. Seruni merasa sedih sekaligus geram. "Jangan katakan pada ayah, ibu atau Mas Bram. Aku tak mau mereka tahu tentang perlakuan Janu padaku," pinta Arletta berurai air mata. "Tapi kenapa, Let? Tidak mungkin hanya karena masalah hutang ayah, bukan?" Seruni terus mendesak, tetapi Arletta tetap bungkam. Tak ada pilihan lain selain memberitahu kedua orang tuanya dan saling membantu membayar kembali hutang keluarganya kepada Janu. "Aku ... aku telah membunuh adiknya Janu, Run." Akhirnya pertahanan Arletta runtuh, ia menangis dalam pangkuan Seruni dan meluapkan semua rasa sakit yang selama ini dipendamnya sendiri. "Apa maksudmu, Let! Jelaskan kepadaku." "Kamu tahu, bukan? Waktu sekolah dulu aku selalu merundung anak-anak lain dan salah satunya Naisha, adik dari Janu yang kudorong ke kolam." Seruni mengingat masa sekolahnya dulu, ia tak terlalu kenal dengan seorang gadis bernama Naisha. Dulu Seruni tak banyak temannya. "Iya lalu ada apa? Aku tahu kamu tak mungkin membunuhnya, Let." "Seminggu setelah kejadian itu, Naisha ditemukan bunuh diri di kamarnya." "Tapi itu bukan kesalahanmu, Let," ujar Seruni membelai rambut Arletta di pangkuannya. Arletta mendongakkan kepala dan tatapannya menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. Ia ingin meminta tolong dan lepas dari semua ini, tetapi tak bisa dirinya lakukan. "Ini semua kesalahanku di masa lalu, Run. Aku akan menebusnya," isak Arletta duduk di bawah Seruni dan memeluk kedua lulutnya. Kini ia merasa sangat rapuh dan terluka. "Kita bisa membayarnya hutang ayah dengan uang yang kita hasilkan dan kamu bisa bercerai darinya, Let," desak Seruni. "Tidak bisa, Run. Ini resiko yang harus aku terima dan tak mungkin bisa kembali lagi." "Dan dengan tinggal bersama Janu dan selingkuhannya apa akan membuatmu bahagia?" Arletta terdiam, kebahagian yang sesungguhnya saat ia bersama Sadhana bukan saat Janu mulai hadir di kehidupannya. "Aku membutuhkannya untuk Eila. Eila menginginkan seorang ayah dan Janu hadir untuk memenuhi keinginannya." "Tapi Let---" Pintu kamar terbuka dan mereka memilih tutup mulut saat Izah melihat mata Arletta sembab. Izah tahu pasti ada sesuatu yang terjadi, tetapi ia tidak mau banyak tanya dan membiarkan Arletta bicara sendiri nantinya. "Let ...." Seruni memanggil Arletta saat Izah sudah keluar dari kamarnya dan menyerahkan tablet kepadanya. Di layar itu ada Janu yang mengantarkan Pingkan ke bandara dan mereka sempat berciuman. "Jadi selama ini Pingkan menjalin hubungan dengan Janu dan suamimu memanfaatkan Pingkan." "Aku harus pulang sekarang, Run. Titip Eila di sini, besok ia libur sekolahnya." Arletta terus dibohongi oleh Janu, meski pernikahan mereka tak ada cinta bukan berarti Arletta begitu mudahnya dibohongi. **** "Di mana Eila?" Janu tak menemukan Eila di kamarnya, karena gadis kecil itu selalu membuat Janu bisa bermain dan bercanda. Hanya Eila yang tak ia benci. "Eila menginap di rumah ayahku," jawab Arletta pelan sembari sibuk membaca di kamarnya. "Jangan sesekali membawa anakku ke rumah ayahmu untuk menginap," sahut Janu menatap tajam. "Eila merindukan kakeknya jadi aku membiarkan dia di sana sampai besok," kata Arletta lagi tanpa niat mau menoleh. Janu melempar buku yang dibaca Arletta, ia tidak suka jika lawan bicaranya tidak menatap matanya. Arletta bersikap tenang dan memungut bukunya kembali. "Tenanglah Janu, ayah dan ibuku bisa menjaga Eila. Biarkan Eila melepas rindu pada mereka. Jangan kamu jadikan dia seperti aku yang terkurung di sini." "Oh berani membantah kamu rupanya sekarang, ya!" tuding Janu tak terima. "Aku bukan membantah, Janu. Aku hanya mengucapkan yang sebenarnya." "Baiklah aku akan menerimanya kali ini. Untuk kedua kalinya aku tak akan memberi ijin pada Eila menginap di sana lagi," ujar Janu sembari membuka pintu kamar Arletta. "Kamu tak ada hak melarangku untuk mempertemukan Eila dengan keluargaku, Janu. Aku pun tak melarangmu mengantarkan Pingkan ke bandara." Janu menoleh dan sedikit membalikkan badan, ia merasa bingung dari mana Arletta tahu. "Tenanglah aku tak mematai-matai dirimu. Pingkan yang mengirimku pesan hari ini." Arletta memperlihatkan layar ponselnya dan tertera nama Pingkan yang menjelaskan jika ia diantar oleh Janu juga dibelikan tiket pesawat bisnis. Janu tak menanggapi, ia malah pergi begitu saja. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD