Chapter 145

935 Words

Ratih berjalan keluar dengan susah payah dan menatap matahari di langit. Sinar matahari begitu menyilaukan sehingga dia harus mengangkat punggung tangannya untuk menghalangi cahaya matahari. Pada saat ini, Lina berlari dan memeluknya sambil menangis, "Ratih, kamu akhirnya keluar. Kamu membuat kami takut setengah mati. Apakah kamu baik-baik saja? Kau tidak terlalu menderita, kan?" Ratih menggelengkan kepalanya dan melepaskannya. "Kenapa kamu di sini? Siapa yang bilang aku akan keluar hari ini?" "Nurzahira memberi tahu kami bahwa kamu bisa keluar hari ini, jadi kami bergegas menjemputmu," kata Lina. "Ibu." Rayyan dan Raihna berlari dan memeluknya dengan erat-erat. Ratih pun segera memeluk sikembar erat-erat. Dalam beberapa hari terakhir ini, dia sangat merindukan putranya. Sejak mer

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD