BAB - 18

3111 Words
Nadya Ini kali pertamanya aku diperiksa oleh penyidik. Di sampingku ada gadis ini. Seharusnya satu per satu diperiksa tapi entah apa alasannya, mungkin kalau berdua, penyidik bisa tahu bagaimana cerita yang sebenarnya.              Gadis yang aku tahu namanya Zahira ini menceritakan detailnya dari awal sampai aku pun menceritakan bagaimana aku bisa terlibat. Semua yang memeriksaku adalah pria. Mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku kesal dan seakan memojokkan kami.              "Kamu yakin gak melakukan sesuatu yang mengundang lelaki untuk melakukan hal yang gak senonoh itu?" tanya pria tersebut pada Zahira yang tertunduk takut.              Zahira menggelengkan kepalanya. "Saya hanya melakukan pekerjaan saya, memang... memang sebelumnya dia juga pernah melecehkan saya. Saya punya saksinya hanya saja sa---saya tidak melaporkan kejadian itu," ujarnya terbata-bata. Ia ketakutan, ia merasa diintimidasi karena sedang diintrogasi.              "Dan anda, juga tidak melakukan...."               "Saya tidak pernah melakukan sesuatu hal yang membuat rugi diri saya. Bisa anda pahami kata-kata saya? Peran saya di sana hanya menyelamatkan gadis ini tapi sayangnya ada omongan dia yang telah merendahkan diri saya, dan itu mengarah ke seks artinya dia telah melecehkan saya," jawabku lugas dan tegas. Tidak ada rasa takut ketika diintrogasi. Tidak seperti halnya Zahira. Saya mendengus sebal melihat gadis ini yang terlalu takut mengatakan kebenaran. Kalau dia mengatakannya takut-takut seperti ini yang ada nantinya tidak ada yang percaya dengannya. Mentalnya memang sangat lemah.               "Tapi menurut saya wajar kalo kalian dilecehkan, gadis yang satu ini manis, cantik pula. Dan yang satunya model dengan tubuhnya sangat sexy, jadi bukan salah lelaki yang nafsu kalau melihat kalian. Saya sendiri jadi nafsu melihat kamu Nadya secara langsung," katanya sih pria A ini.                "Hahaha! Benar, saya juga hanya bisa melihat kamu dari sosial media dan tivi," timpal Pria yang lebih baik kusebut B untuk yang lainnya.               "Masalah ini sebenarnya bisa dilewati pakai jalan damai, sudah maafkan saja toh normal mereka melakukan itu terhadap kalian... perempuan, 'kan memang makhluk yang paling indah bukan? Kalian memang dikaruniai dengan bentuk tubuh yang memang bisa menarik perhatian lelaki. Jadi, gak ada yang salah?" Usai sih pria C atau pria ketiga ini bicara aku langsung menggebrak meja hingga mereka yang ada di ruangan ini kaget serempak.               "Serendah itu ternyata lelaki seperti kalian, gak ada bedanya kalian dengan mereka. Kalian pikir tubuh perempuan itu objeknya seks para lelaki?" tandasku emosi. Melepas sudah amarah aku sejak kutahan dari tadi, mudahnya mereka bicara seperti itu. Aku jujur, benar-benar merasa ditelanjangi oleh mereka bertiga. Seperti tidak ada harga dirinya aku di depan mata mereka. Ini hinanya diri aku atau hinanya pikiran mereka? Dari tadi aku tidak mendapatkan pembelaan atau pertanyaan yang bisa membuatku menjawab bahwa perempuan harus terlepas dari belenggu pelecehan seksual yang dilakukan lelaki-lelaki biadab di luar sana.               Lalu sih pria pertama tadi gantian menggebrak meja berapi-api. "Jangan bicara lantang di depan saya!"              "Dan anda jangan macam-macam sama saya, saya punya orang-orang kuat di belakang saya yang bisa saja membuat anda kehilangan pekerjaan anda sendiri," balasku telak. Mendengar ancamanku, pria B ini membisikkan sesuatu pada pria yang berdiri di hadapanku ini. "Dia anak sambungnya ibu Helma?" Oh, jadi mereka membicarakan aku sebagai anak tirinya dari ibu Helma, pejabat politikus yang kini telah diangkat menjadi menteri setahuku dari papa yang pernah bilang kepadaku tapi sudahlah, aku tidak terlalu peduli tentang itu, tapi kalau mereka takut hanya karena di belakangku berdiri seorang ibu dengan punya kuasa sebagai petinggi negara, aku rasa itu tidaklah terlalu buruk. Juga itu yang memperlancar urusanku kini. Baru sadar kalau ternyata perempuan itu ada gunanya juga walaupun dia adalah ibu tiri yang tidak bisa kuterima kehadirannya.               Urusan dengan penyidik sudah selesai. Proses hukum akan terus berjalan. Aku tetap menuntut mereka tanpa keringanan, yah mungkin bisa saja sewaktu-waktu aku lepas tuntutan itu tapi yang namanya pelecehan, yang namanya kesalahan, mereka harus terima konsekuensinya lebih dulu. Aku mau mereka belajar kalau perempuan tidaklah serendah itu. * * * * Zahira              "Saya minta maaf atas kesalahan adik saya, sebagai rasa tanggung jawab saya, karena itu saya tidak akan memberikan pembelaan pada kesalahan yang dia lakukan walaupun dia adik kandung saya sendiri," suara tegas dan penuh kepercayaan diri ini berasal dari Larissa. Namanya memang lembut tapi dia ternyata orang yang berkharisma dan sepertinya disegani di lingkungannya atau pada orang-orang yang belum terlalu mengenalnya.              "Sebenarnya kasus ini sangat membuat saya kerepotan yah, tapi ya sudah... yang penting saya mau kasus ini tetap diurus tuntas dan jangan sampai lengah," ujar kak Nadya dengan sedikit gayanya yang angkuh.          Sedangkan kalau pembawaan kak Nadya memang orangnya tegas tapi ada satu waktu dia akan terlihat sombong dan dia pasti orang yang sangat keras kepala dan tidak mau terkalahkan, dia tidak ada sisi lembut seperti kak Larissa.               "Di depan ada media yang mau meliput kalian," kata Uda Adit. Aku tidak tahu harus gimana tapi jelas Uda Adit melihat reaksi ketakutan ku. "Tapi sebaiknya Zahira tidak perlu harus diliput," lanjut Uda yang membuat aku bernapas lega setelahnya. Aku tau Uda tahu kekhawatiran ku. Aku juga masih sangat-sangat takut kalau ayah tahu masalah aku ini bagaimana?               "Kenapa dia gak diliput? Ini juga, 'kan kasus dia?" tanyanya marah. Aku diam saja, aku tidak terlalu berani menjawabnya, entahlah aku berada di antara mereka merasa kecil sendiri dan yang paling takut. Aku tidak bisa membayangkan wajahku terpampang di televisi dan orang tuaku melihatnya belum lagi orang kampung melihat Zahira yang sudah buat malu lari di pernikahannya demi mengejar pendidikannya sekarang mereka tahunya keadaanku sekarang terjerat kasus pelecehan dan apa yang akan mereka pikirkan? Mereka pasti berpikiran yang buruk kepadaku. Sebelum aku benar-benar pergi dari kantor polisi, aku sempat melihat Beno menembus para wartawan dengan ia memakai masker untuk menutupinya dan dua polisi yang menjadi pengawalnya.               "Zahira sebaiknya gak perlu diwawancara sama media," Uda menarik tanganku tiba-tiba selesai melihat keramaian di luar sana dari dalam sini. "Larissa aku minta tolong sama kamu, ya." Senyuman kak Larissa kok hangat ya? aku merasa auranya agak berbeda saja kalau dekat sama Uda. Sebenarnya dia siapanya Uda sih?               Uda memintaku untuk lewat ke belakang saja dan Uda akan membawa mobilnya masuk gang yang ada di belakang kantor polisi. Di sini tempatnya sepi dan pastinya aman dari kejaran media. Dua perempuan itulah yang menghadapi media karena ya aku rasa mereka lebih cocok untuk bicara dengan para wartawan sedangkan aku? Pasti lebih banyak diam, menunduk dan takut.                Aku segera masuk ke dalam mobil dan Uda segera melaju dari sana. Fyuh! Aku rasa seperti buronan saja. "Nio jalan sabanta? (Mau jalan sebentar?)" tanya Uda Adit setelah terkekeh melihat ekspresi panikku. Aku menatapnya setengah ragu, kalau ayah tahu bagaimana? "Udah jangan kebanyakan mikir, Uda nio mangecek samo kau." (Udah jangan kebanyakan mikir Uda mau bicara sama kamu)               Lantas kita pergi jalan-jalan menelusuri kota Bandung. Lebih tepatnya kami pergi ke tempat yang sangat menenangkan, tempat yang membawa kita seakan berada di Eropa. Namanya jalan Braga. Salah satu destinasi wisata yang terkenal di Bandung, jalan Braga ini didominasi dengan nuansa khas klasik Eropa. Jalanan ini sudah ada sejak zaman kolonial masa pemerintahan Hindia-Belanda. Di sepanjang pinggiran jalan, banyak dipasang lampu-lampu hias bak seperti Eropa. Di sisi kanan kiri jalanan terdapat bangunan-bangunan yang seperti Eropa yang dipertahankan sejak dulu hingga sekarang.              Kita beristirahat di pintu belakang mobil yang sengaja dibuka untuk kita duduk di dalamnya, menghadap udara bebas. Memerhatikan sepanjang jalan orang-orang yang berhilir mudik, melihat para wisatawan yang berkunjung ke mari.            "Larissa itu siapanyo Uda?" tanya sangat-sangat penasaran.            "Larissa itu dulu mantan paca nyo awak sebelum Uda menikah dengan almh. istri Uda." Aku manggut-manggut. Jelas dalam diriku, aku sangatlah tak menyangka kalau Larissa adalah mantan pacarnya. Sebenarnya aku mau bertanya lagi tapi aku terlalu malu untuk banyak bertanya kepadanya. "Inyo cinto partamo Uda." (Dia cinta pertama Uda)              Uda menyeringai geli saat mengatakannya kemudian menatapku dengan arti yang tak bisa kujabarkan. "Tapi... Kito berpisah karano kito bedo agamo," sambung Uda. Mereka berpisah karena agama yang berbeda, bagaimana dengan aku? Tidak bersama Uda saja aku sudah dipisahkan oleh status sosial, bagaimana kalau sudah bersama? "Dek Uda biso batamu samo Larissa?" (Kenapa Uda bisa bertemu sama Larissa?) "Larissa tingga di siko." "Inyo lah parnah menikah?" (Dia sudah pernah menikah) tanyaku penasaran, apakah dia sudah punya suami atau belum? Yang kulihat dia sepertinya tidak jauh beda umurnya sama Uda. "Alun," jawab Uda. 'Belum' artinya. Dalam hatiku meringis. Aku sudah mikir macam-macam kalau... kalau aku takut Larissa dekat sama Uda. Aku punya perasaan saja nantinya Larissa akan menjadi sainganku apalagi Larissa belum menikah, bisa saja sewaktu-waktu pernah Uda yang dulu bersemi kembali.             "Beno itu adiaknyo Larissa." Aku tidak mau tahu tentang lelaki kemarin. Bagiku mau dia adik, saudara, kakak atau apapun itulah tidak penting bagiku untuk tahu asal-usulnya.             "Makanyo waktu Larissa ajak Uda ka tampek cafe miliknyo..."             "Uda," panggilku supaya ia bisa berhenti. "Uda sabananyo Uda sudah tahu tentang awak di siko, yo?" tanyaku tanpa memandangnya. Ada rahasia yang belum aku katakan. Menjadi teka-teki yang harus dipertanyakan. Membuatku bingung tiap memikirkannya tanpa adanya jawaban.              "Ari ini Kito batamu lai setelah di mano Zahira kabua kampuang halaman. Kito indak parnah bartuka kaba atau..." (Hari ini kita bertemu lagi setelah di mana aku kabur dari kampung halaman, kita tidak pernah bertukar kabar atau...) kalimatku tertahan di ujung lidah, enggan untuk mengatakannya. kalimatku tertahan di ujung lidah, enggan untuk mengatakannya. Tidak Zahira. Jangan kamu katakan kalau kamu memang berharap jika nanti Udamu menghubungi dan menanyakan bagaimana keadaanmu di sini.           "Atau apo?" tanyanya datar. (Atau apa?) Aku melirik dari ujung mataku, ia sama sekali tak berkutik bahkan menatapku saja tidak. Kita membisu beberapa detik. Kita seperti terjebak, dalam pikiran dan isi hati masing-masing yang sulit ditebak.           Aku mencoba untuk mengalihkan ucapanku yang nyaris keceplosan tadi. "Awak tau samuanyo!" (Aku tau semuanya!) Lantas aku berdiri di hadapannya. Ia mendongak, melihat wajah marahku padanya untuk pertama kalinya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa semarah ini kepadanya.            "Selama ini Uda lah tahu keadaanku di sini kan? Uda jugo tahu awak karajo di cafe itu dan Uda jugo yang mambaritahu bundo. Tapi, Uda indak parnah bilang kalau Zahira. Tanyato indakjo sepengetahuan Zahira Uda mancari tahu tentang awak di siko." (Selama ini Uda sudah tahu keadaanku di sini kan? Uda juga tahu aku kerja di cafe itu dan Uda juga yang memberitahu bundo. Tapi Uda gak pernah bilang ke aku. Ternyata tanpa sepengetahuanku Uda mencari tahu tentang aku di sini.) Aku menarik napas dalam-dalam, membalikkan badan, maju selangkah ke depan. Membelakanginya agar ia tidak bisa melihat air mataku.             "Padahal Uda biso hubungi awak tapi ini ndak. Dan kini Uda hadir begitu sajo di hadapan Zahira!) (Padahal Uda bisa hubungi aku lewat bundo tapi ini nggak. Dan sekarang, Uda hadir gitu aja di hadapan Zahira!)             Terserah! Terserah saja Uda memikirkan apa tentangku, terserah kalau Uda nantinya tahu tentang perasaan aku. Aku sudah tidak peduli lagi karena aku tidak bisa menutupinya lagi. Aku tidak bisa berbohong dan berpura-pura seolah aku tidak punya perasaan sama dia. Aku lelah harus berpura-pura seperti adiknya.            "Awak memang mancari tau tentang kau di siko karena awak kuatir dengan kau, Zahira." (Aku memang mencari tau tentang kau di sini karena aku khawatir dengan kau Zahira.) Ia mulai membuka suara. "Awak ndak biso menghubungi kau karano awak nio kau fokus sajo kuliah kau indakjo  mamikiakan yang lainnya," katanya yang tidak aku pahami. (Aku tidak bisa menghubungimu... karena aku ingin kamu fokus saja pada kuliah kamu tanpa memikirkan yang lainnya.)            Aku gak tau maksudnya apa dengan katanya memikirkan yang lainnya?            "Wakatu itu awak parnah ka Bandung dan indakjo sangajo awak batamu dengan Larissa, awak di ajak untuk patamo kalinya kan cafe milik kaluarganyo dan awak melihat kau karajo di sinan. Kau izin pulang lebih dulu karano sakit katanyo manager cafe itu, makanyo kau ndak tau Uda ada di sinan." (Saat itu aku pernah ke Bandung dan tanpa sengaja aku bertemu dengan Larissa, aku diajak untuk pertama kalinya ke cafe milik keluarganya dan aku melihat kau kerja di sana. Kau izin pulang lebih dulu karena sakit katanya manager cafe itu, makanya kau tidak tahu Uda ada di sana." Jujur aku kaget mendengarnya. Aku gak pernah tahu Uda pernah melihatku bekerja.           "Awak indak biso batamu kau karano awak raso.... Bukan saatnyo." (Aku tidak bisa menemui kau karena aku rasa... bukan saatnya)            Aku teringat percakapanku dengan bundo waktu di mana aku memaksa bundo untuk mengatakan sejujurnya mengapa bundo bisa tahu tempat aku bekerja.            Bodohnya aku yang tidak menyadari semua itu. Aku baru tahu, bantuan lainnya yang ia berikan adalah menitipkan uang pada bundo untukku bisa memenuhi kebutuhanku di sini, aku pikir semua itu dari bundo tapi ternyata aku salah. "Maafkan Bundo... Bundo selama ini ndak pernah mendukung kau, Bundo hanyo biso mengikuti apo kata ayah kau sajo. Bundo ndak punyo kuaso karena apo yang bundo katakan ndak pernah ayah kau dengar. Kau tau itu, 'kan ayah kau orang yang paliang kareh (keras). Tapi, kau salah bilo berpikiran bundo indak parnah mendukung kau, bundo percayo apapun yang kau lakukan itu pastilah demi diri kau. Kau di siko bertahan hidup panuah perjuangan. Bundo tau apo yang sudah kau lakukan sejauh ini."             Aku merasa ada pesan tersirat dari apa yang bundo katakan, seperti bundo telah mengetahui kegiatanku di kota ini.             "Lakukan apo yang menurut kau itu baik untuk kau, Zahira. Jangan kau kecewakan bundo, bundo percayo tiap apo yang kau lakukan itu pasti ado alasannyo."             "Bundo... Tapi bundo tau dari mano? Apo maksud bundo? Bundo sudah tau?" cecarku terus memberondongi bundo dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku penasaran sekaligus kebingungan. Badan ku tegap berubah posisi dari sebelumnya. Ku tak sabar dengan jawaban yang ingin ku dengar.             Tapi bundo terlihat ragu untuk menceritakannya, aku tetap memaksanya sampai bundo mau jujur kepadaku.             "Adit. Inyo yang selalu mambaritahu bundo tentang rahasia yang ndak parnah kau katakan pada bundo selama di siko." Itulah yang membuatku tidak bisa memikirkan Uda Adit. (Adit. Dia yang selalu memberitahu bundo tentang rahasia yang tidak pernah kau katakan pada bundo selama di sini.)             Aku berbalik badan, memincingkan mata untuk mengutip tiap kata yang masih jadi teka-tekiku. "Indak saatnyo apo yang Uda maksud itu?" tanyaku kesal. (Bukan saatnya apa yang Uda maksud itu?) "Tentang perasaan kau," jawabnya seketika membuatku mematung di tempat. (Tentang perasaan kamu.) Detik itu aku seperti tidak tahu harus taruh di mana wajahku ini. Tidak tahu malu kamu Zahira.           "Waktu kau lari di ari pernikahan kau, Erwin parnah bilang kepadaku..." (Waktu kamu lari di hari pernikahanmu, Erwin pernah bilang kepadaku...           "Zahira ndak biso mancintai awak, ado orang lain di hatinyo dan itu bukan awak tapi kau Adit."  (Zahira tidak bisa mencintaiku, ada orang lain di hatinya dan itu bukan aku, tapi kau Adit.) Adit melihat betapa sedihnya saat Erwin mengatakan kebenaran yang tidak ia ketahui, yang dia pikir selama ini dugaannya salah. Erwin meremas pelan bahu sahabatnya sekaligus rekannya yang kemudian ia pergi dari hadapan Adit dan semua orang yang ada di dalam masjid tuo.             Adit juga bertemu dengan bundo Zahira tanpa sepengetahuan ayahnya. Malam hari di pernikahan yang gagal itu, bundonya memberikan surat kepada Adit sekaligus mengatakan sesuatu yang penting.          "Zahira bersikeras kuliah supayo inyo biso bersanding dengan kau. Supayo inyo ndak dipandang sebelah mata sajo hanyo karano status sosialnyo yang bedo dengan orang yang ia cintai." (Zahira bersikeras kuliah supaya dia bisa bersanding dengan kau. Supaya dia tidak dipandang sebelah mata saja hanya karena status sosialnya yang berbeda dengan orang yang ia cintai.)             Aku paham sekarang. Mengusap wajahku yang basah oleh air mata dan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhku, menyisir rambutku ke belakang dengan sela-sela jariku hingga ku lepas saja kuncir rambutku biar terurai dan tertiup angin yang berhembus kencang malam ini.           "Itu sababnyo kau ndak manamuiku Uda? Kau tau awak punyo perasaan pada kau dan kau jadi baubah? Kau nio menjauh dari awak?" tuduhku. (Itu sebabnya kau tidak menemuiku Uda? Kau tau aku punya perasaan pada kau dan kau jadi berubah? Kau ingin menjauh dariku?)             "Awak hanyo ndak mau manggaduah kau Zahira. Awak nio kau fokus dulu samo tujuan kau," tegas Uda. (Aku hanya tidak mau mengganggumu. Aku ingin kamu fokus dulu sama tujuan kamu)            "Halah! Alasan!" Aku masih tidak percaya dengan ucapannya. "Awak tau kau pasti maraso malu kan karano padusi yang ndak diri ini malah mancintai majikannyo sandiri," lirihku yang mulai kehilangan energi. (Halah! Alasan! Aku tau kau pasti merasa malu, 'kan? Karena perempuan yang tidak tahu diri ini malah mencintai majikannya sendiri? Aku tau pasti kamu sangat membenci aku sekarang)             Tanpa memberiku ruang bergerak, tanpa memberiku melanjutkan sepatah dua patah, tanpa memberiku kesempatan untuk meluapkan emosi, ia menarik aku ke dalam pelukannya. Mengeratkan pelukannya hingga tanpa memberi jarak antara aku dengannya. Ya Allah, bolehkah aku berharap lebih pada apa yang telah ia lakukan padaku selama ini? Bolehkah aku mengartikan pelukan ini sebagai tanda dari seorang perempuan yang mencintai lelaki yang selama ini ia kagumi dan berharap orang yang ia cintai itu pun sama halnya mencintainya dan bukan menganggap aku sebagai sebatas adiknya.              "Sudah cukup kau banyak bicara malam ini Zahira." Ia mengusap-usap rambutku. Aku terkekeh, entah kenapa geli dengan ucapannya. Aku yang pendiam bisa berubah jadi banyak bicara seperti ini malam ini. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD