"Mba Nada?"
"Iya." Jawab Nada seraya mengingat-ngingat pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Saya, ayahnya Adel."
"Ah, iya maafkan saya, saya baru ingat."
"Gak apa Mba, emh jadi ini toko milik Mba Nada?"
"Iya, Pak...."
"David."
"Oh iya Pak David, mari masuk kebetulan saya baru buka."
David mengangguk dan menyusul langkah Nada, matanya melihat-lihat ke sekeliling, semua barang yang dijual tertata dengan rapi.
"Silahkan duduk, Pak."
"Emh jangan panggil Pak, boleh? Sepertinya usia kita juga gak beda jauh." Protes David dengan senyumnya yang manis.
"Baiklah, Pak. Emh David maksud saya."
David tertawa melihat kekikukan Nada.
"Oh iya, kabar Adel bagaimana?"
"Kabar Adel baik, cuman sekarang pengasuhnya lebih overprotektif lagi buat jagain dia."
"Syukurlah, takutnya dia kenapa-kenapa."
"Weekand ini kamu ada waktu?" Tanya David.
"Sepertinya ada, memangnya kenapa?"
"Kebetulan kami mau pergi ke puncak, setelah berunding dengan mamahnya Adel, aku berniat ngajak kamu serta keluarga pergi ke sana. Bagaimana, bisa?"
"Sepertinya bisa."
"Baiklah, hari sabtu nanti aku yang jemput. Tulis nomer kamu dulu." David menyodorkan ponsel miliknya.
"Kamu mau minum apa? Teh, kopi atau s**u?"
"Teh manis anget aja, kebetulan tadi di rumah gak sempet minum teh."
"Gulanya sedikit atau banyak?"
"Satu sendok teh aja."
"Terima kasih." Ucap David saat Nada menaruh cangkir teh di hadapannya.
David meminun tehnya dengan pelan, ia mengangguk penuh arti.
"Manisnya pas." Gumam David.
"Ah syukurlah. Oh iya, kabar istri kamu baik?"
"Baik, cuman ya begitulah dia masih duduk diatas kursi roda."
"Kalau boleh tahu mamahnya Adelnya kenapa?"
"Dulu setelah melahirkan Adel, dia mengalami kelumpuhan. Menurut Dokter dia terkena kanker tulang dan sekarang sedang berobat juga. Doakan saja semoga dia segera sembuh."
"Astaghfirullah, aku pikir dia tidak sakit separah itu."
David menunduk menahan setiap beban di hidupnya, tidak mungkin juga dia harus mengatakan semua bebannya pada Nada yang notabenenya orang yang baru ia kenal.
"Kalau suami kamu kerja dimana?"
"Dia udah meninggal."
"Ah, maaf! Aku gak bermaksud buat kamu sedih lagi. Udah lama meninggalnya?"
"It's oke, bulan ini ke tiga bulannya."
"Kamu kerja sendiri?" Tanya David mengalihkan pembicaraan, gak enak juga harus membahas orang yang sudah meninggal.
"Ada anak tetangga aku yang ikut bantuin cuman ya, begitulah kadang dia suka gadang tiap malem demi nonton drakor kesukaannya dan besoknya dia izin gak kerja dengan alasan yang gak masuk akal. Kalo saja anaknya gak baik, dari dulu aku udah pecat dia, beruntungnya dia baik kadang suka bantuin jaga anak-anak juga."
"Aku kirain kamu kerja sendiri, soalnya aku liat tadi pas masuk toko barangnya lumayan banyak juga."
"Memang banyak, tapi yang namanya jualan kadang rame kadang sepi. Pas lagi sepinya bikin kepala kleyengan, pendapatan menurun malah pengeluaran yang banyak." Ucap Nada dengan sedikit terkekeh demi mencairkan suasana.
David ikut tersenyum melihat Nada, matanya beradu entah kenapa hati David merasakan sesuatu yang beda dan aneh, ada rasa tenang yang bahkan ia tidak ketahui ketenangannya ia dapatkan darimana. Mata bening Nada mampu membuat David betah menatapanya, lesung pipitnya yang merona saat Nada tersenyum, bibirnya yang sedikit tebal dengan polesan lipstik warna senada dengan warna asli bibirnya, meski hidungnya terkesan tidak mancung, tapi tidak membuat kecantikan Nada berkurang.
Lebih tepatnya Nada mempunyai ketertarikan sendiri, selama ini ia sudah menjumpai banyak wanita yang tergolong cantik, tapi berbeda dengan Nada yang mampu membuat hatinya merasakan gelenyar aneh.