BAB - 19

4867 Words
Zahira Kita memang tidak pernah tahu apa yang terjadi hari ini, esok ataupun nanti. Menaruh harapan seringkali jadi ekspetasi yang tinggi. Ada berita baik ataupun buruk yang memang sewajarnya harus diterima, yang terjadi, sudah memang tidak sepantasnya harus disesali.              Aku tidak pernah membayangkan akan mengalami pelecehan oleh orang yang tidak kukenali sehingga berita menjadi besar tapi dari orang-orang baru yang kutemui pada akhirnya aku mendapatkan pelajaran yang harus aku ingat untuk melindungi diriku sendiri. Mencontoh perempuan-perempuan yang berani bersuara untuk menjaga harga dirinya, melawan pelaku-pelaku yang bangga telah melakukan hal b***t yang padahal mereka harusnya malu telah melakukan tindakan yang keji. Menaikkan kepala ketika orang-orang menyalahkan diriku, menghakimiku seakan-akan aku perempuan pendosa yang sangat hina, atas kesalahan yang sebenarnya tidak kulakui. Berada dalam lingkungan yang masih mendiskriminasi perempuan, aku tidak bisa diam saja, yang ada aku akan semakin diinjak dan disingkiri. Nyatanya orang-orang masih tetap menyalahkan perempuan atas apa yang ia alami. Padahal siapa yang menginginkan tubuhnya dinikmati? Tidak ada!             Dan lagi, hari ini aku dikejutkan oleh pengakuan Uda Adit. Ini yang kunamakan dengan harapan berujung ekspetasi yang tinggi jikalau aku sudah mendapatkan apa yang kuingini, bisakah aku bersandingnya dengannya nanti?             Namun, dengan halnya perasaan, suka atau tidak suka apapun jawaban yang kuterima nantinya pada akhirnya harus aku terima sepenuh hati. Aku tidak tahu jawaban pastinya karena Uda seolah masih menganggap ku seperti seorang adik kecil yang tengah tumbuh besar dan masih banyak hal yang harus dipikiri daripada cinta untuk saat ini. Bagaimana pun nantinya, perasaan ini tidak secepat itu hilang dan terganti. Aku pantang menyerah, aku tetap gigih dan tak akan semudah itu untuk lelah. Aku akan menunggu jawaban Uda sampai benar-benar Uda meyakinkan dirinya tentang keputusannya.             Setelah puas bermain dengan Zahra, aku pulang bersama Uda ditemani sama Zahira yang ternyata selama di sini tinggal di apartemen bersama pengasuhnya.             "Uni tinggal di sini?" tanya Zahra polos. Aku mengangguk-anggukkan kepala. "Uni kita nanti kapan main lagi?"             "Kalau Uni sudah ndak sibuk kito main lagi, yoo Zahra." Aku mencium wajah anak itu dengan gemas di atas pangkuanku. Aku salah tingkah dan malu ketika ternyata Uda sejak tadi memerhatikan interaksi aku sama Zahra, mungkin dulu malunya tidaklah semalu ini. Malu yang berkali-kali lipat karena Uda tahu tentang perasaanku.            "Zahira masuk dulu,"            "Mau Uda anta?" tawarnya.            "Ndak usah, ayah pasti marah kalau tahu Zahira pulang samo Uda." Aku lebih baik menolak tawarannya daripada kejadian kemarin terjadi lagi karena jelas saja beberapa pemilik kost ada yang bertanya-tanya tentang kejadian malam kemarin. Lekaslah aku pun masuk ke kostan buru-buru, aku harap saja ayah sudahlah tidur.             "Zahira," panggil teman kostanku. "Ayah kamu marah-marah tadi," katanya, tubuhku langsung bergetar, jantung berdebar-debar, sudah kuduga pasti ada yang tidak benar. "Dia tau waktu berita kamu dibicarakan sama banyak warga di sini." Aku tahu cepat atau lambat ayah pasti akan tahu nantinya, lalu aku harus menghadapinya bagaimana lagi? Baru saja tadi siang aku nyaris sudah mau ambil hati ayah supaya ayah bisa merestui jalannya pendidikan aku ini sekarang dengan adanya kasus yang sepertinya ini, semakin membuatku sulit, semakin membuat jarak antara aku dengan ayah makin jauh.             "Tinggalkan dia." Suara ayah menginterupsi kami, temanku sampai terlonjak kaget gara-gara kedatangan ayah yang tiba-tiba sehingga temanku langsung pergi. Ayah memandangku dengan tatapan yang aku sendiri takut bila harus aku katakan sepanjang ia mendekatiku tak lepas barang sedetik pun sampai tanpa bisa ku cegah, tanpa bisa dihentikan, sedetik kemudian yang sangat menampar wajahku sampai memanas dan memerah hingga ku tersungkur ke atas lantai. Wajahku terasa sangat-sangat sakit. Entah dengan kalimat apa harus aku katakan rasa sakit dan pedihnya. Siang tadi ayah seperti malaikat sekarang berubah jadi iblis. "ANAK SETAN KAMU ITU!!" hinanya dengan menginjak kakiku. Kakiku diseret dengan kencang, tangisanku sekalipun tak dipedulikan, penghuni yang ada di kostan ini diam-diam menyaksikan konflik antara anak dengan ayahnya dari dalam kamarnya sendiri, tak berani jika harus ikut campur sekedar menolongku atau menenangkan ayahku.              Lalu, tanganku ditarik oleh ayah sampai aku dipaksa berdiri, tiba di dalam kamar aku didorong dengan kasar dan tak ada ampun namun beruntungnya bundo langsung pasang badan. Aku memeluk erat bundo. Ayah mengunci pintu lalu menarik aku didorong lagi ke kasur. Tangan dan kakiku diikat oleh ayah, kemudian aku dipukul oleh ayah menggunakan rotan, memukuli tubuhku hingga timbul memerah dan memar.            "Kau bisonyo hanyo buek malu kaluaga!" geram ayah, makin memukul punggungku dengan kuat. "Sudah ndak punyo malu lagiiii kau!? Hah!!? Kito ini miskin dan kau mencoreng kehormatan kau! Mau ditaro di mano lagi muko ayah kau iniiii! Ihh!!! Mau ditaro di mano! Astagfirullah!!" Ayah membuang sembarang rotan tersebut, merah sudah wajahnya sampai ke ubun-ubun emosi tak bisa ia kendalikan. Bundo menarik ayah menjauh sambil menangis, berkata sudah pun percuma saja karena ayah tidak akan bisa ditenangkan sekarang.             "Ayah... Bukan Zahira yang mencoreng kehormatan diri Zahira sendiri tapi laki-laki itu yang sudah melecehkan Zahira. Laki-laki itu yang sudah merendahkan Zahira..." aku mungkin diam saja walau aku tahu aku tidaklah salah, sebab aku tidak akan bisa menang bicara dengan ayah namun tidak... tidak untuk sekarang. Sebisanya mungkin aku utarakan sesuatu untuk membela diriku.            "DIAM!" bentaknya sampai aku terkejut. "Mau bagaimana pun kau tetap sajo kau sudah kotor. Ndak punya kehormatan lagi yang biso kau jago. Apo kata orang di kampuang nantiiiii Zahiraaa... Ya Allah..." racau ayah seperti orang yang kehilangan arah. Tahu tidak ayah mengatakannya itu sambil menangis. Terseok-seok di atas lantai sambil menjenturi dahinya ke dinding. Bundo merangkul ayah dengan tangisan.              "Jan katakan seperti itu padanyo... kehormatan padusi bukan ado pado tubuhnyo tapi dalam dirinyo, dalam hatinyo dan pado harga dirinyo. Zahira ndak parnah merendahkan dirinyo sekalipun... dia korban di siko."             "Tapi tetap orang akan memandangnyo padusi yang hina kau paham itu. Orang seperti kito biso apo? Ndak ado yang mau mendengarkan kito sekalipun Zahira Ndak bersalah." Aku mendongakkan kepala saat telingaku menangkap suara derit pintu lemari terbuka. Ayah memasukkan baju-baju ku ke dalam tas.            "Ayah... ayah mau apo!??" teriakku marah, mataku terbuka lebar seakan-akan bakal keluar dari tempatnya. Debar-debar jantungku menyiksaku seperti orang yang terkena penyakit jantung, sulit bernapas, sulit berbicara.            "Kito pulang ka kampuang!"            "Ndak! Indakk!" Gelengku menolak perintah ayah. "Zahira ndak mau pulang... ndak akan! NDAKKK AKANNN!" Satu hal yang ku tak bisa cegah lagi adalah tamparan ayah untuk kesekian kalinya hingga aku terpapar pingsan. * * * * Seluruh tubuhku sulit digerakkan, banyak luka yang akhirnya membekas pada tubuhku, tapi ada yang lebih menyakitkan. Ayah... Apa yang sudah ayah lakukan padaku sangat menyakiti diriku. Aku tidak tahu. Sulit untuk dipercayai, sekejam itukah ayah pada anak perempuannya yang kini tengah berjuang sendirian. Aku butuh dirinya bukan hal kasar yang ia berikan. Aku butuh perlindungan dan kasih sayangnya bukan kemarahannya.             "Sudah kau obati kita langsung pulang, biarkan sajo dia tingga di siko, itu, kan yang dia mau." Itu yang ayah katakan pada bundo barusan. Bundo baru berani buka suara pas ayah pergi dari kamar ini. Aku mengangkat telapak tanganku, meminta bundo menyudahi mengobati luka yang ada di punggungku. "Bundo pulang sajo...," lirihku pelan. Ku ambil baju yang bundo berikan padaku dan memakainya dengan membelakanginya. "Zahira biso urus diri Zahira, bundo jan kuatir, yoo."             Diamnya bundo sebenarnya ia sakit. Menangis dan merasa sakit tak berdaya karena tak bisa melakukan apa-apa untukku. Dia ditekan hingga dasarnya, titik kelemahannya dikendalikan ayah yang merasa menguasai segalanya di atas aku dan bundo sebagai perempuan yang tak bisa menentang kekejamannya.             "Kau pasti biso melewatinyo, Nak." Bundo sama halnya sepertiku, dia dan aku memang tidak banyak bicara tapi batin kami saling terhubung, saling tahu apa yang ingin disuarakan, saling tahu apa yang dipendam, sedikit kata yang dikeluarkan tapi banyak makna yang kurasakan. "Di mato bundo kau tetap anak bundo yang sangat-sangat baarago." (Di mata bunda kau tetap anak bunda yang sangat-sangat berharga)             Aku tersenyum dalam batinku, sebenarnya aku tidak rela bila mereka harus pergi, aku masih ingin bersama mereka. Kulihat mereka dari dalam kamarku, keduanya masuk ke dalam angkutan umum yang akan membawa mereka pergi menjauh dari sini.             "Kau tetap Zahira dengan nilai harga diri yang tinggi, perempuan yang pinta. Mereka yang sudah merendahkan kau bukan barati kau telah kehilangan kehormatan kau, kau wanita yang terhormat Zahira, buktikan pada mereka kalau kau tak serendah itu." Bundo benar, aku tidak perlu harus memikirkan ucapan ayah karena yang paling tahu diriku hanyalah aku tidak sekalipun ayah yang hanya bisa membuatku semakin terpuruk. Kalau dulu aku berharap ayah bisa menguatkan ku melawan kejamnya sisi dunia kini aku hanya mengandalkan diriku sendiri untuk menghadapinya. * * * * Nadya Marco tak pernah begini, dia hilang gitu aja, gak ada kabar sama sekali. Bahkan soal berita aku yang viral ketika di Bandung pun, dia tidak menanyakannya, dia seperti tidak ingin tahu. Aku tau, pasti dia sakit hati karena ucapanku yang kemarin, aku benci kalau sudah berada di situasi seperti merasa kehilangan sosok yang selama ini hadir dalam hidupku. Aku sudah menghubunginya tapi tidak ada respons sama sekali dari dia.            "Kak... Makanannya sudah siap." Asistenku datang di saat aku sedang mencoba menghubungi Marco kembali namun lagi-lagi gagal.            "Shayyyy!!!!" teriak sih Maya dari luar kamarku. "Eh aku punya berita, lho..., Ngecek sosmed gak?"            "Gak! Ada apaan?" Aku masih berdiri di balkon kamarku, masih menunggu panggilanku diangkat sama dia. "Ini, lho, Marcelina foto bareng sama cowok kamu, masuk berita gosip... Uhhh! Katanya, sih, new projects gitu."            Aku tertarik mendengar berita ini, lantas aku pun beralih ke Maya. "Coba liat." Dia menunjukkan foto keduanya sedang duduk di restoran mahal dengan beberapa kertas di dalam map ada di atas meja mereka. Saling duduk berhadapan dan wajah menghadap ke kamera. Panas aku melihatnya tanpa menunggu lama-lama aku segera mencari Marco. Tempat pertama adalah tempat pekerjaannya. Waktu aku datang ke kantornya, pihak sana mengatakan dia sedang ada di lapangan. Setelah aku tahu alamatnya, aku segera menyusulnya ke sana. Dan memang benar dia sedang bekerja di sana, memberikan pengarahan kepada pelaksana proyek tersebut. Aku jarang datang ke tempat kerjanya karena memang di sini lapangan terbuka, banyak bangunan yang belum jadi dan alat-alat berat di mana-mana, belum lagi debu yang berterbangan dan panas yang membuat tempat ini berasa gersang.              "Marco!" panggilku setengah berteriak. Dia yang tengah bicara dengan rekan kerjanya mengalihkan perhatian ke aku yang berjalan ke arahnya dengan agak kesulitan sebab tanah yang tidak rata dan aku yang memakai high heels. Marco tetap mengabaikan ku. "Marco!" Aku masih memanggilnya tapi tidak ia gubris. Sumpah! Ini kali pertamanya aku seakan-akan mengejar cowok sedangkan aku dikenal orang yang cuek dan sangat gengsi sekali. Aku tidak pernah mencari perhatian cowok bahkan Marco sendiri karena tanpa aku cari pun ia akan memberikannya sendiri namun perdebatan kemarin adalah perdebatan yang aku gak tau Marco bisa berubah segitunya. Dan ya jelas aku harus memulainya lebih dulu karena aku sadar aku juga salah, aku harus perbaiki itu juga walau setengah hati menolaknya karena egoku yang tinggi tapi yaudahlah. Aku harus lakuin apa yang memang harus aku lakukan.           Tapi... yang aku pikirin ini adalah bukan soal kejadian perdebatan itu, niatnya aku mau minta maaf duluan walau aku gengsi sih cuman yang memenuhi pikiranku adalah dia yang foto bersama dengan Marcelina, sainganku dalam dunia perindustrian. Aku gak terima ini.            "Marco! Aku lagi bicara sama kamu. Kuping kamu gak lagi tuli, kan?!" cetusku yang akhirnya ia pun menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan, menatapku tak seperti biasanya.            "Masuk ke dalam mobil," katanya. Dia lebih dulu masuk, aku diam sejenak. Masih emosi karena dia mengabaikan ku. Dia mengklaksonku tetiba, aku mengumpat dalam hati. Kuturuti kemauannya, masuk ke dalam mobilnya.             "Kamu mau bales dendam dengan mengabaikan pesan-pesan aku?" Dia masih sibuk dengan hpnya. Aku mencoba untuk lebih bersabar lagi. "Kamu pasti udah tau kalo ada berita tentang aku tentang kasus pelecehan itu." Dia cuma manggut-manggut saja. Aku udah muak. Aku ambil secara paksa hpnya dan menaruhnya dalam dashboard. "Sakit hati kamu sama omonganku kemaren? Gak gini caranya!"             "Kamu ngapain, sih, dateng-dateng malah marah-marah? Gak jelas kamu ini."             "Apa? Kamu bilang aku gak jelas? Oh... Kayaknya aku tau, nih, kamu begini udah bosen sama aku karena udah ada cewek lain ya? Sih, Marcelina itu, kan?" cecarku marah.             "Ngaco kamu! Jangan asal ngomong!" tandasnya menunjuk wajahku.             "Ya terus apa? Aku lagi ada masalah sama kasusku kamu lagi sama cewek lain, apa kata media..."             "Media! Media! Media aja! Itu terus yang kamu pikirin. Citra kamu terus yang kamu utamain! Prioritas kamu adalah karir kamu, kan yaudah aku bisa apa? Aku ada terus buat kamu juga emang kamu peduli apa sama aku hah? Gak usah jadi manusia egois kamu itu. Sekarang terserah aja kamu mau ngapain juga aku udah gak peduli, betulan, udah nggak." Sakit sekali saat dia mengatakannya. Aku nyaris mau mengeluarkan air mata kalau tidak kubuang muka untuk tidak lagi menatapnya. Sudah cukup. Itu yang dia mau, baik. Aku juga gak akan lagi peduli sama hubungan ini. Aku pergi tanpa mengucapkan apa-apa karena sudah tidak ada lagi yang harus dikatakan.             Dia mau pergi dari kehidupanku itu terserah dia. Semua orang yang ada di hidupku memang begitu, kan datang lalu pergi dan hilang. Aku dibiarkan sendirian. Begitu juga dengan cinta. Sudah tidak ada kata cinta dalam hidupku. Nyatanya kecewa hadir dalam bentuk yang tidak kuduga. Itulah kenapa aku lebih baik memikirkan diriku saja tanpa memedulikan yang lainnya karena aku benci jika sudah harus tersakiti lagi dan lagi.             Keberangkatan ku sebentar lagi akan tiba. Perasaanku memang sedang kacau, diriku didominasi dengan perasaan sedih yang kurasa. Aku.... aku benar-benar merasa kehilangan dia. Ku cengkram pegangan koper itu. Ku tatap pintu bandara. Tidak ada tanda-tandanya memang tapi... Tunggu Nadya.... Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan kamu biarkan orang yang sudah tidak ada di hidupmu itu menguasai pikiran dan hatimu. Jangan. Kamu gak boleh jatuh apalagi kalah. Kupejamkan mata untuk beberapa detik. Sampai tenang, sampai kurasa aku bisa mengendalikan diriku sampai logikaku berkata bila aku memang tidak membutuhkannya, bila memang dia tidak perlu lagi hadir dalam hidupku, dia bilang sudah tidak akan peduli lagi padaku, baiklah. Aku ikuti cara mainnya. * * * * Leonna Gue hampir gak percaya kalau ternyata cinta itu memang ada. Hadirnya tanpa diduga. Bahkan gue sendiri sempat menyangkalnya tapi kebalikannya apa yang gue rasa ya inilah kenyataannya. Gue jatuh cinta. Rasa takut gue saat memulai hubungan adalah mengingat bagaimana bapak memperlakukan ibu dan ibu terjebak pada cinta yang membawanya pada sebuah perkara. Gue harus tumbuh kuat dan berani sebagai perempuan karena semua itu timbul dari rasa trauma ketika gue nyaris diperkosa oleh bapak gue sendiri sehingga ibu yang harus menyelamatkan gue walaupun ia merelakan sebagian hidupnya di penjara. Tian datang untuk menyembuhkannya. Menyembuhkan luka yang sejak dulu masih membekas tapi berusaha untuk gue lupakan bagaimana perihnya dari masa lalu yang kelam, dari bagaimana hancurnya sebuah keluarga, dari bagaimana gue berpisah dengan ibu dan dari bagaimana gue membenci bapak gue sendiri tapi gue berusaha untuk memaafkan semua kesalahan dia. Satu yang gue minta pada Tuhan, dalam dekapan tangan yang saling mengait di hadapan-Nya, memejamkan mata mendalami seluruh energi positif dari sebuah keikhlasan selama bertahun-tahun gue hidup, satu hal yang gue harapkan,            "Segerekanlah pertemukan saya dengan ibu seperti dulu tanpa ada lagi jarak dan waktu, tanpa ada lagi peraturan kapan saya harus menemuinya, berapa jam saya harus bicara dengan dia, jangan ada lagi. Saya ingin bersamanya, menikmati waktu saya dengannya. Tuhan Yesus sembuhkan... Sembuhkan dan beri ketenangan untuk saya dan ibu.. sembuhkan kami dari masa lalu yang merenggut jiwa kami yang terpenjara... Sembuhkan... Sembuhkan..."            Tenang dan damai, itulah yang gue rasakan selesai berdoa. Senyuman ikhlas terpatri di wajah ini tanpa keterpaksaan. "Sudah?" Gue menoleh, di sebelah gue ada christhian. Dia setia menemani gue kapan pun itu.           "Makasih, ya.." dia menarik diri gue hingga mendekat pada tubuhnya. Lalu kita pergi dari sana. Menuju ke tempat di mana Tian akan mengenalkan diri gue ke keluarganya. Gue akan pergi ke rumahnya. Dia benar-benar serius sama gue. Tanpa banyak janji, tanpa banyak bicara, dia mau menemui gue dengan keluarganya dan meminta restu dari kedua orang tuanya. Tian berjuang demi gue, walaupun kenyataannya gue sangat gugup sekali karena takut akan tidak diterimanya kehadiran gue di tengah-tengah keluarga gue, tapi Tian tetap meyakinkan gue. Tian benar, sebuah hubungan itu harus keduanya yang berjuang dan gue gak bisa membiarkan Tian berjuang sendirian. Setidaknya gue harus memberikan penghargaan buat dia yang udah mau menemani gue sampai di titik ini dengan mengiyakan ajakannya ke rumahnya.            "Gugup banget gue Yan," cicit gue sambil memegang d**a. Tian tenang sekali mengendarai mobil. Dia kan tau masa lalu gue apa dia gak sekalipun mengkhawatirkan tentang itu? Maksud gue, dia tahu bagaimana keluarganya, gue sendiri sangat tahu Tian terlahir dari keluarga seperti apa, jelas mereka akan menilai gue pun dari apa yang mereka lihat.            "Gak apa-apa namanya juga baru pertama kali, nanti kalo udah sering ke rumah aku juga udah nggak bakal gugup kok, udah terbiasa." Sampai di rumahnya aku dibuat takjub dengan desain interior tradisional yang dimiliki oleh rumahnya yang dibangun cukup besar dan luas. Dengan konsep interior tradisional ini, macam-macam desain yang menarik membuat gue merasa nyaman dan terlihat klasik dari berbagai sudut yang gue lihat, teratur dan tenang. Desain tradisional yang ada di rumah Tian ini didominasi oleh banyaknya elemen kayu dengan teksturnya yang khas dan pahatan yang rumit. Gue bisa lihat di sini banyak ukiran yang dibuat dari handmade atau buatan tangan. Suasana nyaman itu bisa gue temukan dari berbagai perabotan rumah dengan model klasik yang menunjukkan suasana kuno.  Dan gue bisa lihat di sini banyak sentuhan dari adat Jawa yang kental membaur dengan konsep yang telah dibuat.            "Oma itu suka banget sama kamu pasti soalnya dia suka sama perempuan yang mandiri dan pintar masak kayak kamu."            "Ah, bisa aja kamu Yan, bilang aja mau bikin aku kegeeran, kan?" tuduhku ya walau senang juga dengarnya.            Tian terkekeh geli, "ya benerlah sayang," gue kok agak malu-malu gimana gitu ya dipanggil sayang atau emang gue yang aja kali yang baru kali pertama dipanggil spesial kayak gitu.           "Mah...," Tian mengajak gue ke belakang rumahnya yang terdapat kolam ikan koi dan tanaman hias yang berjejer. "Mah..." Ini kali pertamanya gue ketemu sama orang tua Tian. Sedang memberikan makan ikan. Saat ia berbalik badan, ketika itulah gue dibuat kagum Cantik dan anggun.           "Tian, kamu sama siapa, Nak?" tanyanya, memandang heran perempuan di sampingnya. Gue. Ditatapnya dari bawah sampai atas dan terus berulang.           "Ini Leonna, perempuan yang aku ceritain."           "Ohh... Chef yang dulu pernah kita ajak foto itu?"           "Iya, Mah... Baguslah Mamah masih inget," seru Tian semangat. Mamahnya tersenyum seraya menjabat tangan gue dan gue memperkenalkan diri gue dengan sopan walau gue merasa ada aura negatif dari senyumannya. Ada rasa kurang suka dengan adanya gue yang diperkenalkan sebagai pasangannya Tian.            "Yaudah, yuk, kita masuk ke dalem, biar enak ngobrolnya." Mamahnya jalan lebih dulu. Gue menyenggol lengan Tian dengan memasang ekspresi takut, lebih ke tidak yakin. Tian tetap kalem, mengusap-usap kedua bahu gue tanpa ngomong apa-apa, kita masuk mengikuti mamahnya dan diajak makan siang bersama. Sudah ada papanya dan omanya.            "Pah..."            "Wah! Tian, sama sapa kamu ini? Tumben bawa perempuan ke rumah," godanya genit menatap aku sama Tian.           "Leonna Pah, chef yang waktu itu kita ajak foto pas acara ulang anniversary pernikahan Mamah sama Papah."            "Oh yang di restoran itu yah, iya... Papah ingat, masakannya top markotop. Sedap pokoknya mah."            "Bagus, sudah cantik, jago masak lagi," sahut Omanya Tian. Gue jadi merasa sungkan begini disambut baik. Namun tetap gue gak merasakan kalau kehadiran gue memang tidak disukai sama mamahnya Tian.             "Selain chef kata Tian kamu juga dosen, ya. Dosen hukum," tambah Omanya yang lagi buat gue jadi cuma bisa nyengir kikuk sangking kakunya, sangking gak habis pikir kenapa Tian menceritakan semua hal soal gue dan dia gak bilang-bilang lagi.             "Iya..." Gue mau manggil tapi gue bingung dengan sebutan apa.             "Oma... Panggil aja Oma," sambungnya yang buat gue jadi kayak salting. Tian dan papanya tertawa melihat gue yang yaampun kaku banget deh. Lucu aja dengan gaya tomboy kayak gue gini bereaksi sekaku ini, yang Tian tahu gue orang yang termasuk blak-blakan dan gak bisa bersikap manis tapi gue tetap menunjukkan atitude sebagai seorang perempuan dengan bersikap sopan dan menjaga etika dengan baik di depan orang yang baru dikenal.             "Iya... Oma," lanjut gue diiringi tawa rendah.             "Hebat ya kamu," sahut mamahnya Tian. Akhirnya ia bersuara juga. "Menjalani dua profesi sekaligus." Mendongakkan kepalanya dari aktivitasnya makan di hadapanku, menatapku dalam sambil minum air putih. Ia pun melanjutkan perkataannya setelah selesai minum. "Pertama jadi chef kedua jadi dosen hukum, di usia kamu yang... maaf usia kamu berapa, ya? Kayaknya... lebih mudanya Tian?" Tian mau menjawab tapi langsung gue jawab, "tiga puluh Tante." Gue gak mau Tian menjawab yang bukan faktanya karena Tian sebelumnya sudah merencanakan kalau ada pertanyaan yang diajukan pada mamahnya, gue cukup diam dan biar Tian yang menjelaskannya.            Dahinya mengkerut ke atas, sedikit terkejut dengan tawanya yang terlihat tidak ikhlas, disembunyikan rasa menggelikannya terhadap gue lewat pujian yang dia berikan seperti ini. "O---owh.... ya... ya bagus! Bagus banget. Di usia tiga puluh tahun sudah banyak pencapaian yang kamu raih pastinya."            "Itu benar!" sahut Oma.            "Tapi sekarang aku udak gak bekerja di restoran, aku udah berhenti. Sekarang aku mau fokus buka usaha kecil-kecilan dulu sebagai kerja sampingan aku. Jadi, selain menjadi dosen, selain mengajar, aku bisa membangun usaha dari hoby aku," jelas gue. Bukan maksud mau membanggakan diri gue tapi lebih ke arah menceritakan pengalaman gue. Gue emang nggak secantik perempuan di luaran sana tapi gue menunjukkan sesuatu yang berbeda dari diri gue agar gak dipandang sebelah mata saja. Ya dengan pencapaian gue dari usaha gue sendiri. Setidaknya Tian bisa bangga punya perempuan yang bisa menunjukkan kualitas dirinya bukan semata-mata hanya membanggakan fisik saja yang terlihat cantik dan menarik.             "Oh, ya kamu di sini tinggal sendirian atau sama orang tua kamu?" tanya Oma.            "Ehm... Aku aslinya orang Surabaya, karna aku anak perantauan, selesai pendidikan di Jakarta aku pindah ke Bandung untuk bekerja."            "Orang tua kamu jadi di Surabaya?" tanya papah Tian. Gue, Tian saling melirik. Diam-diam gue meremas paha gue. Rasa gugup dan takut seketika menyerang diri gue dalam kebimbangan yang mengharuskan gue untuk membuka mulut atau menutupnya rapat-rapat. Tapi, hati mengatakan ini sudah menjadi konsekuensi yang mau gak mau harus gue ambil sebab bagaimanapun nantinya masa lalu gue mereka pun akan tahu terlebih ini menyangkut urusan ibu gue. Gue gak mau hanya untuk diterima oleh orang lain gue harus mengubah diri gue sendiri dan berubah menjadi versi lain. Nggak, Leonna itu apa adanya. Leonna menerima apa yang ada di hidupnya. Jadi, untuk apa gue malu? Masa lalu adalah bagian dari diri gue yang gak akan bisa hilang. Suka gak suka yah inilah gue. Jujur. Itulah yang harus gue lakuin.             "Orang tua aku---" Tian langsung memegang tangan gue yang sudah keringat dingin di atas paha gue. Dia menatap serius ke gue, untuk gak harus gue melakukan itu. Gue enggan mengikuti apa yang Tian mau.             "Ibu aku..." Aku berpikir keras bagaimana caranya menceritakannya.             "Orang tua Leonna tinggal di Surabaya, nanti aku mau ajak Mamah sama Papah ke rumahnya ya, kita ketemu sama orang tuanya Leonna," sela Tian buat gue kaget.             "Papah seneng, loh, akhirnya Tian bisa mendapatkan perempuan yang mandiri, pintar, bijaksana, dan punya peran tersendiri dari dua profesi berbeda yang dia jalanin."             "Tapi mungkin Tian bisa minta Leonna lebih feminin lagi penampilannya biar enak dilihat gitu, tanpa harus tatoan, kan?"             "Mah.. nggak ada salahnya tatoan itu, Mamah kalo udah kenal sama Leonna gak bakal nyesel, deh. Walaupun dia tatoan tapi hatinya dia itu gak kotor. Jangan suka nilai dari cover ah, Tian gak suka." * * * * "Gue gak suka ya sama cara Lo Yan!" "Len... Len... Dengerin dulu." Gue gak memedulikan Tian. Gue masuk ke mobilnya dan menunggu ia juga masuk ke mobil. Makan siang yang buruk, batin gue. Tian nyerah. Ia masuk ke mobil lalu melajukan mobil tersebut keluar dari pekarangan rumahnya. "Lo buat permainan yang bakal bikin gue kesulitan." "Belum waktunya kamu harus kasih tau tentang masa lalu kamu." "Kenapa?" tanya gue nyolot. Bahkan posisi duduk jadi menyamping, menghadapnya. "Kenapa!?" tanya gue ulang. "Karna Lo takut, kan keluarga Lo gak bakal nerima gue!? Itu, kan yang Lo takutin!?" desak gue. Tian masih gak mau menjawab pertanyaan gue. Gue sangat marah sama Tian karena dia harus melakukan kebohongan yang gue dan dia sama-sama tahu, ini hanya akan menambah masalah semakin runyam.  "Gue jadi berpikir, kayaknya kita gak perlu lanjut hubungan kita."              Deg! Mobil berhenti tiba-tiba. Nyaris dahi gue terbentur bagian depan kalau saja gue gak memakai sabuk pengaman. "Nyerah kamu?" tanyanya. Gue balas tatapan dia serius.              "Ini bukan soal nyerah, tapi kita udah sama-sama tau kalo hubungan kita bakal berakhir cepat atau lambat."             "Berakhir itu karena kamu yang mau berhenti berjuang!" bentaknya dengan nada intonasi yang tinggi. Gue kaget banget liat Tian semarah ini. Dia langsung keluar mobil. Bertingkah seperti ingin memukul. Gue cuma memerhatikan bagaimana frustasinya ia, lalu duduk di kap mobil depan. Gue segera keluar mendekati dia. Menyentuh bahunya.             "Len... Susah payah aku dapetin kamu Len, tolonglah jangan nyerah. Tinggal selangkah lagi," mohonnya, menarik diri gue ke dalam pelukannya. "Kita ambil hati orang tua aku dulu baru kalau memang kita udah menemukan waktu yang tepat, kamu boleh jujur soal masa lalu kamu, soal ibu kamu. Tapi, sebelum itu aku minta waktu sedikit aja buat meyakinkan mamah."             "Gimana caranya?" Dia melepaskan pelukannya. Memandang gue dengan senyumnya, gue gak paham artinya sebelum akhirnya ia membawa gue ke Mall. "Kenapa kita ke sini?" "Kamu ingat gak kata mamahku tadi itu apa? Mamah mau aku dapet perempuan yang penampilannya feminin, nah, mungkin dengan cara kamu mengubah penampilan kamu mamah bakal suka kamu dan dia bakal merestui kita kalo kamu berusaha buat deketin dan ambil hati mamah. Gimana?" Mata gue memincing seraya menggelengkan kepalanya. Perlahan gue memundurkan langkah, Tian menghela napas. "Len..." panggilnya yang tak lagi gue hiraukan. Perginya gue ia kejar dan kali itu gue gak mau mendengarkan apapun nasihatnya.              Dia meminta gue untuk mengubah penampilan gue? Ya jelas gue gak bisa. Gak semudah itu dan belum tentu gue nyaman dengan perubahan yang ada pada diri gue. Kalau memang tidak bisa menerima gue yang begini ya sudah gue gak akan memaksa seperti Tian. Tian harusnya mengerti keadaannya seperti apa. Di sini bukan diri dia yang diubah tapi diri gue.             "Len! Dengerin dulu!"             "Dengerin apa lagi!?" bentak gue sampai orang-orang di sini menatap penasaran ke kami. Tian mengusap wajahnya, menarik tangan gue dan mengajak gue ke rooftop Mall. Cuaca mulai mendung, angin berhembus membawa sejuk tuk menentramkan hati sejenak yang ingin merenung, melepas masalah yang menggunung, yang gue yakini kan membuat gue pada akhirnya terkurung.             "Hanya untuk sementara Len," imbuhnya di belakang sana. Mata gue masih tertutup rapat, enggan untuk gue buka. "Kamu cinta aku, kan? Kalo cinta kamu masih mau berjuang sama aku, 'kan, sama-sama sampai kita dapet restu mamahku."             Cinta pada akhirnya membawa gue pada sebuah kerumitan yang tajam, mengikis rasa kepercayaan diri gue yang sudah tertanam. Mengubah apa yang sudah ada di diri gue hanya untuk suatu perkara yang sangat dalam. Dan saat ini gue hanya bisa diam.             Gue cinta sama Tian tapi gue gak yakin ini akan berakhir dengan apa yang kita inginkan. "Len..." lirihnya memanggil gue dengan suara lembut.           Apa mungkin gue coba saja? Gue lakuin yang terbaik di hubungan ini, untuk akhirnya itu gue serahkan pada Tuhan. Hanya untuk sementara juga. Gue memutar badan menghadapnya. Gue mengangguk singkat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD