Part 16 Kamu Selalu Benar, Aku Selalu Salah

1170 Words
Arletta menghentikan mobilnya di depan rumah, sesaat ia memikirkan perkataan para wanita di sekolah Eila. Jika benar ternyata selama ini ia telah dibohongi oleh pengasuh Eila.  "Eila, keluar dulu ya. Ibu ada telepon dari paman Wasa," ujar Arletta pada Eila. Sang anak pun mengangguk dan meninggalkan Arletta yang sedang menelepon Wasa. "Iya, Sa. Apa kamu menemukan sesuatu yang aneh?" ["Itu bukan alamatnya dan sang ibu sudah lama meninggal."] "Lalu dia ke mana setiap Sabtu? Apa ada rumah lainnya?" ["Tidak ada, Let. Pingkan sudah lama tidak tinggal di sana dan aku tidak tahu di mana alamat yang baru."] ["Memangnya ada apa? Apa kamu mencurigai sesuatu?"] "Ah, nggak aku cuma ingin tahu saja. Ya sudah terima kasih, Sa." Tadi sewaktu menyetir, Arletta menyempatkan menelepon Wasa dan meminta bantuannya untuk mencari tahu alamat Pingkan. Untungnya saat itu Wasa dan Seruni berada di luar dan mereka pun menyetujui permintaan Arletta. Namun di luar dugaan, mereka menemukan fakta yang tak sebenarnya. Pingkan sudah lama tidak tinggal di alamat tersebut dan ibunya meninggal sewaktu kecil. "Sebenarnya kamu ke mana di hari Sabtu, Pingkan?" Arletta bergumam sendiri sambil keluar dari mobil. Saat ia berjalan menuju pintu, tampak Pingkan yang sedang bersenda gurau dengan pelayan lainnya. Arletta sadar jika memang ada yang aneh dengan Pingkan. Ketika ia memasukkan iklan tentang lowongan pekerjaan sebagai pengasuh. Sehari setelahnya Pingkan datang melamar dan semua data memenuhi syarat. Sebenarnya ada hal ganjil, mengapa Pingkan tahu setiap sudut di rumahnya padahal ia belum lama bekerja hanya sehari. "Pingkan ...." panggilnya saat mereka bertatap muka. "Iya ada apa, Bu?" "Bagaimana kabar ibumu?" tanya Arletta memancing pertanyaan. "Ibu saya sehat," jawabnya pelan tapi ragu. "Apa kamu tidak pulang? Biasanya kamu pulang tiap Jumat sore." Satu hal yang ganjil lainnya yang dirasa Arletta, sejak pindah ke rumah Janu. Ia tak melihat Pingkan meminta ijin lagi untuk pulang. "Aku sudah memintanya tidak pulang dan harus menjaga Eila. Semua kebutuhan ibunya sudah dipenuhi olehku jadi ia tidak akan pulang," sahut Janu di belakang yang sengaja pulang untuk mengambil berkas. "Tapi bukankah seharusnya Pingkan---" "Pingkan, masuklah! Urus Eila di dalam," usir Janu yang tak ingin diketahui hubungannya. Pingkan meminta undur diri dari hadapan mereka, sesaat ia menoleh sekilas ke arah Janu yang memarahi Arletta dan ia tersenyum penuh kepuasaan. "Kenapa kamu yang mengurus kehidupan Pingkan? Aku yang mempekerjakannya jadi itu urusanku, Janu." Arletta semakin curiga. Seharusnya Arletta yang membayar gaji pengasuh putrinya, tetapi Janu malah menghadangnya. "Jangan membantah ucapanku, Arletta! Di sini kamu bukan siapa-siapa selain menjadi wanitaku di atas ranjang," kecamnya di telinga Arletta sebelum masuk ke rumah. Tertegun perkataan itu keluar dari Janu, lagi. Jadi sekarang Arletta mengerti dirinya bukan seorang istri di mata Janu. Ia tersenyum kecut dan merasa sakit hati, tetap ia tidak bisa berbuat apapun. "Kamu boleh mengatakan jika aku hanya wanita di atas ranjangmu. Tapi aku tak akan membiarkan seorang pelayan masuk dalam rumah tanggaku." Arletta tahu dalam pernikahan ini tak ada cinta di antara mereka, mereka sama-sama membutuhkan untuk kepentingan sendiri. Arletta memerlukan Janu sebagai ayah kandung Eila sedangkan Janu hanya untuk balas dendam terhadap adiknya. Tanpa Arletta sadari, saat ia berkata sendiri. Ada Norma dan Manendra mendengar. Mereka tahu tentang kehidupan rumah tangga Janu. Sebisa mungkin, mereka akan membantu Arletta. **** Malam ini Arletta tak ada kegiatan apapun sejak ia tidak diberi ijin lagi untuk bekerja di luar hanya melalui pesanan saja bahkan galerinya dikelola oleh Wasa sekarang. "Ibu, Eila sudah minta ijin sama ayah loh," kata Eila di ruang bermain bersama Arletta.  "Memangnya Eila mau ke mana?" "Ke rumah kita yang dulu. Eila kangen kakek nenek juga si kembar," ocehnya senang. "Apa benar ayah mengijinkan, Sayang?" Arletta bertanya sembari duduk di sebelahnya sambil ikut bermain. Eila mengedipkan matanya dan tertawa menunjukkan susunan giginya yang rapi. Gadis kecil itu sudah merindukan keluarga ibunya. "Ya, Rabbit sakit, Bu." Ada nada kecewa mendapati tangan boneka kelincinya patah, karena itu satu-satunya kesayangan Eila. Tak Rabbit, ia tidak bisa tidur.  "Sini ibu bantu jahitkan," sahut Arletta mengambil boneka tersebut. Arletta memperhatikan boneka tersebut dan menemukan sesuatu yang aneh di mata boneka itu. "Eila, apa Rabbit matanya merah?" "Iya, Bu. Matanya Rabbit memang merah sejak dulu." Aneh, biasanya mata boneka itu hitam. Namun yang ini malah merah. Karena ada sesuatu yang membuatnya penasaran, Arletta segera mengambil gunting dan menemukan sebuah kamera kecil di kedua mata boneka itu. "Kok matanya dilepas, Bu?" tanya Eila yang tidak mengerti. "Iya ibu perlu perbaiki matanya juga. Kasihan Rabbit matanya merah jadi ibu mau ganti," sahut Arletta berbohong. Setelah Arletta berpikir dan menyatukan satu kepingan peristiwa, ia akhirnya sadar jika selama ini dirinya maupun keluarganya diawasi oleh Janu. Ia juga menyadari Pingkan adalah suruhan Janu, karena tak mungkin seorang pengasuh yang baru bekerja mengenal setiap tempat di rumahnya. **** "Ternyata kamu sudah tahu jika aku memasangkan itu. Bodohnya dirimu, Arletta." Janu mengagetkan Arletta saat masuk ke kamar, pria itu duduk dalam kegelapan sembari memegang tablet di tangannya. "Aku tidak bodoh, Janu," sahut Arletta menuju pintu kamarnya. "Kamu pengecut, Janu," sambung Arletta menahan geramnya. "Pantas saja selama lima tahun, kamu selalu tahu tentang kegiatan diriku dan Eila melalui surat-surat yang kamu kirimkan. Salah satunya, bagaimana bisa kamu mengetahui jika Eila pernah terjatuh atau demam?" "Kamu bilang aku pengecut? Andai kamu tahu Arletta, selama ini aku menahan rasa amarah bila berhadapan denganmu. Aku ingin sekali membunuhmu!" Janu menghampiri Arletta yang hampir masuk kamarnya, tetapi pergelangan tangannya dipegang erat dan membuat Arletta meringis. "Jika kamu ingin membunuhku. Mengapa tidak kamu lakukan sejak dulu?" "Oh sekarang kamu berani melawan perkataanku!" Janu mendorong tubuh Arletta hingga menghantam kasur, ia diliputi emosi yang memuncak jika mengenang perlakuan Arletta pada Naisha. "Lebih baik kamu bunuh saja aku waktu kamu menculikku bukannya melecehkanku!" Arletta marah setelah mengetahui betapa buruknya Janu dalam bersikap, pria itu mematai-matainya selama lima tahun dan memasukkan pelayan yang menjadi kekasihnya di rumahnya. "Sayangnya aku tidak mau membunuhmu. Menyiksamu itu lebih menyenangkan!" "Siksa saja aku sepuasmu!" balas Arletta tak kalah sengitnya. "Oh, ya? Baiklah dengan senang hati aku ingin menyiksamu malam ini." Janu berjalan menuju pintu, mengunci dan mematikan lampu kamar Arletta. "Kamu mau apa?" Meski pencahayaan temaram, Arletta jelas melihat Janu melepas sabuk pinggangnya sambil menghampiri dirinya. "Berteriaklah! Tak akan ada yang membantumu, kamarmu ini kedap suara." Arletta beringsut menjauh, Janu dikuasai amarahnya saat ini. Arletta lupa jangan sesekali menentang atau melawan perkataan Janu, pria itu tak akan segan-segan memukul atau mencambuknya menggunakan sabuk. "Argh ....!" Percuma menghindar, Janu sudah melayangkan sabuk itu ke punggungnya. Arletta meringkuk di sudut dinding sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Meski hanya lima cambukan, tetap saja meninggalkan rasa perih karena Janu melakukannya dengan keras. "Inilah hukumanmu." Arletta kira Janu akan pergi dari kamarnya, tetapi tidak. Ia menggendong Arletta dan membaringkannya ke ranjang, membuka pakaiannya hingga benar-benar polos. "Jangan lakukan lagi, Janu," isak Arletta menahan sakit di punggung sekaligus di hatinya. "Apa kamu tahu gunanya obat itu? Agar kamu tidak bisa memiliki anak, karena bagiku, kamu adalah seseorang yang membuatku bisa merasakan kenikmatan dunia." Dalam keremangan di kamarnya, Arletta mengeluarkan air mata, menangis tertahan. Janu bukanlah seorang suami melainkan pelanggan yang harus ia puaskan setiap saat. =Bersambung=
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD