Chapter 12. Damian dan Lembayung

1314 Words

Keesokan paginya, Damian terbangun jauh sebelum alarm apartemennya berbunyi. Langit Jakarta masih kelabu, tirai jendela belum sepenuhnya diterobos cahaya matahari. Namun mata Damian sudah terbuka, pikirannya jernih sekaligus berat. Ada satu kejadian yang terus berputar di kepalanya sejak semalam — adegan di gang sempit itu, tatapan mata para preman, dan nada suara mereka yang tidak sepenuhnya mengancam, tapi jelas bukan basa-basi. Pria itu duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya pelan. Dadanya terasa sedikit sesak, bukan karena takut — lebih kepada perasaan ganjil yang sulit dijelaskan. Damian jarang terintimidasi. Dunia bisnis sudah membiasakan pria itu dengan tekanan, ancaman halus, dan permainan kotor. Namun, yang semalam itu berbeda. Tiga preman itu ternyata tidak bermaksud jahat p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD