bab 3

750 Words
"Kenapa tempat ini masih belum kosong?" "Maaf, Pak! Ini toko saya dan sedikitpun saya tidak tahu menau tentang hutang itu. Kalau Bapak mau hutangnya lunas silahkan datang saja ke rumah orang tua almarhum suami saya." "Mba, ayolah jangan mempersulit keadaan. Saya sudah bersikap baik pada Mba, lagian Mba istrinya." "Beri saya waktu untuk melunasi semua hutangnya tapi bukan sekarang." "Gak bisa begitu dong mba, masalahnya ini sudah jatuh tempo." "Pak, kalaupun saya memberikan toko ini dan bapak berniat menjualnya, percaya sama saya, tidak akan ada yang mau beli apalagi dengan harga yang tinggi. Ini bukan dikota besar, Pak! Lagian bapak hanya butuh uang'kan bukan toko ini?" Pria paruh baya itu berfikir sejenak apa yang dikatakan Nada masuk akal juga, yang ia perlukan hanyalah uang bukan bangunan ini. "Baiklah, saya akan memberikan kesempatan untuk Mba mencicil. Besok saya akan kembali lagi dengan membawa perjanjian baru." Nada menghela nafas panjang, setidaknya ia masih bisa menyelamatkan mata pencahariannya. Rintik hujan membasahi tanah kuburan Firman yang masih merah, Nada duduk di sampingnya beralaskan kantong kresek yang ia temukan didalam tas. Awalnya ia hanya ingin jalan-jalan sebentar, tapi entah kenapa hatinya memilih pergi ke pusara suaminya. "Mas, kamu belum puas ya memberikan kehidupan yang buruk buat aku? Selama kamu hidup, aku selalu membantu nyari nafkah buat keluarga kita dan sekarang di saat kamu sudah gak ada pun, aku masih harus melunasi semua hutangmu, mas. Kamu tahu, Mas? Dulu, saat pertama kita bertemu, aku berharap kamu akan membahagiakan ku, mengangkat derajat hidupku, ternyata dugaanku salah. Padahal kamu juga tahu, bagaimana kehidupanku sedari kecil, aku harus berjuang bertahan hidup dari kondisi rumahku yang berantakan dan sekarang kamu malah membuat lukaku semakin dalam. Ditambah dengan orang tuamu, Mas, aku gak habis pikir, aku datang ke sana dengan baik-baik meminta bantuan mereka, tapi apa yang aku dapat? Cacian mas, cacian! Apa dulu aku salah menerimamu karena cinta? Ah, percuma juga bicara sama kamu toh kamu juga sudah meninggal. Kali ini aku mohon, mas, jangan mempersulit keadaan aku lagi!" Ucap Nada lirih, jujur hatinya mulai cape dengan keadaannya. Bukan hanya sekali ia harus mengendalikan semua perasaannya, apa ia masih harus berpura-pura bahwa ia baik-baik saja? Apa dirinya tidak berhak untuk bahagia? Ah, pertanyaan macam apa itu? Nada menepiskan semua pikiran kalutnya. Motor matic Nada membelah jalanan sore, pikirannya ingin segera tiba di rumah, khawatir anak-anaknya sudah lama ia tinggalkan. Ditengah perjalanan, Nada menepikan motornya berhenti di depan mini market ada pesanan dari si bungsu yang hampir saja terlupakan. Selesai belanja, ia segera keluar tiba-tiba saja ada anak kecil di dekat motornya yang sedang menangis. "Dek, kamu kenapa nangis?" Tanya Nada dengan kepalanya celingukan mencari orang tua anak tersebut. Bukannya menjawab, anak perempuan itu malah semakin menangis. Akhirnya Nada menggendongnya mencoba untuk menenangkan anak itu. "Maaf, Pak! Apa bapak melihat anak kecil ini darimana?" Tanya Nada pada seorang juru parkir. "Aduh, maaf mba, saya kurang tahu tadi saya abis dari toilet. Pas saya kembali, anak itu udah nangis, saya kira itu anak Mba." Nada semakin bingung, siapa juga anak ini? "Sayang, tante boleh tanya?" Nada mencoba bertanya lagi karena anak perempuan itu sudah mulai tenang dan untungnya anak itu mengngguk. "Emh, baiklah anak pintar. Nama kamu siapa?" "Adel." "Adel sayang, tadi kamu sama siapa ke sini?" "Ayah." "Terus sekarang ayahnya dimana?" Adel menggeleng pelan dan itu membuat Nada merasa frustasi. "Emh, tadi Adel sama ayah lagi dimana? Atau tadi kalian pergi kemana?" "Adel sama ayah makan di lestolan, telus Adel liat kucing dilual lagi liatin Adel makan." "Terus?" Tanya Nada terkesan tidak sabaran. "Adel kelual lestolan waktu ayah lagi belantem sama mamah." "Kamu ingat restorannya dimana?" Adel kembali menggeleng. Nada melirik jam tangannya menunjukan pukul tujuh malam dengan hati yang ragu, akhirnya Adel diajak mencari Restoran yang di maksud dan bisa saja orang tuanya sedang mencari. "Adel naik motor tante ya? Mau gak?" Adel mengangguk. Adel naik di depan dengan posisi berdiri setelah memakai helm kecil punya Ikram yang selalu dibawanya dibawah jok. Nada mulai melajukan motornya dengan pelan sembari melirik ke arah kanan mencari Restoran yang di maksud Adel. Sudah hampir seratus meter Nada masih belum menemukan Restoran itu, apa anak ini korban penculikan? Gak mungkin juga dia berjalan sejauh ini. "Itu ayah!" Tunjuk Adel pada seorang pria bersetelan jas yang sedang berdiri dengan bertolak pinggang, Nada buru-buru menepikan motornya. "Adel kamu kemana saja?" Tanya pria itu dengan mimik wajah yang masih khawatir, di sampingnya ada seorang perempuan yang duduk memakai kursi roda. "Kamu culik anak saya, ya! Ayo ngaku?" Tuding perempuan itu dengan mata melotot. Nada mengerutkan keningnya heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD