Chapter 158

996 Words

Wajah Ratih seketika berubah pias. “Tante, apa yang terjadi pada Ibu?” Dia merasa jantungnya seperti gendering perang. Setiap dia menelepon paman, paman selalu bilang bahwa ibunya baik-baik saja, sudah bangun dan dalam tahap pemulihan. Dia ingin pulang namun takut akan di temukan oleh Tengku Ammar. Kalau difikir-fikir sudah delapan tahun dia tidak pulang. “Tante, katakan sesuatu.” Air mata Ratih sudah mengalir. Dia ingin mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Bagaimanapun ibunya selalu sakit-sakitan. Meskipun dia selalu mengirimkan biaya hidup dan biaya pengobatan. Dia tidak berani berharap banyak. “Mereka ada disebelah.” Tante Rani akhirnya bicara dengan susah payah. Apa? Ratih merasa sekujur tubuhnya menggigil. Apa katanya? Mereka ada disini? Sejak kapan? Bagaimana kabar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD