Ratih meraung dalam hatinya, 'Aku masih ingin bertanya padamu.' Tetapi mengingat identitas mereka saat ini, dia tidak dapat mengatakannya. Dia hanya bisa tersenyum canggung dan buru-buru berbalik untuk pergi. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Tengku Ammar yang kebetulan datang. “Ada apa?” tanya Tengku Ammar sambil membantunya. Ratih mengusap hidungnya yang sakit dan mundur dua langkah. Ia mengangkat kepalanya dan menjawab dengan marah, "Calon istrimu ada di sini. Mengapa kau bisa membawaku ke sini?" Tengku Ammar melirik Nurzahira dan menjawab dengan ringan, "Saat kami menikah, kamu akan menjadi pengiring pengantin kami." “ "Apa?" Bukan hanya Ratih yang terkejut, bahkan Nurzahira pun terkejut. "Apakah penjelasanku kurang jelas?" Tengku Ammar mengangkat alisnya. Ratih men

