Suara ketukan pintu membuat Ikram tersenyum, setelah semalam Nada mengatakan bahwa pagi ini mereka akan pergi ke puncak, rasa antusias Ikram semakin memuncak. Nada yang melihat tingkah anaknya bangkit dan berniat membuka pintu, namun Ikram sudah berlari mendahuluinya.
"Om David ya?" Tanya Ikram dengan senyumannya yang manis.
"Hai, ini pasti Ikram'kan?" Ikram mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah teduh David.
"Bunda kamu dimana?"
"Ada di dalam, Om. Kami udah siap kok."
Nada dan Angga mendekati Ikram yang terus saja berdiri menghalangi David.
"Ikram, kasih jalan dong Om Davidnya." Tegur Nada lembut.
"Maaf Om lupa." Ucap Ikram dengan menepuk keningnya pelan.
"Gak papa, lebih baik kita berangkat sekarang takutnya keburu siang. Kalian udah siap'kan?"
"Udah kok, tinggal ngambil tas aja." Jawab Nada.
Angga mendekati David seraya mengulurkan tangannya mengecup punggung tangannya sopan di susul Ikram melakukan hal yang sama, entah memang karena antusiasnya untuk pergi berlibur membuat ikram lupa mencium tangan David.
"Kamu duduk di depan biar anak-anak di belakang!" Ucap David membuka pintu samping mobilnya.
"Istri kamu gak naik mobil ini?"
"Enggak, biasa dia lagi tantrum." David mengisyaratkan agar Nada segera masuk setelah memastikan Angga dan Ikram duduk dengan tenang.
Nada duduk di samping David dengan pikiran yang masih bingung, bisa-bisanya mereka berantem saat mau liburan keluarga. Ia melirik ke dua anaknya yang duduk dengan tenang dan senyumnya yang terus saja terukir dari bibirnya, ada rasa haru karena setelah sekian lama akhirnya mereka bisa pergi liburan meski harus ikut dengan keluarga orang lain.
Perlahan mobil David meninggalkan pekarangan rumah Nada, celotehan Angga dan Ikram membuat David tersenyum tipis. Bagi orang lain yang tidak mengetahui siapa mereka sebenarnya akan beranggapan mereka adalah keluarga cemara yang akan pergi berlibur.
"Adel ikut juga?"
"Iya, Adel dan Kinan naik mobil satunya lagi."
"Oh jadi nama istri kamu, Kinan? Terus yang bawa mobilnya siapa?" Tanya Nada penasaran secara mamahnya Adel sakit.
"Ada Pak Ahmad, beliau supir yang bekerja di rumah."
Nada mengangguk pelan, ia tidak ingin membuat suasana yang ceria akhrinya harus terasa risih dengan pertanyaan-pertanyaannya, sekali lagi ia melihat kedua anaknya yang masih saja tersenyum bahkan candaan dari mulut mereka mulai bertebaran.
Sepertinya ini adalah perjalanan yang penuh makna dan berharga, pikiran Nada kembali ke masa dimana suaminya masih ada. Boro-boro buat pergi berlibur ke tempat jauh, sekedar pergi ke tempat wisata terdekatpun sudah jarang. Pantas saja kalau Angga dan Ikram seantusias ini.
Setelah perjalanan hampir dua jam karena sedikit macet, akhirnya mobil David memasuki kawasan villa dengan halamannya yang luas. Terlihat satu buah mobil sudah terparkir bahkan ada pria paruh baya yang sedang menurunkan koper.
David turun terlebih dulu, di susul Nada yang langsung membangunkan Ikram yang tidur dipangkuan kakaknya.
"Bun, masih ngantuk."
"Ini udah nyampe, sayang. Ayo bangun!"
Ikram membuka matanya pelan, mengedip agar pandangannya terlihat sedikit jelas. Angga menuntun Ikram yang masih menahan kantuk, sedangkan Nada membawa koper dibantu David.
"Tante!" Teriak Adel saat melihat Nada masuk ke dalam villa, Ia langsung berlari meminta digendong. Kinan menyusul masih dengan raut wajah yang kurang mengenakan. Seperti biasa Angga dan Ikram langsung mendekati Kinan dan mencium tangannya sopan.
"Ini anak-anak kamu, Nad?"
"Iya, Mba. Bagaimana kabar Mba Kinan?" Tanya Nada mencoba bersikap sopan dan ramah.
"Baik, seperti yang kamu lihat. Oh iya kamar kalian ada dilantai dua, biar David yang membantu kalian. Saya mau istirahat dulu." Kinan mendorong kursi roda menggunakan kedua tangannya meski sedikit kesusahan, tapi dia tidak mengizinkan siapapun membantunya padahal David sudah berdiri di sampingnya.
"Kedua kakak ini namanya siapa?" Tanya Adel saat Nada dan kedua anaknya sudah berada di kamar.
"Yang besar ini namanya Kak Angga dan yang kecil namanya Kak Ikram. Mulai sekarang Adel bisa bermain dengan Kak Angga dan Kak Ikram jadi gak boleh kabur lagi. Oke?"
Adel mengangguk cepat saat Nada selesai bicara, saat mereka bertiga bermain Nada keluar kamar hendak mengambil minum tak sengaja berpapasan dengan David.
"Kamu mau kemana?"
"Mau ngambil minum, Mas!"
"Mas?" Ucap David mengerutkan keningnya heran.
"Apa salah aku manggil Mas? Toh aku juga manggil istri kamu dengan panggilan Mba, kayaknya kurang etis aja aku manggil nama kedengerannya kurang sopan.
" Mas, lucu juga kayaknya dipanggil Mas."
"Memangnya istri kamu manggil apa?"
"Sesuka dia aja manggilnya apa." Jawaban David terdengar pasrah, tidak bisa dipungkiri setelah istrinya sakit tak jarang Kinan memanggil dirinya dengan sebutan nama.