Leonna
Christhian mencoba menghibur perasaan gue yang kalang kabut karena Eryna bercerita sambil menangis di hadapan gue. Dia berinisiatif mengajak gue makan di Sini Kiloan Bang Bopak di tepi pantai pinggir jalan yang sangat ramai dikunjungi pengunjung karena masakan seafood yang beraneka macam ini seperti jenis-jenis kerang, kepiting, lobster, cumi, udang dan lain-lain yang memang gue ancungi jempol abis. Apalagi sudah meresap di lidah turun ke tenggorokan sampai ke perut, udah gak bisa berkata-kata lagi gue betapa juaranya masakannya.
"Oh, Eryna jadi gak bisa nemenin suaminya yang pengacara itu tinggal di New York karena dia juga punya kerjaan di sini?"
"Iyah... Gue kasian, sih, karena mertuanya yaa emang dasarnya gak suka sama dia, ya, jadi makin dipojokin aja, sih, Eryna ini, karena menurut mertuanya, yang dilakuin Eryna ya salah. Sangat salah malah," terang gue teringat kejadian tadi terlebih Eryna yang menangis-nangis di depan gue.
"Emang tujuannya Eryna kerja itu apa? Bukannya kebanyakan istri itu emang harusnya ikut suami ke mana pun dia pergi, ke mana pun ia tinggal, kalau suaminya itu memang meminta itu dari istrinya."
Gue menarik napas dalam-dalam, sebenarnya gue gak berpihak manapun di sini, gue cuma mencoba untuk melihat suatu permasalahan dari berbagai sisi.
"Eryna itu punya hati yang besar. Dia punya mimpi yang pengen banget dia wujudin, dia mau mengabdi pada masyarakat, dengan dia bekerja. Dia punya kemampuan dan ilmu yang bisa dia bagikan untuk orang-orang yang sangat membutuhkan. Tapi, sayangnya banyak orang yang setelah menikah dilarang bekerja oleh suaminya, istri kerjaannya ya hanya mengurusi rumah, anak, dapur, padahal lebih dari itu seorang perempuan juga bisa berguna di luar sana. Contohnya guru, dosen, mereka bekerja dengan niat membagikan ilmu mereka kepada anak-anak yang membutuhkan ilmu darinya gitu. Mereka sama-sama mengabdi pada negara, pada masyarakat. Gue rasa, Eryna gak salah di sini, yaa, dia emang keliatannya salah gak bisa menemani suaminya yang bekerja jauh di luar sana."
"Kalo gitu dia tau konsekuensinya. Kalau dia masih punya mimpi, kenapa dia menikah muda? Setelah lulus kuliah, aku rasa dia gak semestinya menikah dulu kalau dia masih punya mimpi yang pingin dia raih, benar, 'kan?" Christhian emang ada benarnya sih.
"Sebelum menikah, mereka udah buat kesepakatan."
Pada waktu dia dilamar di kawah putih, Eryna sempat ragu haruskah ia menerima lamaran Ammar? Sedangkan dia masih punya mimpi diusia mudanya namun dia sangat mencintai Ammar, dia juga ingin membangun rumah tangga bersama Ammar. Mungkin orang bilang, mereka bisa pacaran. Selama pacaran, Eryna bisa menyelesaikan urusannya dahulu dan Ammar sebaiknya menunggu. Tapi, Eryna sangat pantang yang namanya pacaran. Hanya buang-buang waktunya saja. Apalagi orangtuanya juga sudah merestui hubungan mereka.
Bila memang pihak lelaki sudah punya niatan baik kenapa harus ditunda-tunda lagi. Banyak lelaki di luar sana yang hanya mengumbar janji tapi tidak juga dinikahi padahal pacaran sudah sangat lama dijalani tapi gak pernah dikasih bukti dan janji yang pasti.
"Mau sampai kapanpun, mau itu gue belum menikah ataupun sudah menikah, gue tetap bakal bekerja Len." Itu yang dia katakan ke gue waktu dia datang ke rumah gue karena gue mengajaknya buat makan malam bersama sekalian membahas pernikahan dia. Tapi, gue liat, dia sempat ada kebimbangan dan gue mencoba untuk berusaha membantunya. Mungkin menjelang pernikahan, ada saja masalah yang mestinya tidak perlu dipikirkan jadinya diperbesarkan. Kalau kata orang, sih, itu ujiannya yang mau menikah.
"Iya, gue tau. Tapi apa Ammar menerima bener-bener keinginan Lo itu? Inget Lo Ryn, nikah itu bukan cuma tentang Lo, pemikiran Lo, keinginan Lo, mimpi Lo, tapi lebih dari itu.... ada dua isi kepala yang bakal berbeda dan mesti punya jalan temunya untuk menyatu." Gue berusaha untuk menjadi wadah yang baik untuknya menemukan saran. Dari sini gue juga bisa belajar dari kisahnya.
"Gue udah bilang ke dia kalau setelah kita menikah, gue minta izin untuk bekerja juga karena gue udah punya niat yang mesti gue jalanin. Keluarga gue gak mau buat dia menunggu lama, termasuk juga... gue gak mau buat dia menunggu lama, jadi ya daripada nanti malah gak jadi karena ditunda-tunda sebaiknya gue menikah secepatnya. Cuman ya seperti yang gue bilang sebelumnya, gue sempet ragu, apa nanti dia bisa konsisten sama kesepakatan yang gue minta."
Gue menuangkan air putih ke gelasnya lalu duduk di hadapannya. Semua hidangan yang gue masak udah tersedia.
"Gue tadinya ragu waktu Lo cerita Lo bakal menikah padahal setelah lulus Lo punya tekad ingin menjadi kayak orang tua Lo dan teteh Lo yang Lo anggap saingan itu. Gue berpikir, diusia muda ada hal yang jauh lebih penting daripada menikah. Pendidikan dan impian. Tapi kalo emang Lo udah siap, ya jalanin. Saran gue ya, yang gue bilang tadi, pernikahan ini bukan cuma tentang Lo tapi dia juga. Soal dia konsisten atau gak nantinya gue gak tau Ryn, yang menjalaninya itu kalian, jadi dijalanin aja dulu. Jangan kebanyakan mikir yang enggak-enggak, Okeyy?"
* * * *
"Okey, aku udah paham masalah temanmu, tapi bagaimana dengan kamu sendiri?" Pertanyaan christhian jelas buat gue langsung kebingungan.
"Gue maksudnya?" tanya gue seraya menunjuk diri gue.
"Komitmen, menjalin hubungan, pernikahan. Apa kamu gak ada keinginan melakukan semua itu?"
"Dan memberi jalan seseorang untuk masuk ke kehidupan gue? Begitu?" runtunku berapi-api. Gue tau maksudnya apa, gue juga gak tau kenapa gue malah marah begini walaupun gue masih bisa mengontrolnya sekarang.
"Keknya gak mungkin deh," lanjut gue sedikit tenang.
"Kenapa? Apa kamu gak mau menikah nantinya?"
Pernikahan.
Ketika gue tau Eryna akan menikah secepat itu. Gue gak pernah membayangkan gue bakal menikah diumur berapa, gue bakal punya suami yang seperti apa, apakah gue nanti bakal berkeluarga atau gak, gue pun gak tau apakah itu akan terjadi di hidup gue. Membayangkan akan berkomitmen dengan seseorang pun gue belum bisa percaya, apalagi sebuah pernikahan.
Gue gak pernah menentukan diumur berapa gue bakal menikah. Tapi, gue rasa kapan saatnya kita menikah itu bukan diukur dari tolak ukur umur, tapi sebuah kesiapan seseorang. Banyak orang pada saat Eryna menikah, teman-teman kuliah gue yang tau gue sahabatan sama Eryna sering menanyakan, "Lo kapan nikah, Len?" Beribu-ribu kali dipertanyakan seperti itu memang jelas membuat gue risih dan merasa insecure sendiri. Tapi, balik lagi pada prinsip gue, kalau gue menikah pada saat gue sudah benar-benar siap untuk berkomitmen pada seseorang, siap mental, siap finansial, siap menghadapi masalah setelah masuk ranah menikah bukan menikah karena dikejar-kejar umur atau tuntutan dari banyak orang karena pertanyaan-pertanyaan mereka yang semestinya direm.
Gue gak mau buru-buru menikah dengan seseorang yang ternyata orang itu gak tepat buat gue dan justru pernikahan gue hanya bertahan seumur jagung doang. Lebih baik gue menunggu dan memperbaiki diri gue agar gue benar-benar pantas mendapatkan seseorang yang bisa mencintai gue dengan tulus dan menerima gue apa adanya.
"Udah..." Gue mengibaskan tangan ke udara. "Jangan bahas itu."
"Kalau aku mau bahas soal ini sekarang?"
Gue menyipitkan mata sinis dan gak habis pikir dengan cowok keras kepala di depan gue ini yang justru secara terang-terangan menggenggam kedua tangan gue di atas meja yang gue yakini satu dua orang atau bahkan lebih banyak lagi tengah diam-diam memerhatikan kami karena rasa penasaran.
"Berulang-ulang kali aku katakan bahwa aku akan menikahi kamu, dan berulang-ulang kali juga kamu menolakku. Sampai saat ini, aku masih menunggu kamu Len. Sampai kamu benar-benar siap untuk berkomitmen sama aku," ungkapnya berusaha terus untuk meyakinkan gue tapi... tapi logika gue mengatakan untuk mengatakan tidak, hati gue masih meragukannya walaupun gue tahu sampai sekarang pun dia masih tetap bertahan.
"Lepas---" dan dia masih menahan tangan gue.
"Apa aku masih kurang meyakinkan buat kamu?"
Gue menatap lekat matanya setelah melepas tangannya dengan kasar. Bangun dari kursi, memajukan badan gue demi menatapnya lebih dekat lagi.
"Perlu Lo ingat, di hidup gue, gue gak akan mau lagi kenal yang namanya cinta, hubungan dan komitmen. Sampai di sini udah paham?" Setelah mengatakan kalimat tadi, gue pun pergi sejauh-jauhnya.
* * * *
Eryna
Ketika aku sedang membereskan isi lemari, Ammar keluar dari kamar mandi. Sikap Ammar sangat dingin padaku setelah kejadian makan bersama tadi. Pada saat Leonna pulang, dia hanya menyuruhku istirahat saja. Aku merasa aura ketegangan membebani batinku. Ammar tidak bicara apapun setelahnya. Dia seperti sedang mendiamkanku.
Dia hanya menatapku sekilas, lalu mengambil kaos abu-abu dan memakainya dengan membelakangiku yang tengah duduk di tepi ranjang dengan baju-baju yang sedang kulipat.
"Dua Minggu atau tiga Minggu ke depan aku bakal berangkat ke New York, kamu dan anak-anak akan ikut sama aku." Ketika itulah tanganku terhenti.
"Maksud kamu?" Dia pun berbalik badan. Memberikan tatapan datar padaku.
"Minggu depan, kamu, anak-anak dan aku, kita semua bakal pindah ke New York," ulangnya dengan penekanan yang lebih jelas lagi.
Aku mendongak, aku marah. "Ini kamu kenapa, sih, kok tiba-tiba minta aku ikut sama kamu?"
"Loh, bukannya itu, 'kan yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri?" balasnya menundukkan setengah badan kemudian menjauh pada saat aku bangun dari dudukku. Ia berdiri membelakangiku.
"Kamu berubah pikiran karna masalah tadi? Karena mamah kamu?" berondong apa yang ada di kepalaku, aku lontarkan ke dia.
"Aku membela kamu karna aku mau menutupi kekurangan kamu, tapi apa yang mamahku bilang itu gak ada yang salah." Ia berbalik badan, lalu maju selangkah tepat di hadapanku. "Salahnya semua itu ada di kamu. Di diri kamu dan keegoisannya kamu."
"Aku egois kamu bilang? Kamu lupa kesepakatan yang kita bahas dulu? Kamu bakal mensupport apapun yang aku lakukan sampai aku bisa meraih apa yang aku inginkan. Tapi kenapa sekarang malah kayak gini, sih?"
"Seandainya waktu aja bisa diputar ulang, aku gak bakalan mengizinkan kamu bekerja Eryna."
Aku gak menyangka dia bisa mengatakan hal itu padaku. "Kalau gitu kenapa gak kamu aja yang kerja balik ke Indonesia. Kamu pikir aku senang atas pencapaian kamu? Kamu pikir aku senang kamu kerja jauh-jauh sampai ke negeri orang segala."
"Oh, jadi itu sebenarnya, dukungan kamu selama ini gak benar-benar tulus, iya?" Nadanya meninggi. Aku terdiam. Aku sebenarnya tidak ada maksud mengatakan hal tadi, tapi aku terbawa emosi karena pada nyatanya dia pun tidak benar-benar mendukung keputusanku.
"Sia-sia selama ini aku kerja untuk keluarga ini." Suaranya pelan tapi menusuk. Ia menjauhiku, berjalan menuju sisi ranjang di sebrangku dari tempatku berdiri lalu duduk membelakangiku.
"Hey, apa kamu bilang? Untuk keluarga ini? Oh, berarti selama ini aku udah salah dong. Aku pikir kamu kerja itu untuk diri kamu sendiri karena semua itu adalah impian kamu, cita-cita kamu karena dari dulu kamu emang sangat berambisi sekali untuk mendapatkan semua itu," jelasku menyindir, dengan gaya bicara cepat dan secara terang-terangan.
"DIAM KAMU!" Untuk pertama kalinya ia membentakku bersamaan ia bangun dan menunjuk wajahku dari tempat ia berdiri. Aku tersentak. Mataku terbelalak. Ia berhenti mengucap padahal ia ingin kembali bersuara---setelah matanya mengarah ke pintu. Aku menoleh ke belakang---ternyata ada ibu yang mengintip kami sejak tadi dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Ammar kembali duduk membelakangiku. Aku pun keluar dan membanting pintu, keras.
"Kita bicara di depan, ya." Aku pun mengangguk, menuruti kata ibu.
* * * *
"Maaf ibu udah lancang mendengar perdebatan kalian," kata ibu membuka dialog malam ini. "Ibu paham, pasti berat buat kamu menjalani rumah tangga disaat keinginan kamu secara pribadi belum kamu penuhi sampai tuntas, apalagi kamu ingin menjadi kepala desa. Tanggung jawabmu akan semakin besar di luar sana. Belum tanggung jawabmu sebagai seorang istri dan ibu."
"Aku udah melakukan semuanya Bu, sebaik mungkin, semampuku, aku udah berusaha selalu ada untuk anak-anakku dan mendidik mereka. Tapi aku merasa di dalam hubunganku ini tidak ada kerjasamanya dari dia. Seakan-akan hubungan ini hanya tentangnya, hanya tentang mimpinya. Dia egois Bu, sangat egois."
"Begitupun dengan kamu nak."
"Aku?" seruku kaget. "Aku salah lagi? tanyaku lagi, Setelah semua yang aku lakukan... Kenapa, sih, orang-orang jadi memojokankku, kenapa posisiku jadi serba salah?" Berkali-kali pertanyaan kulontarkan dengan kesal sama ibu. Ternyata ibuku saja menyalahkan ku. Apa tidak adakah di dunia ini yang mau berpihak padaku?
"Kamu tau, 'kan tugas seorang istri itu apa?"
"Melayani dia, 'kan maksud ibu," timpalku dengan alis naik sebelah. Aku bangun dari atas kursi rotan dan berdiri membelakangi ibu dengan kedua tanganku terlipat di depan d**a.
"Lebih dari itu, nak. Apapun yang kamu lakukan bila suamimu tidak meridhoinya, kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa. Memang ada benarnya yang dikatakan ibu mertuamu, semestinya kamu mendampingi suamimu ke mana pun ia pergi."
"Tapi Bu..." Aku membalikkan badanku. "Aku juga punya tujuan hidup di sini. Aku punya mimpi yang harus kuselesaikan." Aku masih kekeuh pada keputusanku.
"Tapi semakin jauh ke sini, kalian seakan ingin menyaingi satu sama lain." Ini bukan kata ibu, tapi kata ayah karena pada saat ini kami berempat berkumpul di ruang tamu. Aku duduk di samping Ammar dan di depanku ada kedua orang tuaku.
Ayah ingin menjadi penengah diantara kami berdua yang ternyata ini ide ibu saat di luar tadi, ayah menyuruhku masuk ke dalam. Ada suamiku yang sudah duduk duluan. Nyatanya ibu mengajakku bicara adalah bagian dari rencananya bersama ayah untuk menyatukan dua isi kepala yang berbeda dan watak yang sama-sama keras dan tidak mau mengalah.
"Sekarang ayah ingin tau tujuan kalian membangun rumah tangga ini apa? Visi misi kalian sebagai menjadi pasangan yang masih muda ini apa? Karena setiap pasangan memiliki visi misi yang berbeda dalam membentuk rumah tangganya agar tetap kokoh," ucap ayah tenang namun tersurat ketegasan di dalam ucapannya.
"Ingat nak, jangan sampai karena ego kalian, rumah tangga yang sudah lama kalian bangun jadi runtuh berantakan." Ibu pun menimpali.
"Tanyakan pada diri kalian masing-masing apa kemauan kalian, mendapatkan satu suara butuh dua isi kepala yang sama bukan yang berbeda. Watak kalian sama-sama keras dan mau menang sendiri, merasa paling benar, merasa diri kalian lebih baik, ini bukan perlombaan untuk menjadi siapa yang menang dan siapa yang kalah dan harus mengalah." Ayah kembali melanjutkan perkataannya.
"Suami istri itu mesti kerja sama, bukan yang satu merasa menjadi raja atau ratu, keputusan kalian akan mempengaruhi hubungan dan rumah tangga kalian bahkan anak-anak kalian sendiri. Kalian boleh punya cita-cita dalam hidup kalian, tapi setelah berkeluarga yang jelas kalian harus memikirkan cita-cita kalian bersama."
Sudah selesai.
Sekarang tinggal kami.
Bagaimana menjadi manusia yang lebih dewasa lagi dari masalah yang sedang kami hadapi.
* * * *
Ayah, ibu dan teh Amira berangkat pagi ini untuk kembali ke kota masing-masing. Aku memeluk erat sih teteh, kakak yang baik hati dan bodohnya selama hidupku selalu menganggap ia saingan yang tentunya ia tidak pernah tahu betapa aku sangat iri dengan nasibnya yang selalu lebih unggul dariku tapi perasaan itu ada di masa laluku yang tidak akan lagi kutanam di masa ini karena sekarang keadaannya sudah berbeda.
"Salam ya sama mas Wira. Kalau gak sibuk main dong ke sini sama teteh."
"Iya, nanti lain kali kalo suamiku gak sibuk, ku ajak dia ke sini tapi nunggu aku dapet cuti dulu."
"Haha, iya, teh. Untung aja aku minta teteh ke sini pas banget waktu teteh dapet cuti ya," ujarku. Sangat bersyukur punya teteh yang ada untuk aku.
"Auntyyyyy Mira mau pulang yaaa." Eh, ada, sih, kecil anakku. Kartika langsung berhambur memeluk sih teteh. Sedangkan Lestari sedang memeluk ibu. Ibu melihat ke arahku, aku pun menghampirinya. Lestari berpindah posisi jadi memeluk pinggangku.
"Ryn, ingat ya pesan ibu. Komunikasikan apa yang menjadi masalah kalian. Jangan saling mendiamkan."
"Iya, Bu. Akan aku coba nanti."
"Eryna," panggil ayah.
"Iya, yah," jawabku. Aku menoleh ke belakang tepat ayah dan suamiku keluar dari dalam rumah dengan membawa koper ayah. Teteh mau mengambilnya namun suamiku melarangnya.
"Biar saya aja." Ia pun memasukkan koper tersebut ke dalam mobil.
"Baiklah, kalo gitu ayah pulang dulu, ya. Kalian ingat apa yang udah ibu sama ayah sampaikan kemarin." Aku sama suamiku tidak menjawab sama sekali. Saling melempar pandangan yang memiliki banyak arti. Tapi aku tak tahu apa yang tersimpan dalam hatinya saat ayah mengatakan hal tadi.
"Ryn," teteh memelukku ketika ibu dan ayah masuk ke dalam mobil. "Yang akur, ya," bisik teteh. Lalu ia menyusul dan mobil itu pun melaju pergi sampai tak terlihat lagi badannya.
* * * *
Nyatanya masalah dalam pernikahan bukan hanya tentang sekedar cinta saja yang menjadi kunci untuk dalam menyelesaikannya. Namun ada banyak hal yang menjadi pertimbangan ketika masalah ada. Hadir tetiba bahkan tanpa diminta. Demi menguji sebuah kesetiaan dari dua manusia dengan isi kepala yang berbeda. Sebuah kerja sama dan komunikasi menjadi sebuah kunci utama. Ego yang harus dikesampingkan demi mendapatkan satu suara.
Tanpa sadar wajahku basah karena air mata. Duduk di ayunan seorang diri, menatap hamparan taman hijau yang luas di belakang rumah. Tempat penenangku untuk meluapkan segala emosi yang terpendam. Kadang lelah dalam menjalani sebuah rumah tangga ketika masalah tidak kunjung selesai itu pasti pernah dirasakan oleh tiap-tiap manusia. Termasuk diriku. Jeda sebentar untuk tenang. Mencoba bersabar dan kembali mengingat komitmen ketika hati ingin menyerah dan mengakhiri yang sudah dimulai.
Tiba-tiba saat aku termenung, dua tangan melingkari leherku, dagu seseorang menumpu di atas bahuku.
"Kamu jangan nangis, aku minta maaf yah udah bentak kamu kemarin." Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku malah berusaha melepaskan tangannya namun ia malah memelukku. "Kita bicarakan masalah kita baik-baik."
"Aku gak ada maksud dengan kata-kataku kemarin, sayang. Aku hanya kesal dengan situasi seperti kemarin itu. Dari karakter kita yang sama-sama keras dan egois, kita punya kemauan yang berbeda. Maunya kamu yang gimana dan maunya aku yang seperti apa." Dia menghirup aroma rambutku yang hitam legam nan panjang lebat. Menyembunyikan wajahnya ke leherku dan menciumnya di sana.
"Kita seakan menyaingi satu sama lain. Sampai lupa tugasnya suami istri yaa harus saling mensupport satu sama lain."
Aku diam-diam menangis dalam senyuman yang terbentuk dengan perasaan lega dalam hati.
"Kamu inginnya kita jalaninnya yang seperti apa?" tanyaku setelah beberapa saat ia terdiam. Kepalaku tertoleh ke samping, ia pun menatapku dalam penuh kasih sayang dan menempelkan hidungnya ke hidungku.
"Kamu punya mimpi yang belum kamu penuhi, aku tau cerita hidupmu setelah lama kita saling mengenal. Kamu udah setia selalu ada untukku di masa-masa karirku, sekarang giliranku. Aku akan dukung kamu menjadi kepala desa dan memberi dukungan kepada kamu yang ingin..."
"Yang ingin memajukan desa terpencil menjadi desa yang sukses."
"Jangan lupa kamu harus bisa membantu warga-warganya untuk berkreativitas sebaik mungkin."
"Dan memberdayakan usaha-usaha kecil yang akan kuciptakan untuk perempuan-perempuan supaya mereka bisa mandiri untuk mencari mata pencaharian, agar gak selalu bergantung pada suaminya aja."
Dia mencubit pelan bibir bawahku dengan gemas. "Ini baru istriku yang cerdas." Aku tertawa karena pujiannya yang manis sekali.
[]