bab 4

597 Words
"Nay, udah! Jangan suka nuduh." Ucap ayahnya Adel. "Maafkan istri saya, kalau boleh tahu dimana mba menemukan anak saya?" "Tadi dia menangis di depan mini market sana!" Jawab Nada menunjukan arah mini market. "Saya ucapkan Terima kasih, Mba..." "Nada! Nama saya Nada." "Oh iya, Terima kasih mba Nada sudah menolong Adel." "Sama-sama, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu, cuman lain kali jangan pernah bertengkar di depan anak-anak." Tukas Nada seraya tersenyum pada Adel lalu pamit pergi, entah merasa tersinggung atau kenapa pria berjas itu diam membisu seraya matanya tidak lepas dari sosok Nada. "Bunda lama banget habis darimana sih?" Tanya Ikram ketus. "Maafkan bunda, sayang. Tadi di jalan bunda ketemu sama anak perempuan yang kabur." "Wah, kabur kenapa, Bun?" Ikram antusias mendengar cerita bunda nya. Baik Angga maupun Ikram mereka mendengarkan dengan seksama cerita Adel yang pergi karena melihat orang tuanya bertengkar. "Si Adel itu kasihan ya, Bun!" "Kasihan kenapa? Sekarang dia'kan udah pulang." "Dia harus melihat orang tuanya bertengkar, padahal di rumah ini dulu Ayah sama Bunda gak pernah berantem'kan?" Tanya Ikram si paling banyak bertanya. Nada hanya tersenyum sambil mengelus kepala Ikram dan juga Angga, serunyam apapun masalahnya Nada dan Firman tidak pernah bertengkar di depan anak mereka, yang mereka tahu bahwa orang tuanya hidup bahagia dan tidak pernah ada masalah. "Bunda mau mandi dulu sebentar, kalian berdua belajar dulu setelah itu langsung ke kamar, tidur lebih awal. Ingat! Besok sekolah." "Siap, Bunda!" Mereka berdua serempak menjawab. Suara gemericik air membuat Nada sedikit tenang, ia memejamkan matanya saat air dari shower membasahi rambutnya. Meski tak bisa di pungkiri pikirannya masih kalut, apa didepan sana kehidupannya akan baik-baik saja? Sepertinya malam ini akan terasa panjang bagi Nada, ia berdiri di ambang pintu kamar anaknya. Setelah Firman meninggal, Angga dan Ikram memilih tidur bersama. Perasaan sedih menyeruak dari dalam hatinya, tatkala berhasil meloloskan bulir-bulir air mata? "Tuhan, berilah aku kekuatan untuk membesarkan mereka berdua, tidak peduli sehancur apa duniaku, aku harus tetap baik-baik saja karena bagi mereka sekarang aku adalah dunianya." Gumam Nada. Perlahan Nada berjalan mendekati ranjang Angga, anak sulungnya yang dipaksa menjadi lebih dewasa karena harus membantu menjaga adiknya. Mengusap kepalanya penuh harap, bahwa suatu saat anaknya akan berdiri dengan bangga atas kesuksesan yang ia raih meski hanya memiliki seorang ibu. Nada pindah duduk di samping tubuh kecilnya Ikram, si bungsu yang selalu antusias dan selalu mengatakan bahwa bundanya adalah wanita tercantik di dunia, seulas senyum terukir dari bibir Nada bagaimana tidak bahagia jika anak saja sudah bisa membuat bundanya tersanjung. Seperti biasa pagi ini Nada sudah di sibukan dengan menyiapkan sarapan, belum lagi drama si bungsu yang bangunnya susah sekali. "Dek, ayo sarapan!" Teriak Angga dari dapur. Ikram masih belum menjawab membuat Angga beranjak dari duduknya, sedangkan Nada hanya bisa tersenyum. Semenjak ayahnya meninggal, Angga berperan seperti Firman yang mengurus Ikram. "Dek, kamu lagi ngapain sih?" "Bentar A, rambut aku belum di sisir." Mereka berdua sekolah di sekolah yang sama, Angga baru menginjak kelas enak SD dan Ikram baru kelas satu. "Kenapa kalian masih di sini?" "Tuh Ikram masih menyisir rambutnya." Tunjuk Angga. "Mau Bunda bantu?" "Gak usah, Bun. Adek udah besar." Jawaban Ikram sontak membuat Nada membuka mulutnya lalu tertawa dengan renyahnya. Ponsel Nada berdering, Raya menelponnya sepagi ini tidak seperti biasanya. "Kenapa, Ray?" "Hari ini aku gak masuk toko ya, perut aku mules banget." "Hem." "Seriusan, Nad! Perut aku sakit, ini juga lagi toilet." "Baiklah cepet sembuh ya!" Nada menutup panggilan karena memang dirinya sedang sibuk. Tiba di toko, Nada mengecek setiap rak, Awalnya Nada berjualan kue basah berhubung peminatnya mulai berkurang, ia banting setir jualan sembako dan bertahan sampai sekarang. "Permisi!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD