Chapter 16. Damian dan Lembab

1443 Words

"Aku tunggu kamu di depan gang!" Itu adalah pesan singkat dari Damian tepat pukul enam pagi. Lembayung, yang sudah siap dengan switer turtle neck — untuk menutupi tanda merah yang masih samar — dan celana jins, tersenyum lebar. Jemarinya menari di atas layar ponsel, mengetik balasan dengan kecepatan penuh. "Iya, Sayang. Aku OTW!" Sambil berjalan keluar dari gang kostnya, senyum tidak pernah lepas dari bibir Lembayung. Meskipun matahari belum sepenuhnya naik dan udara Jakarta masih menyisakan sisa embun yang bercampur polusi, hatinya terasa secerah musim semi. Bayangan wajah Damian yang panik saat dia menjewer telinga pria itu kemarin pagi membuatnya terkikik sendiri. Namun, begitu sampai di mulut gang, langkah Lembayung terhenti. Dia mengucek matanya, memastikan tidak salah lihat. Di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD