BAB - 20

4431 Words
Ada banyak pilihan baju, dress, yang Tian belikan buat gue. Entah mana yang cocok buat gue? Gue sendiri pun gak paham. Gue sendiri merasa jelek dan gak percaya diri. Ini bukan style gue tapi gue memaksakan sesuai apa yang dia mau dan sesuai apa yang mamahnya mau. Akhirnya untuk sekarang, gue lebih memilih yang lebih santai seperti mini dress warna hitam. Gue jarang banget bisa dibilang pakai dress-dress begini. Tapi, style boleh berubah namun tetap aja gue mau terlibat dengan gaya simple dan gak rame. Sama halnya seperti gue yang ke mana-mana sukanya pakai celana jeans dipadukan dengan oversized t-shirt warna putih dan atau kadang gue keluar pakai tanktop dengan dipadukan cardigan.              "Simple tapi menarik," komentarnya ketika Tian memerhatikan penampilan gue. Dia tersenyum puas. "Mamah pasti suka, besok kamu harus tetap berpenampilan kayak gini, ya," ujarnya yang terus mengoceh disepanjang jalan kita menyusuri Mall hendak keluar. "Besok ada acara keluarga, anak-anak Oma yang tinggal di LN sama cucu-cucunya Oma juga pada dateng ke rumah aku soalnya juga rumah aku itu spot yang enak buat berkumpul. Yah, udah kayak tradisi kita aja buat berkumpul. Namanya udah lama gak ketemu. Nah, aku mau kamu berbaur sama keluargaku, biar nantinya kamu gak bakal canggung lagi."             Sejujurnya perasaan risih, tidak percaya diri, rendah diri, takut, gugup, semua itu sedang gue rasakan. Di sini gue seperti tidak ada pegangan terlebih Tian memang menuntut gue untuk seperti ini menyesuaikan apa yang mamahnya mau namun tidak sesuai dengan apa yang gue inginkan hingga rasa tidak nyaman itu mendominasi diri gue saat ini. Belum lagi suatu kebohongan yang udah gue lakukan bersama Tian. Semua itu memenuhi isi kepala gue yang gue sendiri gak tahu solusinya bagaimana dan harus melakukan apa setelahnya.             "Ibu Leonna!" Seseorang memanggil gue. Di hadapan gue. Mariana. * * * * Mariana Ada satu hal lain, tidak bisa saya pungkiri adalah bisa berteman dengan Nicolas. Nicolas manusia yang disebut-sebut sangat pendiam, cuek dan misterius ini mau berteman dengan saya? Padahal banyak perempuan lainnya yang selalu mencari-cari perhatiannya tapi tidak sekalipun Nicol memedulikannya. Maksud saya begini, Nicol selalu melibatkan saya pada hal apapun itu. Bahkan ia selalu menghubungi saya untuk meminta saran tentang mengambil dan menyusun rencana di suatu organisasi untuk membangun suatu program atau Nicol yang dengan gaya coolnya selalu mengajak saya berbincang dan ketemuan, membahas apapun termasuk masalah perkuliahan. Saya tidak tahu mengapa saya jadi dekat dengan cowok yang dulu membela saya ketika saya diejek-ejek oleh gengnya Syera.            Dia jelas satu tingkat di atas saya bisa saya sebut kating saya sendiri tapi dia anak kedokteran dan saya anak hukum. "Di mana Befan sama Dani dan Fika?" tanyanya sambil memainkan jari-jari tangannya di atas roda stiran mobil. Ketika saya memasang sabuk pengaman. Hari ini rencananya Nicol mengajak saya, Befan, Dani dan Fika pergi nongkrong di Mall. Untuk ukuran anak kost seperti kami itu nongkrong di tempat elit seperti itu ya jelas mahal namun beda kalau Nicolas hanya saja dia royal mau mentraktir kami. Dia cuma mau main sama anak-anak dari Papua, katanya menyenangkan saja. Dia juga dekat dengan ketiga sahabat saya.            "Dorang tidak bisa ikut soalnya ada jam kelas," kata saya memberitahu.            "Ouh... Okey," balasnya. Dia memundurkan sedikit badannya, menyalakan mobilnya. "Kita berdua aja kalo gitu," sambungnya. Mobil pun melaju keluar dari pekarangan kampus. Sebenarnya saya sendiri sangat tersanjung bisa berteman dengan cowok yang diidolakan oleh banyak mahasiswa di kampus, Fika sendiri sering kali meledek saya karena saya jujur menyimpan perasaan pada Nicolas tapi apalah daya, saya sangat tidak cocok dengannya. Saya juga malu dan merasa Nicolas terlalu tinggi untuk disandingkan dengan saya yang tidak ada apa-apanya dengan perempuan-perempuan yang lainnya. Saya melirik Nicol yang sangat fokus sekali menatap lurus ke depan. Ia jarang sekali membuka percakapan. Tanpa ia ketahui, saya dengan rasa malu tapi masih saya lakuin, tangan kiri saya menyentuh ujung rambut keriting saya dan perlahan merambah ke telinga hingga rahang wajah saya sebelah kiri. Saya sudah berkecil hati, tidak mungkin. Tidak mungkin saya bisa mengambil hati Nicolas.            Sesampai di sana, Nicol berjalan di samping saya tapi dengan tetap menjaga jarak tidak terlalu berdekatan. Saya sempat kaget gak menyangka bisa ketemu sama ibu Dosen saya sendiri. "Ibu Leonna!" panggil saya. Nicol yang tengah main hp, mengalihkan tatapannya ke saya lalu ke seorang wanita yang saya panggil yang jaraknya ada di hadapan saya dan tidaklah terlalu jauh. Saat menghampirinya, saya sangat takjub dan menyukai sekali perubahan ibu Leonna yang selalu tampil dengan gaya tomboy kini terlihat feminin sekali. "Wah! Cantik skali Ibu Leonna ehh, sa pikir tadi itu sapa kah?" Saya pangling lihat perubahan ibu Leonna. Beliau tampak malu saya puji. Lelaki di sampingnya saya yakin pasti itu pacarnya.             "Ini mahasiswi kamu?" tanya lelaki itu. Saya tampak girang. Justru saya memperkenalkan diri saya langsung.             "Sa punya nama Mariana, saya asal dari Papua," kataku mengulurkan tangan pada lelaki tersebut. Mereka berdua tertawa? Ada yang salah kah? Nicol pun diam-diam terkekeh geli. Aduh, saya jadi malu sudah!            "Christhian, pacarnya Ibu Dosen kamu," balasnya menjabat tangan saya. Selang beberapa detik saja terlepas, saya memasang senyum menggoda pada ibu Leonna yang malu-malu menyenggol lengan lelaki tersebut. Nicol pun menjabat tangan lelaki tersebut untuk berkenalan. "Mahasiswi kamu saja memuji kamu cantik, jadi sudah seharusnya kamu bisa percaya diri." Ibu Leonna tidak percaya diri? Saya rasa hal wajar karena dia mungkin terbiasa dengan gaya tomboynya.           "Ibu Leonna harus percaya diri toh, Ibu Leonna pakai apa saja itu sudah bagus ehh, tara ada yang salah," seru saya bersemangat memberikan kata-kata yang bisa membuat ibu Leonna percaya diri.           "Terima kasih, ya," balasnya tersenyum manis yang semakin menambah aura kecantikannya. Selepas berbincang sebentar, kita pun berpisah. Saya bersama Nicol jalan-jalan di toko sepatu cowok karena Nicol mau lihat-lihat sesuatu teringat kalau dia mau membelikan kado untuk kakak lelakinya.            "Menurut kamu... bagus gak ini? Cocok gak ya kalo saya kasih ke Abang saya?" Dia menanyakan pendapat saya? Wah, saya sangat tersanjung sekali.            Apapun yang Nicol berikan pada saya untuk dimintai pendapat, menurut saya bagus-bagus saja apalagi di sini mahal semua gak ada yang jelek dan apapun dipakai oleh abangnya pasti cocok-cocok saja. Tapi sepertinya Nicol hanya melihat-lihat saja tidak ada yang menarik matanya untuk akhirnya dibeli. "Kamu mau beli sesuatunya?" tanyanya tiba-tiba. "Hah!?" Saya tercengang kaget. "Bilang aja yang kamu mau, nanti biar saya yang bayar." Wah! Sudah tampan royal pula. Baik hati sekali Nicol pada saya pantas banyak yang menyukainya. Walau terkesan cuek tapi kelihatannya sangat perhatian pada perempuan. "Tidak Nicol, saya tidak mau merepotkan orang." Nicol cuma manggut-manggut saja. Saat berjalan berdua seperti ini, sebetulnya di tempat umum yang ramai ini, saya agak risih ya ketika diperhatikan terus sejak tadi oleh orang-orang, entah saya yang memang berperawakan orang Papuanya atau memang saya yang jalan sama cowok ganteng atau mereka terpesona sama cowok yang bersama saya, saya sendiri cuek-cuek saja tapi ketika di eskalator yang atas bawah terdapat orang-orang, ya saya sendiri sempat melihat beberapa orang agak menatap sinis ke saya. Entah apa yang salah dari diri saya.             Saya duduk berhadapan dengan Nicol setelah sampai di tempat makan.             "Mau makan apa?" tanyanya, seraya mengeluarkan kunci mobil dan menaruh hp di atas meja.             "Samain saja sama kamu," kataku. Nicol tak banyak bicara. Kemudian ia pergi untuk memesan makanan kami. Tak lama ia pergi, hp saya berbunyi, terdapat panggilan video call dari Fika.             "Gimana?" Saya membalasnya dengan dahi mengernyit bingung. "Maksudnya apa?"             "Ko jalan sudah sama Nicol. Gimana kencannya toh?"             "Sa tra paham ko bicara apa?"             "Aish! Tong sengaja tara ikut supaya ko bisa makannn beduaaa saja sama Nicolasss hahaha!!!" ungkapnya seraya dengan nada menggoda. Tak lama Befan dan Dani muncul dari belakang punggung Fika sambil ketawa ketiwi. Ternyata ini bagian dari rencana mereka.            "Tong sengaja tra ikut biar ko sajalah yang pigi sama de," kata Dani.            "Ide sapa?" desakku dengan muka cemberut.            "Ini, nih!" seru Befan dan Dani sambil menoyor kiri kanan kepala Fika.            "Ini otak di balik peristiwa Mariana pigi kencan bersama Nicolassss!!!" tambah Befan dramatis.            "Tapi ko seneng tra Mariana eh bisa jalan sama Nicol berdua saja sudah," ujar Fika yang dianggukin kedua sahabatku. Diam-diam pun sebenarnya aku memang senang. Kapan lagi bisa jalan sama Nicol?           "Cieeeee senyum-senyum de ehh!!! Seneng juga ternyata tohh," ledek Dani. Aku menggeleng, ku hilangkan senyuman tadi lantas aku bicara kepada mereka untuk menyudahi percakapan aneh ini sebab Nicol sudah berjalan ke arahku.            "Saya jadi pengen banget dateng ke Papua, tempatnya pasti bagus banget ya." Saya sangat senang mendengar orang yang selalu ingin pergi ke Papua. Papua itu tempat yang sangat-sangat recommended untuk dikunjungi. Rugi sekali kalau tidak main-main ke sana ya walaupun biaya pergi ke Papua bisa mahal untuk pulang perginya tapi terbayar sudah dengan keindahan di sana juga keramahan orang-orang Papua pada pendatang baru.             "Iya... Papua bukan cuma Raja Ampat saja yang bagus dan terkenal, nih, sa kas tau pada ko, di Papua ada Lembah Baliem, Danau Sentani, trus ada Taman Nasional Lorentz ko tau taman ini paling terbesar di Asia Tenggara, sudah masuk warisan UNESCO, ko tau tidak?"" terangku semangat. Dia terkekeh. Mau tertawa tapi jaim sekali tawanya tapi dia buat saya gemas.            "Iya... Saya tau kok." Ekspresi saya seketika berubah.            "Oh... Ko sudah tau to." Saya garuk-garuk kepala tadinya, bingung mau bicara apa lagi. Tapi, saya tidak kehabisan akal. "Ehm.. tapi semua tempat, kan selagi masih di Indonesia itu tetap bagus-bagus saja, mau dari daerah manapun atau pulau mana saja juga toh."             Dia mengangguk-anggukan kepalanya. Canggung sekali entah kenapa aku malu mau bicara padanya atau memang dia yang orangnya terlalu pendiam dan kita yang perlu aktif bicara?            "Kenapa ambil jurusan kedokteran?" tanya saya memberanikan diri. Dia mengangkat pandangannya, lalu menumpukan kedua tangannya di atas meja.            "Tertarik saja, saya memang mau mendedikasikan diri saya di dunia kesehatan." Saya hanya ber-o- dia saja, kehilangan topik pembahasan. "Kalau kamu, rencana yang lainnya apa setelah kuliah?"             "Pasti saya pulang dan berkarir di sana, mungkin beberapa waktu saya mencari pengalaman di sini," jawab saya.             "Kamu anak pertama?" tanyanya lagi. Sebelum saya jawab, pelayan datang membawakan pesanan kami. Barulah setelah orang tersebut pergi saya melanjutkan obrolan yang tadi sempat tertunda.             "Tidak! Saya anak kedua, saya punya bung namanya Antonio, tapi masalahnya dia merantau ke tanah Jawa tapi tara pulang-pulang ka rumah," cerita saya. "Karna itu saya selain kuliah sudah berjanji pada istrinya untuk mencari bung."             "Udah dapet info keberadaan dia?" tanyanya. Saya menggeleng. Tidak tahu sekarang saya harus cari dia bagaimana lagi terlebih saya sudah bertanya pada teman-temannya yang tidak juga tahu. Seingat saya waktu dulu dia mau pergi ke Jakarta, saya cari petunjuk lewat sosial media dengan memasang fotonya manakala siapa tahu ada yang mengetahuinya. Nyatanya sampai sekarang belum ada.             Tak jauh dari tempat saya, mata saya menangkap anak-anak seusia saya tengah berkumpul. Mereka bercampur aduk cewek cowok di sana. Sempat memerhatikan saya. Saya memang penampilannya biasa saja tidak ada yang istimewa. Mungkin perawakan saya yang pasti mereka sudah tahu berasal dari mana saya dan melihat jijik saya sambil salah satu dari mereka menyentuh kulitnya dan menunjuk ke saya. Entah apa maksudnya, mungkin membandingkan kulit saya yang hitam ini dengan mereka. Tak lama mereka tertawa lalu menatap saya lagi. "Kamu gak nyaman makan di sini?" tanyanya. Saya tercengang lalu sedetik berikutnya hanya memang seulas senyum saja. Kemudian melanjutkan makan. Nicol pun tahu, menyadari ada yang salah. Ia sendiri melempar tatapan serius ke mereka yang duduk tak jauh dari saya. "Mau saya samperin mereka?" Saya langsung menggeleng. "Nggak! Nggak usah, gak apa-apa, hal ini udah biasa." "Kebiasaan yang buruk bukannya malah dibiarin Mar, siapapun yang merasiskan ras kamu, kita gak boleh tinggal diam." Saya tidak mau buat keributan di sini makanya saya ikhlas bila memang beberapa dari mereka memandang rendah ke saya. Mungkin berpikir saya orang dari Timur pedalaman bisa makan di tempat mahal dan diajak oleh Nicol sendiri. Hp saya berdering menampilkan pesan dari Zahira. "Saya butuh untuk Mar, tolong datang ke sini." Itulah isi pesan yang buat saya panik. Saya menghubungi Zahira tapi tidak ada jawabannya.             "Nicol saya harus temui teman saya sekarang."             "Oh gitu? Yaudah ayok saya antar," ajaknya atau bisa dibilang dia menawarkan tumpangan.             Selepas makan kita berdua langsung memilih pulang saja soalnya Zahira tetiba menghubungi saya kalau dia meminta saya untuk datang ke kostannya. "Memangnya kenapa sama temen kamu?" Saya menjawab tidak tahu saja, saya tidak harus menceritakan masalah teman saya ke orang lain karena ini sudah menjadi privasi Zahira yang sudah dipercayakan kepada saya. Nicol telah mengantarkan saya dan saya berterima kasih banyak padanya. Waktu saya masuk ke kamar Zahira, perempuan itu duduk tertunduk di atas ranjang tidurnya. Saya menutup pintu rapat barulah ia mendongak dan langsung memeluk saya sambil menangis. "Mariana..." lirihnya memanggil saya. Saya kebingungan dan bertanya-tanya padanya. "Ko... Zahira kenapa bisa begini toh? Ko punya badan pada biru-biru semua? Coba ko punya cerita bilang pada saya toh." Zahira menceritakan dari awal bagaimana tentang kasus pelecehan itu didengar oleh ayahnya sampai marah besar dan menyiksanya kemudian pulang meninggalkan anaknya yang tertekan batin, emosional yang berantakan, anak yang butuh dukungan dan perlindungan dari ayahnya namun tidak bisa mendapatkan itu semua.            "Awak jujur mau menyerah, awak sudah tidak kuat."            "Zahira jang ko bicara yang tidak-tidak. Jang menyerah pada omongan yang cuma bisa menyakiti hati ko saja. Ingat kita sedang berjuang eh, bukan saatnya kalau harus menyerah. Ko tara perlu memikirkan omongan orang punya di luar sana. Pikirkan orang-orang yang telah mendukung ko."            "Saya kecewa pada ayah... dia ndak parnah memikirkan awak Mar..."            "Ko jang sampe benci de yah, jangan." Zahira menutup matanya di mana kepalanya bersandar di d**a saya. Saya tahu betapa sulitnya kehidupan Zahira tapi sebagai sahabat saya tidak boleh menyerah untuk membuatnya bangkit. Saya tahu pasti orang-orang akan menggunjing dia namun tidak semua begitu Zahira. Ada orang-orang yang selalu memberikan aura positif dan semangat untuk tetap menghadapi dunia yang kejam ini. Saya akan selalu bersamamu Ra, tidak akan sekalipun saya meninggalkan sahabat saya. Tidak sekalipun. * * * * Leonna Night party. Gue harus datang ke rumah Tian sebagai kekasih yang sudah dia kenalkan pada orang tuanya dan hari ini gue akan diperkenalkan di depan seluruh keluarganya. Dia meminta gue untuk memakai dress yang sudah ia belikan agar gue bisa terlihat anggun. Jadi, malam ini gue memakai one shoulder slit long dress berwarna hitam. Gue merapikan rambut pendek gue dan memakai make up yang tipis-tipis saja untuk lebih mendapatkan kesan naturalnya. Berkaca di cermin. Leonna sangat berbeda dengan Leonna sebelumnya. Sangat feminin. Gue menyentuh bagian-bagian tato yang terlihat nyaris di bahu, punggung, dan tangan, semua penuh dengan tato. Mamahnya mungkin nggak terbiasa melihat cewek bertato atau bisa jadi memang mamahnya punya selera yang lain untuk perempuan yang akan menjadi istrinya Tian.            "Ya Allah cantik banget Lo Len...," decak Bobby main masuk ke dalam kamar gue lalu duduk dengan dua tangannya di belakang badannya, menekan kasur untuk menumpu badannya. Diliatnya, ditelitinya, diamatinya dari bawah ke atas. "Pangling gue shayyy liat Lo dandan cakep gini. Gak semrawut kayak yang Leonna dulu." Awalnya memuji akhirannya mencaci. Iya, itulah Bobby. "Ihhhhhh... Maksud Lo dulu, tuh, gue jelek gitu, ye kan," balas gue agak nyolot. "Yak gak jugaaa, cumannn kannnn..." Tangannya ia mulai menangkap di atas udara dengan mata terbuka lebar, sok dramatis ketika memuji gue. "Malem ini Lo sumpahhhh cakeppp banget gile. Cewek banget, deh." Gue menghela napas kasar lalu tersenyum singkat. "Kalo bukan karena Tian juga gue gak mau, deh, dandan kayak gini." Ada perasaan risih dan memang sudah tidak terbiasa gue harus berdandan seperti cewek. Ini bukan salah siapa-siapa tapi ini lebih kenyamanan di diri gue sendiri. Terlebih di masa lalu, gue pernah nyaris diperkosa sama bapak gue sendiri sehingga membuat gue berpikir untuk mengubah penampilan gue lebih garang. Yah itung-itung biar gak ada yang berani deketin gue. "Tian itu cinta banget ya sama Lo," ucap Bobby pelan yang gue lihat dari cermin dia senyum-senyum saat mengatakannya sambil melihat langit-langit kamar gue. "Gue ingat gimana dia segigih itu buat dapetin nomor hp Lo sampe ikut kelas masak segala biar bisa ketemu sama Lo. Terus gimana dia berjuang buat dapetin hati Lo dan akhirnya Lo bisa luluh juga sama tu anak. Sekarang perjuangan kalian tinggal dapetin restu orang tuanya aja." Dan sejujurnya pun gue gak yakin akan mendapatkan restu dari mamahnya, batin gue meringis. "Yah Lo benar tapi semoga aja cinta dia gak akan mengubah gue jadi bukan Leonna yang sebenarnya," tambah gue kemudian percakapan selesai.            Tian gak bisa jemput gue karena dia lagi sibuk banget dengan pekerjaannya di rumahnya jadi gue minta Bobby sahabat gue untuk mengantarkan gue ke rumahnya kalau minta sama Eryna jelas nggak mungkin, dia punya anak kecil yang gak bisa ditinggal malam-malam. Gue males banget kalau nanti suaminya tahu dan mengomeli gue. "Busetttt!!! Rumahnya gede banget Len," takjub Bobby saat mobil masuk ke halaman luas rumah Tian. "Gue boleh ikut gak Len?" lanjutnya bertanya yang langsung gue toyor kepalanya. "Udah sana balik!" usir gue. Yah gak mungkin juga gue mengajak Bobby tanpa seijin Tian, ini kan bukan acara gue. Nanti yang ada mamahnya malah marah-marah lagi karena mengundang orang yang tidak diundang oleh keluarga besarnya.            Jantung gue udah gak karuan lagi gimana degupannya berdetak begitu cepat. Tiap langkah yang gue ambil begitu lambat. Kedua telapak tangan bahkan sudah berkeringat. Berusaha menetralkan perasaan dan pikiran dengan diri gue sendiri untuk tidak berdebat, mencoba menghilangkan perasaan nervous untuk mendapatkan suasana hati yang bersahabat. Gue harap wajah gue yang sudah ada riasan ini baik-baik saja dan tidak terlihat pucat. Karena hadir di tengah orang-orang asing dalam hidup gue adalah kali pertamanya dan yang gue harapkan tidak ada kejadian yang tidak mengenakkan, yang pada akhirnya nanti menjadi penghambat.              Masuk ke belakang halaman rumahnya yang dipenuhi hiasan dengan lampu-lampu kecil sebagai penghias di pagar putih yang tidak terlalu tinggi, meja panjang menjadi tempat untuk makan malam bersama sudah tersedia lengkap dengan menu makan malam hari ini, belum lagi orang-orang yang menatap gue terheran-heran, bertanya-tanya, "dia siapa? Perempuan itu siapa?"             "Sayang," panggil Tian secara terang-terangan di depan keluarga besarnya bahkan ia berani memeluk gue. "Yuk, aku mau kenalin kamu ke keluargaku," ucapnya semangat menggenggam erat tangan gue. Om, tantenya, sepupunya tak pernah lepas pandangannya yang selalu terarah kepada gue.             "Jadi ini yang namanya Leonna, Yan?" Seorang pria dengan balutan switer merah dengan kemeja putih di dalamnya itu mendekat dan berdiri di samping Tian.            "Iya, ini pacar Tian, Leonna." Gue tersenyum senatural mungkin tanpa dibuat-buat di hadapan keluarganya yang sudah duduk sejak tadi di meja makan yang memanjang ini. Gue sendiri sempat bersitatap dengan mamahnya Tian namun beliau membuang muka dan seolah tidak peduli.            "Kenalin, saya Kristo sepupunya Tian," katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan yang gue sambut dengan hangat.           "Leonna," balas gue ramah dengan senyum yang mempesona, menurut Tian.           "Tatonya banyak, bagus-bagus lagi," komentarnya yang melihat tato gue. Gue cuma tersenyum saja dengan yang gue anggap sebagai gurauannya yang entah tulus atau tidak ia memuji barusan.          "Tian! Kristo! Sudah ayo duduk, kita makan dulu ini udah pada laper," sahut papahnya Tian. Gue duduk di sampingnya Tian saja biar gue bisa merasa aman terus dan tidak merasa terintimidasi dengan yang lainnya. Gue dengan sikap ramah dan humble gue, tidaklah sulit juga ternyata berkenalan dengan sanak saudaranya dan kita mengobrol seperti layaknya keluarga. Terpenting gue nyambung dan memahami apa yang mereka perbincangkan dan ikut hanyut dalam tawa hangat yang diciptakan. Ternyata pikiran baik akan memengaruhi suasana hati tanpa memikirkan macam-macam apakah gue dapat diterima atau tidak menjadi bagian dari mereka malam ini, bagi gue menjadi apa adanya dan menjadi diri gue sendiri tanpa kepura-puraan dan keterpaksaan itu sudah lebih dari cukup, agar mereka tahu inilah diri gue, senang atau tidaknya ya itu hak mereka. Gue gak perlu harus menjadi diri siapa hanya agar bisa diterima. Gue gak mau kehilangan diri gue sendiri. Nggak mau.           "Kamu seneng, kan malam ini?" bisik Tian agak mencondongkan badannya ke samping. Gue mengangguk saja dengan seulas senyum. Mata gue tak lepas melihat mamahnya yang duduk tak jauh dari kami. Terus memandang gue sinis entah apa masalah beliau dengan gue. Kenapa segitunya ia tidak menyukai diri gue padahal gue gak melakukan apa-apa. Atau mungkin memang karena penampilan dan wajah gue yang menurutnya tidaklah terlalu menarik di matanya atau merasa gue emang nggak pantes menjadi pasangan untuk anaknya.             "Asmara?" Kristo menyahut. Kita semua yang tadi lagi seru-seruan langsung teralihkan mendengar nama seorang perempuan yang disebut Kristo. Gue melihat seorang perempuan dengan rambut yang dicurly cantik dengan kulit putih yang bersih dan mulus dan jenjang kaki tanpa sedikitpun goretan sangatlah terlihat halus. Belum lagi dengan matanya yang sipit dan terlihat mungil dengan gigi calingnya yang membuat senyumannya sangat manis. Dia lembut.             "Asmara?" seru mamahnya Tian, bahkan dia yang paling semangat menyambut perempuan bernama Asmara itu. Asmara bersama dengan seorang pria yang umurnya sedikit lebih tua sepertinya dari papahnya Tian. Pria itu brewok yang sudah berwarna putih, rambutnya pun gondrong yang sengaja diurai, hidungnya mancung dan tegas sekali terlihatnya.           "Asmara... Ya ampun nak, kamu apa kabar? Mamah pikir kamu gak dateng ke sini, sudah mamah tungguin, lho, dari tadi." Hangat sekali perlakuan mamah Tian dengan perempuan itu. Gue sendiri melihat Tian sangat fokus terhadap Asmara. Harusnya Asmaralah yang menjadi pasangan Tian daripada gue. Mereka lebih cocok disandingkan satu sama lain, klop sekali.           "Yan, siapa dia?" bisik gue. Tian menoleh ke gue. Cuma memasang ekspresi biasa saja.           "Temen kecil," jawabnya singkat. Tatapan gue terus tertuju ke Asmara yang tengah berjalan bersama seorang pria dan mamah Tian. Mamahnya Tian merangkul hangat perempuan yang gue duga umurnya pasti lebih muda dia daripada Tian. Papah Tian pun sama halnya menyambut kehadiran pria itu dengan pelukan akrab seorang lelaki yang seperti sudah lama tak bertemu dengan temannya.           "Dulu waktu kecil itu Asmara masih unyu sekarang udah besar aja, ya. Inget kan Yan, gue, elo sama Asmara waktu liburan ke Jepang itu kita maen ski, sih, Asmara malah ngusruk sambil nangis-nangis sekarang mah ya Tuhan sudah gadis," seru Kristo menceritakan pengalaman masa lalu mereka. Gue cuma tersenyum agak sedih, entah apa yang gue irikan. Mereka tampaknya sangatlah berbahagia. Gue di sini merasa seperti benalu saja.           "Iya... Tian pasti seneng banget, kan bisa ketemu sama Asmara lagi, ya kan Yan?"           "Iyah Mah," Tian beranjak bangun lalu yang buat gue merasa cemburu itu adalah ketika Tian memeluk gadis itu. Tak lama selesai mereka berpelukan, perempuan itu melihat gue.           "Dia siapa? Aku baru liat dia." Ia tersenyum ke gue. Gue bangun dari duduk gue.           "Nama saya Leonna. Saya pacarnya Tian," ucap gue memperkenalkan diri di tempat gue berdiri. Semua orang diam termasuk Tian. Gue tatap mereka dengan bingung. Tersenyum kaku. Perempuan itu membalas senyuman gue tulus.           "Aku Asmara, sahabatnya Tian."           Oke, dia sahabatnya Len. Jadi gak ada yang harus Lo cemburui. Kita semua kembali duduk ke tempat masing-masing.           Tante-tante Tian bahkan Om-om Tian banyak bertanya pada Asmara. Bagaimana pendidikannya selama di Jepang, belum lagi menanyakan apakah sudah punya kekasih atau belum, lalu rencanannya seusai pendidikannya menempuh S2 akan tinggal di Indonesia saja atau menetap di Jepang. Intinya mereka semua fokus pada Asmara begitu juga Tian banyak mengobrol dengan Asmara dan juga Kristo sedangkan aku terabaikan. Seolah tidaklah dianggap. Mereka banyak memuji kecantikan Asmara.           "Yan... bisaan banget, sih, lo Yan, bisa banyak yang suka, cewek-cewek yang berkualitas lagi, pintar lagi. Nih, kalo Asmara itu cantik, lembut, manis, gitu mana kayak Barbie putih bersih tinggi pula tapi kalo Leonna ini lebih matang wajahnya, terus keliatan tomboynya tatoan lagi keren, sih," ujar Kristo membandingkan antara gue dengan Asmara dari hal yang menurut gue masih terbilang tidak mengarah ke negatif yang akan menyinggung perasaan gue. "Tapi hebatnya Leonna ini juga dia chef dan dosen, sedangkan kalo Asmara sudah menjadi CEO perusahaan parfum yang terkenal di Jepang. Hebat masih sibuk ngejar gelar S2 tapi udah jadi CEO."           "Om... Om kalo disuruh pilih, bakal pilih Asmara atau Leonna yang cocok buat Tian? Ini kita jangan dianggep serius, ya, Leonna jangan baper yaa, kita cuma mau tau penilaian orang tua Tian buat anaknya aja," papar Kristo yang paling memang cerewet di sini. Padahal ada beberapa perempuan sepupunya Tian pun tidak seaktif dia. Bisa jadi dia memang pembawa suasana yang baik.           "Aduh... bingung saya kalo disuruh milih. Abis semua yang deket sama Tian cantik-cantik, sih."           "Yah...," Kristo melesuh. "Kalo Tante?" Di sini gue sudah menduga apa yang akan terjadi dan siapa yang terpilih.           "Asmara," benar. Semua terdiam. Benar, dugaan gue tepat sasaran, paling dalam. Paling menusuk hati gue ketika gue tahu siapa yang pantas untuk menjadi istri Tian. "Asmara sudah jelas bibit bebet bobotnya, Asmara sudah jelas Tante kenal dia sejak kalian masih kecil, dan dengan papahnya Asmara pun kita juga sangat mengenalinya. Asmara sangat cantik dan anggun, dia juga berpendidikan dan sukses dengan karirnya, gak ada yang kurang saya rasa," jelasnya. Sudah sangat jelas. Gue di sini cuma bisa berusaha tegar saja. Suasana jadi canggung dan dua sepupu Tian yang perempuan menarik Kristo untuk duduk di tempatnya. Tian menatap tajam ke Kristo dan gantian ke mamahnya.           "Saya permisi dulu," tutur gue dengan kepala tertunduk. Merendahkan kepala itu yang bisa gue lakukan kalau menaikkan kepala kayaknya gue merasa belum ada apa-apanya di sini. Sangat kecil. Kecil sekali untuk bersaing dengan Asmara. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD