BAB - 17

4562 Words
Nadya Lelaki ketika dia berani menyentuh perempuan, ketika dia berani melecehkan perempuan, ketika dia berani merusak perempuan, dia adalah lelaki murahan. Orang-orang selalu menyematkan kata 'murahan' hanya untuk perempuan, tapi apa kabar dengan lelaki? Perempuan saat merendahkan harga dirinya disebut perempuan murahan. Lelaki pun sama ketika dia tidak bisa menjaga kehormatan perempuan dan malah justru merusak moral dirinya di hadapan perempuan, membuat perempuan kehilangan masa depan dan menimbulkan trauma yang dalam akibat pelecehan yang lelaki tersebut lakukan, bagiku dia lelaki murahan atau bisa aku sebut seperti binatang yang tidak punya akal.             Aku memang tidak pernah ada di posisi kak Dinda tapi dari kak Dinda aku belajar bagaimana aku harus bisa menjaga diriku, bagaimana aku harus bisa melindungi diriku, bersikap tegas dan berani pada orang yang berani melakukan hal yang merugikan pada tubuhku dan belajar untuk berani bersuara tanpa takut dengan pandangan orang.              Sebagai perempuan aku tidak mau dipandang lemah dan tidak bisa melawan. Selagi aku benar, aku akan lawan bahkan bisa aku permalukan.              Aku langsung masuk mobil. "Aduhhh.. muka itu kok ditekuk gitu, nanti cantiknya ilang, lho!" komentar asistenku, siap menyalakan mobil  Maya yang aslinya Mamat namanya sudah membuatku pusing saja. Tidak lagi mood aku lagi jelek.               "Udah Lo jangan banyak omong, cepet gue mau pulang."               "Eh, tapi sih cowok tampan itu mana, siapa, sih, namanya? Moca yaa eh... Marco, iya... mana, sih, Marco??" berondong pertanyaan ia lontarkan tapi mobil gak jalan-jalan. Aku lagi malas kalau harus marah-marah lagi. Cuma bisa memijat keningku yang terasa berdenyut. Tapi, saat mobil mau jalan, aku melihat gadis tadi keluar bersama lelaki dengan kulit putih dan tinggi menjulang sangat kontras sekali dengan gadis yang hanya sepantaran d**a lelaki itu berjalan beriringan.              "Tunggu sebentar," kataku pada asistenku. "Lo tunggu sini, gue mau keluar sebentar."              "Emangnya kamu mau ke mana Shay?" Tanpa memedulikan sih Maya alias Mamat, aku berlari menuju dua orang yang hendak masuk mobil.              "Hey tunggu!" seruku, mereka baru saja buka pintu tapi terheran-heran melihat kehadiranku. Gadis itu mendekatiku. "Kak Nadya? Ya Allah... Kak... Makasih banyak yaa sudah menolong saya.. makasih... Makasih, saya ndak tau harus balas seperti apa..." Aku menyudahi gadis ini untuk berhenti bicara. "Sudah... Sudah... Saya manggil kamu karna saya mau ajak kamu melaporkan perkara tadi ke polisi. Kamu siap?" Gadis itu diam. Terlihat ragu. "Kenapa?" tanyaku lagi. "Sepertinya masalah tadi gak perlu kita perpanjang." Aku tercengang. Bagaimana bisa dia enggan untuk melaporkan masalah tadi? "Ya... Tapi kenapa?" cecarku. "Saya takut, saya takut orang-orang nanti akan menggunjing saya." "Kamu takut karena pandangan orang lain?" tanyaku pelan-pelan menyebut satu per satu kata tapi dengan tegas intonasinya. "Kau ndak perlu takut Zahira, besok kito ka kantor polisi buat laporan." "Tapi Uda?" cicitnya ketakutan. "Udah.. udah, intinya besok kamu dengan saya pergi buat laporan, saya mau kasih hukuman jera buat mereka." Selepas aku menyampaikan keinginanku tadi, aku pun pergi. Aku tidak peduli dia takut atau apa, tapi kesalahan yang merugikan harus ditindak lanjuti dengan hukum. * * * * Zahira Kecanggungan meliputi antara aku dengannya. Rasa malu ku pendam sendirian yang akhirnya membuat aku enggan untuk bicara.              Aku ingin bertemu dengannya tapi bukan disaat kondisi seperti ini. Di hadapannya, aku seakan merasa tidak ada harga diri. Diam-diam aku kembali menangis lagi. Tanpa sadar, aku menggigiti bibir bawahku untuk menahan nyeri di hati. Sakit sekali.             Ia menghentikan mobilnya, entah apa maksudnya. Mengambil tisu, mendekat kepadaku lalu menghapus air mataku di wajahku yang telah basah kembali. "Kau sudah aman Zahira, kau ndak perlu takuik, Uda akan temani kau esok. Kito harus buek laki-laki itu jera."             "Bagaimano kalau ayah dan bundo tau masalah ini, mereka akan marah besar pada Zahira." Aku menutup wajahku, membayangkan bagaimana kalau ayah tau aku kerja di cafe dan berbohong selama ini sama dia dan juga masalah tentang anak perempuannya yang dilecehkan berkali-kali oleh lelaki. Ayah pasti akan menyeretku kembali pulang.              "Uda bakal bicara pada ayah kau." Perlahan kujauhkan kedua tanganku, menoleh ke dia. Apa yang akan Uda katakan?              Uda menyalakan mobil lalu menuju ke Jatinangor untuk mengantarkanku pulang. Bila saja pertemuanku dengannya bukan disaat aku mendapatkan masalah besar ini mungkin saja aku bisa melemparkan banyak pertanyaan kepadanya, tentang Zahra dan juga perempuan yang bersamanya tadi. Karena aku sudah dua kali melihat Uda bersama dengan perempuan itu. * * * * Baru saja aku masuk ke pekarangan kost-an, ayah datang dengan wajah berangkat hingga kami berhenti di tengah-tengah halaman dan aku langsung ditarik olehnya.            "Ayah.." lirihku, ayah menatapku seraya mengangkat satu jari ke atas. Menatapku penuh peringatan dengan maksud kata memintaku diam. Aku cuma bisa bersandar pada bundo, menelengkupkan kepalaku di dadanya.             Ayah menyatukan kedua tangannya di depan uda sambil memasang tatapan memohon. "Tolong, cukup sampai di sini sajo," ayah menggelengkan kepala berkali-kali. "Jangan dekati anak awak laiii."             "Ayahhhh..." panggilku emosi. "Bicara apo Ayah ini?"             "Zahira ayo kita masuk, sudah malam."             "Indak Bundo! Zahira infak nio masuk!" tolakku lirih.             Bundo menghadapkan wajahku padanya, "Zahira dengarkan Bundo," ia memberikan tatapan meyakinkan padaku bahwa semua akan baik-baik saja. Aku menoleh kepada uda yang hanya tersenyum tipis, ia juga meyakinkan bahwa semuanya tidak akan terjadi apa-apa. Bahwa ia meyakinkan kalau aku masih bisa bertemu dengannya. Kini, dengan percaya pada bundo dan uda aku masuk ke dalam kostan.             Di dalam kamar, aku mencoba untuk menenangkan diriku dengan bundo duduk di sampingku, merangkul ku, memberi dekapan hangat dan aman. Aku tidak bisa berhenti menangis. Aku takut kalau aku dengan uda tidak akan lagi bisa bertemu. Aku takut uda akan menjauhiku dan ayah semakin membuat tembok tinggi-tinggi antara aku dengan uda. Aku tidak bisa kalau harus jauh lagi dengan uda. Sungguh aku tidak bisa.               Suara gebrakan pintu menarik perhatian aku dengan bundo. Ayah muncul dengan hawa murka yang membuatku ketakutan.               "b***k kurang ajar!" Ayah nyaris mau menamparku kalau bukan bundo menjadi benteng sebagai pelindungku.               "Cukup! Ini sudah malam, jangan buat gaduh! Ayah ndak mau, 'kan kito diusir dari siko?" Tangan ayah terkepal, menatap tajam padaku yang langsung kutundukkan kepalaku karena aku sangat takut sekali. Ayah sangat marah padaku, dia bisa melakukan kekerasan terhadapku kalau bundo tidak menghalanginya. Aku merasa bundo sudah mulai berani menentang ayah demi melindungiku. * * * * Nadya Kasus pelecehan tidak bisa dibiarkan lebih banyak lagi. Aku ataupun perempuan-perempuan yang lain tidak boleh menjadi korban pelecehan oleh lelaki. Mengingat bagaimana rusaknya masa depan kak Dinda. Tiga lelaki yang memperkosa kak Dinda secara bergilir masih dipenjara. Bersyukurnya aku mereka bisa dijebloskan kalau perlu mereka hidup saja dipenjara selamanya. Masa depan kak Dinda sudah rusak bahkan mentalnya saja sampai sekarang belum bisa sembuh. Aku gak mau ada korban-korban yang lainnya yang merasakan hal yang sama. Aku ingat, apa yang menimpa perempuan ketika terjadinya pelecehan atau pemerkosaan pada tubuhnya, orang akan menganggap itu aib atau bahkan perempuan yang sudah tidak perawan sudah tidak ada lagi kehormatannya. Padahal, yang harusnya malu dan rendah adalah pelaku yang telah merenggut masa depan perempuan. Mereka tidak punya kehormatan karena melakukan hal keji yang menjijikkan. Kehormatan perempuan bukan ada pada di vaginanya. Bukan. Bagiku kehormatan perempuan ada dalam dirinya ketika ia tidak merendahkan harga dirinya sendiri tapi ia menjunjung harga dirinya dan betapa berharganya dirinya.               Gadis kemarin.. ehm.. aku gak tau siapa namanya, tapi aku lihat dia memang sangat ketakutan. Dia terlalu memedulikan apa kata orang.               Aku sudah siap untuk pergi ke kantor polisi. Berita mengenai kasus kemarin sudah tersebar di banyak media bahkan di dunia maya. Aku sudah tidak heran kalau kasus itu akan tersebar secepat itu. Aku public figure yang jelas akan banyak sorotan mengenai aku. Tapi, aku tidak khawatir karena banyak yang mendukung aksiku dalam membela perempuan itu. Bonusnya citraku semakin terlihat baik di mata masyarakat. Padahal yah aku tidak kepikiran kalau nantinya akan berujung seperti ini. Postinganku hari ini banyak dikomentari oleh warganet, mereka banyak memberikan spekulasi-spekulasinya, pendapat, kritik, bahkan lebih banyak pujiannya.               Hpku tetiba berdering. Ada panggilan masuk dari papa. Aku tau pasti papa sudah tahu tentang kasus yang menimpaku. Media itu cepat di era sekarang.               "Hallo?"               "Kamu lagi di Bandung?"               "Pertanyaan Papa itu sebenarnya udah jadi jawabannya. Langsung aja Papa kenapa hubungi aku?"               "Papa sudah dengar beritanya, apa kamu bakal pergi ke kantor polisi?"               "Jelas," jawabku yakin. "Aku mau jeblosin orang yang udah melecehkan aku. Dan dia harus dapet ganjarannya."               "Hentikan." Papa memerintahku. Senyumku hilang seketika setelah membayangkan betapa senangnya kalau aku sudah berhasil mendapatkan hakku sebagai perempuan. "Jangan kamu perpanjang lagi masalah itu, yang penting kamu itu baik-baik aja, kamu tau orang-orang akan menyalahkan kamu karena tubuh kamu sendiri, kamu bisa aja nantinya dicap yang tidak-tidak, media bakal membuat berita yang sebaliknya dan malah berujung merusak nama baik keluarga kita. Dan reputasi mama kamu? Coba kamu pikirin, gimana posisi dia sebagai pejabat politik? Makanya papa minta kamu sudah pulang, kamu bekerja di bisnis papa dan berhenti dari dunia entertainmentmu itu."               Aku tidak sangka papa justru malah memintaku bungkam? Kenapa papa tidak berpihak padaku tapi malah memilih memikirkan nama baik keluarga? Citra baiknya yang dimilikinya. Dia mau semuanya bersih begitu saja? Dia pikir dengan aku berhenti dari profesiku, kasus pelecehan itu pun bakal berhenti? Lalu kata-katanya seolah menunjukkan kalau tubuhku memang sudah biasa kalau mendapatkan perlakuan seperti itu?               "Ngomong sama Papa itu gak pernah nemu jalan keluarnya, ya. Aku gak bisa bayangin kalo aku tinggal sama papa, udah kayak di penjara tau gak!"               Apakah seorang ayah bisa mewajari pelecehan pada anaknya sendiri? Astaga. Aku gak habis pikir. Tapi, gak heran juga karena banyak ayah kandung sendiri yang melecehkan anaknya sendiri tapi papaku lain lagi, dia malah memintaku untuk menutup mata rapat-rapat seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sudahlah tanpa pembelaan dari papa pun aku bisa bertindak sendiri. Aku sudah terbiasa melakukan sesuatu tanpa dirinya. Dia hanya sebatas membiayai pendidikanku sampai jenjang kuliah dan lepas dari itu, akulah yang bertanggung jawab atas hidupku seutuhnya.               Aku keluar kamar. Nenek, kakek dan mbak Laras menatapku penuh khawatir. Dengan layar tivi yang sedang memberitakan tentangku.               Model cantik Nadya Aura Amelia dilecehkan oleh segerombolan lelaki di cafe, tepatnya di Bandung pada malam hari. Akibat menolong seorang perempuan yang dilecehkan oleh lelaki anak dari pemilik cafe yang diketahui tempat kerjanya perempuan yang masih menyandang status mahasiswi di salah satu Universitas ternama.               "Nadya... Nenek beneran sangat khawatir sama keadaan kamu," ucap nenek menarikku untuk duduk di tengah-tengah nenek dan mbak Laras.               "Gak ada yang harus nenek khawatirkan. Aku bisa atasi masalahku karena banyak orang yang mendukungku," terangku mencoba menenangkan nenek.               "Tapi Mbak Laras, ya, Nad, udah liat videonya di lambe turah, sumpah deh kamu hebat banget, berani ketika ada lelaki yang mau melecehkan diri kita," ujar mbak Laras penuh takjub.                "Tapi kamu juga harus hati-hati Nadya, sekarang jamannya udah bahaya. Kakek takut kamu kenapa-napa apalagi kamu ini, 'kan public figure."                "Iya, kek," jawabku. Asistenku sudah siap dengan koper yang sudah ia masukkan ke dalam mobil. Selepas urusanku selesai di kantor, aku bakal pulang ke Jakarta untuk mengurusi pekerjaanku. Aku bersyukur punya mereka bertiga yang masih setia ada di belakangku. Seandainya saja aku masih bekerja sama dengan Dwita---mantan managerku itu, pasti dia juga sama halnya seperti papa. Pasti Dwita juga mewajari kasus seperti ini.                Kita semua berdiri dan saling berpelukan. Aku harus berpisah lagi dengan mereka. Mbak Laras menangis sesenggukan. Aku juga ikut sedih apalagi aku harus berpisah lagi dengan kakak perempuanku. Sejarah apapun aku dengannya tetap saja aku tidak bisa benar-benar meninggalkannya. Marco benar. Kak Dinda butuh aku. Dia sangat membutuhkan aku. "Sebentar, aku mau ketemu sama kak Dinda dulu." Nenek dan kakek tersenyum penuh arti sedangkan mbak Laras sangat berlegah hati.               Di depan pintu kamarnya, aku sejenak diam lebih dulu. Aku mencoba menetralkan emosiku, aku sudah bertekad meneguhkan hatiku akan ada terus untuk kak Dinda tapi nanti, bukan sekarang. Karena sekarang ada keinginan yang harus aku capai, ada ambisi yang harus kukejar.               Dia masih di tempatnya. Dalam penjara dipikiran yang penuh racun yang sulit disembuhkan karena masa depan baginya telah rusak dan tidak ada lagi tempat untuknya. Perlahan aku berjalan ke arahnya. Ia tidak bisa melihatku memang tapi aku yakin dia bisa merasakan kehadiranku sebab kita berdua terikat. Nadya dan Dinda saling terikat dan tidak mungkin bisa dipisahkan lebih jauh lagi atau lebih lama lagi. Kulepaskan kalung pemberian dari mama dengan huruf N sebagai tanda namaku. Nadya.               Kalau dia benar-benar membenci hidupnya, tidak mungkin dia masih memakai kalungnya dengan huruf D dari namanya Dinda. Aku tahu, aku sangat yakin, dia masih percaya kalau masih ada harapan untuk kembali mencari secercah cahaya dari kegelapan yang membuat kita tersesat. Tuhan ada bersama kita, kak.               Aku berdiri di sampingnya. Kuletakkan kalung itu dalam telapak tangannya tanpa menyentuh sedikitpun kulitnya. Percayalah, kalung ini sebagai tanda aku ada di dekat kak Dinda. Aku ada bersama kakak. Bersabar ya kak, aku akan kembali pulang. Aku lekas pergi meninggalkan dia. Menutup pintu rapat-rapat seraya memejamkan mata. Aku tidak melihatnya tapi aku merasa, ia menerima yang kuberikan. Menggenggamnya kuat dan memakaikan kalung itu di lehernya di tempat yang sama di mana kalungnya terpasang. N dan D saling mendekat dan terikat dan melekat. Aku melambaikan tangan ke arah kakek, nenek dan mbak Laras yang turut sedih melepaskan kepergian ku. Namun, aku cukup lega dan senang ketika mataku menangkap kak Dinda di atas sana. Di jendelanya yang terbuka. Aku bisa melihat kak Dinda duduk di atas kursi rodanya. Tatapannya turun ke bawah walau penglihatannya gelap. Aku tahu dia bisa melihat diriku dari dalam dirinya. Mobil perlahan keluar dari pekarangan. Aku tidak bisa menjangkaunya lagi namun aku yakinkan perpisahan ini hanya untuk sementara saja. * * * * Zahira            Di satu ruangan yang sangat besar, aku berdiri di depan orang-orang penting yang memiliki jabatan di kampusku dan mahasiswa juga mahasiswi yang menyaksikan suatu penghargaan akan diberikan kepadaku untuk kesekian kali membuatku memang sedikit demi sedikit bisa lebih percaya diri. Terlebih aku yang berasal dari kalangan ekonomi ke bawah, bisa menunjukkan kalau yang finansialnya terbatas bisa berprestasi. Asal ada kegigihan dan kemauan. Meminta pada Allah dan pasti akan diberikan.             Aku mendapatkan penghargaan sebagai juara I Lomba Tulis Karya Ilmiah tingkat Nasional. Suatu kebanggaan akhirnya namaku masuk ke jajaran mahasiswa berprestasi utama di kampusku. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ada rasa kebanggaan yang sangat berarti dalam hidupku ketika aku bisa menunjukkan pada ayah dan bundo yang ikut menyaksikan aku diberikan penghargaan dari rektor kampusku.             "Anaknya ya pak?" tanya seorang dosen pada ayah. Ayah sedikit terkejut ditanya oleh pria yang duduk di sebelahnya. Ia mengangguk kikukz tersenyum kaku. "Hebat anaknya, juara terus kalo lomba. Banyak, lho, Pak prestasinya. Pasti Bapak bangga banget yaa sama Zahira. Punya anak perempuan yang cantik dan pintar lagi. Paling aktif di kampus itu Pak tapi nilainya bagus walaupun ikut banyak organisasi. Hebat!" Ayah cuma tersenyum singkat, berat. Mungkin bingung harus bereaksi seperti apa. Ayah tadinya tidak mau datang ke kampusku tapi bundo membujuknya terus, supaya mata ayah bisa terbuka lebar tentang mimpi anaknya. Dan ayah menuruti apa kata bundo walaupun setengah hati.             Sejak tadi aku hanya fokus pada ayah, pada reaksi ayah, pada muka mimik ayah. Di saat orang bertepuk tangan saat aku berjabat tangan dengan pak rektor ketika menerima piagam, ayah seperti malu-malu memberikan tepukan tangan untukku tapi aku hanya menampilkan senyuman lebar, senyuman rasa kebahagiaan yang tidak bisa dibayar oleh apapun itu. Berarti, sangat berarti. Aku tidak tahu harus mendeskripsikan rasa bahagia ini seperti apa, tapi jelas hari ini Allah seperti memberikan apa yang aku inginkan. Menunjukkan keberhasilanku di kampus pada ayah kalau aku memang benar-benar serius dalam pendidikan.              "Bundo bangga padamu nak." Aku dan bundo berjalan beriringan sambil membicarakan momen tadi. Bundo sangat bangga sekali kepadaku bahkan ia tidak henti-hentinya memujiku, sedangkan ayah berjalan di belakangku. Dia hanya diam. Tidak sekalipun mengeluarkan suara bahkan memberikan kata selamat pun tidak. Sakit rasanya karena aku berharap, ayah bisa mengatakan sesuatu untuk membuat kebahagiaan ini bisa terasa lebih lengkap.              "Yah," panggil bundo menoleh ke belakang. Lantas ayah yang tadi sempat membuang muka waktu aku juga ikut melihat ke belakang, bersikap acuh tak acuh. "Ndak nio ucapko salamaik samo Zahira?" tanya bundo lembut tapi nadanya sedikit menegur sikap ayah. Ayah tidak menggubris pertanyaan bundo sama sekali. Itu yang akhirnya aku memilih untuk gak menatap ayah lama-lama karena harapan itu semakin besar bila ditunggu padahal aku sudah tahu akhirnya bagaimana.               "Salamaik Nak," kepalaku yang tadi tertunduk lemas kini kembali mendongak. Senyum yang tadi hilang kini kembali muncul bersamaan dengan mataku yang terbelalak. Aku berbalik badan, tak bisa lagi menahan  rasa haruku saat ayah panggil aku dengan sebutan 'Nak'. Kupeluk ayah walau ayah tidak membalas pelukanku dengan sama eratnya, hanya menepuk-nepuk punggungku dengan satu tangan. "Tarimo kasih ayah.... tarimo kasih," ujarku berulang-ulang sangking senang campur harunya yang sulit untuk diutarakan dengan kata-kata.              Kulepaskan pelukan itu meskipun enggan rasanya karena aku tidak tahu kapan lagi aku bisa memeluk ayah? Ayah masih bersikap kaku dan dingin tapi tak apa, pelan-pelan hati ayah pasti akan luluh. Aku menoleh pada bundo yang menyaksikan kami sejak tadi, ini semua karena bundo yang berinisiatif menyatukan antara anak dan ayahnya. Aku sangat berharap ayah bisa memahami ku nantinya.              "Ayo, kito pulang," ajak bundo. Tapi yaa teman-temanku, Ninda, Yunda, Akbar dan Ilham datang dengan heboh. Ilham membawa bucket bunga sangat besar untukku. Mereka juga salaman dengan bundo, dan ayah meskipun ragu dan takut akan mendapatkan penolakan tapi ayah tetap merespons dengan wajah datar dan aura yang jutek, dingin. "Bundo sama Ayah pulang sajolah dulu, nanti awak menyusul," kataku meminta mereka pulang lebih duluan pakai angkutan umum, aku tidak mau mereka menungguku lama-lama sebab aku ingin berbincang-bincang sebentar sama empat temanku dan juga ada keperluan yang harus aku selesaikan.                "Bakal calon cumlaude Zahira, mah, gak ada yang perlu diraguin lagi," celetuk Akbar memasukkan bakso ke dalam mulutnya yang masih penuh. Aku sebenarnya tersipu malu karena terus-menerus dipuji tapi aku mengaminkan ucapan-ucapan baik mereka terhadapku.               "Kuliah dari gue masih jadi maba sampe sekarang gak pernah ada prestasi. Iri aku tuh," ucap Ilham sok dramatis. "Uwuuuuuhhh..." Sambil bercanda-canda.                Ninda menceletuk, "benerin dulu itu nilai kalian berdua, lupa apa nilai mata kuliah pak Yoyo punya kalian kosong?" Ninda sama Akbar langsung pasang muka suram. Bagaimana tidak, Akbar saja tidak lagi berselera makan baksonya karena diingatkan pada kewajiban yang malas ia kerjakan. Namun, aku, Ninda, Yunda cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa saja.               "Kalian punya temen pinter itu dimanfaatkan, lah," seru Yunda.               "Iyo, sudahlah tenang, kan ada sih juara kita," timpal Ninda riang.                "Iya... Nanti awak bantu kerjakan tugas kalian Yo." Akbar dan Ilham langsung pasang senyum Pepsodentnya. Mendadak saat aku mau mengeluarkan hp, mataku tak sengaja menatap segerombolan perempuan yang duduk di meja pojok menatap sinis padaku sambil nunjuk-nunjuk ke arahku dan berbisik-bisik layaknya sedang membicarakan orang.                "Kenapa Ra?" tanya Yunda. Aku berdeham, "hm... Nggak apa-apa."                "Eh, Ra, kamu sudah dengar belum berita model cantik dilecehkan terus nyaris mau dilempar botol, tapi dia gara-gara menyelamatkan pelayan cafe yang dilecehkan, beritanya udah masuk di tivi, lho?" Dia menunjukkan HP-nya, memberitahuku tentang akun gosip yang menyebarkan berita tersebut tapi berita ini pun tersebar di akun-akun besar lainnya dan katanya sudah masuk media tivi. Aku tidak tahu apa-apa karena aku sendiri tidak punya akun sosial media apapun apalagi tivi, aku jelas jarang menonton tivi walau ada di kostan, di ruang tamu.              "Perempuan yang pake seragam hitam ini, yang ada di video itu... itu beneran kamu Ra?" tanya Ninda, memastikan kalau video itu adalah aku. Aku tidak bisa cerita, aku bingung juga harus mulai dari mana. Mereka tahu kalau aku memang bekerja di cafe itu tapi tentang aku dilecehkan jelas aku tidak pernah cerita pada siapapun. Aku tidak banyak bicara dan mereka sepertinya juga enggan bertanya lebih jauh karena mereka sangat paham kalau aku belum siap cerita, yang jelas aku diam tandanya iya dan aku harap mereka bisa mengerti kalau aku belum siap untuk bilang karena aku sendiri masih tertekan dan masih perlu banyak mencerna apalagi rasa takutku kalau berita ini sampai terdengar di telinga ayah, akan sangat sulit bagiku untuk mendapatkan hati ayah lagi, aku takut sikap ayah akan berubah lagi. Dan aku takut juga membuat bundo bersedih hati.              "Ra... kamu dipanggil sama pak Rektor, ditunggu di ruangannya." Salah satu teman sekelas kami datang dengan kabar yang menegangkan untukku dan juga untuk keempat temanku. Aku pamitan pada mereka, sebelumnya mereka memberiku semangat dan ingin menemaniku tapi aku menolaknya sebab aku tidak mau merepotkan mereka. Sampai di ruangannya, pak Rektor memang sudah menungguku dan aku diminta duduk di hadapannya.              "Saya sudah dengar berita tentang kamu." Aku menundukkan kepala. Aku takut kalau aku akan mendapatkan sanksi karena jelas aku mahasiswi di kampus ini dan aku punya tanggung jawab untuk menjaga nama baik kampusku.              "Apa... Saya bakal kena sanksi Pak?" tanyaku takut-takut.              "Sebenarnya ini akan mempengaruhi nama baik kampus kita, tapi saya tidak akan menghukum kamu karna jelas kamu tidak bersalah tapi kamu menjadi korban dari pelaku yang udah buat masalah. Saya minta kamu untuk berani bicara pada media, kamu harus berani bersuara. Nama baik kampus itu tanggung jawab bersama, tapi nama baik kamu itu tanggung jawab kamu sendiri. Saya akan mendukung kamu karna saya tau betul kamu bukan perempuan yang tidak-tidak," jelasnya panjang lebar, yang sampai sekarang aku tidak bisa berkata-kata. Aku merasa ada orang kuat di belakangku yang bersedia melindunginya dan mendukung para perempuan yang menjadi korban pelecehan. Bukan yang menyalahkan perempuan yang menjadi korbannya.             "Itu, sih, emang dianya aja cewek gak bener,"             "Masa malem-malem kerja nganterin minuman, sih? Gak bener udah gitu masa mauan aja digrepe-grepe, jelas banget kok videonya dia gak ngelawan, berarti dia juga mau, 'kan dianu-anu sama itu cowok."             "Yah, cowok gak bakal nafsu lah kalo ceweknya gak mulai mah. Siapa tau aja emang ceweknya yang kegatelan."              "Gila gak nyangka ya gue, padahal dia berprestasi, lho."              "Eh... Eh... Itu, 'kan orangnya, Zahira... Zahira itu." Sudah kuduga hal ini pasti akan terjadi. Banyak orang yang pada akhirnya menyalahkan ku atas kejadian yang mereka lihat sebatas apa yang terlihat tanpa tahu kenyataannya terlebih apa yang kurasai. Saat aku berjalan dengan kepala tertunduk, melewati tiap pasang mata yang mengintimidasi. Aku seperti binatang yang menjijikkan untuk harus dijauhi atau bahkan hama yang perlu dibasmi. Aku seperti terpenjara seakan aku adalah seorang terdakwa padahal aku korban di sini. Tapi, kenapa mereka malah menggunjing diriku tanpa mau membantuku atau bahkan mendukungku untuk setidaknya bisa lebih berani? Mereka menyalahkan ku atas dasar apa? Padahal mereka perempuan yang seharusnya lebih tahu tentang perasaan perempuan lainnya ketika disakiti.              Aku menunggu di depan kampus, nanti akan ada mobil yang menjemputku. Tiba-tiba, hpku berdering. Ada panggilan masuk dari Mariana. Tanpa sadar, bibirku tertarik membentang. Membentuk senyuman. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya karena kesibukan kami masing-masing yang dibebani oleh tugas kuliah.              "Hei! Zahira saya baru dengar tentang berita kamu, nih, tadi di tipi. Itu benar kah?" Aku sudah menduganya kalau Mariana pasti sama halnya dengan yang lain, mencecarku dengan pertanyaan yang sama, memastikan bahwa video tersebut itu aku walau aku tahu mereka berharap itu bukanlah aku tapi pada kenyataannya, diriku lah yang ada di sana.               "Iya, Mar... Itu aku yang ada di video yang kamu liat," lirihku lemas.               "Ko pasti sedang tra baik-baik saja toh? Saya siap ada saat kamu butuh Zahira." Tenang sekali dengarnya. Omongan-omongan yang menyakiti hatiku lenyap sudah saat ada orang lain yang lebih mengulurkan tangannya untukku raih agar bisa bangkit kembali. Aku menangis tanpa kusadari. Air mata sudah jatuh tanpa bisa kucegahi. Sakit sekali hati aku ketika banyak orang yang membenciku atas kesalahan yang tidak kulakui. Semudah itu menyalahkan diriku, siapa, sih, orang yang menginginkan kejadian buruk menimpa dirinya sendiri? Aku pun tidak mau kejadian seperti ini terjadi.              "Makasih, Mar," isakku. Mariana hanya diam. Iya tidak banyak bicara. Ia sangat paham kalau aku hanya butuh kesiapan dan hanya butuh didengarkan tanpa diberi pertanyaan yang seolah membuatku terpojokkan. "Nanti aku cerita kalo aku sudah tenang, yoo." Mariana mengiyakan dan sambungan putus. Aku segera menghapus air mataku karena tidak ingin menjadi pusat perhatian dari siapapun. Aku menarik napas dalam-dalam. Ada kenyataan yang harus aku hadapi. Ada masalah yang harus aku selesai. Dan ada rintangan yang bergejolak yang harus aku lalui.               Tibalah mobil datang di hadapanku. Aku langsung masuk ke dalamnya. Uda Adit menyapaku yang hanya kubalas senyuman tipis saja.              "Kau sudah siap?" Aku menoleh yang kemudian mengganggukkan kepala. Kita pun langsung menuju kantor polisi. Ini untuk kali pertamanya aku masuk ke tempat yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Sampai sana aku bertemu dengan kak Nadya tengah bicara bersama perempuan yang kemarin yang menampar Beno.              "Dia itu siapanya Beno?" tanyaku spontan pada Udo saat melepas sealbelt.              "Kakaknya, namanya Larissa," jawabnya. Jantungku berdebar ketika tatapan mereka berdua tertuju padaku. Mereka punya aura yang kuat, aku merasa minder karena aku tidak seberani kak Nadya tapi aku harus tunjukkan kalau aku bisa.  []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD