"Ah, masalah apalagi ini?" Gerutu Raya seraya meremas rambutnya yang sebahu. Berbeda dengan Nada, ia hanya menunduk dengan riuh perdebatan didalam kepalanya.
Mengingat hutang yang ditinggalkan almarhum suaminya begitu banyak.
"Oh Tuhan! Di depan sana ada keindahan apa? Sampai Kau begitu menyenangi diriku dengan begitu banyak masalah!" Gumam Nada lirih. Sebulir air mata berhasil lolos dan membuat Raya menggeser duduknya agar bisa meraih tubuh Nada. Setelah kejadian tadi, mereka berdua memilih pergi ke sebuah taman berharap pikiran dan hati mereka bisa lebih tenang.
"Nad, bagaimana kalau kali ini saja minta bantuan keluarga suami kamu?"
Nada diam seribu bahasa, bagaimana mungkin dia mengatakan hal yang menimpa dirinya akibat ulah suaminya. Apa mungkin?
"Bun, tumben belum siap-siap ke toko?" Tanya Angga Pratama, anak pertama Nada.
"Hari ini Bunda mau pergi ke rumah kakek Adam dulu, ada sedikit urusan."
"Aku ikut ya, Bun?" Celetuk si kecil Ikram.
"Kamu'kan sekolah, sayang. Lagian Bunda juga perginya sebentar. Bunda janji, sebelum kamu pulang sekolah, Bunda udah pulang ya."
Ikram mengangguk pasrah, semenjak ayahnya meninggal baik Angga maupun Ikram selalu menuruti setiap kalimat bundanya.
"Assalamu'alaikum." Ucapkan Nada, ia berdiri dengan sedikit gelisah.
"Mau ngapain kamu ke sini?" Tanya seorang perempuan dengan ketus.
"Bu, Bapak ada?"
"Ada urusan apa lagi kamu dengan bapak? Sekarang'kan kamu bukan lagi menantu di rumah ini."
"Maaf, Bu kalau kedatangan saya kemari membuat ibu tidak suka, tapi bagaimanapun saya adalah ibu dari cucu Bapak."
Suara batuk terdengar dari dalam seraya pintu terbuka dengan lebar, otomatis Nada langsung meraih tangan mertuanya itu.
"Masuk kita bicara di dalam!" Nada mengangguk dan melangkah masuk.
"Katakan intinya saja, Bapak sibuk masih banyak urusan."
"Begini, Pak. Toko saya dibuat jaminan oleh Mas Firman dulu saat beliau masih hidup, kemarin mereka datang ke toko dan mengatakan kalau toko itu akan diambil karena sudah jatuh tempo. Maksud ke.... "
"Bapak gak punya uang, lagian itu'kan hutang bekas kamu kenapa jadi bapak yang ikut bayar?" Ucap Adam memotong perkataan menantunya.
"Pak, demi Allah saya gak tahu uang itu kemana? Saya baru tahu kemarin!"
"Alah bohong kamu, masa hutang suamimu gak tahu." Celetuk ibu mertuanya.
"Sejak awal saya tidak setuju Firman menikah dengan kamu, sekarang terbuktikan Firman udah meninggal saja dia masih harus menanggung malu akibat ulah istrinya."
Dada Nada mulai sesak, ingin sekali rasanya ia mematahkan lidah ibu mertuanya itu. Semenjak ia menikah dengan anaknya, Nada hanya mendapatkan perlakuan buruk, apalagi selama menikah ia harus satu rumah dengan mertuanya. Entah berkas banyak luka yang harus ia pendam sendiri, selama ini Nada hanya bisa memendamnya sendiri.
Terkadang suaminya pun tidak pernah mengetahui bagaimana keseharian yang dilalui Nada.
"Jadi Mas Firman banyak hutang gara-gara saya?lantas pengorbanan saya sebagai seorang istri rela banting tulang untuk mencukupi semua kebutuhan rumah ini itu tidak penting? Bukannya seorang suami wajib memberikan nafkah buat istri dan anaknya? Dan sekarang di saat mas Firman udah meninggal bukan'kah yang harus bertanggung jawab adalah keluarga dari pihak suami yaitu bapak dan ibu?" Nada meluapkan kekesalan yang selama ini ia pendam.
"Kamu tahu apa tentang tanggung jawab, hah? Sekarang saja kamu masih minta dibayarin hutang ke sini."
Nada mengulas senyum tipis keputusannya untuk datang ke rumah ini adalah salah.
"Ah baiklah kalau memang seperti itu, saya minta maaf kedatangan saya membuat ibu dan bapak tidak suka, permisi." Nada undur diri dengan menahan sesak di dadanya.