Leonna
Ada tiga hal yang paling penting yang biasa gue lakukan tiap weekend. Pertama, gue seneng banget menghabiskan waktu gue dengan memasak untuk menciptakan resep kedua, setelah itu gue memberi makan, sih, boy. Anjing yang ada di rumah gue. Dan ketiga, setelah selesai mengurus, sih, boy gue biasanya mulai mengurusi tanaman siangnya.
Gue suka banget bercocok tanam di halaman depan rumah gue. Kebiasaan yang ba koik yang bila rutin dilakukan akan mengubah kehidupan kita. Itu adalah prinsip gue dan ya benar aja. Terbukti!
Dengan banyak waktu luang yang kita punya, kita bisa, tuh, kita gunain dengan hal - hal yang bermanfaat dari pada berleha - leha di kamar, main hp, buka sosmed sampe lupa mandi. Jujur, gue sebagai cewek, walaupun tampilan gue bertato, kebersihan paling gue jaga. Mandi itu sehari dua kali bukan sehari sekali. Ingat ya ini, buat cewek atau pun cowok yang suka banget tiap minggu mandi cuma sekali. Itu kebiasaan jorok tau.
"Neng! Neng Ana! Pada saat gue sedang memeriksa tanaman gue, ibu-ibu datang memanggil gue.
"Eh, iya, Bu... Ada apa, ya?" tanya gue seraya membuka pagar yang tingginya sebatas d**a gue.
"Ini besek buat, sih, eneng," kata sih ibu yang memanggil gue tadi.
"Wah... aduh, jadi ngerepotin, nggak enak saya jadinya."
"Aish, sih, teteh ini kumaha atuh (gimana) eta henteu kunanaon (tidak apa-apa). Enggeus, dicicipin ya," ucap ibu yang berdiri di sebelahnya.
"Nuhun yaa Bu." Artinya terima kasih. "Tapi, Bu, emangnya ada acara apa, ya?"
"Nanti sore, 'kan ada acara hajatan syukuran anaknya pak RT. Jadi, siang ini, ibu-ibu lagi pada bagiin berkat selesai masak tadi."
"Owalah,"
"Yaudah, pamit dulu, ya, teh."
"Iya, Bu."
Di sini gue bukan terlahir sebagai seorang Muslim tapi seorang Kristiani dan gue hidup di lingkungan yang memang kebanyakan mayoritasnya muslim. Tapi, beberapa diantara lainnya, ada yang seagama dengan gue, ada yang agamanya Konghucu. Semua campur jadi satu dan yang berbeda tidak ada yang dibeda-bedakan. Kami hidup dengan rasa toleransi yang tinggi, saling menghargai satu sama lain. Seperti halnya yang dilakukan oleh ibu-ibu tadi. Walaupun gue nggak ikut acara syukuran anak bayi yang biasa dilakukan oleh orang Islam. Tapi, mereka mau berbagi berkat pada orang yang memiliki keyakinan berbeda dengan mereka.
Boy, anjing kesayangan gue ini daritadi gak berhenti menggonggong sambil menjilati kaki gue. "Sssttt, aku masuk dulu, ya. Jangan berisik." Dengan telunjuk menempel di bibir gue. Ketika gue ingin masuk ke dalam, suara klakson motor yang gue kenal, menarik perhatian gue untuk menoleh ke belakang.
"Hai!" Christhian melambaikan tangannya. Ada apa orang ini pake acara datang ke rumah gue segala?
* * * *
"Masa orang kaya makan aja susah," cibir gue, melangkah ke dapur. Menaruh berkat tadi di atas meja makan.
Dia datang, mengusap perutnya dengan gerakan memutar, satu tangannya menarik kursi kemudian duduk. Dia mencomot kue yang ada di dalam besek tapi tangannya mau gue pukul sempat gak kena karena dia udah tau pergerakan gue.
"Aku, 'kan ada chef, yang udah pasti makanan yang dia buat apapun itu bakal enak rasanya," goda dia buat gue jadi mual.
"Ngerayunya pinter banget."
"Beneran!" Jawabnya sok dengan nada meyakinkan. "Aku itu makan di rumah nggak tau, nggak selera aja. Ntah masakan, sih, simboknya atau emang gak ada kamunya atau emang bukan kamu yang masak...."
"Nih, makan!" Aku menaruh piring sampai terdengar suara supaya itu cowok bisa berhenti buat nggak gombalin gue. Dikata gue anak SMP, SMA apa yang dikit-dikit dirayu langsung baper.
Tian emang udah sering banget maen ke rumah gue kalo weekend gini. Biasanya kalo hari-hari lain dia kerja sebagai manager di perusahaan ayahnya sendiri. Untuk mencapai posisi yang tinggi, Tian memulainya dari bawah. Dari dia bekerja dulu di gudang sampai akhirnya dia bekerja dengan baik, dia bisa mencapai posisi tersebut padahal mudah saja kalau sudah bekerja di perusahaan keluarganya sendiri kalau dia mau. Tapi tipikal seorang seperti Tian maunya susah dulu baru seneng. Kalau udah ketemu susah terus nanti dia terjatuh lagi jadi nggak kaget, karena sudah merasakan pahitnya menjadi bawahan, memulai semua dari nol dan bekerja keras mati-matian. Baru setelah dia mendapatkan banyak pengalaman, dia akan membuka cabang di seluruh Indonesia, yang penting bagaimana dia bisa membuat perusahaan yang sudah keluarganya bangun---terutama papanya yang berperan besar---bisa maju dan bertahan.
"Nanti sore ada acara nggak? Mau ngajak kamu nonton, nih."
"Ehm..." Sambil menjilat sendok, bola mata gue menatap atap dan seolah sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Tian. Melirik cowok yang ada di samping gue dengan tatapan memohonnya dan gestur mulut yang ingin mengatakan,
"I...ya---"
"Nggak!"
"Hah? Nggak apa?"
"Iya... Nggak. Gue nggak bisa. Gue ada acara."
"Yah, Len, serius nggak bisa?"
"Dua rius malah." Gue mengangkat mangkok berisi buah tadi buat gue ngemil lalu mencucinya di wastafel. Dia mengikuti gue dan berdiri di samping gue.
"Emang nanti kamu mau ke mana, sih? Jalan sama siapa emangnya kamu? Cowok?" Beruntun dia bertanya sampai membuat dahi gue mengernyit. Terdengar sangat cemburu dan posesif sekali.
"Banyak banget nanyanya."
"Iya nggak, aku, 'kan pengen tau aja kamu mau ke mana, jalannya sama siapa, biar aku bisa ancang-ancang---"
"Mau apa? Lo mau apa kalo tau gue jalan sama siapa, ke mana, jam berapa perginya, hah!?" Gantian sekarang gue mulai nyolot duluan.
"Mau aku..." Wajahnya mendekat ke arah gue secara perlahan-lahan. "...cincang-cincang, aku robek-robek itu kulit perutnya, aku buang-buangin usus-ususnya, ku potong itu tititnya, siapapun itu pokoknya kalau ada yang berani deketin kamu udah aku pastiin langsung mati di TKP." Sampai gue nggak sadar, punggung gue sudah menabrak tembok ketika dia bicara malah gue mundur-mundur supaya wajah kami terus berjarak sebab dia berjalan semakin dekat dan semakin dekat.
Untuk beberapa saat napas kami saling menerpa wajah. Adegan ini tidak berlangsung lama seperti FTV yang lama saling menatap. Dengan gaya santainya gue, mendorong dadanya menjauh pakai kedua telapak tangan.
"Gak usah ngomong aneh-aneh." Gue lantas pergi dan dia mengikuti gue di belakang. Gue mengambil tas di dalam kamar sedang dia menunggu gue di ruang tengah, berdiri di depan tv. Lalu gue keluar, berdiri di hadapannya. "Sore ini gue mau ke rumah temen gue. Gue mau buat suprise untuk kepulangan suaminya."
"Aku boleh ikut?"
"Gue bilang nggak juga Lo bakal tetep keras kepala, 'kan?"
"Anak pintar." Sambil mengacak rambut pendek gue. Lalu berlalu dengan cengiran lebar dan gue cuma bisa geleng-geleng kepala.
* * * *
Eryna
Minggu ini aku dan suami berencana mengadakan makan besar bersama keluarga. Ibu mertua, juga adik dan kakaknya sebentar lagi akan datang ke rumah namun sekarang sedang dalam perjalanan. Sementara ibu dan ayahku sudah menginap di rumah dari kemarin karena mereka tinggal di Makassar sebab ayah ditugaskan di sana. Kakakku, Amira dan suaminya juga sudah dari jauh-jauh hari datang ke Bandung soalnya mereka tinggal dan bekerja di Yogyakarta.
Aku senang banget akhirnya aku bisa berkumpul lagi dengan keluarga. Kita sudah punya keluarga masing-masing, pertemuan satu sama lain pun jelas berkurang dan tidak seintens dulu. Terakhir kali, kita berkumpul ketika kami mendapatkan kabar duka dari saudara kembarku, teh Amira. Kalau dia sempat keguguran.
Satu hal yang paling kuat yang selalu kita tanam dari dulu, bahwa keluarga akan selalu ada untuk satu dari kami ketika sedang membutuhkan sandaran. Kita semua berangkat menuju ke Yogya untuk menemani kak Amira karena ia sangat terpukul dan harus menerima bahwa anak pertama yang dinanti sudah tiada. Mau itu suka atau duka, kita semua bersama-sama ada untuk satu sama lain. Seperti hari ini, mereka semua menyempatkan waktunya, jauh-jauh hanya untuk menghargai aku dan suamiku, dan ada dimoment-moment bahagia seperti saat ini.
Acara sebenarnya dibuat sederhana saja untuk merayakan kepulangan suamiku. Tapi tujuan dari acara ini sebetulnya sebagai tempat kami untuk menjalin tali silaturahim.
"Aku selalu degdegan kalau ibunya suami aku itu datang, suka takut masakan aku itu gak enak," ujarku mencurahkan isi hatiku pada teh Amira---sedang menata piring di hadapanku. Aku menghela napas panjang, ku pegang kepala kursi, menatap masakan-masakan yang tersaji di atas meja.
"Kamu itu jangan suka kebiasaan mikir yang aneh-aneh Ryn. Masakan kamu itu enak kok, top markotop! Aku kasih dua jempol buat kamu." Seraya mengacungkan dua jempolnya kepadaku. Teh Amira ini orang baik, suka membuatku merasa percaya diri. Terkadang aku suka merasa bersalah karena sering menyimpan rasa tak sukaku kepadanya. Padahal dia selalu mendukungku dari dulu, selalu menyemangati ku ketika aku sedang terpuruk. Tapi, aku tau hanya perasaanku saja merasa dulu nasib tak seberuntung dengannya, aku jadi membandingkan diriku dengannya yang selalu unggul. Iri itu semakin menjadi pada saat saudara dari keluarga besar selalu membanggakan teh Amira dan mengatakan aku harus mencontoh dirinya. Sudah cantik, karir bagus sebagai dokter, punya suaminya juga ganteng dan sama suksesnya siapa yang tidak iri dengan mereka.
"Nih, kalo perlu, ya, kita tantang ibu mertua kamu kalo dia sampe bilang masakan kamu gak enak, kita liat dia bisa masak kayak punya kamu atau gak. Atau jangan-jangan malah tambah parah lagi rasanya." Sambil tertawa, aku tau dia mencoba untuk membuatku terhibur.
"Teh Mira, ada-ada aja kalo ngomong. Gak boleh gitu, ah, kualat loh ntar."
"Ehh... Sudah-sudah malah ngobrol lagi, ini udah siap semua, 'kan? Udah gak ada lagi yang mesti disiapin?"
"Udah kok Bu, tinggal sekarang kita nunggu mereka dateng aja," jawab sih teteh.
"Dek," tiba-tiba Ammar datang. "Mamah sama yang lain udah pada dateng."
"Yaudah, hayuk atuh, kita sambut dulu mereka." Kata ibu. Yaallah aku degdegan banget. Masalahnya ibu suamiku ini orangnya terkenal judesnya, suka mengomentari apapun walau aku sudah melakukan sebaik mungkin sebagai seorang istri, aku bisa bilang begini karena pernah tinggal satu rumah sama ibu mertua di Jakarta. Mereka tinggal di Jakarta dan untungnya mau datang ke Bandung dengan perjalanan yang cukup lama.
Pertemuan kami memunculkan rasa hangat, saling memeluk dan anak-anak bergembira bisa bertemu dengan teman bermainnya. Kita langsung menuju ke meja makan. Sudah waktunya untuk makan bersama.
"Wah! Banyak banget makanannya," ujar Miyandra adik Ammar yang pertama, dia anak kedua dari tiga bersaudara. Ammar, Miyandra dan Ando. Miyandra datang bersama suami dan ketiga anaknya sedang Ando datang bersama pacarnya. Ayah Ammar sudah lama meninggal sewaktu dia masih remaja.
"Ini kamu yang masak Teh?" tanya Miyandra mulai memakan hidangan yang tersedia. Ada nasi tutug, karedok, nasi timbel, lotek macan, tutut bandung. Aku, ibu dan teteh masak makanan khas orang sunda, khas orang Bandung ya aku harap memang semoga cocok dengan lidah ibu yang berdarah Palembang.
"Nggak Ya, aku masak dibantu teteh sama ibu. Enak gak?" tanyaku harap-harap rasanya tidak mengecewakan. Soalnya aku memang dulu gak pandai banget masak, pernah dikomentari sama ibu mertua, aduh, rasanya langsung nyelekit di hatiku tapi aku gak nyerah. Aku mau terus belajar setelah tinggal berdua saja sama akang Ammar, suamiku. Dan sekarang untuk jaga-jaga aku minta bantuan ibu dan teteh buat bantu aku masak untuk ibu mertua.
"Ini semua masakan kamu?" tanya ibu mertua tiba-tiba.
"Bukan mah, aku dibantu sama ibu sama teteh."
"Ohh," balasnya cuek.
Sih teteh kulihat sudah tidak suka aja melihat respons ibu mertua yang terlihat songong. "Padahal saya mau nyicipin masakan kamu, udah ada kemajuan atau belum dari masakan kamu yang dulu."
"Anak saya sejauh ini udah ada kemajuannya, dia, 'kan belajar terus memasak walaupun belum sejago kita, saya yakin anak-anak sama suaminya sangat menikmati masakannya. Bener, 'kan nak Ammar," terang Ibu yang langsung membelaku.
"Iya, mah. Aku sama anak-anak juga suka banget sama masakan Eryna. Dia juga udah banyak belajar jadi istri yang baik dan ibu yang baik buat anak-anak."
Rasanya lega sekali hatiku mendengar pembelaan dari suamiku. Ia benar-benar memujiku di depan ibunya dan menutupi kekuranganku sebagai istri di depan semua keluarga.
"Yaudah Ando sama pacarnya ini siapa namanya?" tanya ibuku.
"Gina Bu," jawab Ando.
"Ando, Gina, Miya ayo tambah lagi. Pasti capek, 'kan perjalanan jauh dari rumah ke sini, ayok, tambah jangan malu-malu." Aku suka sekali dengan pembawaan ibu yang ramah dan mengganggap orang lain itu seperti anaknya sendiri. Penuh kasih sayang dan perhatian. Berbeda dengan ayah yang memang pendiam dan keras kepala. Dulu saja Ammar sampai kesulitan mendapatkan izin untuk menikahiku karena kerasnya ayah tapi sekarang dia sudah sedikit melunak hehe.
"Ammar, gimana pekerjaan kamu di sana, nak? Ada kesulitan atau gak?" Ibu mertua bertanya lagi dengan nada lembut dan penuh perhatian. Beda sekali pembawaannya bila bicara denganku. Sinis dan suka sekali mengintrogasi kalau bertanya.
"Kesulitan, sih, pasti ada mah.. namanya juga pekerjaan. Tapi selebihnya semua bisa aku atasi."
"Terus kamu Eryna, saya dengar kamu sampai sekarang gak ikut menemani suami kamu kerja di negara orang? Kamu masih tinggal di sini?"
"Anak-anak, 'kan sekolah di sini mah. Mereka belum bisa beradaptasi di tempat baru. Lagian aku juga ada kerjaan di kantor desa."
"Ya Tuhan! Harusnya kamu sebagai istri itu ikut suami kamu, ke mana pun dia pergi kamu mesti ada di sampingnya. Bukannya malah kerja di sini. Lagian emangnya gaji suami kamu itu belum cukup buat biayain kebutuhan kamu dan anak-anak kamu ini?" cecarnya seolah seperti mengompori.
"Mah, udahlah, aku gapapa yang penting komunikasi antara aku dan Eryn tetep berjalan lancar. Lagian dia di sini juga ngurusin Kartika dan Lestari." Suamiku mencoba menenangkan ibu yang selalu emosi bila bicara denganku.
"Mah ini bukan soal gaji, bukan soal uang. Tapi aku punya cita-cita yang belum aku capai sampai saat ini."
"Cita-cita apalagi? Yang mamah tau istri kerjanya di rumah bukan di tempat-tempat para lelaki. Kamu sebagai perempuan dan sebagai istri anaknya saya, tugasnya mengurus anak, suami, dan dapur. Cuman itu. Gak ada lagi. Kalo kamu mudanya belum puas sama karir yang pengen kamu raih, kenapa kamu memilih menikah?" Ibu memajukan sedikit badannya dan matanya menyipit tajam padaku yang duduk di hadapannya. "Ini artinya kamu belum siap untuk menjadi seorang istri."
"Mah udah..." Suamiku mencoba menyudahi obrolan ini.
"Mah dengar ini, saya sudah siap menjadi istrinya anak ibu. Lagian apa salahnya kalau saya bekerja di luar rumah? Apa sebagai perempuan, sebagai istri dari suami saya dan ibu dari anak-anak saya, apa saya tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerja, saya bekerja untuk mengabdi pada masyarakat. Itu niat saya mah. Saya bekerja tidak ada niatan lain, saya ingin sebagai perempuan juga bisa mandiri dalam mengurusi ekonomi, saya ingin belajar itu. Saya juga ingin membantu masyarakat dengan membagi kemampuan dan ilmu saya selama saya menempuh pendidikan. Salah semua yang saya lakuin itu? Toh, saya juga bisa membagi waktu antara pekerjaan saya dan mengurusi anak-anak, saya merasa mampu untuk membagi waktu saya dengan urusan saya dan urusan rumah. Tapi di luar semua itu, anak-anak dan suami tetap menjadi prioritas saya mah. Saya tau mana yang terbaik untuk keluarga saya." Jelasku panjang lebar, d**a bergemuruh menahan sesak, terasa lega ketika unek-unek yang kupendam bisa ku katakan.
"Kamu terlalu banyak bicara!" tukasnya. "Ammar kenapa juga kamu harus memilih istri pembangkang seperti dia?"
Ibu dan teteh nyaris ingin bersuara namun mereka tau etika untuk tidak memotong pembicaraan seseorang ketika sedang berbicara.
"Seharusnya kamu memilih perempuan yang penurut, kerjanya hanya di rumah saja dan tidak bertele-tele seperti dia, kamu sudah memenuhi tugasmu mencari nafkah untuk keluargamu tapi istrimu apa? Bahkan dia saja menolak untuk ikut pergi sama kamu ke luar negeri. Harusnya kamu, Eryn bisa...."
"Sudah cukup!" bentak suara ayah yang akhirnya bersuara setelah sejak tadi hanya diam dan mendengar perdebatanku dengan ibu mertua.
"Saya tegaskan pada anda, jangan ikut campur sama urusan rumah tangga anak kita. Mereka tau mana yang terbaik dan mana yang tidak."
"Benar," kini ibu mulai menambahkan. "Kita gak tau rumah tangga mereka seperti apa di dalamnya. Kita gak ada hak untuk mengatur-atur mereka. Sebagai orangtua, tugas kita hanya satu, mendukung keputusan mereka."
"Jelas kalian akan membela anak-anak kalian. Sudah! Ando! Miya! Gina! kita pulang sekarang."
Ammar berusaha untuk menahan ibu namun ibu tetap mau pulang. Ibu sempat juga berpapasan dengan Leonna dan temannya ketika keluar rumah. Namun, ibu hanya memerhatikan penampilan Leonna saja tanpa berkomentar apa-apa.
"Bang, udah, biar mamah itu biar gue yang urus. Lo tenangin aja teh Eryn, pasti dia sedih banget sama ucapan mamah."
Ammar menepuk bahu Ando dua kali. "Oke, gue serahin semuanya ke Lo."
"Bang, aku pulang ya." Miya memeluk singkat Ammar dan Miya juga Gina masuk bersamaan ke dalam mobil disusul Ando.
Semua yang sudah kusiapkan telah hancur. Niat hati mengadakan acara makan bersama untuk menjalin tali silaturahim tapi hancur karena perdebatan yang tak bisa kujelaskan lagi. Bagaimana hancurnya perasaanku hari ini.
* * * *
"Saya benar-benar minta maaf atas ucapan mamah saya... Saya..."
"Sudah Ammar, ini bukan salah kamu, mamah kamu juga tidak salah, dia hanya menyampaikan nasihatnya sebagai orang tua untuk anak-anaknya."
Ammar, ibu, ayah, Teh Amira bersama Lestari dan Kartika yang duduk di kedua sisi tubuhnya, dan Christhian, mereka berada di ruang tamu membicarakan masalah tadi. Lebih tepatnya mendengarkan Ammar dan ibu berdialog. Hanya Ammar dan ibu saja yang berdiri. Mereka dengan perasaan sama-sama tidak enak hati, lebih banyak diam, tak bersuara, takut bila salah-salah mengucap. Terlebih masalah tadi melibatkan dua keluarga yang saling bersinggungan di meja makan.
"Di mana Eryna?" tanya Ammar.
"Di kamarnya," jawab ibu. Ammar mengangguk singkat kemudian ia izin untuk pergi ke kamar.
* * * *
"Len apa selama ini yang gue lakuin itu salah? Apa gue belum pantas buat jadi istrinya Ammar?" Aku tidak bisa lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah kutahan mati-matian. Aku sangat bersyukur Leonna ada disaat aku sedang merasa sedih. Leonna siap mendengarkan keluh kesahku kapanpun itu.
"Ryn, semuanya bukan kesalahan Lo. Gak ada yang salah di sini, kalo menurut gue... Maaf banget ini maaaafff banget, mungkin... Ini semua hanya tentang masalah ego aja. Kita semua sama-sama mau yang terbaik. Lo diskusiin lagi ya sama suami Lo. Cuma kalian yang tau kemauan kalian masing-masing."
Ego? Rasanya aku tidak sadar bila memang yang dikatakan Leonna ada benarnya. Ini semua sangat dominan pada ego masing-masing. Tapi aku rasa yang egois ini bukan aku, tapi suamiku yang tidak pernah mau tau apa keinginanku. Hanya tentang dia dan dia saja. Aku tidak egois di sini tapi suamiku yang lebih egois.
Tetiba suara pintu terdengar, suamiku mengetuk pintu dan mendorong pintu tersebut dengan pelan. "Boleh aku masuk?" Seakan memahami apa yang suamiku inginkan saat ini, Leonna bicara padaku, "Gue pergi dulu, ya."
"Len," aku menahannya. "Gue butuh Lo." Aku memohon.
"Gue siap kapanpun Lo butuh gue, Ryn. Gue pulang, ya."
Leonna kemudian pergi dan hanya bertukar senyum pada Ammar.
"Ibu, saya pamit pulang dulu, ya." Christhian berdiri ketika munculnya Leonna.
"Leonna terimakasih udah mau datang. Maaf ya, kita udah lama gak ketemu tapi sekalinya ketemu, malah ada masalah kayak gini," ucap ibu merasa tak enak pada Leonna.
"Gapapa Bu, Leonna paham kok. Aku, 'kan bukan orang baru diantara kalian." Leonna menyalimi tangan ayah lalu berpelukan singkat sama teh Amira dan memeluk Kartika juga Lestari.
"Saya pamit ya, Bu."
"Iya, hati-hati nak."
"Saya juga pamit, Bu." Salim christhian.
[]