Chapter 159

1270 Words

Setelah makan di tempat tidur, mereka melanjutkan makan di ruang makan. Masakan dirumah ini sebenarnya lebih lezat. Dulu ada banyak hidangan yang kuat karena Tengku Ammar suka masakan minang dari restorannya, tetapi sekarang semuanya adalah hidangan yang menyehatkan yang di penuhi salad sayuran, sedikit tumisan, sup ayam dan buah. Ratih makan sambil mengaduk-aduk nasi di mangkuknya. “Ada apa?” Tanya Tengku Ammar melihat ekspresinya. Dia tahu Ratih tidak akan tertarik dengan makanan seperti ini. “Makanan ini hambar. Aku benar-benar tidak tahan." “Apakah kamu masih suka makanan pedas seperti di restoranmu?” Tengku Ammar bertanya dengan ringan. Ratih mendongak. Dia lupa bahwa pria ini sebenarnya tau bahwa dia pernah punya restoran sebelum kecelakaan itu. “Kamu tau?” dia bertanya dengan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD